NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Pertemuan Arman Dan Retna

Sejak Mas Bule mengajaknya menghadiri acara pernikahan, Retna tidak pernah bertanya lebih jauh.

Bukan karena ia tidak penasaran.

Justru sebenarnya ia cukup heran mengapa Mas Bule tiba-tiba mengajaknya ke sebuah acara seperti itu.

Namun Retna memilih untuk tidak banyak bertanya.

Baginya, Mas Bule adalah majikannya.

Jika pria itu memintanya menemani, maka ia akan menemani.

Terlebih Mas Bule sudah mengatakan bahwa undangan tersebut datang dari seorang kenalannya bernama Claudia.

Retna sama sekali tidak mengenal Claudia.

Nama itu pun tidak memiliki arti apa pun baginya.

Ia hanya mengira Claudia adalah teman atau kenalan Mas Bule yang kebetulan sedang mengadakan pesta pernikahan.

Tidak pernah sedikit pun terlintas di pikirannya bahwa acara tersebut berhubungan dengan masa lalunya.

Bahkan ketika Mas Bule sempat berkata bahwa acara itu cukup penting baginya, Retna hanya mengangguk.

Ia tidak bertanya siapa pengantinnya.

Tidak bertanya bagaimana Mas Bule mengenal kedua mempelai.

Dan yang paling penting...

Ia tidak pernah membayangkan bahwa salah satu mempelai adalah orang yang selama ini berusaha ia lupakan.

Mobil berhenti di depan sebuah gedung pernikahan yang begitu megah.

Retna menatap keluar jendela.

Gedung itu dihiasi bunga-bunga putih dan rangkaian lampu yang membuat suasana terlihat mewah. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan di sepanjang halaman. Para pelayan berdiri di dekat pintu masuk, menyambut tamu dengan senyum ramah. Dari dalam gedung terdengar alunan musik lembut, bercampur dengan suara percakapan para undangan.

Beberapa tamu turun dari mobil dengan pakaian terbaik mereka.

Retna tiba-tiba merasa sedikit canggung melihat dirinya sendiri.

Dress sederhana yang dikenakannya terasa begitu biasa dibandingkan dengan para tamu yang datang. Ia bahkan sempat merapikan ujung lengan bajunya, seolah-olah dengan begitu penampilannya akan terlihat lebih pantas.

Mas Bule mematikan mesin mobil.

"Kita sudah sampai."

Retna mengangguk.

"Baik, Mas."

Ia hendak membuka pintu.

Namun sebelum turun, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah papan besar yang berdiri di depan pintu masuk.

Foto pengantin terpampang jelas di sana.

Retna membeku.

Tangannya yang semula hendak membuka pintu berhenti di udara. Ujung jarinya mendadak dingin, sementara telapak tangannya mulai berkeringat. Napasnya tersangkut di tenggorokan, seolah tubuhnya mengenali bahaya sebelum pikirannya mampu menerimanya.

Matanya terpaku pada satu wajah.

Wajah lelaki yang sangat dikenalnya.

Wajah yang selama ini berusaha ia hapus dari ingatan.

Wajah yang pernah menjadi alasan mengapa ia takut mempercayai lelaki lagi.

Arman.

Retna seperti kehilangan napas. Dadanya terasa diremas dari dalam, dan jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging.

Pandangannya turun perlahan ke tulisan di bawah foto.

Arman & Claudia.

Dunia seakan berhenti.

Suara kendaraan yang berlalu-lalang di depan gedung mendadak terdengar jauh. Tawa para tamu, musik, bahkan suara napasnya sendiri seperti menghilang. Yang tersisa hanya wajah Arman di papan besar itu.

Wajah yang dulu pernah ia lihat setiap pagi.

Wajah yang pernah membuatnya percaya bahwa pernikahan mereka akan bertahan selamanya.

Wajah yang kemudian menjadi sumber luka paling dalam dalam hidupnya.

Retna ingin memalingkan wajah, tetapi lehernya terasa kaku. Sebagian dirinya ingin menyangkal apa yang dilihatnya, sementara bagian lain sudah tahu bahwa ia tidak mungkin salah. Lelaki itu benar-benar Arman. Lelaki yang pernah menjadi suaminya, dan kini akan mengucapkan janji kepada perempuan lain.

"Retna?"

Suara Mas Bule membuatnya tersadar.

"Kamu kenapa?"

Retna tidak menjawab.

Ia hanya menatap papan itu dengan wajah pucat. Tenggorokannya terasa tercekat, dan kuku-kukunya menekan telapak tangan untuk menahan gemetar.

Mas Bule mengikuti arah pandangannya.

"Kenapa?"

Retna buru-buru menggeleng.

"Tidak apa-apa."

Namun suaranya terdengar bergetar.

"Kamu pucat."

"Saya... hanya sedikit kaget."

"Kaget?"

Retna memaksakan senyum, meski sudut bibirnya terasa kaku.

"Mungkin karena tempatnya besar."

Mas Bule masih terlihat tidak yakin.

Ia memperhatikan wajah Retna yang tampak tegang. Ada sesuatu yang jelas sedang disembunyikan perempuan itu, tetapi Mas Bule tidak ingin memaksanya berbicara di dalam mobil.

Namun Retna sudah lebih dulu membuka pintu.

"Saya turun dulu, Mas."

Ia keluar dari mobil dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Begitu kedua kakinya menyentuh lantai, lututnya hampir kehilangan tenaga. Ia berhenti sejenak, menarik napas pendek-pendek, lalu memaksa dirinya berdiri tegak.

Mas Bule menyusul.

Sementara di dalam hati, Retna berusaha keras menenangkan dirinya.

Kenapa harus Arman?

Dari sekian banyak pernikahan yang bisa ia datangi...

Kenapa justru pernikahan lelaki yang pernah menjadi suaminya?

Ia ingin pergi.

Sungguh.

Ia ingin meminta Mas Bule membawanya pulang.

Tetapi bagaimana caranya menjelaskan?

Bagaimana ia harus mengatakan kepada Mas Bule bahwa pengantin pria yang hendak mereka temui adalah mantan suaminya?

Tidak.

Retna tidak sanggup.

Ia tidak ingin masa lalunya diketahui Mas Bule.

Terlebih setelah beberapa hari terakhir ia berusaha menjaga jarak dari pria itu.

Ia tidak ingin Mas Bule menganggapnya sebagai perempuan dengan kehidupan yang rumit.

Ia tidak ingin dikasihani.

Dan ia juga tidak ingin Mas Bule tahu bahwa dirinya pernah menjadi istri Arman.

Maka Retna memilih diam.

Ia akan bertahan sebentar.

Mengikuti acara.

Lalu pulang.

Sesederhana itu.

Setidaknya, itulah yang ingin ia lakukan.

Retna menarik napas panjang sebelum melangkah memasuki gedung. Ia berusaha memasang wajah biasa, meskipun jantungnya berdetak terlalu cepat. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah lantai marmer di bawah kakinya menahan tubuhnya agar tidak bergerak lebih jauh.

Mas Bule berjalan di sampingnya.

"Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa pulang kapan saja," katanya pelan.

Retna menoleh sekilas.

"Saya tidak apa-apa, Mas."

"Kamu yakin?"

Retna mengangguk.

"Yakin."

Padahal ia sama sekali tidak yakin. Ia hanya takut, jika mengakui bahwa dirinya ingin pergi, semua pertahanan yang susah payah dibangunnya akan runtuh di hadapan Mas Bule.

Namun rencana Retna untuk menjadi tamu biasa ternyata tidak berjalan semudah yang ia bayangkan.

Baru beberapa langkah memasuki ruangan utama, suara seorang perempuan terdengar dari belakang.

"Retna?"

Langkah Retna langsung terhenti.

Ia mengenal suara itu.

Perlahan ia menoleh.

Claudia berdiri beberapa meter darinya.

Perempuan itu tampak cantik dalam gaun pengantin putih. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi mahkota kecil yang berkilauan. Senyum di wajahnya terlihat sempurna, tetapi tatapan matanya berubah ketika melihat Retna.

Tatapan Claudia awalnya penuh kebingungan.

Namun kemudian matanya melebar.

"Astaga... benar-benar kamu?"

Retna tidak mampu tersenyum.

"Selamat, Claudia."

Claudia menatapnya dari atas sampai bawah.

"Kamu datang?"

Retna mengangguk.

"Iya."

Kemudian Claudia melirik kepada pria yang berdiri di samping Retna.

Mas Bule.

Barulah Claudia menyadari sesuatu.

"Kamu datang sama siapa?"

Retna menjawab pelan.

"Mas Bule."

Claudia tersenyum.

"Oh..."

Tatapannya kemudian berpindah kepada Mas Bule.

Namun saat itulah ekspresi Claudia berubah.

Seolah baru menyadari bahwa ada sesuatu yang menarik dari kedatangan Retna malam itu.

"Jadi... Mas Bule tidak tahu?"

Retna langsung menatap Claudia.

Tatapannya memohon.

"Claudia..."

Namun Claudia hanya memiringkan kepala, seolah-olah baru mendengar sesuatu yang aneh.

"Belum tahu apa?"

Mas Bule mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Ia menatap Retna.

Kemudian menatap Claudia.

"Apa maksudnya?"

Claudia tersenyum kecil, lalu merendahkan suaranya.

"Retna belum sempat bercerita?"

Retna semakin pucat. Perutnya terasa melilit, dan napas yang sejak tadi ditahannya kembali tercekat.

"Claudia, jangan."

Claudia menatapnya sejenak. Senyumnya tetap terjaga, tetapi nada suaranya menjadi lebih lembut—terlalu lembut untuk disebut ramah.

"Jangan apa, Retna? Aku hanya tidak ingin Mas Bule merasa datang ke sini tanpa mengetahui siapa yang akan ditemuinya."

Tetapi terlambat.

Claudia menoleh kepada Mas Bule.

"Retna itu mantan istri Arman."

Mas Bule terdiam.

Seolah membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kalimat tersebut.

"Mantan istri Arman?"

Retna menunduk. Jemarinya saling mencengkeram begitu kuat hingga terasa sakit.

Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Claudia melanjutkan dengan senyum tipis.

"Iya. Mereka dulu menikah."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada seolah sedang menyampaikan hal yang wajar.

"Walaupun, kalau melihatnya sekarang, mungkin sulit membayangkan Retna pernah menjadi bagian dari keluarga Arman."

Mas Bule perlahan menatap Retna.

Retna tidak sanggup membalas tatapannya.

Ia takut.

Takut melihat perubahan di wajah pria itu.

Takut Mas Bule kecewa.

Takut Mas Bule bertanya mengapa dirinya menyembunyikan semua itu.

Namun yang paling ia takutkan adalah...

Mas Bule akan memandangnya berbeda setelah mengetahui siapa dirinya.

Sementara Claudia justru belum selesai.

"Lucu juga, ya."

Ia tersenyum.

"Setelah bercerai dengan Arman, sekarang kamu datang ke pernikahannya dengan laki-laki lain."

Retna mengepalkan tangan.

"Claudia..."

"Kenapa?"

Claudia mengangkat alis, lalu tersenyum seolah-olah hendak menenangkan suasana.

"Aku cuma heran. Kamu masih mau datang ke sini."

Retna menahan napas. Dadanya kembali sesak, tetapi kali ini bukan hanya karena Arman. Ia merasa seluruh ruangan sedang menatapnya, seolah-olah masa lalunya baru saja dibuka dan dipertontonkan di depan semua orang.

Ia sudah terbiasa dengan tatapan merendahkan.

Namun mendengarnya di depan Mas Bule membuat semuanya terasa jauh lebih menyakitkan.

"Aku kira setelah perceraian kalian, kamu akan memilih tempat yang lebih aman untuk muncul."

Claudia melirik gaun sederhana yang dikenakan Retna, lalu kembali menatap wajahnya.

"Apalagi di sini banyak orang yang mengenal Arman. Sayang kalau mereka sampai mengira kamu masih punya hubungan apa-apa dengannya."

Retna menunduk.

Ingatan lama kembali menyerbu. Hari ketika ia meninggalkan rumah Arman dengan satu koper kecil. Hari ketika ia menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar. Hari ketika semua orang menyalahkannya tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Ia sudah berusaha mengubur semuanya.

Namun satu kalimat Claudia mampu membuka kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Dan sebelum Claudia sempat melanjutkan kalimatnya, suara Mas Bule terdengar.

Tenang.

Tetapi tegas.

"Sudah cukup."

Claudia terdiam.

Mas Bule berdiri di samping Retna.

"Saya baru tahu tentang hubungan mereka."

Tatapannya tetap tenang.

"Tapi menurut saya, itu bukan alasan untuk mempermalukan seseorang."

Claudia tersenyum tipis, seolah-olah teguran itu tidak benar-benar menyentuhnya.

"Aku tidak bermaksud mempermalukan. Aku hanya menjelaskan keadaan."

"Penjelasan tidak perlu disampaikan dengan cara seperti itu."

Nada Mas Bule masih sopan, tetapi kali ini tidak memberi ruang untuk dibantah.

Claudia menatapnya.

"Kau terdengar sangat yakin membela Retna."

"Yang saya bela bukan masa lalunya."

Mas Bule melirik Retna sekilas.

"Saya hanya tidak setuju jika seseorang diperlakukan seolah-olah harus meminta maaf karena pernah menikah."

Senyum Claudia perlahan menghilang.

"Tentu saja. Hanya saja, tidak semua orang bisa datang ke tempat seperti ini lalu berpura-pura tidak pernah menjadi bagian dari cerita Arman."

Mas Bule menatapnya lurus.

"Dan tidak semua orang perlu menjadikan cerita orang lain sebagai hiburan."

Claudia membuka mulut.

"Aku hanya..."

"Saya tahu."

Mas Bule memotong dengan sopan.

"Tapi kalau seseorang datang sebagai tamu, seharusnya kita menghargai kehadirannya."

Claudia tidak menjawab.

Untuk sesaat, wajahnya tampak kaku. Ia mungkin tidak menyangka Mas Bule akan membela Retna. Beberapa tamu yang berada tidak jauh dari mereka mulai melirik, membuat Claudia akhirnya mengalihkan pandangan.

Mas Bule kemudian menoleh kepada Retna.

"Kamu mau duduk?"

Retna mengangguk pelan.

Mas Bule mengulurkan tangannya sekadar memberi isyarat agar Retna mengikutinya.

Retna berjalan di sampingnya.

Dadanya masih sesak.

Namun untuk pertama kalinya sejak melihat nama Arman, ada sedikit rasa lega.

Mas Bule tidak menjauh.

Tidak memandangnya dengan jijik.

Tidak bertanya macam-macam.

Ia hanya tetap berada di sampingnya.

Dan entah mengapa, hal sederhana itu membuat mata Retna kembali terasa panas.

Mereka duduk di salah satu meja yang agak jauh dari pelaminan. Retna menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih, Mas," ucapnya lirih.

Mas Bule menatapnya.

"Untuk apa?"

"Karena tadi."

"Saya hanya mengatakan yang seharusnya."

Retna tersenyum tipis.

"Bagi saya, itu bukan hal kecil."

Mas Bule tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil segelas air dan menyerahkannya kepada Retna.

"Minum dulu."

Retna menerima gelas itu dengan tangan gemetar.

Di kejauhan, suara pembawa acara mulai terdengar. Para tamu diminta bersiap menyaksikan prosesi utama. Tidak lama lagi Arman dan Claudia akan berjalan menuju pelaminan sebagai pasangan suami istri.

Retna menatap panggung itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Dulu, ia pernah berdiri di samping Arman dengan keyakinan bahwa lelaki itu akan menjadi tempatnya pulang.

Kini, ia hanya bisa menyaksikan lelaki tersebut mengucapkan janji yang sama kepada perempuan lain.

Namun kali ini, Retna tidak sendirian.

Mas Bule duduk di sampingnya, diam-diam memastikan ia baik-baik saja.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Retna menyadari bahwa masa lalu memang tidak bisa diubah.

Tetapi masa lalu juga tidak berhak menentukan seluruh masa depannya.

Karena malam itu, di tempat yang seharusnya menjadi perayaan pernikahan mantan suaminya...

Retna justru menemukan seseorang yang membuatnya merasa tidak sendirian.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!