NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Festival Sekolah 30.

Sebelum melewati gerbang sekolah yang mulai ramai oleh umbul-umbul sponsor, Langit membelokkan setirnya ke arah minimarket 24 jam di dekat persimpangan.

Suasana di dalam minimarket agak sepi, hanya ada bising kulkas pendingin.

Langit berjalan ke lorong minuman, mengambil satu kotak susu rasa cokelat kesukaan istrinya, lalu bergeser ke rak roti untuk mengambil satu roti sobek rasa keju.

Dia tahu betul, kalau sudah masuk mode 'Festival Sekolah', perempuan di rumahnya itu pasti akan lupa caranya mengunyah nasi. Apa lagi posisi nya ketua osis. Sekalian Langit ingin minta maaf atas kelakuannya kemarin dengan cara yang lembut dan anonim.

Setelah membayar di kasir, Langit melempar kantong plastik itu ke jok samping. Matanya melirik jam di dasbor. Pukul 07.45 WIB. Festival akan dibuka lima belas menit lagi.

Begitu sampai di sekolah, atmosfernya langsung berubah 180 derajat. Halaman SMA Bhineka sudah disulap menjadi pasar malam mini dengan puluhan stan makanan dan permainan.

Aroma berondong jagung manis bercampur wangi mentega bakar langsung menyergap indra penciuman begitu gerbang SMA Bhineka dibuka.

Hari ini, koridor sekolah yang biasanya steril dan kaku berubah drastis menjadi lautan warna. Spanduk-spanduk kain flanel buatan tangan bergelantungan di sepanjang selasar, bergoyang pelan ditiup angin pagi yang sejuk.

Musik berirama cepat berdentum dari pengeras suara di sudut lapangan, beradu dengan suara tawa, teriakan antusias para murid, dan gemerincing koin dari stan-stan permainan. Festival Budaya Tahunan resmi dimulai.

Bagi sebagian besar siswa, hari ini adalah surga. Waktunya pamer kostum, berburu makanan gratis, atau sekadar tebar pesona. Namun, bagi Ulfa, hari ini tidak berbeda dengan medan perang.

Gadis itu berdiri di tengah selasar lantai dua dengan papan jalan plastik di pelukan dadanya. Alisnya bertaut rapat saat matanya memindai lembar jadwal acara yang sudah penuh dengan coretan pulpen merah.

Sebagai Ketua OSIS, pundaknya memikul beban kesuksesan acara terbesar tahun ini. Di sekelilingnya, kepanitiaan bergerak seperti semut yang panik.

"Kak Ulfa! Generator di stan kelas sebelas IPS dua mati total!" seru seorang adik kelas dengan napas terengah-engah, wajahnya merah padam karena panik.

"Panggil anak sekbid perlengkapan, minta mereka pakai genset cadangan di belakang laboratorium fisika. Sekarang," jawab Ulfa cepat, suaranya tenang namun tegas, tipe suara yang tidak menerima bantahan.

Belum sempat adik kelas itu berbalik, koordinator konsumsi sudah berlari mendekat. "Ulfa, konsumsi untuk juri lomba band telat datang. Bagaimana ini? Mereka sudah mau masuk ruang penilaian."

Ulfa memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Pakai anggaran darurat. Beli roti bakar di kantin luar dulu untuk ganjal. Saya yang tanggung jawab ke pembina."

Satu per satu masalah berdatangan bagai ombak yang tidak ada habisnya.

Ulfa bergerak dari satu stan ke stan lain, naik-turun tangga, memastikan sound system berfungsi, hingga menenangkan guru yang komplain karena dekorasi yang terlalu maju ke jalan.

Dia menjadi poros utama yang menjaga agar festival ini tidak hancur berantakan.

Matahari merangkak naik hingga tepat di atas kepala, membakar lapangan sekolah dengan hawa panas yang menyengat.

Riuh festival justru semakin menggila. Di lapangan basket outdoor, sorak-sorai penonton bergemuruh. Tim basket sekolah sedang melakukan pertandingan persahabatan melawan alumni.

Di tengah lapangan, Langit bergerak dengan kelincahan yang memukau.

Kaus basketnya yang bernomor punggung 07 sudah basah kuyup oleh keringat, menempel ketat di badannya yang tegap.

Sebagai kapten basket, Langit adalah magnet alami. Setiap kali dia melakukan dribble silang atau mencetak poin lewat tembakan tiga angka, jeritan para siswi di pinggir lapangan akan meledak.

Namun, fokus Langit tidak sepenuhnya ada pada bola. Setiap kali ada jeda waktu atau time-out, matanya secara refleks bergerak memindai kerumunan di pinggir lapangan, mencari satu sosok yang sangat dia kenal. Nihil.

Gadis itu tidak ada di sana. Jangankan menonton pertandingannya, batang hidungnya pun tidak kelihatan sejak pagi.

Langit mengembuskan napas panjang, menyeka keringat di dahinya dengan ujung jersi.

Dia tahu betul betapa keras kepalanya istrinya itu jika sudah menyangkut tanggung jawab.

Ya, istri. Status rahasia yang terkunci rapat di dalam rumah kecil mereka di pinggir kota, jauh dari jangkauan gosip anak-anak SMA Bhineka.

"Lang! Fokus! Musuh sudah mau defense!" teriak salah satu rekan setimnya.

Langit menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu sejenak. "Oke, main bersih!" serunya, kembali berlari mengejar bola.

Waktu menunjukkan pukul empat sore.

Puncak festival mulai bergeser ke panggung utama di lapangan dalam, meninggalkan koridor-koridor kelas yang mulai sepi dan berantakan oleh sisa sampah plastik dan potongan kertas kertas krep.

Ulfa berjalan dengan menyeret langkahnya menuju ruang OSIS.

Kakinya yang terbalut sepatu pantofel terasa amat kebas.

Pandangannya agak mengabur, dan perutnya mengeluarkan bunyi protes yang perih. Dia baru sadar, sejak sarapan roti sepotong jam enam pagi tadi, tidak ada satu pun makanan yang masuk ke tenggorokannya.

Jangankan makan, minum pun dia hanya sempat beberapa teguk.

Pintu ruang OSIS yang berat itu dibukanya perlahan. Ruangan itu kosong dan sunyi, kontras dengan kebisingan di luar. Ruangan ini berantakan dengan tumpukan kardus sisa properti dan papan tulis yang penuh coretan rundown.

Ulfa menjatuhkan dirinya ke kursi kerja di balik meja besar di sudut ruangan. Dia menyandarkan punggungnya yang kaku, lalu memejamkan mata erat-erat.

Rasa lelah yang teramat sangat melanda seluruh tubuhnya seperti semen yang mengeras. Kepalanya berdenyut ritmis, tanda bahwa migrainnya mulai kambuh karena telat makan dan dehidrasi.

"Sebentar saja... lima menit," gumamnya pada diri sendiri, memeluk lengannya di atas meja dan membenamkan wajahnya di sana. Rasa kantuk dan lelah yang luar biasa langsung menariknya ke dalam ketidaksadaran yang tipis.

Di luar, suara bass dari panggung utama masih terdengar berdentum samar, menjadi pengantar tidur yang ironis bagi sang ketua yang kelelahan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, pintu ruang OSIS sedikit berderit. Langkah kaki yang sangat pelan dan berhati-hati memasuki ruangan. Itu Langit. Dia sudah berganti pakaian menjadi kaus putih polos dan celana sekolah, meski rambutnya masih agak basah setelah mandi di ruang ganti jersi.

Langit menghentikan langkahnya beberapa meter dari meja kerja Ulfa. Matanya melembut, menatap gadis yang sedang tertidur pulas dengan posisi yang pasti akan membuat lehernya sakit saat bangun nanti.

Helai-helai rambut Ulfa yang biasanya diikat rapi kini jatuh berantakan menutupi sebagian wajah pucatnya. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya.

Langit mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Ada rasa bersalah sekaligus gemas yang bercampur jadi satu.

'Dasar keras kepala.' Dia ingin sekali membangunkan gadis itu, menariknya pulang, dan menyuruhnya tidur di kasur yang empuk.

Namun, dia tahu betapa besarnya gengsi dan profesionalitas Ulfa di lingkungan sekolah.

Dengan gerakan yang amat perlahan agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, Langit mendekati meja kerja.

Dari balik jaket yang tersampir di lengannya, dia mengeluarkan satu kotak susu rasa cokelat dingin—kesukaan Ulfa saat sedang stres—dan sebuah roti sobek rasa isi keju yang masih empuk dari minimarket.

Dia meletakkan roti dan susu itu di meja kerja Ulfa sebelum gadis itu terbangun.

Setelah itu, Langit mengambil sebuah memo tempel berwarna kuning dari atas meja, mencabut pulpen dari kantong bajunya, lalu menuliskan beberapa kata dengan tulisan tangan yang sengaja dia buat agak berantakan agar tidak dikenali sebagai tulisan khasnya yang tegak bersambung.

Jangan sampai pingsan. Festivalnya belum selesai, dan OSIS masih butuh ketuanya. Makan ini.

Langit menempelkan memo itu di badan kotak susu. Dia berdiri sejenak, memandangi wajah tidur Ulfa dengan senyum tipis yang hanya muncul saat mereka sedang berdua di rumah. Tangan kanan Langit terangkat, berniat mengelus pucuk kepala istrinya, namun dia menahannya di udara. Risiko ada anak OSIS lain yang masuk terlalu besar.

Sambil mengembuskan napas pelan, Langit menurunkan tangannya, berbalik, dan melangkah keluar dari ruang OSIS dengan seringan bulu, menutup pintu tanpa menimbulkan bunyi klik yang berarti. Meninggalkan ruangan yang kembali sunyi, berselimut rahasia manis di antara riuh festival sekolah.

Tidak lama setelah Langit pergi, Elang si wakil ketua osis masuk ke ruangan OSIS tersebut.

......................

...****************...

Tbc,

1
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!