NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OMBAK DI LUAR BENTENG

Malam berangkut perlahan, melingkupi kediaman di kawasan Jakarta Selatan itu dengan keheningan yang semu. Namun, di dalam kamar utama lantai dua, atmosfer justru terasa sarat akan ketegangan yang merayap diam-diam.

Aku duduk di tepi ranjang, masih mengenakan piyama panjang berlengan licin usai membersihkan diri. Di meja kerja, Ammar tampak mengamati layar ponselnya yang tak henti-hentinya bergetar dan menyala sejak kurun waktu satu jam terakhir. Pendar cahaya biru dari layar memantul di kacamata berbingkai tipis yang ia kenakan, memperlihatkan guratan halus kerutan di keningnya yang kian mempertegas kecemasan.

"Mas Ammar..." panggilku pelan, memecah kesunyian kamar. "Telepon dari siapa? Dari Abah lagi?"

Ammar menghentikan jemarinya di atas layar, melepaskan kacamatanya lalu mengusap wajahnya yang tampak lelah. Pria itu menoleh menatapku dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Bukan Abah, Aisyah," sahut Ammar, suaranya terdengar berat dan sedikit parau. "Beberapa pengurus yayasan dan perwakilan jemaah pesantren di daerah. Kabar tentang pembatalan perjodohan saya dengan Zahra... serta berkas isbat nikah kita pagi tadi tampaknya sudah tersebar."

Deg!

Jantungku bagaikan berhentikan detaknya sejenak. Aku meremas ujung seprai tempat tidur dengan jemari yang mendadak dingin. Ketakutan yang sempat menguap sore tadi kini kembali melingkupi dadaku bagai kabut tebal.

"Sudah tersebar?" bisikku dengan nada bergetar. "Tapi... bagaimana bisa cepat sekali? Bukankah pagi tadi yang ada di ruang tamu hanya keluarga dan pihak KUA?"

Ammar bangkit dari kursi kerjanya, melangkah pelan menghampiriku di atas ranjang. Ia mendudukkan dirinya di sampingku, meraih jemariku yang mendingin lalu membalutnya dengan kedua telapak tangannya yang hangat dan kokoh.

"Kyai Dahlan adalah ulama berpengaruh di Jawa Barat, Aisyah," jelas Ammar lembut, berusaha menenangkan gejolak di mataku. "Penarikan diri beliau dari kerja sama pesantren Abah tentu memicu pertanyaan besar di kalangan pengurus. Ditambah lagi, beberapa jemaah yang selama ini mengharapkan Zahra menjadi pendamping saya merasa terkejut dengan kabar pernikahan mendadak ini."

"Mereka... mereka pasti membenciku, kan?" potongku cepat, menatap mata cokelat mewahnya dengan pandangan menuntut kejujuran. "Mereka pasti mikir aku wanita pengganggu yang merusak tatanan keluarga Habib... atau cewek tak jelas yang tiba-tiba datang memanfaatkan keadaan."

Ammar memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas berat dari hidungnya. Ia tidak langsung menjawab dengan kebohongan manis. Pria itu tahu persis bahwa dunia luar yang akan kami hadapi tidaklah seindah dan seaman ruangan ini.

"Mungkin sebagian dari mereka berpikir begitu," tutur Ammar jujur, menatapku lurus dengan binar keteguhan yang tak tergoyahkan. "Tapi itu karena mereka belum mengenalmu. Mereka tidak tahu siapa Aisyah yang sebenarnya wanita berhati mulia yang rela berkorban demi keluarganya."

"Tapi Mas..." air mata menumpuk di pelupuk mataku, "aku punya masa lalu yang kelam. Bagaimana kalau ada orang yang tahu kalau aku pernah kerja di..."

"Aisyah!" potong Ammar tegas namun penuh kelembutan. Jemari tegapnya terangkat, mengusap sudut mataku sebelum bulir air mata itu sempat menetes. "Dengar saya. Masa lalumu adalah urusanmu dengan Allah sebelum kamu menjadi istri saya. Begitu kamu mengikat janji suci ini bersama saya, seluruh dosamu di masa lalu telah dilebur oleh penyesalanmu, dan kehormatanmu adalah tanggung jawab saya sepenuhnya."

Ammar menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Dada bidangnya yang kokoh menjadi tempat bersandar paling aman di tengah badai kecemasan yang berkecamuk. Aku memeluk pinggangnya erat-erat, menghirup aroma khas minyak zaitun bercampur kesegaran tubuhnya yang selalu sanggup melumpuhkan seluruh rasa takutku.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai dapur.

Suasana sarapan kali ini terasa sedikit berbeda. Ibu dan Awan duduk di meja makan dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Kepastian status hukum dan kejelasan sikap Ammar kemarin benar-benar telah mengangkat beban seberat gunung dari pundak Ibu.

"Aisyah, ini dilayani suaminya," tegur Ibu seraya tersenyum hangat, menyodorkan piring berisi nasi uduk dan semur daging ke arahku.

Aku tersenyum tipis, menyambut piring tersebut lalu menatanya di hadapan Ammar yang baru saja turun dari lantai dua mengenakan baju koko putih bersih dan sarung tenun bernuansa gelap.

"Terima kasih, istriku," goda Ammar pelan dengan suara baritonnya yang rendah saat aku menyajikan cangkir teh hangat di samping piringnya.

Wajahku seketika memerah merona. Kata 'istriku' yang meluncur dari bibir suaminya selalu sukses membuat detak jantungku melompat tak beraturan.

Namun, momen manis sarapan pagi itu mendadak terganggu oleh suara ketukan pintu depan yang terdengar amat tergesa-gesa dan kencang.

TOK! TOK! TOK!

"Assalamu'alaikum! Habib Ammar!" suara teriakan dari luar terdengar panik dan cemas.

Ammar menghentikan sendoknya yang baru terangkat separuh. Keningnya berkerut tipis. Pria itu bangkit dari kursi, melangkah menuju ruang depan disusul olehku yang mengekor ragu dari belakang.

Begitu Ammar membuka pintu kayu berukir itu, tampak sosok Ustaz Ridwan—salah satu pengurus kepercayaan pesantren Abah—berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah dan pelipis yang dibasahi keringat dingin.

"Wa'alaikumussalam. Ustaz Ridwan? Ada apa pagi-pagi sudah datang dengan terburu-buru seperti ini?" tanya Ammar heran.

Ustaz Ridwan menyapu wajahnya dengan sapu tangan, menatap Ammar dengan raut penuh kecemasan mendalam. Matanya sempat melirik sekilas ke arahku yang berdiri di belakang Ammar.

"Habib... gawat, Habib!" bisik Ustaz Ridwan dengan suara bergetar. "Di luar gerbang kompleks... ada beberapa wartawan media berita lokal dan oknum jemaah dari luar kota yang berkumpul!"

DEG!

Darahku serasa berhenti mengalir seketika!

"Wartawan?" beo Ammar, suaranya mendadak berubah dingin dan tajam. "Untuk apa mereka berkumpul di luar gerbang?"

"Seseorang telah membocorkan berkas pendaftaran isbat nikah Habib dan Mbak Aisyah ke media massa sejak tadi malam!" jelas Ustaz Ridwan panik. "Berita tentang pembatalan perjodohan Habib dengan Syarifah Zahra dan pernikahan rahasia ini sudah menjadi pembicaraan hangat di portal berita islami! Mereka menuntut klarifikasi langsung dari Habib Ammar!"

Aku mundur satu langkah, menutup mulutku yang gemetar hebat dengan kedua tangan. Bayangan ketakutan terburukku benar-benar menjadi kenyataan. Dunia luar tak lagi sekadar berbisik-bisik di balik dinding kaca... ombak itu kini telah sampai di depan pintu rumah kami!

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!