Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan setelah sesi pemotretan berakhir. Starla tersenyum anggun di depan kamera. Lampu-lampu studio masih menyala terang, sementara beberapa kru sibuk membereskan peralatan. Di layar monitor besar, hasil pemotretan yang baru saja dilakukan terpampang jelas.
"Bagus banget, Starla."
"Foto yang ini bisa langsung jadi cover."
"Ekspresinya dapet banget."
"Pantas saja semua brand rebutan dia."
Suara pujian datang dari berbagai arah begitu sesi pemotretan selesai. Para fotografer, kru kreatif, hingga tim pemasaran terlihat puas melihat hasil yang terpampang di layar monitor besar. Beberapa orang bahkan masih membicarakan foto-foto Starla sambil menunjukkan gambar yang mereka sukai kepada rekan kerja di sebelahnya.
Starla membalas semua pujian itu dengan senyum manis yang sudah sangat terlatih. Ia mengangguk sopan, mengucapkan terima kasih, lalu melambaikan tangan kecil kepada beberapa kru yang melewatinya. Di depan banyak orang, ia tampak seperti wanita yang memiliki segalanya.
Namun, ketika lampu studio mulai dimatikan dan satu per satu orang meninggalkan ruangan, senyum itu perlahan menghilang dari wajah Starla. Ia berjalan menuju ruang rias, lalu duduk di depan meja yang dipenuhi lampu-lampu kecil mengelilingi cermin besar. Kedua bahunya sedikit turun seolah beban yang selama ini ditahannya akhirnya kembali terasa saat tidak ada lagi yang melihat. Tatapannya jatuh pada bayangan dirinya sendiri di cermin.
Riasan sempurna, rambut hitamnya tertata rapi tanpa cela. Gaun mahal yang dikenakannya tampak elegan dan berkelas. Karier Starla saat ini sedang berada di puncak.
Semua orang menganggap hidupnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tetapi tidak ada yang tahu seperti apa kehidupannya saat pintu apartemen tertutup dan malam mulai datang.
Tidak ada yang tahu bahwa ia masih sering makan malam sendirian. Tidak ada yang tahu bahwa lelaki yang selama ini mengisi hidupnya bahkan tidak bisa berdiri di sampingnya di depan publik. Yang lebih menyakitkan lagi, ia tidak pernah bisa memperkenalkan dirinya sebagai wanita yang sayang di sisi lelaki itu.
Starla mengembuskan napas panjang dan memalingkan wajah dari cermin.
Saat itulah pintu ruang rias terbuka. Seorang wanita masuk sambil membawa map hitam di tangannya. Laura, manajernya.
"Starla," panggil Laura dengan nada ceria.
Starla langsung menoleh. "Ada apa?"
Senyum lebar muncul di wajah Laura. Ia mengangkat map yang dibawanya sedikit lebih tinggi.
"Ada kabar baik," ucap wanita berkacamata minus, tersenyum lebar.
Alis Starla terangkat penasaran. "Kabar baik apa?"
Manajernya mendekat sambil menahan antusiasme yang jelas terlihat di wajahnya. "Kamu dapat tawaran kerja sama dari Aurora Luxury."
Mata Starla langsung membesar. "Aurora Luxury?" ulangnya tidak percaya, ia bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Aurora Luxury yang itu?"
"Iya," jawab manajernya sambil tertawa kecil melihat reaksi Starla. "Yang brand internasional itu."
Selama beberapa detik Starla hanya menatap manajernya tanpa berkedip.
Aurora Luxury bukan perusahaan biasa. Nama itu sangat besar di dunia fashion internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan tersebut berkembang pesat dan sedang memperluas pasar mereka ke berbagai negara Asia.
Yang membuat Aurora begitu istimewa adalah mereka sangat selektif dalam memilih wajah publik yang akan mewakili merek mereka. Tidak semua artis terkenal bisa mendapatkan kesempatan itu. Bahkan banyak selebritas papan atas yang berkali-kali ditolak. Karena itulah Starla hampir tidak percaya ketika mendengar namanya terpilih.
"Serius?" tanya Starla lagi, memastikan dirinya tidak salah dengar.
Manajernya terkekeh. Laura menyerahkan map hitam itu ke tangan Starla.
"Aku tidak mungkin bercanda soal hal sebesar ini."
Dengan jantung yang mulai berdebar lebih cepat, Starla segera membuka halaman pertama. Lalu halaman berikutnya dan halaman berikutnya lagi.
Semakin banyak Starla membaca, semakin sulit ia menyembunyikan keterkejutannya. Napasnya sampai tertahan saat melihat angka yang tertera dalam kontrak tersebut.
"Ya Tuhan," gumam Starla pelan. Tangannya sedikit gemetar saat membalik halaman.
"Ini besar sekali."
Manajernya mengangguk puas. "Sangat besar."
Starla kembali membaca nominal yang tertera. Nilainya bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan kontrak terbesar yang pernah ia dapatkan selama berkarier. Jika kerja sama itu berhasil, namanya akan semakin dikenal secara internasional. Kariernya bisa melompat ke tingkat yang selama ini hanya berani ia impikan.
"Kalau kontrak ini berhasil," ujar sang manajer sambil menyilangkan tangan di dada, "kariermu bisa naik ke level berikutnya."
Starla menggigit bibir bawahnya pelan. Dadanya dipenuhi rasa berdebar yang menyenangkan. Bertahun-tahun ia bekerja keras. Menjalani jadwal yang melelahkan. Menghadiri berbagai acara. Mengorbankan waktu dan tenaga. Dan sekarang, kesempatan besar itu akhirnya berada tepat di depan matanya.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Senyum di wajah manajernya perlahan memudar. Perubahan kecil itu langsung ditangkap oleh Starla.
Ia mengangkat kepala. "Ada apa?"
Manajernya menarik napas pelan sebelum menjawab. "Ada satu syarat."
Kerutan tipis muncul di dahi Starla. "Syarat?"
"Iya."
"Syarat apa?"
Laura tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati. "Mereka sedang melakukan pemeriksaan latar belakang."
Starla masih belum mengerti. Lalu, manajernya melanjutkan. "Dalam kontrak disebutkan bahwa duta merek harus memiliki citra publik yang bersih."
Seketika perasaan tidak nyaman mulai muncul di dada Starla. "Citra publik bersih?" tanyanya pelan.
Laura mengangguk. "Mereka tidak ingin terlibat dalam skandal apa pun."
Ruangan yang sejak tadi terasa menyenangkan mendadak berubah sunyi. Starla menundukkan pandangan ke arah kontrak yang masih berada di tangannya. Jemarinya perlahan mencengkeram berkas itu lebih erat.
Sementara itu, Laura menatapnya dengan hati-hati. "Aku tidak mau ikut campur urusan pribadimu," ujarnya pelan.
Starla tidak menjawab. Namun ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu.
Laura kembali melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Tapi hubunganmu dengan Lucas ...."
Kalimat itu berhenti di tengah jalan. Tidak perlu diteruskan. Keduanya sama-sama mengerti.
Rahang Starla langsung mengeras. Ia memalingkan wajah ke arah lain.
Hubungannya dengan Lucas memang belum pernah menjadi berita besar. Belum ada media yang membongkarnya secara terang-terangan. Tetapi bukan berarti tidak ada yang tahu. Orang-orang mulai berbisik.
Beberapa pihak mulai curiga. Dan jika suatu hari semuanya terbongkar, bukan hanya Lucas yang akan terkena dampaknya. Karier yang selama ini dibangun Starla dengan susah payah juga bisa ikut runtuh dalam sekejap.
Malam harinya, Starla duduk sendirian di ruang tamu apartemennya. Lampu-lampu kota terlihat berkilauan dari balik jendela kaca besar.
Di atas meja tergeletak kontrak Aurora Luxury yang sudah ia baca berkali-kali sejak pulang. Namun meskipun matanya terus menelusuri setiap halaman, pikirannya sama sekali tidak fokus.
Satu kalimat terus berputar di kepalanya. Citra publik harus bersih. Starla menutup matanya sejenak, dadanya terasa sesak.
ku kirim 🌹&☕.. biar semangat...
Ini br awal Lucas...Setelah ini akan byk badai yg siap menerpa km