NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Kehidupan yang Tenang

Langit di atas Kota Perdagangan Higashino selalu berwarna biru jernih saat pagi tiba. Kabut tipis yang menyelimuti lembah di sebelah timur perlahan lenyap, disapu angin hangat yang membawa aroma teh, kayu cendana, dan sungai yang mengalir jernih di kaki bukit. Di sini, suara terompet kapal dagang, derap langkah kuda, dan tawa pedagang yang menawar harga terdengar seperti irama yang sudah dikenal sejak lama—irama kedamaian yang jarang didapatkan di wilayah lain yang dilanda perselisihan.

Di sebuah kediaman luas yang tersembunyi di balik deretan pohon sakura yang tak pernah layu, berdiri rumah utama yang dibangun dari kayu jati tua yang mengilap. Pagar batu putih mengelilingi halaman yang tertata rapi, tempat bunga musim semi mekar berwarna-warni, dan air mancur kecil di tengahnya meneteskan air jernih tanpa henti. Di sinilah kediaman Tuan Kenzaburo, pemimpin persekutuan pedagang yang namanya disegani dari ujung pantai timur hingga ke perbatasan pegunungan utara.

Di beranda depan, seorang pria berdiri tegak, memandang ke arah gerbang yang terbuka lebar. Tubuhnya tinggi, dibalut jubah gelap yang sederhana namun rapi, seolah tak ingin menarik perhatian berlebih. Topi jerami lebar tergantung di pinggangnya, wajahnya tertutup kain tipis yang menyisakan sepasang mata yang tenang—mata yang telah melihat banyak hal, namun tetap teduh seperti danau yang tak tergoyahkan. Itulah Kakashi. Sepuluh tahun ia berdiri di tempat seperti ini, menjaga, mengawasi, memastikan tak ada satu pun ancaman yang mendekat. Namanya tak tercatat di peta, tak dikenal oleh kebanyakan orang. Ia hanyalah bayangan. Pengawal. Pelindung.

"Kakashi, kau berdiri di sana sejak fajar menyingsing, bukankah?"

Suara lembut terdengar dari balik pintu geser. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya melangkah keluar, tersenyum ramah. Rambutnya yang mulai memutih diikat rapi, jubah sutra berwarna krem melilit tubuhnya yang masih tegap meski usia tak lagi muda. Itu Kenzaburo sendiri. Baginya, Kakashi bukan sekadar pengawal yang digaji. Selama sepuluh tahun, pemuda yang datang tanpa nama dan masa lalu ini telah menjadi bagian dari keluarga.

"Selamat pagi, Tuan Kenzaburo," jawab Kakashi, suaranya rendah dan tenang. "Tak ada yang aneh pagi ini. Semuanya berjalan seperti biasa."

Kenzaburo tertawa pelan, lalu duduk di atas bantal empuk yang telah tersedia di beranda. "Itulah yang aku khawatirkan. Kau selalu waspada seolah dunia ini penuh dengan pedang yang menodong ke leher kita. Duduklah, hari ini damai. Nikmatilah."

Kakashi mengangguk pelan, namun tetap berdiri. "Tugas saya adalah memastikan kedamaian itu tetap terjaga, Tuan."

"Kau terlalu ketat pada dirimu sendiri," Kenzaburo menggeleng sambil menuangkan teh ke dalam cangkir kecil. "Sepuluh tahun, Kakashi. Sudah sepuluh tahun sejak kau datang ke sini, penuh luka dan diam seribu bahasa. Kini anak-anakku sudah tumbuh besar, perdagangan kita merata, dan rakyat di wilayah ini tidur nyenyak di malam hari. Itu juga berkat dirimu."

Belum sempat Kakashi menjawab, suara riuh terdengar dari arah halaman samping. Seorang gadis muda melompat keluar dari balik semak-semak, rambut hitamnya terurai ditiup angin, matanya berbinar cerah. Itu Aoi, putri tunggal Kenzaburo.

"Kakashi-san! Selamat pagi!" serunya sambil berlari mendekat, membawa seikat bunga liar yang ia petik sendiri. "Lihatlah, bunga ini tumbuh di tepi sungai! Indah sekali, bukan?"

Kakashi menunduk sopan, sudut bibirnya tersenyum tipis—sangat tipis, namun nyata. "Indah sekali, Nona Aoi."

"Panggil saja Aoi, sudah kubilang berapa kali!" gadis itu cemberut manis, lalu duduk di samping ayahnya, meletakkan bunga-bunga itu di meja rendah. "Ayah, hari ini Kakashi-san ikut kita ke pasar kota, boleh? Ia selalu saja berdiri di sini, tak pernah melihat apa-apa selain gerbang dan tembok."

Kenzaburo tersenyum melihat putrinya yang begitu dekat dengan pengawal itu. "Kalau Kakashi bersedia, aku tak melarang."

"Saya harus menjaga kediaman, Tuan," tolak Kakashi pelan namun tegas.

"Lagi-lagi begitu," Aoi menghela napas, namun tak benar-benar kecewa. Ia sudah terbiasa. "Suatu hari nanti aku akan mengajakmu berkeliling sampai kau lupa jalan pulang, lihat saja."

Kenzaburo tertawa, lalu menatap Kakashi dengan tatapan serius namun hangat. "Aoi benar, kau tahu. Dunia ini bukan hanya tentang menjaga. Ada juga tentang hidup. Sepuluh tahun kau mengorbankan waktumu untuk kami. Aku ingin kau mengerti: di sini kau bukan pelayan. Kau keluarga."

Kata-kata itu menembus ketenangan yang selama ini Kakashi bangun. Ia menunduk lebih dalam, menahan getaran halus di dadanya. "Terima kasih, Tuan. Tapi tempat saya di sini. Di samping Anda."

"Kalau begitu, setidaknya duduklah dan minum teh bersama kami pagi ini," pinta Kenzaburo lembut. "Sebagai keluarga, bukan sebagai pengawal."

Kakashi ragu sejenak, lalu melangkah mendekat dan duduk—sangat tegap, namun kali ini tak berdiri di pinggir bayangan. Aoi tersenyum lebar, menuangkan teh untuknya dengan gembira. Di kejauhan, terdengar suara langkah kaki yang mantap. Tak lama kemudian, seorang pemuda seusia Aoi melangkah masuk ke halaman, wajahnya tampak segar setelah kembali dari perjalanan singkat ke desa sebelah. Itu Daiki, keponakan Kenzaburo yang sejak kecil dibesarkan di kediaman ini, menganggap pamannya sebagai ayah sendiri.

"Selamat pagi, Paman Kenzaburo, Kakashi-san, Aoi!" sapa Daiki sambil meletakkan tas kulitnya. "Udara pagi ini luar biasa, bukan? Langit begitu jernih sampai terlihat puncak gunung di kejauhan."

"Selamat pagi, Daiki," jawab Kakashi. "Perjalananmu lancar?"

"Sangat lancar! Penduduk desa menyampaikan salam hormat untuk Paman Kenzaburo. Mereka bilang panen tahun ini akan melimpah berkat jalur perdagangan yang aman berkat kebijakan Paman." Daiki duduk di seberang mereka, matanya berbinar bangga. "Semua orang di wilayah timur memandang Paman sebagai pelindung mereka. Tak ada yang berani mengganggu selama beliau memegang kendali."

Kenzaburo tersenyum sedikit, namun matanya berkelana ke arah kebun yang hijau. "Pujian itu manis didengar, Daiki. Tapi kekuasaan bukanlah sesuatu yang bisa dipegang erat-erat. Ia seperti air: mengalir, berubah, dan kadang tak terduga arahnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga agar ia tetap jernih dan memberi manfaat."

"Dan Kakashi-san yang menjaganya tetap aman, kan?" kata Aoi sambil menatap Kakashi. "Tanpa dia, siapa tahu apa yang terjadi."

Daiki mengangguk setuju. "Benar. Sepuluh tahun ini tak ada satu pun ancaman yang berhasil mendekat. Kakashi-san adalah perisai tak terlihat bagi kita semua."

Kakashi diam saja, menyesap tehnya perlahan. Kata-kata pujian itu terasa berat di hatinya. Ia tahu betul bahwa ketenangan ini rapuh, namun selama ia mampu, ia akan membiarkan mereka hidup tanpa rasa takut. Ia akan menjadi dinding yang tak bisa ditembus, bayangan yang tak pernah tidur.

Pagi itu berlalu begitu damai. Mereka mengobrol tentang rencana pesta panen, tentang kapal dagang yang akan tiba dari negeri seberang, tentang buku-buku baru yang Aoi ingin bacakan. Tak ada pembicaraan tentang musuh, tentang pedang, tentang bahaya yang mengintai. Hanya tawa, suara cangkir yang beradu pelan, dan angin yang menggerakkan dedaunan dengan lembut.

Saat matahari mulai meninggi, Kenzaburo bangkit berdiri. "Aku akan pergi ke persekutuan pedagang sebentar. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan sebelum siang. Daiki, temani aku."

"Baik, Paman." Daiki ikut berdiri, lalu menoleh ke Kakashi. "Kau tak perlu ikut, Kakashi-san. Di sini aman sekali."

Kenzaburo menatap Kakashi, lalu tersenyum lembut. "Biarkan saja, Daiki. Kau tahu sifatnya. Ia akan mengikuti tanpa diminta."

Kakashi sudah berdiri, menata kembali jubahnya. "Saya siap, Tuan."

Aoi melambaikan tangan dari beranda. "Hati-hati ya! Kakashi-san, jaga Ayah, tolong!"

"Selalu," jawab Kakashi singkat, lalu mengikuti langkah tuannya.

Jalanan menuju pusat kota lebar dan bersih. Penduduk menyapa Kenzaburo dengan hormat, dan beliau membalas dengan senyum serta sapaan hangat. Kakashi berjalan agak ke belakang dan sedikit ke samping, matanya tak henti memindai setiap wajah, setiap lorong gelap, setiap jendela yang terbuka. Meski suasana begitu damai, naluri yang diasah selama sepuluh tahun tak membiarkannya lengah. Ia melihat pedagang yang tertawa, anak-anak yang berlari mengejar layang-layang, kakek yang duduk santai di depan kedai. Semuanya begitu tenang. Namun Kakashi tahu, ketenangan seperti ini seringkali menyembunyikan bayang-bayang yang tak terlihat.

Sesampainya di gedung persekutuan, Kenzaburo berhenti sejenak di depan pintu, menatap kota yang terbentang luas di bawahnya. "Indah sekali, Kakashi," ucapnya pelan. "Semoga damai ini abadi."

"Akan saya jaga, Tuan," jawab Kakashi tegas.

Kenzaburo menoleh, menatapnya lekat-lekat. "Aku percaya padamu lebih dari siapa pun. Kau bukan sekadar pengawal bagiku. Kau seperti anak laki-laki yang tak pernah kumiliki."

Hati Kakashi tersentuh. Ia menunduk, menahan gejolak yang jarang ia tunjukkan. "Terima kasih, Tuan."

"Masuklah. Hari ini akan panjang, tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja."

Pertemuan berlangsung lancar. Sepanjang siang hingga sore, Kenzaburo berbicara dengan para pedagang, menyelesaikan perselisihan kecil, menyusun rencana ekspor hasil bumi, dan memastikan setiap orang merasa didengar. Kakashi berdiri di sudut ruangan, diam, tak terganggu, namun tak melepaskan pandangan sedikit pun dari tuannya. Di sela-sela waktu, Daiki sesekali menyapanya, bercerita tentang impiannya untuk ikut berlayar mengelilingi dunia suatu hari nanti. Kakashi mendengarkan, sesekali tersenyum tipis.

Saat matahari mulai terbenam, mereka pulang bersama. Langit berwarna jingga keunguan, menyelimuti kota dengan cahaya lembut yang membuat segalanya tampak hangat dan penuh harapan. Aoi sudah menunggu di gerbang, menyambut mereka dengan senyum yang tak pernah pudar.

Malam itu mereka makan bersama di ruang tengah. Cahaya lampu minyak yang temaram memantul di wajah mereka yang riang. Kenzaburo bercerita tentang masa mudanya, tentang perjalanan yang berbahaya, tentang orang-orang yang mengajarinya arti keadilan. Aoi menyimak dengan mata terbelalak, Daiki sesekali menyela dengan pertanyaan cerdas, dan Kakashi mendengarkan dalam diam, menyimpan setiap kata di hatinya. Ia menyadari betapa beruntungnya ia ditempatkan di sini, di antara orang-orang yang begitu tulus.

Saat makan selesai, Aoi menyalakan lampu tambahan agar ruangan lebih terang. "Kakashi-san, bolehkah kau ceritakan sesuatu? Tentang tempat yang pernah kau kunjungi?"

Kakashi menggeleng pelan. "Tempat yang kulihat tak seindah di sini, Aoi."

"Pasti ada yang menarik," desaknya lembut.

Kakashi terdiam sejenak, lalu menatap nyala api di tungku. "Ada hutan yang kabutnya tak pernah hilang. Ada sungai yang airnya sedingin es. Tapi tak ada yang lebih hangat dari sini."

Aoi tersenyum puas. "Kalau begitu, jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah di sini."

Kakashi menatap gadis itu, lalu ke arah Kenzaburo yang tersenyum bangga. "Saya tidak akan pergi."

Malam semakin larut. Aoi dan Daiki pamit beristirahat. Kenzaburo tetap duduk sejenak, menatap ke arah jendela yang terbuka, tempat angin malam berhembus pelan membawa aroma bunga melati. Kakashi berdiri di dekat pintu, siap untuk berjaga seperti biasa.

"Kakashi," panggil Kenzaburo pelan.

"Ya, Tuan?"

"Kau ingat hari ini?"

Kakashi mengangguk. "Ingat. Tepat sepuluh tahun hari ini, saya diangkat menjadi pengawal pribadi Anda."

Kenzaburo tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Sepuluh tahun. Cepat sekali. Kau tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa. Jika sesuatu terjadi padaku—"

"Tuan, jangan bicara begitu," potong Kakashi tegas.

Kenzaburo mengangkat tangan pelan. "Dengarkan saja. Jika kelak aku tak ada, jaga Aoi dan Daiki. Jadilah pelindung mereka seperti kau melindungiku. Mereka membutuhkan seseorang yang teguh sepertimu."

"Saya akan menjaga Anda sekalian sampai napas terakhir saya," janji Kakashi, suaranya mantap tanpa keraguan.

Kenzaburo tersenyum, berdiri, dan menepuk bahu pemuda itu. "Aku tahu. Sekarang, istirahatlah. Malam ini tenang sekali. Tak ada yang akan mengganggu."

"Tetap saya berjaga, Tuan."

Kenzaburo mengangguk pelan, lalu masuk ke kamarnya. Kakashi tetap berdiri di luar, di tempat yang sama, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya. Ia memandang langit yang penuh bintang, memandang kediaman yang hangat ini, memandang bayang-bayang pohon yang bergerak lembut. Tidak ada pertanda buruk. Tidak ada suara mencurigakan. Hanya kedamaian yang begitu murni, begitu lengkap, hingga terasa seperti mimpi yang tak ingin diakhiri.

Ia belum tahu bahwa ketenangan ini adalah persiapan terakhir sebelum badai menghantam. Ia belum tahu bahwa di tempat yang tak terlihat, benih kebencian sudah tumbuh perlahan, menunggu momen yang tepat untuk mekar menjadi maut. Malam ini, Kakashi hanya tahu satu hal: ia berdiri di sini, utuh, tenang, menjaga orang-orang yang ia cintai. Dan itu sudah cukup.

Sementara itu, di kejauhan, di balik pegunungan yang kabur diselimuti kabut, bayangan-bayangan bergerak senyap. Rencana sudah matang. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat. Namun di kediaman yang damai itu, tak ada satu pun yang menyadarinya. Bintang-bintang tetap bersinar, angin tetap berhembus lembut, dan Kakashi masih berdiri tegak, tak menyadari bahwa satu momen kelalaian kelak akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!