Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa ya?
Marsya mengerjap mata saat sinar matahari yang sangat terang menembus ke celah gordyn kamarnya. Sangat silau, pertanda hari sudah semakin siang. Dia lirik jam dinding yang ada dihadapannya, pukul sembilan, pantas saja. Ternyata dia tertidur lama sekali, untungnya hari itu sedang libur kuliah.
Marsya melirik kebawah, menatap Kyle yang masih terlelap dipelukannya. Entah sudah berapa lama suaminya itu membaringkan kepala diatas dadanya, rasanya cukup pegal, namun Kyle tampak begitu nyaman tidur diatas sana. Marsya tersenyum, dia peluk kepala Kyle dengan lengannya, jemarinya turut menyisir helaian rambut Kyle yang hitam dan tebal.
Marsya menyukai momen ini, momen saat tidur disamping Kyle adalah hal sederhana yang membuatnya semangat memulai harinya. Dan Marsya lagi-lagi tersenyum, dia peluk lagi kepala Kyle dengan mata terpejam, dia tidak ingin momen ini berakhir lebih cepat, namun dia ingat hari ini Hilda akan membawanya pergi berbelanja untuk persiapan ulang tahun Sekar esok hari.
Marsya menunduk, mengecup kening, kedua pipi dan bibir Kyle tanpa melepas pelukannya. Sadar ada sesuatu yang mendarat diwajahnya, Kyle terbangun dan mendongak menatap Marsya.
"Hm, udah sayang sama suaminya?" Kyle mengejek dengan tawaan kecil, Marsya balas dengan cubitan dilengannya, "Nggak usah ngeledek"
"Hehe, pagi Sya...istriku"
"Pagi, Kyle...suamiku"
"Uh, gemesnya" Kyle mencubit hidung Marsya meninggalkan dua kecupan di belahan dadanya. Tindakan Kyle itu membuat Marsya membelalak mata, dia cukup terkejut.
"Jangan kaget, nanti juga terbiasa"
"Ih, mesum"
"Biarin, gue suka, lo sexy banget, Sya" Bisikan Kyle ditelinga Marsya membuatnya merinding, buru-buru Marsya menyingkirkan Kyle dan turun dari tempat tidur. Kakinya berlari cepat memasuki kamar mandi dan langsung mengunci pintunya, jika tidak, Kyle akan masuk dan kejadian-kejadian yang cukup panas akan terulang seperti saat mereka mandi bersama.
***
Kyle masih sibuk memeriksa satu persatu persiapan pembukaan cabang kedua bengkel mobilnya. Persiapan yang sudah mencapai delapan puluh persen itu membuat Kyle bangga karena ini juga hasil usaha dan kerja keras seluruh timnya yang sudah bekerja sangat baik. Dan juga, menjadi pengusaha diusia muda adalah salah satu impiannya, apalagi usaha bisnis ini adalah bidang kesukaannya. Tentu Kyle akan membuat usahanya itu semakin besar, berkembang dan menjadi favorite banyak orang.
"Pergi bulan madu" Kyle tersenyum saat membaca tulisan itu di buku catatannya. Membawa sang istri pergi berbulan madu adalah rencana yang baru-baru ini dia pikirkan. Ya, baru rencana, karena statusnya sebagai mahasiswa tingkat akhir membuatnya sangat sibuk, sama hal nya dengan Marsya. Kyle akan mewujudkannya saat mereka sudah lulus alias wisuda. Dengan begitu dia memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan perjalanannya agar sempurna.
Memikirkan Marsya, membuat Kyle merindukan istrinya itu. Kyle nyalakan ponselnya, menatap foto Marsya yang dia jadikan wallpapernya. Foto yang sangat manis dan natural yang dia ambil saat Marsya sedang tertidur lelap. Ah, Kyle ingin memeluk Marsya sekarang juga, dia semakin merindukannya, padahal baru beberapa jam mereka berpisah.
Kyle alihkan lagi perhatiannya pada layar laptop diatas meja, jika terus menerus memikirkan Marsya, dia akan menjadi tidak fokus dan konsentrasi. Kyle melanjutkan pekerjaannya, memeriksa satu lagi laporan yang tersisa. Tidak berselang lama, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya dan melenggang masuk kedalam.
Kyle terdiam, namun sosok itu terlihat tersenyum dan berjalan menghampiri mejanya. Sosok yang sudah lama tidak dia lihat, sosok yang memiliki hubungan cukup dekat dengannya. Kyle bangun dari duduknya, dia tatap sosok itu yang sedang mengedar pandangannya ke sekitar, melihat-lihat setiap sudut ruang kerja Kyle dan beralih menatap situas bengkel dari dalam sana.
"Waw, Kyle, ternyata benar kabar yang gue dengar kalau sekarang bengkel lo makin besar dan terkenal"
"Oh iya, udah lama kita nggak ketemu, empat tahun mungkin? Apa kabar?" Sosok itu tersenyum sambil mengulurkan tangan, namun Kyle mengabaikannya.
"Lo disini?"
"Ya, gue baru nyampe Indonesia kemarin. Gimana kabar Oma, Om dan Tante?"
"Lo kerumah aja"
"Oh, okay. Gue boleh duduk dulu, kan?" Sosok itu melangkah kearah sofa dan menjatuhkan dirinya disana. Sementara Kyle, dia berdiri sambil bersandar dimeja kerjanya, menatap sosok yang dia benci selama bertahun-tahun.
Ya, sosok itu adalah seorang laki-laki yang mempunyai hubungan keluarga dengannya. Laki-laki yang berstatus sebagai sepupu, namun keduanya saling membenci karena perselisihan diantara kedua ayah mereka. Persaingan perusahaan adalah awal mula dari segalanya dan kedua ayah mereka tanpa sadar menurunkan kebencian itu ke anak-anak mereka.
Sampai sekarang, Kyle masih membenci keluarga sang sepupu, Kyle masih ingat mereka pernah berbuat curang untuk menghancurkan perusahaan David dan membuat Papanya itu terbaring dirumah sakit.
Atas semua kejadian itu, Sekar merasa marah dan kecewa melihat kedua puteranya berselisih tiada henti. Keduanya saling menyerang dan membalas. Alhasil, Sekar mengambil keputusan dengan mengusir salah satu puteranya untuk pergi menjauh. Dan sekarang, mereka semua kembali setelah bertahun-tahun menetap diluar negeri.
Disini Kyle baru mengetahui bahwa kembalinya sang sepupu dan keluarganya adalah untuk menghadiri ulang tahun Sekar besok. Ya, setelah bertahun-tahun mereka absen dalam ulang tahun Sekar, kini mereka kembali untuk meminta maaf dan memperbaiki segalanya bila mungkin.
"Oh, ya, Kyle, lo tega ya nikah nggak ngundang gue, bahkan nggak ada satu pun yang kasih kabar, haha"
Ucapan sepupunya itu membuat Kyle terdiam. Memang benar, Kyle tidak memberitahu sang sepupu tentang kabar pernikahannya karena itu permintaan David. David dengan suka cita memberi kabar kepada semua kerabat, tetapi tidak dengan saudaranya yang satu itu. David sudah memutus hubungan dengan mereka, jadi David merasa tidak ada kewajiban untuk memberi kabar apapun lagi.
"Lo bisa pergi? Gue sibuk" Kyle kembali ke tempat duduknya, dia malas berlama-lama menghadapi sepupunya itu.
"Hey, lo ngusir gue gitu aja? Mana sambutannya? Minimal jamuan, lah"
"Jamuan? Lo nggak sepenting itu"
"Hahaha, okay, gue pergi. Gue mau siap-siap ketemu Oma nanti"
Kyle membiarkan sepupunya itu pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Biar saja, melihatnya terus menerus hanya akan membuatnya teringat atas kejahatan yang keluarga sang sepupu lakukan kepada keluarganya.
Beberapa jam berlalu, Marsya dan Hilda baru tiba dirumah setelah berbelanja begitu banyak keperluan pesta ulang tahun Sekar. Dibantu penjaga rumah, Hilda menurunkan semua barang belanjaan dan membawanya masuk kedalam. Sementara Marsya berencana mengunjungi bengkel mobil Kyle untuk memberi kejutan berupa gelang dan piyama couple yang sempat dia beli tadi.
Marsya memasuki garasi, dia hendak memanaskan mesin mobilnya lebih dulu. Namun belum sempat, Marsya tersandung selang air dan membuatnya menyenggol daun pintu yang tidak terpakai. Daun pintu yang tersandar di dinding itu bergerak dan jatuh menimpa tubuhnya seketika. Tubuhnya terasa nyeri, begitu pun kepalanya yang terasa sakit tak tertahankan.
Marsya berusaha bangun, menyingkirkan daun pintu itu diatas tubuhnya. Dan seketika, dia merasa beban berat itu menghilang, pintu itu terlihat diangkat oleh seseorang. Marsya tidak bisa melihat jelas sebab pandangannya buram dan berbayang, kepalanya sangat-sangat sakit.
Seorang laki-laki dengan tubuh tinggi, membantu Marsya berdiri dan memeluk Marsya saat gadis itu hampir terjatuh lagi.
"Marsya? Lo Marsya, kan? Kenapa bisa begini? Lo nggak apa-apa?"
"Huh? Aku...kepala aku..." Marsya menunduk dengan mata terpejam, wajahnya terlihat sangat kesakitan. Marsya mencengkram kuat lengan laki-laki yang masih menjaga tubuhnya.
"Gue bawa lo masuk, ini harus di cek" Tanpa pikir panjang, laki-laki itu menggendong Marsya keluar dari garasi, dia bawa Marsya kedalam rumah untuk memeriksa keadaannya.
Didekapan laki-laki itu, Marsya berusaha mengenali wajahnya. Marsya tahu betul itu bukan suaminya sebab suara Kyle jauh lebih berat ditambah wangi tubuhnya juga berbeda. Marsya tatap lekat wajahnya, cukup lama, sampai akhirnya dia teringat seseorang yang dia kenal.
...••••...
To be continued
Seperti biasa guysss jgn lupa dukungannya yaaa biar aku semangat update