NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Terang di Ujung Senja

Keheningan berat di sudut ruang kelas perlahan mencair ketika bel tanda masuk pelajaran pertama berbunyi nyaring. Kania mengusap sudut matanya yang basah, mencoba merapikan raut wajahnya agar tampak biasa saja sebelum kami berjalan berdampingan kembali ke bangku masing-masing. Meski Kania sudah berjanji akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat, ada rasa canggung tipis yang masih mengalir di antara kami, sebuah jarak halus yang tercipta akibat kejujuran yang baru saja terkuak.

Aku menduduki kursiku seraya menarik napas panjang, merapikan buku pelajaran di atas meja. Baru saja aku hendak membuka buku catatan, sesosok cowok berpostur tinggi melangkah menghampiri mejaku.

"Sera," panggilnya pelan.

Aku mendongak. Itu Joan, salah satu teman sekelas kami yang duduk di barisan depan. Joan memegang buku paket Fisika dan selembar kertas coret-coretan yang penuh dengan deretan angka.

"Kenapa, Joan?" tanyaku menetralkan suaraku.

Joan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, melempar senyum canggung. "Ini... soal materi Fisika yang dibahas Pak Bayu kemarin. Gue masih agak bingung sama penurunan rumus gerak lurusnya. Kata anak-anak lo jago di materi ini. Bisa tolong jelasin sebentar enggak, Ser?"

"Oh, materi yang itu..." Aku mengangguk pelan. "Boleh kok. Sini, bagian rumus yang mananya?"

Joan bergeser sedikit lebih dekat, meletakkan bukunya di sudut mejaku dan menunjuk salah satu baris rumus. Aku mulai menjelaskan perlahan, menguraikan logika di balik rumus itu satu per satu padanya. Joan mendengarkan dengan saksama, sesekali manggut-manggut paham.

Tanpa sengaja, mataku mencuri pandang ke arah Kania yang duduk tak jauh dari kami. Kania tampak bergeming, pura-pura sibuk membolak-balik halaman bukunya. Namun, aku menyadari tatapan matanya yang sesekali mencuri pandang ke arah Joan dengan binar yang amat berbeda, ada keraguan, rasa malu, dan kehangatan tersirat di sana.

Aku mendadak teringat. Sejak masa-masa awal kelas sepuluh dulu, Kania memang pernah mengamati Joan dari jauh. Cowok yang aktif di kegiatan olahraga itu selalu berhasil mencuri perhatian Kania, meski Kania tak pernah memiliki keberanian untuk menyapa atau sekadar berbincang empat mata dengannya. Melihat Kania yang memandangi Joan dengan tatapan tertahan itu membuat rasa bersalah di dadaku semakin menghimpit. Kania begitu tulus menjaga perasaan sukanya sendiri tanpa banyak cerita, sementara aku justru menyembunyikan rahasia besar tentang abangnya sendiri.

"Nah, jadi variabel yang ini tinggal dimasukkan ke persamaan utamanya," ucapku mengakhiri penjelasan.

"Wah, paham gue sekarang! Ternyata simpel kalau dijelasin kayak gini," seru Joan dengan wajah berbinar lega. Ia tersenyum lebar menatapku. "Makasih banyak ya, Sera."

"Sama-sama, Joan. Santai aja," sahutku tersenyum tipis.

Joan meraih bukunya lalu kembali melangkah menuju bangkunya di depan. Saat Joan berjalan melewatinya, Kania buru-buru menundukkan kepala, pura-pura merapikan alat tulis dengan jemari yang tampak sedikit gemetar. Aku menatap sahabatku itu dengan rasa iba dan sayang yang menyatu, berjanji dalam hati akan selalu mendukung apa pun yang membuatnya bahagia.

Jam pelajaran sekolah akhirnya usai. Sepulang sekolah, aku menghabiskan waktu di kamar untuk beristirahat. Rasa lelah emosional akibat obrolan dengan Kania pagi tadi masih menyisakan sedikit sesak di dada.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponselku di atas meja belajar bergetar. Sebuah pesan masuk dari Adrian di layar:

"Sera, sore ini senggang enggak? Mas mau ajak kamu jalan sebentar ke kafe Bram. Mau, ya?"

Mataku terpaku pada layar itu untuk beberapa saat. Kata-kata peringatan dari Kania pagi tadi kembali berputar di kepalaku: Setahu Nia, Mas Iyan itu kan udah punya pacar... Nia cuma enggak mau kalau Mas Iyan sampai nyakitin hati kamu.

Namun di saat yang sama, rasa rindu dan dorongan untuk menagih ketegasan atas rasa yang mengikat kami selama hampir satu tahun ini mendadak membuncah tajam. Aku ingin jawaban pasti. Aku tidak mau terus-terusan berputar dalam lingkaran tanpa status ini.

Dengan jemari yang sedikit ragu, aku mengetikkan balasan:

"Iya, Mas. Sera mau. Nanti Mas jemput ke rumah ya."

Aku segera bergegas mandi dan bersiap-siap. Kupilih pakaian kasual yang nyaman, sebuah kaus kain lembut berwarna krem dan celana denim favoritku. Sebelum melangkah keluar kamar, mataku tertuju pada gelang tali hitam dengan inisial SL di atas meja. Dengan perasaan campur aduk, aku melingkarkan kembali gelang itu di pergelangan tangan kiriku.

Tak lama kemudian, deru mesin motor besar Adrian terdengar membelah halaman depan rumah. Aku melangkah keluar kamar, mendapati Ayah yang sedang duduk di ruang tamu menyapa kedatangan Adrian.

"Assalamu’alaikum, Om," sapa Adrian sopan, mengulurkan tangan menjabat tangan Ayah.

"Wa’alaikumsalam, Adrian," sahut Ayah ramah seraya tersenyum lebar. "Mau jalan-jalan sore ya?"

"Iya, Om. Izin ngajak Sera jalan-jalan sebentar ya, Om," ucap Adrian santai namun tetap penuh hormat.

"Baguslah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya," tutur Ayah mengangguk memberi izin.

Aku mencium tangan Ayah berpamitan, lalu melangkah bersama Adrian menuju teras depan. Adrian menyerahkan sebuah helm padaku seraya tersenyum manis, senyum hangat yang selalu sanggup meluluhkan benteng pertahanan di dalam dadaku. Aku naik ke boncengan motor besarnya, dan kendaraan itu pun melaju tenang membelah jalanan kota yang disiram rona sore keemasan.

Tak butuh waktu lama hingga kami tiba di kafe milik Bram. Suasana sore itu tidak terlalu ramai. Daripada memilih duduk di area utama pengunjung yang beratap keramik, Adrian menuntun langkahku menuju sudut favorit kami: area halaman belakang.

Halaman belakang kafe itu berkonsep taman terbuka yang teramat asri. Rumput hijau tertata rapi di bawah naungan pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi, dengan beberapa set meja dan bangku kayu panjang yang nyaman. Kami memilih duduk bersebelahan di salah satu bangku kayu di bawah pohon rindang, ditemani gemerisik dedaunan yang tertiup angin sore serta suara burung-burung liar yang bersahutan merdu di atas dahan.

Baru saja kami mendudukkan diri di bangku kayu itu, sesosok pria bertubuh jangkung melangkah keluar dari pintu belakang kafe. Bram.

"Wih! Bintang tamu gue dateng nih!" seru Bram heboh dengan cengiran lebarnya yang khas begitu melihat kami. "Gimana, Yan? Mau ngisi panggung akustik lagi sore ini? Gitar di dalam siap nih!"

Adrian terkekeh pelan seraya mengibaskan tangannya santai. "Enggak dulu, Bro. Kita lagi enggak bawa gitar juga. Lagi pengin santai aja sore ini."

"Ah, elo mah! Padahal pengunjung di depan pasti seneng kalau denger kalian duet lagi," goda Bram seraya merangkul santai bahu sahabat lamanya itu. "Ya udah deh, mau pesen apa kalian?"

"Americano satu sama chocolate milkshake satu ya, Bro," sahut Adrian santai pada sahabatnya.

"Oke, siap! Tunggu sebentar ya," balas Bram seraya menepuk pundak Adrian sebelum melangkah kembali ke dalam kafe.

Adrian beranjak berdiri sejenak menuju kasir untuk memesan dan menyelesaikan pembayaran, meninggalkan aku seorang diri menatap rindangnya dedaunan di atas kepala. Angin sore berembus dingin, menyapu lembut sela-sela rambutku.

Beberapa menit kemudian, Adrian kembali dan merapatkan posisi duduknya di sampingku di atas bangku kayu yang sama. Tak lama berselang, seorang pelayan datang membawa nampan berisikan satu gelas Americano dingin berembun dan satu gelas tinggi chocolate milkshake dengan whip cream melimpah di atasnya.

"Silakan, Kak," ucap pelayan itu ramah sebelum buru-buru berlalu kembali ke dalam kafe.

Aku menatap gelas chocolate milkshake di hadapanku. Ternyata pelayan tadi lupa membawakan sedotan. Karena malas memanggil pelayan kembali, aku meraih gelas tinggi itu dengan kedua tanganku, memiringkannya pelan, lalu menyeruput lezatnya cokelat dingin berpadu krim itu secara langsung dari bibir gelas.

"Mas kenapa ketawa?" tanyaku bingung seraya memiringkan kepala menatapnya.

"Kamu minumnya belepotan banget, Sera. Lagian pelayannya tadi lupa ngasih sedotan," ucap Adrian lembut.

Dengan gerakan yang teramat alami dari posisinya yang rapat di sampingku, Adrian memiringkan tubuhnya. Ibu jarinya yang hangat terulur menyapu perlahan sisa krim cokelat di bibir mungilku dengan gerakan teramat halus.

Sentuhan jarinya di bibirku membuat napasku tertahan seketika. Jantungku berdegup kencang bagai derap genderang perang.

Adrian tidak segera menarik tangannya. Ibu jarinya meraba lembut pipiku, sebelum tangannya menyelipkan sehelai rambutku ke belakang telinga. Tatapannya turun mengunci bibirku, lalu kembali menatap manik mataku dengan kedalaman rasa yang teramat intim. Jarak di antara kami yang sudah begitu rapat membuat aroma harum kasual miliknya memenuhi seluruh indra penciumanku.

Wajahnya perlahan mendekat dari samping. Napas hangatnya meraba kulit wajahku. Tanpa benteng sekat apa pun, Adrian memiringkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibirku.

Sebuah kecupan yang lembut, hangat, dan teramat dalam. Sentuhan bibirnya terasa begitu nyata dan emosional, menyalurkan seluruh rasa sayang yang selama ini bersemayam di antara kami. Untuk beberapa detik yang terasa bagai keabadian, aku terpaku pasrah. Kupejamkan mataku, membiarkan diriku tenggelam dalam pusaran rasa manis yang membuai dadaku. Setiap inci perasaanku seolah mengudara, mempercayai bahwa detik ini, akulah satu-satunya wanita di hatinya.

Namun, saat Adrian perlahan melepaskan kecupannya dan menatapku dari dekat dengan senyum tipis yang penuh kehangatan, hantaman kenyataan mendadak menyengat kesadaranku bagai kilat di malam gelap.

Sabrina.

Kania.

Status yang tak pernah ada.

Bayangan foto mesra Adrian bersama Sabrina di Facebook, rasa cemburu yang menyiksa berbulan-bulan, peringatan tulus dari Kania pagi tadi, serta kenyataan bahwa aku hanyalah wanita tanpa ikatan resmi seketika menghantam benakku. Manisnya kecupan itu mendadak berubah menjadi rasa perih yang teramat dalam.

Aku menundukkan kepala, sedikit bergeser menjauh darinya di atas bangku kayu itu.

Adrian tertegun, raut kehangatan di wajahnya berganti menjadi rasa cemas melihat reaksiku. "Sera... kamu kenapa?"

Aku tak sanggup menahan panas yang membakar sudut mataku lagi. Setetes air mata lolos membasahi pipiku, disusul lelehan berikutnya yang tak lagi bisa dibendung. Bahuku bergetar pelan menahan kepedihan yang memuncak.

Melihatku menangis, Adrian langsung bertindak. Ia merapatkan kembali jarak duduknya, merengkuh tubuhku dan membawa diriku ke dalam pelukannya. Lengan kokohnya melingkar hangat di punggungku, menarik kepalaku untuk bersandar di dadanya. Usapan tangannya di punggungku bergerak lembut, berusaha menenangkan getaran tangisku.

"Sera, kok menangis?" bisik Adrian cemas di dekat telingaku. "Maaf... Mas bikin kamu takut ya?"

Aku bersandar di dadanya dengan air mata yang makin deras membasahi kemejanya. "Sera bingung, Mas..." bisikku dengan suara serak yang bergetar penuh kekecewaan.

"Bingung kenapa, Ser? Bicara sama Mas," ucap Adrian makin erat memelukku.

Aku mendorong pelan dadanya agar bisa menatap matanya, meski lengannya masih melingkar protektif di pinggangku. "Mas selalu baik sama Sera. Mas perhatian, Mas sering datang ke rumah, kasih gelang indah ini, dan sekarang... Mas cium Sera seolah-olah Sera ini orang yang paling Mas sayang. Tapi sebenarnya... kita ini apa, Mas? Sera kecewa banget sama diri Sera sendiri... karena Sera terus biarin Mas bertindak sejauh ini, padahal Sera tahu Mas bukan milik Sera."

Mendengar bisikan suaraku yang hancur, Adrian bergeming. Raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah sekaligus penyesalan yang mendalam. Namun detik berikutnya, tatapan matanya berubah—menjadi teramat tegas, fokus, dan penuh dengan kepastian yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Adrian merangkul kedua pipiku dengan kedua telapak tangannya, menyapu lelehan air mata di kulitku dengan ibu jarinya. Ia menatap lurus ke dalam manik mataku tanpa ada ragu sedikit pun.

"Mas enggak mau kehilangan kamu."

Jantungku berdebar kencang mendengar kata yang meluncur dari bibirnya.

"Seraphine Luna... Mas mau kamu jadi pacar Mas. Mas mau kita jalanin hubungan ini dengan status yang jelas. Kamu mau kan jadi pacar Mas?"

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!