NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:35.1k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 PAMER DULU

Diah Ayu—wanita paruh baya yang daya ingatnya memang agak lemah—menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal Amira dan Rika baru pergi beberapa jam lalu, tetapi ingatan tentang nama-namanya sudah agak kabur di kepalanya.

"Kalau tidak salah... namanya Rika, Tuan," jawab Diah polos. "Kenapa memangnya, Tuan?"

"Bagaimana perawakan orang yang memasak ramen tadi?" cecar pria tua berwajah tegas itu.

"Masih muda sekali, Tuan. Paling usianya baru dua puluhan."

"Bukan lima puluh tahunan?" tanya sang kakek memastikan.

"Bukan, masih sangat muda," jawab Diah menggeleng.

Pria tua itu menghela napas panjang, menatap mangkok ramen dingin di depannya dengan pandangan nanar. "Cita rasa mi ini... persis sekali dengan racikan masakan menantuku. Tapi kalau menantuku, usianya harusnya sudah lima puluh tahun lebih sekarang. Aku sudah terpisah dan tidak bertemu dengannya selama lebih dari tiga puluh tahun..."

Diah mengernyit. "Apakah menantu Anda orang Jepang?"

"Bukan... Dia orang Indonesia. Anak laki-lakiku yang orang Jepang," ucap pria tua itu dengan nada emosional.

Diah teringat sesuatu. "Oh, begitu... Saya tadi menyimpan nomor ponsel anak muda yang memasak ramen ini. Apakah Tuan mau mencatatnya?" tawar Diah, entah mengapa terdorong untuk membagikan nomor itu.

"Aku tidak membawa ponsel. Bisakah kamu mencatatkannya di secarik kertas untukku?"

"Baik, Tuan." Diah bergegas mengambil pulpen dan menyalin nomor telepon Amira yang tertinggal di kertas tadi. "Ini, Tuan."

Tak lama kemudian, beberapa pria bertubuh kekar berjas rapi berhamburan masuk ke dalam kedai dengan wajah panik.

"Tuan Besar! Anda ke mana saja?! Kami panik setengah mati mencari Anda!" seru salah satu pengawal kekar itu.

"Dasar tidak berguna!" bentak pria tua itu memukul lantai dengan tongkatnya. "Aku cuma makan ramen di sini. Bayar makanan ini!"

Pria tua itu berdiri anggun, lalu melangkah keluar diikuti oleh para pengawalnya. Salah satu pengawal menyodorkan selembar uang kertas pada Diah.

"Ini bu, kembaliannya ambil saja," ucap pengawal itu menyodorkan uang pecahan 100 Dolar Amerika.

Diah terbelalak menatap lembaran uang asing itu. Uang sebanyak ini jauh melebihi harga empat mangkok ramen yang tersaji!

Waktu terus bergulir. Menggunakan penerbangan malam, Amira mendarat di Jakarta pada tengah malam. Ia memutuskan menginap semalam di rumah kontrakannya untuk menyegarkan diri.

Keesokan harinya, Amira mendatangi rumah mertuanya. Namun, kali ini penampilannya berbeda total. Amira mengenakan pakaian berkelas bermerek, jam tangan mewah yang melingkar anggun di pergelangan tangannya, serta beberapa perhiasan perak-emas yang menghiasi jarinya. Amira biasanya sangat membenci penampilan mencolok, tetapi demi membuat kepala keluarga mertuanya yang rakus mendidih, ia sengaja mengenakan semuanya.

Saat Amira melangkah masuk ke ruang tamu, di sana sudah berkumpul Ibu Mirna, Sonia, Mila, Ridwan, dan Lusi. Tatapan mata mereka tajam melemparkan kebencian.

"Enak banget ya liburan mewah ke Bali pakai uang Adam!" sembur Mila menjadi orang pertama yang membuka serangan.

"Dasar menantu tidak tahu diri! Di sini orang rumah pada kesusahan, kamu malah bersenang-senang di sana!" tuduh Sonia berapi-api.

Mirna ikut menimpali sambil mengelus dadanya. "Amira... tega kamu ya! Ibu sampai hampir patah pinggang dan darah tinggi gara-gara beberapa hari ini kamu menghilang!"

Amira tidak membalas dengan omelan. Dengan sangat tenang, ia duduk di sofa tunggal, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu dengan sengaja menyibakkan rambut panjangnya. Sinar lampu ruang tamu memantul indah pada jam tangan mewah dan perhiasan di jarinya, berkilau persis di depan mata mereka semua.

"Aku liburan pakai uangku sendiri. Masalahnya di mana?" sahut Amira santai tanpa beban.

Mila tertawa mengejek. "Dasar pembohong! Mana mungkin kamu sanggup liburan ke Bali, menginap di hotel bintang empat sampai lima hari! Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu, hah?! Mana mungkin cuma kuli cuci piring restoran seperti kamu punya uang sebanyak itu!"

"Salah... bukan lima hari. Lebih tepatnya enam hari. Dan malam terakhir aku menginap di resort bintang lima," koreksi Amira dingin.

"Kurang ajar kamu, Amira!" bentak Mirna murka. "Cepat lepaskan semua perhiasan itu! Kamu tidak layak memakainya!"

Amira melirik cincin di jarinya sekilas, lalu mengusapnya pelan. "Ini perhiasanku sendiri, untuk apa aku melepasnya?"

"Kurang ajar!" Mirna yang terulut emosi mengangkat tangannya, berniat menampar pipi Amira.

Greb!

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan presisi, Amira menangkis cengkeraman tangan Mirna di udara.

"Ibu sudah tua... jangan membiasakan diri menggunakan emosi berlebihan," desis Amira menatap tajam mata mertuanya. "Ibu harus ingat, aku ini pemegang sabuk hitam Karate dan Taekwondo. Aku takut tangan Ibu yang justru patah kalau nekat menampar wajahku."

Ruang tamu mendadak hening. Mirna, Mila, Sonia, Ridwan, dan Lusi serentak menelan ludah. Mereka melotot kaget melihat perubahan drastis pada diri Amira yang biasanya penurut dan berdiam diri.

"Dasar menantu tidak tahu diri!" cerocos Lusi menutupi kegugupannya. "Bukannya membantu ekonomi keluarga mertua, malah foya-foya ke Bali!"

Amira melepas tangkisan pada tangan Mirna, lalu menatap Lusi dengan senyum ejekan. "Setahuku... bukan cuma aku menantu Ibu Mirna yang pergi ke Bali. Karena waktu di sana, aku tidak sengaja bertemu dengan menantu Ibu Mirna yang ngakunya tidak punya uang untuk bayar SPP anak, tapi tahu-tahu sedang asyik liburan dan belanja di Bali."

Mila langsung menoleh tajam ke arah Lusi. "Mbak Lusi... kamu pergi ke Bali?!"

Wajah Lusi mendadak pucat pasi. "I-iya, aku ke Bali... tapi itu arisan RW! Aku ikut rombongan!" sergah Lusi panik, buru-buru menyusun kebohongan yang sudah ia siapkan.

"Arisan RW sanggup bayar penerbangan ke Bali, tapi bayar SPP anak sendiri tidak sanggup? Sebenarnya siapa di sini yang tidak berguna?" cibir Amira tanpa ampun. "Dan ingat ya Mbak... Kalung emas Ibu yang Mbak gadaikan itu harus Mbak tebus sendiri! Jangan pernah berharap Mas Adam yang akan membayarnya."

"Amira!" bentak Ridwan murka karena istrinya dipojokkan. "Adam itu adik kandungku! Apa hakmu mengatur-ngatur keuangan Adam?!"

"Oh, iya... Aku hampir lupa," sahut Amira berpura-pura menepuk jidatnya. "Aku kan cuma istri yang tidak pernah dianggap di rumah ini. Aku cuma sedikit kasihan saja sama Mas Adam. Kakak-kakaknya hidup enak, sudah punya rumah dan mobil, tapi Mas Adam? Sepetak tanah pun tidak punya. Bahkan mobil pun tidak punya... Kalah sama adiknya yang masih kuliah tapi gaya hidupnya bak anak konglomerat."

Kata-kata Amira yang telak dan menohok itu seperti menyayat-nyayat hati Mirna.

Mirna sebenarnya tahu ada ketidakadilan, tetapi sebagai ibu, ia tidak berdaya karena selalu mendapat tekanan dan rengekan dari anak-anaknya yang lain.

"Mas Adam tidak punya tanah dan mobil itu semua salah kamu!" tuduh Sonia berteriak memotong. "Gaji Mas Adam itu puluhan juta! Tapi kamu tidak bisa mengelolanya dengan benar sampai Mas Adam tidak punya apa-apa! Lihat Mbak Lusi sama Mbak Mila! Mereka mengurus rumah tangga dengan benar, makanya suami mereka punya rumah dan tanah!"

Amira tertawa geli mendengar celotehan Sonia. "Mengelola uang? Uang yang nilainya tidak seberapa itu harus menanggung gaya hidup kalian yang luar biasa mewah... lalu sekarang kalian menyalahkan aku?"

"Kamu memang istri tak berguna, Amira!" sergah Lusi ikut menyudutkan. "Adam tidak punya mobil dan rumah, sementara kamu malah pakai perhiasan mahal dan liburan ke Bali! Sudah jelas kamu menggelapkan uang kiriman Adam!"

"Assalamu’alaikum."

Suara berat seorang pria memecah pertengkaran sengit di ruang tamu.

Semua orang di ruangan itu serta-merta menoleh ke arah pintu depan. Di sana berdiri Adam... sedang menggandeng mesra tangan seorang wanita muda yang berpakaian modis.

1
sunaryati jarum
Yamada menolong diambil darah untuk Amira, sekarang tes DNA
Suanti
semoga ada yg datang menolong amira dan aldi 🤣🤣🤣
YuWie
bebal tak ada malunya tipikal bu mirna... yg dipikirannya cmn keuntungan keluarganya...pd sekali anda buks
sunaryati jarum
Buka pakaian Alya, Adam, akan kau temukan jejak percintaan.Dan Bu Mirna sampai kapan.kau hanya menginginkan uay orang lain tanpa berusaha apapun
Nenk Shila: terkadang adam ada sisi baiknya yaa, masih bisa intropeksi diri tdk sperti ibu dan saudara2nya yg lain yg selalu serakah dan menyalahkan orang lain
total 1 replies
sunaryati jarum
Mirna ingin hidup enak dengan memaksa Amira balikan sama Adam.Yang suka sama nAmira sekelas milyuner,Adam mah lewat Wah ketemu nPak Diki ,langsung ditalak saja.
sunaryati jarum
Uang hasil hutangan yg nanti menjerat leher kalian.kok.dipsmerkan.Sunhguh penyelamatan aset dan diri yang tapi ,Amira serta terlindungi
sunaryati jarum
Lekas beraksi Yamamoto,itu mungkin awal kehancuran kamu dan ibumu Yuri Kuroda, dengan mengusik Amira.Kamu dan ibumu kali ini akan kena batunya.
sunaryati jarum
Akhirnya emak ikut lega, semua usaha Amira di bawah perusahaan internasional milik Ny Jasmine, Yamamoto dan Ibunya tidak bisa mengganggu, walau permintaan Alya.Ysmada dan Amira sepertinya yang saudara kandung,dari ibu yang sekarang mungkin ini Lisa.
Firasat Bu Mirna tentang kepergian Alya,perlu diberi /Good/
sunaryati jarum
Segera bilang ke Mas Aldi, semoga segera dapat mencari cara mengatasinya.Carilah di Sulawesi ,Ny Yuri
sunaryati jarum
Ternyata kamu cerdik juga Amira, tadinya emak deled novel ini, bilang sama Aldi, bagaimana mengelabuhi Yuri Si Pelakor tamak.Berarti kemungkinan Amira putri wanita yang jadi suami Pak Diki.
sunaryati jarum
Jangan sampai Alya berhasil mengacaukan atau menghancurkan usaha Amira.Jika itu terjadi aah emak malas melanjutkan mengikuti kisah ini
sunaryati jarum
Yamada harus bisa menggagalkan kelicikan Alya untuk menghancurkan Amira.Walau berurusan dengan Yamamoto.Atau Yamamoto malah melindungi Amira, karena ada getaran aneh hatinya
YuWie
merajalela si alya ini..almira aja gak pernah nyenggol kamu. situ yg pelakor ehh situ yg panas..waras buks
YuWie
makanya tho mbak mir..cerita gih sama mas aldhi
YuWie
syukurlah klo kamu pintar mir amir...sdh kau bohongi bang aldi aang intelejen
Suanti
amira segera hancur hp butut 🤭🤣🤣
YuWie
lha kok enakmen kok balik..rugi bandar amira buk buk
sunaryati jarum
O Bu Lisa sepertinya ibu kandung Yamada dan Amira Adik kandung Yamamoto, yang berarti adik tiri Yamada
sunaryati jarum
Yamada semoga kakakmu dan Lisa itu mungkin ibumu dan Yamada ,Bu Sinta
Sri Widiyarti
Adam lihat perempuan pilihanmu ternyata ....🤦🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!