Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lobi hotel bintang lima itu terasa sejuk, sangat kontras dengan teriknya matahari siang di luar. Pertemuan bisnis dengan klien dari Singapura baru saja selesai dengan hasil yang sangat memuaskan.
Lia berjalan cepat di belakang Marco, kedua tangannya mendekap erat map berisi draf kontrak yang baru saja ditandatangani. Di depannya, Marco melangkah dengan penuh wibawa. Sesekali, pria itu membalas sapaan beberapa kolega bisnis dengan anggukan dan senyum tipis yang profesional.
"Kerja bagus hari ini, Lia," ucap Marco tanpa menoleh, langkah kakinya masih teratur menuju pintu keluar. "Kau mencatat poin-poin revisinya dengan sangat cepat. Nyonya Brenda benar-benar melatihmu dengan keras."
"Terima kasih, Tuan Maverick. Itu sudah menjadi tugas saya," jawab Lia menunduk sopan, meski di dalam hati ia tersenyum bangga.
Baru saja Marco hendak mendorong pintu putar kaca menuju area valet parking, sebuah suara wanita yang sangat merdu memanggil dari arah belakang.
"Marco? Marco Maverick?"
Langkah Marco terhenti seketika. Tubuhnya menegang. Lia bisa melihat dengan jelas bagaimana punggung lebar pria itu mendadak kaku seperti sebongkah batu es.
Marco memutar tubuhnya perlahan.
Di sana, berjarak sekitar lima langkah dari mereka, berdiri seorang wanita yang luar biasa cantik. Wanita itu mengenakan dress ketat berwarna krem yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna, rambut panjang lurus yang berkilau, dan riasan wajah kelas atas yang tak kalah dari seorang supermodel.
"Alana," desis Marco. Suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan benar-benar tak bernyawa. Senyum sopan yang sejak tadi menghiasi wajahnya lenyap tanpa sisa.
Wanita bernama Alana itu tersenyum lebar. Matanya berbinar penuh kerinduan saat menatap Marco dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia melangkah maju dengan gemulai.
"Ya ampun, ini benar-benar kau!" seru Alana antusias. "Lama sekali kita tidak jumpa. Kau... kau tampak luar biasa sekarang. Sangat berbeda."
Marco hanya diam. Pria itu menatap Alana dengan tatapan datar yang membekukan, seolah wanita di depannya hanyalah manekin kaca.
"Kudengar kau sudah sukses besar sekarang? CEO Wiliam Group?" Alana tertawa kecil, mencoba memecah kecanggungan yang terasa mencekik.
"Kau benar-benar banyak berubah, Marco. Semakin mempesona, semakin tampan... dan semakin tak tersentuh."
"Terima kasih," jawab Marco seadanya. Nada bicaranya setajam silet. "Aku sedang sibuk. Permisi."
Lia yang berdiri di belakang Marco hanya bisa mengerjap di balik kacamata tebalnya. Ia belum pernah melihat Marco bersikap sedingin dan sekasar ini. Aura konyol atasannya itu benar-benar menguap.
"Tunggu, Marco! Jangan buru-buru pergi," tahan Alana cepat, suaranya sedikit memelas. Ia memutar otak mencari alasan untuk menahan pria itu lebih lama. "Sebenarnya... aku kebetulan sedang mencari pekerjaan. Kudengar kantormu sedang berkembang pesat. Apa... kau punya lowongan pekerjaan untukku di sana?"
Alana tersenyum manis, memancarkan pesona yang biasanya bisa membuat pria mana pun langsung luluh.
Namun, Marco bergeming.
"Jika kau ingin bekerja, silakan masukkan lamaran saja ke meja resepsionis atau HRD," jawab Marco tanpa nada, matanya menatap lurus menembus wajah Alana. "Kalau memang kau lolos kualifikasi, maka kau akan diterima. Wiliam Group selalu bertindak profesional."
Senyum Alana sedikit memudar. "Ayolah, Marco. Masa aku harus mengantre dan melamar seperti orang biasa? Kita kan bukan orang asing. Kita punya masa lalu yang panjang. Bukankah kau bisa memudahkanku? Tolonglah, bantu aku masuk lewat jalur dalam."
Alana mencoba mengangkat tangannya, berniat menyentuh lengan jas Marco.
Dengan gerakan cepat dan raut wajah penuh penolakan, Marco memundurkan tubuhnya menghindari sentuhan itu.
"Di perusahaanku tidak ada jalur dalam," tolak Marco tegas. "Sekarang, aku harus kembali ke kantor."
Marco berbalik, bersiap untuk pergi. Namun, melihat pria itu akan lolos dari genggamannya, Alana menjadi nekat. Ia setengah berlari menyusul Marco dan langsung menahan lengan pria itu dengan erat.
"Marco, tunggu!" seru Alana, suaranya kini bergetar menahan tangis. "Aku... aku minta maaf. Aku minta maaf soal perbuatanku di masa lalu. Aku tahu aku sangat jahat padamu. Aku sangat menyesal, Marco. Tolong... beri aku kesempatan untuk menjelaskannya."
Lia, yang menjadi penonton tak kasat mata di adegan itu, menautkan alisnya di balik kacamata. Otaknya yang sudah dipenuhi prasangka buruk tentang Marco langsung berputar liar.
Siapa wanita ini? Apa hubungannya dengan Marco?
Marco menatap tangan Alana yang mencengkeram lengannya. Perlahan, namun dengan tenaga yang tak bisa dilawan, Marco menepis tangan wanita itu hingga terlepas.
"Itu sudah lewat," ucap Marco dingin, sorot matanya benar-benar kosong. "Tak usah dipikirkan lagi."
"T-tapi Marco—"
"Ayo kembali ke kantor, Lia," perintah Marco tegas, memotong ucapan Alana tanpa ampun.
Tanpa menoleh sedikit pun, Marco melangkah keluar menembus pintu putar, meninggalkan Alana yang mematung dengan wajah pias dan air mata yang mulai menetes.
Lia yang masih kebingungan buru-buru berlari kecil menyusul bosnya. "B-baik, Tuan!"
Di area valet, mobil Aston Martin milik Marco sudah disiapkan oleh petugas. Marco langsung membuka pintu penumpang di bagian belakang dan masuk. Lia ikut masuk dari pintu sisi kiri.
Begitu pintu mobil tertutup dan memisahkan mereka dari kebisingan dunia luar, suasana di dalam kabin seketika terasa sangat berat. Sopir pribadi Marco mengemudikan mobil membelah jalan raya yang padat, meninggalkan hotel tersebut.
Lia menoleh perlahan ke arah bosnya.
Marco tidak mengatakan apa-apa. Pria itu menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk, kepalanya terkulai ke belakang. Ia menarik napas yang sangat panjang dan berat, seolah baru saja memikul beban berton-ton di pundaknya.
Perlahan, Marco memejamkan matanya. Wajah yang biasanya ceria, menyebalkan, dan tak kenal beban itu, kini terlihat luar biasa lelah. Garis-garis ketegangan tercetak jelas di keningnya.
Lia menelan ludah. Ia memeluk map di dadanya semakin erat.
Ada apa dengannya? pikir Lia heran, matanya tak lepas dari raut wajah bosnya yang terlelap. Tadi dia bersikap sangat dingin dan kejam pada wanita itu, seolah tak punya hati. Tapi kenapa sekarang... dia terlihat seperti orang yang paling tersakiti di dunia?
Lia menggelengkan kepalanya pelan, menolak untuk bersimpati.
Ah, sudahlah. Pasti ini hanya salah satu drama kebrengsekannya yang lain, gumam Lia dalam hati, mempertahankan egonya. Mungkin dia lelah karena harus terus-terusan bersembunyi dari para wanita masa lalunya. Pria ini memang gudangnya masalah.
Meski otaknya terus memberikan alasan logis yang menyudutkan Marco, namun entah mengapa, melihat wajah atasannya yang begitu damai namun menyimpan kelelahan luar biasa itu, ada setitik rasa penasaran aneh yang mulai merayap di dada Lia.