"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : Keputusan yang Salahl
Malam semakin larut di kediaman keluarga Raharja. Hujan gerimis menyiram dedaunan di luar, membuat udara kamar Luna yang bernuansa hangat terasa makin dingin. Di atas ranjang, Luna tertidur lelap dengan kompres penurun panas yang menempel di dahi mulusnya.
Suara ketukan pintu depan yang perlahan mengalihkan perhatian Ardi di ruang tamu. Begitu pintu dibuka, sosok Marko berdiri di sana. Pria matang itu masih mengenakan kemeja kerja yang terlipat di lengan, raut wajahnya tampak lelah sekaligus dipenuhi rasa cemas yang tertahan.
"Masuk, Ko," ajak Ardi, menepuk bahu sahabatnya. "Gue kaget lu sampai bela-belain ke sini malam-malam."
"Gue mau liat kondisi Aluna, Di," ujar Marko, suaranya terdengar berat dan parau. "Gimana keadaannya sekarang?"
Ardi menghela napas panjang seraya menuntun Marko ke sofa. "Udah mendingan setelah disuntik dokter tadi sore. Tapi demamnya masih tinggi. Katanya maag-nya kambuh parah karena nggak makan seharian di kantor."
Marko mengepalkan tangannya di samping paha, rasa bersalah kian bergemuruh di dadanya.
"Jujur ya, Ko," lanjut Ardi dengan nada bicara yang berubah serius. "Kemarin malam Luna sempat curhat sama gue dan Sinta. Dia cerita kalau ada karyawan senior di divisi analisis data nama Maya yang suka nindas dan ngasih tugas-tugas berat ke dia. Gue pikir Luna cuma berlebihan, ternyata sampai pingsan begini."
Marko menatap Ardi lekat-lekat, matanya membeku. "Gue udah tahu, Di. Hari ini gue sendiri yang liat tumpukan berkas di mejanya. Lu tenang aja, gue yang bakal selesaikan urusan ini di kantor."
"Gue percaya sama lu, Ko," balas Ardi lega.
Marko lalu berdiri perlahan. "Gue boleh liat dia sebentar?"
"Masuk aja, kamarnya di atas. Sinta lagi nyiapin teh hangat di dapur."
Marko melangkah perlahan menaiki tangga menuju lantai dua. Pintu kamar Luna yang sedikit terbuka di dorongnya pelan. Di dalam ruangan bernuansa pastel itu, Luna terbaring pucat di balik selimut tebal.
Marko mendekati ranjang, mendaratkan tubuh kekarnya di kursi samping tempat tidur. Matanya menatap lekat wajah polos gadis dua puluh tahun yang kini tampak begitu rapuh. Jemari Marko yang hangat terulur refleks, mengusap helai rambut Luna yang menutupi dahinya.
Tiba-tiba, kelopak mata Luna bergerak pelan. Gadis itu menyesuaikan cahaya remang di kamar, lalu tertegun saat menyadari siapa yang duduk di sampingnya.
"P-Pak Marko?" cicit Luna lemah, suaranya parau karena demam.
Marko menahan gerakan tangannya, menatap Luna dengan sorot mata yang dipenuhi kelembutan yang terlarang. "Jangan banyak gerak dulu, Aluna."
"Bapak... ngapain ke sini?" tanya Luna dingin, mencoba menegakkan duduknya meski kepalanya masih terasa berputar.
"Saya mau mastiin keadaan kamu," jawab Marko datar, menetralkan raut wajahnya kembali kaku. "Besok dan lusa, kamu nggak usah masuk kantor dulu. Istirahat di rumah sampai kamu benar-benar pulih total. Ini perintah dari saya sebagai CEO."
Luna menatap mata Marko sejenak, lalu membuang pandangannya ke jendela. "Terima kasih, Pak Marko. Tapi Bapak tidak perlu repot-repot datang ke sini. Nanti orang kantor mikir yang enggak-enggak lagi."
Pengusiran halus dan sikap dingin Luna bagaikan duri yang menghantam dada Marko. Pria itu mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ini yang kamu mau kan, Marko? Dia mulai menjauh, bisik batinnya yang terasa begitu hampa.
"Saya cuma menjalankan kewajiban saya sebagai sahabat Ayah kamu," balas Marko keras, menyembunyikan rasa perihnya. "Istirahatlah."
***
Keesokan harinya di gedung Janitra Group, atmosfer di lantai paling atas mendadak mencekam. Seluruh staf divisi analisis data berbaris kaku di depan ruangan rapat utama.
Pintu terbuka lebar, memunculkan Marko Janitra yang berdiri tegap dengan setelan jas hitamnya yang sangat rapi. Di sampingnya berdiri Mbak Rani dan kepala HRD kantor.
"Maya. Budi. Dan seluruh tim senior analisis data. Masuk," perintah Marko dengan suara yang menggelegar dingin, sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang.
Maya dengan tubuh gemetar melangkah masuk ke ruangan rapat bersama rekan-rekannya. Begitu pintu tertutup, Marko melemparkan map berkas investigasi CCTV ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi tajam.
"Saya sudah periksa seluruh rekaman CCTV dan laporan pembagian tugas divisi kamu selama satu bulan terakhir," ujar Marko datar namun penuh penekanan. "Kamu, Maya... secara sengaja menyalahgunakan wewenang untuk menindas dan memberikan porsi kerja tak masuk akal kepada staf magang!"
"P-Pak Marko... tolong dengarkan penjelasan saya dulu," potong Maya dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca. "Aluna itu sering bersikap tidak sopan dan—"
"Cukup!" gertak Marko keras, menepuk meja hingga membuat semua orang terlonjak kaget. "Di perusahaan ini, penilaian kinerja didasarkan pada profesionalisme, bukan kebencian personal kamu! Tindakan kamu sudah membahayakan keselamatan staf dan merusak nama baik Janitra Group!"
Marko menoleh ke arah kepala HRD. "Keluarkan surat pemutusan hubungan kerja tidak hormat untuk Maya hari ini juga. Dan untuk staf lain yang terlibat membantu, potong bonus tahunan mereka lima puluh persen serta berikan surat peringatan keras!"
Maya melotot tak percaya, tangisnya pecah seketika. "Pak Marko! Tolong, Pak! Jangan pecat saya!"
"Keluar dari ruangan saya sekarang," usir Marko tanpa ampun, membelakangi mereka.
Tidak berhenti di situ, sore harinya Marko langsung mengumpulkan seluruh kepala divisi dan menerbitkan aturan baru perusahaan: Sistem Pengawasan Beban Kerja Staf Magang dan Larangan Keras Praktik Seniority Bullying. Siapa pun yang melanggar akan langsung dipecat tanpa pesangon.
Malam harinya, sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta Selatan menyajikan hidangan fine dining. Marko duduk berhadapan dengan Jessi yang mengenakan gaun malam tanpa lengan berwarna hitam elegan.
Sejak kejadian di kantor, Jessi makin berani mengambil kesempatan untuk menempel pada sang CEO. Dan malam ini, tidak seperti biasanya di mana Marko selalu menolak atau menghindar, pria itu justru menyetujui ajakan makan malam Jessi.
"Gue seneng banget akhirnya lu mau meluangkan waktu buat makan malam berdua sama gue, Marko," goda Jessi dengan nada manja, mengelus jemari Marko yang berada di atas meja.
Marko menatap jemari Jessi yang menyentuh tangannya. Di dalam hatinya, sama sekali tidak ada percikan gairah atau rasa tertarik. Kosong. Tapi akal sehatnya yang terus berteriak memaksanya bertahan.
Kamu harus buka hati buat wanita lain, Marko, tekan batinnya kasar. Ini satu-satunya cara biar Aluna berhenti ngejar kamu. Biar dia sadar kalau kamu nggak akan pernah bisa jadi miliknya, dan dia bisa buka hati buat pria seumurannya kayak Kenan.
Marko tidak menarik tangannya dari genggaman Jessi. Ia justru menatap model cantik itu dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Saya cuma mau suasana baru, Jessi."
Mata Jessi berbinar gembira. "Artinya... gue punya kesempatan buat mengisi hati lu kan, Ko?"
Marko berdeham pelan, menatap lurus ke dalam mata Jessi. "Kita jalani dulu."
Dua hari kemudian, kondisi kesehatan Luna sudah pulih sepenuhnya. Pagi itu, Luna kembali melangkah masuk ke gedung Janitra Group bersama Rania.
"Lun, lu udah denger berita heboh belum?" bisik Rania antusias saat mereka berada di dalam lift menuju lantai enam.
"Berita apa?" tanya Luna heran.
"Si Maya dower udah resmi dipecat tidak hormat kemarin! Pak Marko sendiri yang turun tangan dan bikin aturan baru soal anak magang! Lu dilindungi banget sama dia, Lun!" seru Rania heboh.
Luna terdiam sejenak. Ada rasa hangat yang sempat berdesir di dadanya mendengar tindakan Marko membela dirinya. Apa Om Marko beneran peduli sama gue? batin Luna penuh harapan.
Namun, harapan manis itu hancur berkeping-keping begitu pintu lift lantai enam terbuka.
Di koridor utama, Marko baru saja melangkah keluar dari ruangan eksekutif. Namun kali ini, pria itu tidak sendirian. Jessi berdiri sangat dekat di sampingnya, merangkul lengan kekar Marko dengan mesra. Dan yang membuat dada Luna serasa dihantam godam raksasa adalah... Marko tidak menepis rangkulan itu sama sekali. Pria itu justru tersenyum tipis merespons bisikan Jessi.
Langkah kaki Luna membeku di tempat.
Marko yang sedang berjalan refleks menghentikan pandangannya saat matanya menangkap keberadaan Luna yang berdiri di dekat lift. Untuk sepersekian detik, Marko melihat binar terluka yang begitu dalam di mata bulat gadis itu.
Jessi yang menyadari arah pandang Marko, makin sengaja mempererat rangkulannya di lengan Marko seraya menyapa dengan nada ketus, "Oh, halo... staf magang yang kemarin pingsan. Udah sembuh?"
Luna mengepalkan tangannya di samping paha, mencoba menahan air mata yang mendadak mendesak keluar. Ia menatap Marko lurus-lurus, lalu mengulas senyum paling dingin yang pernah ada.
"Sudah, Mbak. Terima kasih," jawab Luna tegas, lalu mengalihkan pandangannya sepenuhnya dari Marko. "Permisi, Pak Marko, Mbak Jessi. Saya mau kembali bekerja."
Luna berbalik dan melangkah cepat meninggalkan koridor itu.
Marko menatap punggung Luna yang menjauh dengan dada yang mendadak terasa teramat sesak dan sakit—sebuah harga mahal dari keputusan salah yang baru saja ia buat.