Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Keesokan harinya, pendar matahari pagi menembus kaca patri ruang kerja sang CEO di gedung BRTV. Suasana hening yang semula menyelimuti ruangan itu seketika pecah saat pintu besar berbahan kayu jati terdorong kencang tanpa didahului ketukan.
Gea melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah yang memerah padam karena amarah. Tas selempang dari rumah mode ternama yang bertengger di bahunya terayun-ayun kencang mengikuti langkah kakinya yang menghentak kasar, menegaskan emosi yang tengah meluap-luap.
"Sayang! Kamu harus tahu! Bawahan kamu di kantor ini benar-benar tidak profesional!" pekik Gea tanpa basa-basi.
Arya yang tengah mengecek beberapa berkas di mejanya hanya mengangkat alis tipis. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, berusaha tetap tenang menghadapi gelombang emosi wanita di hadapannya. "Ada apa lagi, Ge? Datang-datang sudah marah begini."
"Aku baru saja dapat tawaran untuk jadi host program talk show baru di BRTV. Semuanya sudah hampir rampung, Arya! Tahapannya tinggal tanda tangan!" Gea berkacak pinggang, dadanya kembang-kempis. "Tapi tiba-tiba tadi pagi, tim kreatif dengan enaknya bilang kalau kerja sama itu dibatalkan secara sepihak! Dan kamu tahu alasannya apa? Mereka bilang ada instruksi langsung dari Produser Eksekutif yang menyebut kalau attitude ku kurang bagus dan tidak cocok membawakan acara itu!"
Gea melangkah makin mendekat, lalu menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja kerja Arya. Matanya mendelik tajam.
"Produser gila itu berani-beraninya mem- blacklist aku! Padahal aku sama sekali tidak pernah bertemu atau punya masalah pribadi dengannya! Arya, kamu CEO di sini! Kamu harus cari tahu siapa produser sok tahu itu dan pecat dia sekarang juga!"
Kerutan di dahi Arya kian dalam. Ia menatap Gea lekat-lekat. "Kamu tidak tahu siapa nama Produser Eksekutif yang mem blacklist kamu?"
"Enggak!" Gea mendengus kasar, melemparkan pandangan jengkel ke sembarang arah. "Tim kreatifnya cuma omong kosong bilang 'ini atas instruksi Produser Eksekutif'. Namanya saja sama sekali tidak mau mereka sebutkan! Katanya wanita itu lagi cuti karena suaminya meninggal atau apalah. Ngeselin banget, kan? Kolot sekali jadi orang! Kalau sudah beneran cuti ya cuti saja, ngapain sih masih sok sibuk ikut campur urusan kantor? Kamu pecat saja dia sekalian, biar cutinya permanen selamanya!"
Arya terdiam kaku. Ucapan Gea mengenai sosok produser yang sedang cuti karena duka cita menghantam kesadarannya. Bayangan wajah Gendis yang tenang namun menyimpan duka mendalam semalam mendadak berputar di kepalanya.
Tatapan Arya pada Gea perlahan berubah, menjadi sebuah pandangan rumit yang sulit diartikan.
"Baiklah... aku akan cari tahu masalah ini," sahut Arya dingin. "Tapi tolong kecilkan suaramu, Gea. Ini lingkungan kantor."
Mendengar nada bicara Arya yang terkesan datar dan formal, raut wajah Gea mendadak berubah merajuk. Ia melunakkan sikapnya, melangkah memutari meja kerja besar itu hingga berdiri tepat di samping kursi Arya.
"Lagipula... sampai kapan sih hubungan kita harus backstreet terus seperti ini? Kapan kamu mau meresmikan hubungan kita dan nikahin aku, Arya..." bisik Gea manja. Ia meletakkan jemarinya di bahu Arya, lalu memberanikan diri mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.
Gea memiringkan kepalanya, berniat mendaratkan satu kecupan mesra di bibir Arya untuk meluluhkan hati sang kekasih. Namun, tepat ketika jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter, bayangan paras pucat Gendis dengan mata sayunya mendadak terlintas sangat jelas di benak Arya.
Rasa bersalah yang asing menusuk dadanya begitu tajam.
"Gea, jangan di sini!" Arya refleks memegang kedua pergelangan tangan Gea dan menepisnya pelan, memundurkan tubuhnya menjauh dari jangkauan wanita itu.
Gea terperanjat, matanya membelalak tak percaya atas penolakan spontan dari Arya. "Arya? Kamu... kamu menolakku?"
"Ini ruang kerja, Gea. Banyak karyawan di luar," potong Arya cepat, berusaha mengatur nada suaranya agar tetap terdengar rasional. "Dan kamu harus janji—"
"Aku nggak mau tahu! Kamu harus janji bakal beresin produser itu!" sergah Gea memotong kalimat Arya.
"Iya, aku janji akan selesaikan. Sekarang kamu pulang dulu. Aku masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan," ujar Arya seraya memalingkan wajahnya kembali ke layar komputer.
Gea menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Ia ingin meluapkan kekesalannya lebih lanjut, namun melihat raut dingin dan tegas di wajah Arya, ia tahu perdebatan ini tidak akan memenanginya.
"Ingat janji kamu, Arya. Aku tidak akan pernah tinggal diam kalau ada orang luar yang berani ganggu karierku di industri ini," ancam Gea dengan nada ketus.
Tanpa menunggu balasan lagi, Gea berbalik. Suara ketukan hak tinggi sepatu mewahnya terdengar berdenting keras dan penuh amarah melintasi lorong luar ruang kerja sang CEO.
---
Beberapa jam berlalu. Hari sudah beranjak sore ketika Arya akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal ke rumah utamanya. Pikirannya benar-benar kacau, terpecah antara rasa bersalah pada Gendis dan keluhan Gea yang terus mengiang di telinganya.
Saat ia tengah merapikan dokumen di ruang kerja rumahnya, pintu ruangan perlahan terbuka.
Gendis melangkah masuk. Wajahnya tampak amat pucat, jauh lebih layu dibanding semalam. Lingkar hitam samar terpatri di bawah matanya yang redup. Pagi tadi, sebuah panggilan telepon dari Alex, dokter sekaligus sahabat almarhum suaminya, membuat isi kepalanya kian berat. Alex memintanya untuk segera datang ke rumah sakit guna mengambil hasil tes laboratorium penting terkait kondisinya. Namun sebelum pergi, Gendis memutuskan untuk menemui Arya terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusan rumah.
"Kamu memanggilku?" suara Gendis terdengar lirih, nyaris tanpa daya, namun tetap mempertahankan kerangka bahasanya yang teratur.
Arya menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Gendis cukup lama, menyipitkan mata seolah sedang mencoba membaca apa yang sebenarnya disembunyikan oleh wanita di hadapannya itu.
"Gea tadi datang ke kantorku," buka Arya dengan nada datar.
Gendis hanya mengangkat sebelah alisnya tipis, tidak menunjukkan riak terkejut sedikit pun. "Lalu? Itu urusan pribadimu dengannya, kan? Bukan urusanku."
"Dia sangat marah," lanjut Arya, melangkahkan kakinya perlahan keluar dari balik meja kerja. Suaranya terdengar pelan, namun jelas terlihat sedang mengintimidasi Gendis. "Dia bilang ada salah satu Produser Eksekutif di perusahaan ku yang secara sepihak mem blacklist namanya dari proyek acara baru. Padahal dia mengaku sama sekali tidak pernah bertemu atau bermasalah dengan produser itu."
Gendis berdiri bergeming di tempatnya. Dengan kecerdasannya, ia tentu tahu pasti ke mana arah pembicaraan Arya. Kekasih sang CEO rupanya langsung berlari mengadu, merengek meminta perlindungan agar orang yang berani menghadang jalan kariernya ditindak tegas.
Arya menghentikan langkahnya tepat di depan Gendis. Ia menunduk, menatap dalam-dalam iris mata bening wanita yang berstatus sebagai istri rahasianya itu.
"Orang itu... kamu, kan? Kamu yang mem-blacklist Gea dari program BRTV?"
Tidak ada kepanikan di wajah Gendis. Ia membalas tatapan Arya dengan sorot mata yang amat dingin dan tenang.
"Iya. Aku yang melakukannya," jawab Gendis singkat, lugas, tanpa niat sedikit pun untuk mengelak.
"Kenapa?" cecar Arya, alisnya bertaut berat. "Apa alasan dan kesalahan mendasar Gea sampai kamu tega mencoret namanya begitu saja?"
Gendis menghembuskan napas pendek. Jemari tangannya yang kurus merogoh saku gamis panjangnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar. Ia mengusap layarnya sebentar, membuka sebuah berkas video tersimpan, lalu mengarahkannya ke depan dada Arya.
"Tim kreatifku merekam seluruh proses audition dan casting untuk program baru itu. Termasuk saat pacarmu datang ke studio," ujar Gendis datar.
Ia membiarkan Arya memegang ponsel itu dan menyaksikan rekaman rekaman kamera pengawas serta catatan tim produksi.
"Tiga kali dia datang terlambat dari jadwal yang disepakati tanpa konfirmasi. Dua kali dia membentak dan memaki kru lapangan hanya karena hal sepele. Dan sekali..." Gendis jeda sejenak, menatap Arya lurus-lurus. "...dia secara terbuka merendahkan fisik peserta lain di depan umum hanya karena menganggap peserta itu tidak secantik dirinya. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana perangainya di video itu, kan?"
Arya terdiam saat matanya menyaksikan rekaman tingkah polah Gea di layar ponsel. Wajah pria itu perlahan memeras keras, diselimuti rasa malu yang menjalar.
"Sebagai Produser Eksekutif, aku memikul tanggung jawab penuh untuk menjaga kualitas dan profesionalitas program yang aku pegang," lanjut Gendis, suaranya terdengar tegas meski artikulasinya pelan. "Aku tidak akan biarkan program andalan stasiun TV kita hancur hanya karena diisi oleh host yang tidak punya disiplin, arogan, dan tidak bisa menghargai tim kerja. Awalnya, tim kreatif sempat mempertimbangkan namanya karena beredar rumor dia adalah kekasih dari CEO baru. Tapi dalam prinsip kerjaku, ini ranah profesional. Mana yang punya kualitas dan attitude baik akan dipertahankan, dan mana yang buruk... harus dilepaskan!"
Arya perlahan menurunkan tangan yang memegang ponsel tersebut, lalu mengembalikannya pada Gendis. Ia menatap wanita di depannya dengan tatapan yang sukot dijelaskan, tatapan penuh keterkejutan dan rasa segan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Arya tidak pernah menyangka bahwa di balik penampilan sederhananya, Gendis sosok pemimpin yang begitu detail, berprinsip, dan memegang teguh integritas pekerjaan tanpa terpengaruh oleh intimidasi kekuasaan.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya langsung padaku sejak awal?" tanya Arya pelan, nada bicaranya kehilangan taringnya.
Gendis menerima kembali ponselnya dan menyimpannya rapat-rapat.
"Karena ini ranah pekerjaan profesional, Arya. Bukan ranah hubungan percintaan kalian, atau ranah pernikahan rahasia kita," sahut Gendis dingin. "Kontrak kerja sebagai Produser Eksekutif dan kontrak pernikahan kita dua hal yang sepenuhnya berbeda. Di kantor, suamiku bukan kamu. Jadi aku sama sekali tidak membutuhkan izin atau validasi darimu hanya untuk mengambil keputusan teknis terkait programku."
Arya terkelip. Lidahnya mendadak terasa begitu kelu. Jawaban sarkas dan tanpa cela dari Gendis benar-benar membungkam mulutnya.
"Dan lagipula," tambah Gendis seraya merapikan letak tas kecil di bahunya, "aku pikir kamu terlalu sibuk dengan jabatan barumu sebagai CEO sampai harus mengurusi hal kecil seperti casting satu acara. Jadi, biarkan aku menjalankan tugasku sebagaimana mestinya. Dan saranku... katakan pada kekasihmu itu, jangan terlalu manja dan membiasakan diri mengandalkan fakta bahwa pacarnya adalah seorang CEO di sana. Jangan-jangan dia menjalin hubungan dengan mu hanya untuk mendongkrak namanya supaya jadi terkenal.
.
.