Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Malam yang Tak Sama 2
Meloudy melangkah masuk ke dalam rumah kontrakan kecil itu, menutup pintu perlahan di belakangnya. Suasana di dalamnya hening, sunyi tanpa suara yang biasa ia dengar — karena tempat yang paling ia rindukan untuk dikunjungi malam ini bukan di sini.
Ia meletakkan bungkusan nasi di meja kayu tua, lalu duduk di kursi yang sedikit goyang itu sendirian.
Ia melipat kedua tangannya di dada, menundukkan kepala perlahan.
"Terima kasih, Tuhan… untuk makanan ini. Terima kasih untuk hari ini. Jaga Ibu di sana, ya… peluk dia untukku. Berikan aku kekuatan, besok aku akan pergi menemuinya."
Suaranya berbisik lembut, hampir tak terdengar, namun setiap kata diucapkan dengan tulus — penuh syukur sekecil apa pun yang ia terima, penuh rindu yang menumpuk di dada.
Baru setelah itu, ia membuka bungkusan itu. Nasi sederhana dengan sayur dan sepotong tempe terlihat sederhana, namun baginya itu adalah berkah. Ia makan perlahan, menyuap sedikit demi sedikit, menikmati setiap gigitan seolah memberi tenaga untuk menemuinya esok hari. Perutnya yang sedari tadi kosong perlahan terisi, dan sedikit harapan mulai melebar di dadanya.
Selesai makan, ia merapikan sisa bungkusnya, mencuci tangan, lalu kembali duduk di depan laptop. Layar itu menyala kembali, menampilkan berkas pekerjaan yang belum selesai — ia harus menyelesaikannya malam ini, agar besok bisa berangkat pagi-pagi sekali tanpa ada yang mengganggu waktunya bersama Ibu.
"Kerja cepat, Meloudy. Besok libur, kau bisa seharian di sana," ucapnya pelan pada diri sendiri, jari-jemarinya kembali menyentuh papan ketik.
Ia bekerja dengan tekun, menyusun angka-angka, memeriksa setiap laporan, memastikan semuanya rapi dan tepat sebelum ditinggalkan akhir pekan ini. Di luar, malam semakin larut, lampu-lampu di sekitarnya mulai padam satu per satu — hanya cahayanya yang tetap menyala, setia menemaninya berjuang. Sesekali matanya terasa perih dan berat, namun ia menguceknya pelan, meneguk sisa air minum, lalu kembali fokus.
Tak ada siapa pun yang tahu betapa ia merindukan saat-saat di ruang perawatan itu. Tak ada yang tahu bahwa setiap akhir pekan baginya adalah hal yang paling dinanti — bukan untuk beristirahat, melainkan untuk duduk di samping tempat tidur ibunya, menggenggam tangan yang dingin, bercerita tentang apa saja, sekadar agar wanita itu tak merasa sendirian.
Jam di dinding berdetak menuju pukul dua belas malam. Berkas terakhir tersimpan rapi. Meloudy menghela napas panjang, menutup laptop perlahan. Punggungnya terasa pegal, matanya terasa berat, namun hatinya terasa ringan — pekerjaan selesai, tak ada yang menahan langkahnya esok.
Ia berjalan menuju lemari pakaian kecil, mengeluarkan baju bersih yang sudah disiapkannya sejak kemarin, melipatnya rapi ke dalam tas sederhana. Di saku tas itu, terselip sedikit uang yang ditabungnya pelan-pelan — untuk membeli makanan kesukaan ibunya, walau hanya sedikit.
"Ibu… besok aku datang," bisiknya pelan ke ruangan yang kosong, seolah suaranya bisa sampai ke tempat itu.
"Kau harus kuat. Aku juga kuat. Kita akan bicara banyak hal besok."
Ia berbaring di kasur tipisnya, menatap langit-langit yang remang — tubuhnya lelah, namun hatinya penuh kerinduan. Besok pagi ia akan bangun sebelum matahari terbit, berjalan menuju rumah sakit tempat ibunya terbaring lemah, dan duduk di sana seharian penuh. Bukan untuk siapa pun, melainkan untuk wanita yang melahirkannya — satu-satunya alasan yang membuatnya terus bertahan.
...****************...
Sinar matahari pagi menembus celah tirai sutra tebal, menyinari lantai kamar hotel yang dingin dan berkilauan. Di atas tempat tidur raksasa yang empuk itu, Vano terbaring diam — matanya terbuka lebar, menatap langit-langit hiasan tanpa benar-benar melihat apa pun. Di sampingnya, Elona tertidur pulas, tubuhnya menempel erat, lengan lentiknya melingkar di dada Vano seakan tak ingin melepaskan sedikit pun.
Pikirannya melayang kembali ke semalam — saat ia dalam keadaan mabuk berat, kesepian merayap tajam di dadanya, dan dalam kebingungan yang memabukkan, ia mengajak Elona ke sini. Ia menyentuh, memeluk, mencumbu wanita itu dengan gairah yang tampak membara, namun di setiap detiknya, di balik kelopak matanya yang terpejam, wajah yang ia bayangkan bukanlah Elona. Di kepalanya, yang hadir terus-menerus adalah sosok di balik layar — Laudys. Ia tak pernah melihat wajahnya, tak tahu siapa dia, tak mengerti mengapa bayangan wanita asing itu begitu kuat menguasai hatinya. Namun semalam, saat ia memeluk Elona, yang ia rindukan justru sosok yang tak pernah ia temui. Dan kini, saat sadar kembali, kenyataan itu menghantamnya jauh lebih keras daripada rasa sakit kepala akibat alkohol.
Ia menghela napas panjang — napas yang berat, penuh rasa muak yang perlahan merayap naik dari perutnya. Ia menyingkirkan pelukan wanita itu perlahan, berdiri dari tempat tidur seakan menjauhi sesuatu yang menjijikkan. Kulitnya terasa gatal, seakan setiap sentuhan semalam meninggalkan noda yang tak bisa hilang walau dicuci berkali-kali.
Cukup… sudah cukup, batinnya menggerutu dingin.
Aku sudah tak tahan lagi.
Aku mempermainkan dia… dan diriku sendiri.
Gerakan halus itu membuat Elona terbangun. Ia mengerjap pelan, lalu tersenyum lebar begitu melihat wajah Vano — senyum yang sama, penuh kemenangan dan kepemilikan, senyum yang kini terasa semakin menyakitkan dipandang.
"Selamat pagi, sayang…" suaranya lembut, mendekatkan wajahnya, hendak mencium pipi pria itu.
Vano menoleh sedikit, menciumnya — dan rasa muak itu semakin kuat.
"Tadi malam begitu indah, bukan? Kau begitu… luar biasa. Aku belum pernah merasa begitu bahagia." Elona tersenyum lebih lebar, matanya berbinar penuh kepuasan.
"Permainan kita tadi malam sungguh memuaskan, ya. Apa kau juga menikmatinya?"
Vano menatapnya tajam, dingin, tanpa senyum sedikit pun.
"Tak perlu mengulanginya," ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas, memotong kegembiraan wanita itu begitu saja.
"Aku sudah muak."
Elona tertegun, senyumnya perlahan memudar.
"Va… Vano? Apa maksudmu?"
"Maksudku, sudah selesai," jawabnya datar, sambil mengenakan kemejanya dengan gerakan cepat, seakan ingin segera menjauh dari tempat ini.
"Semua ini… sudah cukup. Aku tak ingin melanjutkannya lagi."
"Tapi… tadi malam…"
"Tadi malam hanyalah kesalahan yang tak perlu diingat," potong Vano dingin, menatapnya sekilas lewat pantulan cermin.
"Dan jangan harap akan terulang. Saat itu aku mabuk… dan aku menyadari, aku tidak menginginkanmu."
Elona duduk di tepi tempat tidur, wajahnya pucat pasi.
"Kau… kau bercanda, kan? Katakan kau bercanda…"
Vano tidak menjawab. Ia mengancingkan kerahnya, merapikan jasnya, lalu berjalan menuju pintu tanpa menoleh sekali pun.
"Vano!" panggil Elona panik, melompat turun dan berusaha meraih lengan pria itu.
Vano mengelakkan diri perlahan, namun tegas — seakan tak ingin tersentuh.
"Kau bisa pergi sendiri."
Ia melangkah keluar, menutup pintu dengan halus namun tegas di belakangnya. Di koridor yang sunyi itu, Vano menghela napas panjang — bukan kecewa, melainkan lega. Akhirnya ia berani mengatakannya. Akhirnya ia berhenti berpura-pura. Pikirannya kembali melayang pada nama yang tak bisa ia lepaskan dari kepalanya — Laudys.
Siapakah kau sebenarnya?
Mengapa kaulah yang selalu mengisi hatiku?
Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda, di ruangan sempit yang sederhana, Meloudy sudah bangun sejak fajar menyingsing. Ia mandi cepat, mengenakan pakaian bersih yang paling rapi, merapikan tas kecilnya, memastikan sedikit uang yang disimpannya aman di saku dalam. Di luar, udara pagi masih sejuk, namun hatinya terasa hangat — hari ini ia akan menemui Ibu. Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu.
Ia mengikat tali sepatunya erat, tersenyum tipis pada bayangannya di cermin retak di dinding — tak menyadari bahwa nama kanal yang ia pakai di dunia maya itu kini menjadi satu-satunya bayangan yang tak bisa dilepaskan oleh pria yang tak jauh darinya.
"Aku datang, Bu…" bisiknya pelan.
"Tunggu aku."
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu