Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Makan Siang
Pagi harinya di Kebun Binatang Kota, terik matahari serasa membakar area reptil lebih panas dari biasanya. Samsudin berdiri di tepi kolam buaya dengan napas terengah-engah. Pertunjukan jam pertama baru saja selesai, tetapi nasib baik belum juga berpihak padanya. Dari ratusan pengunjung yang bersorak menonton aksinya menepuk moncong buaya muara, tidak ada satu pun yang tergerak menyelipkan uang lembaran ke dalam kantong celananya.
"Zonk lagi..." gumam Sam sambil mengusap keringat di dadanya yang telanjang dengan handuk lusuh. Uang di rekeningnya benar-benar tersisa lima puluh ribu rupiah, dan perutnya sudah berbunyi nyaring menuntut sarapan yang tertunda.
Tiba-tiba, dari arah pembatas pengunjung, seorang pria paruh baya berpenampilan klimis melangkah mendekat. Pria itu mengenakan kemeja batik sutra mahal, jam tangan emas yang berkilau disengat matahari, dan kacamata hitam berbingkai tebal. Sangat kontras dengan lingkungan kolam buaya yang berbau lumpur dan amis pakan ikan.
Pria itu melambaikan lembaran uang seratus ribu rupiah ke arah Sam.
Mata Sam yang semula layu langsung berbinar seketika. "Wah, dermawan!" batin Sam kegirangan. Ia segera menghampiri pagar pembatas sambil mengumbar senyum paling ramah yang sanggup ia ciptakan. "Terima kasih banyak, Pak! Semoga rezekinya tambah..."
Kalimat Sam terhenti di udara. Senyum di wajah tampannya mendadak membeku saat pria paruh baya itu melepas kacamata hitamnya.
Di hadapan Sam kini berdiri Norman. Pria kaya raya yang sangat ingin Sam hapus dari silsilah hidupnya. Norman adalah ayah kandung Sam, pria yang sepuluh tahun lalu tega menelantarkan Sam, adiknya, dan sang ibu demi pergi bersama wanita selingkuhannya. Pria di kampung yang kini sedang menderita asam urat adalah ayah tiri Sam, lelaki sederhana yang justru bersusah payah membesarkan Sam meski hidup pas-pasan. Bagi Sam dan ibunya, Norman sudah dianggap mati sejak lama.
Tangan Sam yang sudah terulur hendak mengambil uang seratus ribu rupiah langsung ditarik kembali. Wajah ramahnya berubah drastis menjadi dingin dan keras.
"Simpan uangmu," desis Sam datar, memalingkan wajah.
"Din, jangan kekanak-kanakan," ujar Norman dengan nada suara pelan yang dibuat-buat, memutar-mutar kacamata mahal di tangannya. "Ini bukan pertama kalinya Ayah datang ke sini. Sudah berkali-kali Ayah bilang, kamu itu anak kandung Ayah. Tidak pantas kamu kerja di tempat kumuh seperti ini, bertelanjang dada, berbau amis, cuma demi menghibur orang-orang kelas bawah!"
"Nama saya Samsudin. Dan tempat ini jauh lebih terhormat daripada rumahmu yang dibangun pakai uang pengkhianatan," balas Sam tajam, matanya menatap sengit pada pria di depannya.
Norman menghela napas panjang, memasang raut wajah sok prihatin. "Ayah tidak punya ahli waris lain yang sanggup memimpin perusahaan. Bisnis Ayah butuh penerus, Din. Tinggalkan pekerjaan konyol jadi pawang buaya ini. Ikut Ayah, Ayah beri kamu posisi direktur, fasilitas mobil mewah, dan rumah di kawasan elite. Kamu tidak perlu hidup melarat lagi di kostan sempit."
"Saya lebih sudi digigit Si Bejo sampai putus tangan daripada harus makan uangmu!" tolak Sam tanpa ragu sedikit pun.
Saat ketegangan di antara ayah dan anak itu makin memuncak, sebuah suara melengking yang sangat familier tiba-tiba memecah udara siang itu.
"Mas Samsudin!"
Sam menoleh. Di ujung jalur pengunjung, tampak Tia sedang berlari kecil menghampirinya. Wanita itu tampil berlebihan untuk ukuran kunjungan ke kebun binatang, mengenakan blazer kantor, sepatu hak tinggi yang menancap-nancap di tanah berdebu, dan napas yang terengah-engah seperti orang habis dikejar satpol PP. Jam makan siang kantornya baru saja dimulai, dan Tia menggunakan seluruh sisa energinya untuk melacak keberadaan sang pawang buaya.
Melihat kehadiran Tia, otak Sam berputar cepat bagai kilat. Ini kesempatan emas untuk kabur dari ocehan Norman yang memuakkan!
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sam langsung melompati pagar pembatas rendah kolam reptil. Ia menghampiri Tia, merangkul pundak wanita itu dengan sangat erat, bahkan terlalu erat hingga membuat Tia hampir tersedak dan memasang senyum paling manis di hadapan Norman.
"Ah, ini dia calon istri saya sudah jemput!" seru Sam dengan suara dikeras-keraskan. "Maaf ya Pak Norman yang terhormat, saya harus makan siang dulu sama calon istri saya yang cantik dan sukses ini. Permisi!"
Tia yang baru saja sampai dan masih memegang lututnya untuk mengatur napas, langsung melotot hebat. Calon istri?! Calon istri matamu melotot?! pikir Tia menjerit dalam hati. Namun sebelum Tia sempat memprotes atau menampar tangan Sam yang menempel di pundaknya, Sam sudah menarik bahu Tia dengan paksa, menyeretnya berjalan cepat menjauhi area kolam buaya.
"Eh, eh! Mas Sam! Pelan-pelan! Sepatu saya nyangkut di tanah!" protes Tia setengah berbisik sambil berusaha menyeimbangkan langkahnya yang pincang-pincang akibat high heels.
"Diam dulu, Mbak! Ikuti saja alurnya kalau Mbak mau tawaran sewa kemarin saya terima!" bisik Sam cepat di dekat telinga Tia, matanya sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Norman tidak mengikutinya.
Mendengar kata "tawaran sewa diterima", mata Tia seketika membelalak lebar. Amarahnya menguap dalam sekejap, berganti dengan rasa kemenangan yang membuncah.
"Demi apa?! Mas Sam beneran mau?!" bisik Tia antusias, tak peduli lagi badannya diseret-seret bagai karung beras.
"Iya, iya! Tapi kita keluar dari sini dulu!"
Mereka berdua akhirnya berhenti di depan Warteg Pak Ujang yang terletak tepat di luar gerbang samping kebun binatang. Warteg itu sangat sederhana, beratap asbes dengan bangku kayu panjang dan deretan etalase kaca yang menampung berbagai lauk-pauk sederhana seperti tempe orek, telur balado, dan sayur nangka.
Sam menghela napas lega saat mendudukkan pantatnya di atas bangku kayu warteg. Ia melepaskan rangkulannya dari bahu Tia, lalu menatap wanita itu dengan serius.
"Jadi... Mbak Tia," buka Sam sambil menuangkan air putih dari teko plastik yang berembun ke dalam gelasnya. "Soal tawaran kemarin..."
"Tunggu dulu!" potong Tia sambil memoles ulang gincunya yang agak luntur menggunakan cermin kecil. "Tadi pria tua bergaya bos minyak di dekat kolam itu siapa? Kok Mas Sam sampai panik begitu terus tiba-tiba manggil saya calon istri?"
Sam mengusap wajahnya kasar, mendadak kehilangan selera humornya. "Itu... cuma orang gila yang ngaku-ngaku kenal saya."
"Orang gila mana yang pakai jam tangan emas seharga mobil Avanza second?" tembak Tia curiga. Tapi kemudian ia mengibaskan tangannya cepat. "Ah, terserah deh! Yang penting sekarang, Mas Sam beneran mau kan saya sewa jadi calon suami?"
Sam menatap mata Tia dalam-dalam, menelan harga dirinya rapat-rapat demi lima ratus ribu rupiah uang muka yang sangat dia butuhkan untuk dikirim ke kampung.
"Iya. Saya mau," jawab Sam pasrah. "Tapi ingat syaratnya! Tiga juta rupiah, cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan. Uang muka lima ratus ribu rupiah dibayar tunai... atau transfer sekarang juga di warteg ini!"
Tia tersenyum lebar, senyuman paling puas yang pernah terpancar di wajahnya selama sepuluh tahun terakhir. Ia meloloskan tas tangannya, mengambil ponsel, dan dalam hitungan detik jemarinya menari-nari di atas layar aplikasi m-banking.
Bip!
Ponsel retak milik Sam di atas meja bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul: [BANK TRANSFERS] Rekening Anda bertambah sebesar Rp500.000,00 dari TIA.
Mata Sam menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Saldo rekeningnya yang tadinya tragis kini kembali bernapas. Walau hanya lima ratus ribu, angka itu cukup untuk menyelamatkan muka dan menyambung hidupnya beberapa hari ke depan.
"DP sudah masuk ya, Mas Sam!" ujar Tia bangga, menepuk-nepuk ponselnya seperti seorang konglomerat yang baru saja membeli pulau pribadi. "Sekarang, karena Mas Sam sudah resmi jadi calon suami kredit saya, kita harus atur strategi. Masalahnya, keadaan makin darurat!"
Sam mengerutkan dahi sambil memesan es teh manis dan sepiring nasi dengan lauk tongkol balado. "Darurat bagaimana lagi, Mbak?"
"Semalam adik saya datang sama tunangannya yang belagu setengah mati!" cerita Tia dengan berapi-api, tangannya memukul meja kayu warteg sampai piring-piring berklenteng. "Dia memamerkan cincin dan bilang mau melangsungkan acara lamaran bulan depan, pas banget di acara arisan keluarga besar! Dan yang paling parah, si tunangannya itu mengejek saya 'kredit macet' gara-gara umur saya sudah 35 tahun tapi belum menikah!"
Sam hampir saja tersedak es teh manis yang baru diteguknya. "Kredit macet?! Wah, kurang ajar itu orang. Meski Mbak emang menyewa saya pakai sistem kredit, tetap saja dia tidak berhak ngomong begitu!"
Entah kenapa Sam mendadak bersemangat. Rasanya dia bisa merasakan apa yang Tia sedang rasakan.
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran