Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kaki di Kabut Abadi dan Ujian Pertama Gerbang Kuil
Kabut putih tebal yang menyelimuti perbukitan curam di lembah perbatasan selatan terasa begitu pekat, menelan setiap suara dan membatasi jarak pandang hingga tidak lebih dari beberapa meter ke depan. Permukaan tanah batu tempat Gu Yan-Zhi dan kelompoknya melangkah ditumbuhi oleh lumut hitam licin yang memancarkan pendar energi spiritual purba lemah setiap kali terinjak.
Gu Yan-Zhi memimpin di barisan terdepan, matanya menyipit tajam menembus selimut kabut. Di tangannya, gulungan peta topografi rampasan dari utusan Sekte Langit Berkobar terbuka lebar, membantunya menavigasi jalur setapak labirin batu yang telah ditinggalkan oleh peradaban manusia selama ribuan tahun. Di belakangnya, Gu Chen berjalan dengan langkah mantap sambil mengawasi tali beban kuda, sementara Gu Ruoxi mengerahkan kepekaan spiritualnya untuk mendeteksi potensi jebakan formasi kuno (array) yang mungkin masih aktif di sekitar jalur pendakian.
Di bahu Gu Yan-Zhi, Hu Yijie mengendus-endus udara dengan hidungnya yang basah, lalu mendesis pelan melalui telepati.
Tuan... fluktuasi energi di tempat ini sangat berbeda dengan dunia luar. Ada sisa-sisa kekuatan spasial dan elemen es kuno yang terjebak di dalam dinding batu. Kita harus berhati-hati, karena formasi pertahanan di sekitar gerbang kuil kemungkinan besar masih berfungsi secara otomatis, ucap Hu Yijie memperingatkan.
Gu Yan-Zhi mengangguk pelan menanggapi peringatan tersebut. "Kau benar, Yijie. Tempat ini dibangun pada era ketika para dewa purba masih berjalan di atas tanah Benua Dewa. Formasi pertahanan mereka tidak mengandalkan tenaga manusia, melainkan menyerap langsung denyut energi spiritual dari inti bumi."
Setelah berjalan mendaki selama hampir satu jam menyusuri jalan setapak yang semakin menyempit, kabut putih di hadapan mereka perlahan-lahan menipis, tersapu oleh embusan angin dingin yang bertiup dari celah dua tebing batu raksasa. Di hadapan mereka, sebuah gerbang batu purba berukuran raksasa muncul dengan megahnya. Pilar-pilar batu hitam setinggi puluhan meter itu dihiasi oleh relief ukiran naga langit dan aksara kuno yang memancarkan pendar cahaya keemasan redup.
Di antara kedua pilar gerbang tersebut, terbentang sebuah penghalang energi transparan berbentuk riak air—sebuah segel formasi kuno yang menutup total jalur masuk menuju kompleks utama reruntuhan Kuil Langit Kuno.
Gu Yan-Zhi mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada Gu Chen dan Gu Ruoxi untuk menghentikan langkah mereka beberapa meter di belakang.
"Kita sudah tiba di gerbang utama," ucap Gu Yan-Zhi tenang. Ia melangkah maju mendekati penghalang energi transparan tersebut, lalu mengulurkan telapak tangan kanannya untuk merasakan karakteristik aliran Qi di dalam segel purba itu.
Begitu kulit jarinya menyentuh permukaan riak air transparan, gelombang kejut energi spiritual beruntun langsung terpancar keluar, mencoba menolak dan mendorong tangan Gu Yan-Zhi mundur. Segel tersebut dirancang untuk menguji kualifikasi siapapun yang ingin masuk; hanya mereka yang memiliki pemahaman murni mengenai hukum ruang dan energi alam yang diizinkan melangkah melewati ambang batas tersebut.
Gu Chen menatap cemas dari belakang. "Tuan muda, apakah penghalang itu berbahaya? Bagaimana cara kita membukanya?"
Gu Yan-Zhi tidak segera menjawab. Sepasang mata keemasannya berbinar terang, memindai setiap pola aliran garis energi yang berputar di dalam penghalang batu itu. Ia mengenali pola tersebut; itu adalah sistem penguncian spasial tingkat dasar yang selaras sempurna dengan prinsip dasar yang terkandung di dalam Kitab Pembalik Langit.
"Segel ini tidak diciptakan untuk dihancurkan dengan kekuatan kasar," jawab Gu Yan-Zhi dengan nada penuh keyakinan. "Jika kita mencoba membobolnya dengan hantaman tenaga dalam biasa, formasi ini akan melepaskan balik tekanan energi yang dapat menghancurkan seluruh jalur meridian kita dalam sekejap."
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya sejenak. Di dalam Dantiannya, pusaran energi keemasan berputar teratur, menyelaraskan frekuensinya dengan denyut nadi purba dari segel kuil tersebut. Gu Yan-Zhi kembali mengulurkan telapak tangannya, kali ini mengalirkan sedikit distorsi ruang mikro ke ujung jari telunjuknya.
Kringgg...
Suara dering logam yang nyaring bergema halus saat ujung jari Gu Yan-Zhi menyentuh titik pusat simpul energi pada penghalang transparan itu. Alih-alih menolak, riak air di permukaan penghalang mendadak berputar membentuk pusaran kecil, menyerap energi keemasan Gu Yan-Zhi, lalu perlahan-lahan mencair dan membuka sebuah celah lorong berbentuk lingkaran sempurna di tengah-tengah segel batu tersebut.
Gu Chen dan Gu Ruoxi terperanjat kaget bercampur kagum melihat penghalang kuno yang megah itu terbuka begitu saja hanya dengan sentuhan ringan dari tuan muda mereka.
"Pintu masuk telah terbuka," ujar Gu Yan-Zhi sambil membuka matanya kembali, memancarkan sorot tajam penuh wibawa. "Mari kita masuki bagian dalam reruntuhan sebelum fluktuasi pembukaan segel ini terdeteksi oleh sensor pengintai faksi lain di luar lembah."
Begitu mereka melangkah melewati celah gerbang batu, pemandangan di dalam kompleks reruntuhan Kuil Langit Kuno langsung merenggut napas siapa saja yang melihatnya. Di hadapan mereka terbentang sebuah alun-alun batu pualam raksasa yang dikelilingi oleh belasan aula kuno berarsitektur megah dengan atap melengkung khas era dewa purba. Meskipun sebagian besar bangunan telah ditumbuhi oleh tanaman rambat dan lumut hijau, aura kekuatan spiritual yang tertinggal di udara begitu pekat hingga membuat pori-pori kulit terasa segar seketika.
Di tengah alun-alun pualam tersebut, berdiri sebuah altar batu berbentuk lingkaran dengan patung naga raksasa yang melingkar di sekelilingnya. Di atas puncak altar, sebuah artefak berbentuk bola kristal transparan yang memancarkan pendar cahaya kebiruan melayang pelan tanpa menyentuh permukaan batu—sumber dari seluruh denyut energi spiritual yang menghidupkan kompleks kuil ini.
"Itu... artefak pusaka peninggalan leluhur!" gumam Gu Chen takjub, matanya terbelalak lebar menatap bola kristal yang melayang di atas altar.
Gu Yan-Zhi melangkah maju perlahan, merasakan panggilan tak kasat mata yang berdenyut selaras dengan Dantian di dalam tubuhnya. Namun, sebelum ia sempat mendekati altar utama, kepekaan spiritual Gu Ruoxi tiba-tiba bergetar hebat, mengirimkan sinyal peringatan darurat ke seluruh kelompok.
"Kakak! Hentikan langkahmu!" seru Gu Ruoxi cemas, menunjuk ke arah bayangan gelap di balik pilar-pilar aula sebelah barat. "Aku merasakan fluktuasi Qi asing yang sangat kuat dan berbahaya baru saja menerobos masuk melewati gerbang luar! Jumlah mereka banyak, dan aura mereka... mereka adalah pasukan elit dari faksi besar!"
Mendengar peringatan tersebut, Gu Yan-Zhi menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah bayangan pilar aula barat. Di tengah kabut tipis yang merayap masuk ke dalam alun-alun, selusin sosok berjubah abu-abu gelap dengan lambang pedang bersilang di dada—pasukan elit dari faksi cabang Sekte Pedang Salju—muncul serentak, mengepung jalur keluar mereka dengan pedang terhunus dan mata memancarkan niat membunuh yang pekat.
Di barisan terdepan kelompok pengepung itu, berdiri seorang pendekar paruh baya berwajah dingin dengan bekas luka sayatan di pelipis kanan. Namanya Tetua Han, seorang pendekar tingkat delapan yang memimpin operasi pencarian sisa-sisa garis keturunan Klan Gu di wilayah selatan.
"Gu Yan-Zhi... akhirnya kami menemukan sarang tikusmu di tempat tersembunyi ini," suara Tetua Han menggema dingin di seluruh alun-alun kuil kuno, memecah kesunyian reruntuhan purba. "Serahkan artefak kuil dan nyawamu sekarang juga, atau kalian semua akan mati tercincang di tanah suci ini!"
Di bawah langit reruntuhan kuil yang megah, pertempuran paling menentukan di ambang warisan para dewa resmi dimulai, menguji batas akhir kekuatan sang Jenderal Langit menghadapi amukan pasukan elit sekte pedang.