NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Janji di Atas Sajadah Lama

Kalau sekarang Darul Hikmah sudah besar, bangunannya dua lantai, masjidnya luas dengan keramik putih, dan santrinya sudah ratusan, delapan belas tahun lalu semuanya jauh berbeda.

Dulu Darul Hikmah cuma punya satu musala kayu kecil.

Cat dindingnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Kalau hujan deras, atapnya bocor. Santrinya pun belum banyak. Baru lima orang yang mondok dan mereka tidur di bilik sederhana di belakang musala.

Di belakang musala ada dua rumah kecil yang berdempetan.

Satu rumah milik Kiai Hasyim, yang waktu itu masih muda dan jenggotnya belum selebat sekarang.

Rumah satunya lagi milik sahabatnya, Pak Haris.

Mereka sudah berteman sejak sama-sama menjadi santri di Lirboyo. Ngaji bareng, makan seadanya bareng, bahkan pernah sama-sama kehujanan saat pulang mengaji.

Ketika Kiai Hasyim memutuskan membangun pesantren kecil di tanah wakaf mertuanya, orang pertama yang diajak membantu adalah Pak Haris.

"Ris, bantuin aku. Aku nggak bisa sendirian."

Pak Haris waktu itu cuma tertawa sambil menepuk bahu sahabatnya.

"Selama masih bisa ngaji bareng, aku ikut."

Dan benar.

Sejak Darul Hikmah berdiri, Pak Haris selalu ada.

Kadang membantu mengurus santri. Kadang memperbaiki atap musala. Kadang hanya menemani Kiai Hasyim duduk sampai larut malam membicarakan bagaimana caranya membuat pesantren kecil mereka tetap bertahan.

Malam itu, setelah Isya, musala sudah sepi.

Lima santri kecil di bilik belakang sudah tidur.

Di dalam musala hanya ada Kiai Hasyim dan Pak Haris. Keduanya duduk bersila di atas sajadah hijau yang sudah tipis. Benangnya mulai keluar di beberapa bagian.

Di samping mereka ada dua bayi yang tidur di atas sarung yang dilipat sebagai alas.

Satu bayi laki-laki.

Satu bayi perempuan.

Jay baru berusia empat bulan. Muthi'ah tiga bulan.

Jarak usia mereka hanya sebulan.

Nyai Maryam masuk membawa dua gelas teh hangat. Di belakangnya, Bu Laila membawa toples gorengan.

"MasyaAllah, anteng banget kalau sudah jejer gini," kata Bu Laila sambil duduk.

Kiai Hasyim melihat kedua bayi itu lalu terkekeh.

"Yang laki-laki kelihatannya sudah punya muka tukang ngatur."

Pak Haris langsung menyahut, "Yang perempuan juga jangan salah. Kelihatannya pendiam, tapi kalau nangis bisa bikin satu rumah bangun."

Mereka tertawa.

Obrolan kemudian berjalan biasa saja. Mulai dari beras pesantren yang mulai menipis, santri yang belum bayar uang makan, sampai atap musala yang harus segera diperbaiki sebelum musim hujan.

Sampai akhirnya Pak Haris tiba-tiba memandang kedua bayi itu lagi.

"Hasyim."

"Hm?"

"Kalau anak kita nanti jodoh gimana?"

Kiai Hasyim yang baru saja mengangkat gelas teh berhenti.

Nyai Maryam dan Bu Laila saling pandang.

"Maksudmu?"

Pak Haris tertawa kecil.

"Ya itu. Anakmu laki-laki, anakku perempuan. Umurnya dekat. Kalau besar nanti ternyata cocok, ya kita satukan saja."

Kiai Hasyim tersenyum.

Pak Haris melanjutkan dengan nada setengah bercanda, setengah serius.

"Siapa tahu mereka nanti yang meneruskan apa yang kita mulai. Kamu punya pesantren, aku bantu dari awal. Kalau anak-anak kita berjodoh, mungkin Darul Hikmah bisa terus dijaga keluarga sendiri."

Kiai Hasyim tidak langsung menjawab.

Dia menatap Jay yang sedang tidur dengan mulut sedikit terbuka. Lalu melihat Muthi'ah yang tangannya menggenggam ujung sarung.

Nyai Maryam tersenyum kecil.

"Namanya juga anak-anak, Mas. Masih bayi."

"Makanya," jawab Pak Haris sambil tertawa. "Cuma ngomong. Kalau memang bukan jodoh ya bukan."

Kiai Hasyim akhirnya ikut tertawa.

"Ya kalau jodoh. Kalau Allah memang mentakdirkan mereka berjodoh, aku ridha."

Pak Haris mengulurkan tangan.

"Janji?"

Kiai Hasyim menatap tangan itu beberapa detik, lalu menyambutnya.

"Janji."

Mereka bersalaman erat.

"Di atas sajadah ini," kata Pak Haris.

Kiai Hasyim mengangguk.

"Nggak perlu surat. Nggak perlu siapa-siapa tahu. Cukup kita sama Allah yang tahu kalau suatu hari anak-anak kita memang berjodoh."

Malam itu, tidak ada yang menganggap percakapan tersebut sebagai sesuatu yang serius.

Buat mereka, itu hanya obrolan dua sahabat yang sedang bahagia melihat anak-anak mereka tumbuh berdampingan.

Tidak ada surat.

Tidak ada lamaran.

Tidak ada pertunangan.

Hanya sebuah janji lisan yang lahir dari sebuah persahabatan.

Tapi seminggu kemudian, sesuatu terjadi.

Pak Haris jatuh sakit.

Demamnya tinggi dan tubuhnya lemas sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dokter bilang dia terkena tipus dan harus banyak istirahat.

Selama seminggu itu, Kiai Hasyim yang paling sering datang.

Membawakan obat.

Membantu mengurus pesantren kecil mereka.

Bahkan beberapa malam ikut menjaga Pak Haris ketika kondisinya memburuk.

Di situlah Pak Haris sadar satu hal.

Persahabatan mereka bukan sekadar teman mengaji.

Kiai Hasyim sudah seperti saudara.

Dan sejak saat itu, janji yang tadinya hanya candaan terasa punya arti berbeda.

Sajadah hijau tempat mereka bersalaman malam itu pun tidak pernah dibuang.

Nyai Maryam mencucinya, melipatnya, lalu menyimpannya di lemari ndalem.

Katanya, untuk kenang-kenangan.

Waktu terus berjalan.

Darul Hikmah semakin besar.

Jay tumbuh menjadi putra Kiai yang sejak kecil sudah disiapkan untuk meneruskan pesantren. Dia belajar mengaji, menghafal kitab, membantu ayahnya mengajar, dan terbiasa hidup dengan tuntutan sebagai anak pengasuh.

Sementara Muthi'ah tumbuh menjadi anak yang berbeda.

Dia tidak banyak bicara.

Tidak suka mencari perhatian.

Tapi kalau soal belajar, dia selalu serius.

Nilainya bagus. Hafalannya kuat. Bahkan beberapa kali memenangkan musabaqah kitab kuning.

Kedua keluarga tetap dekat.

Namun, soal janji malam itu tidak pernah dibicarakan kepada Jay ataupun Muthi'ah.

Sampai bertahun-tahun kemudian.

---

Sekitar dua tahun lalu, ketika Jay bersiap berangkat ke pesantren cabang di Jawa Tengah, Kiai Hasyim kembali membuka pembicaraan itu kepada Nyai Maryam.

Malam itu, Nyai Maryam sedang melipat baju Jay.

"Maryam."

"Iya, Bi?"

"Kamu masih ingat janji saya sama Haris dulu?"

Tangan Nyai Maryam berhenti.

"Janji di musala?"

Kiai Hasyim mengangguk.

"Kayaknya sudah waktunya kita membicarakannya lagi."

Nyai Maryam terdiam.

"Abi yakin?"

"Kenapa?"

"Jay masih harus banyak belajar. Muthi'ah juga masih sekolah."

Kiai Hasyim menghela napas.

"Saya nggak bilang mereka harus langsung menikah. Saya cuma berpikir... mungkin sudah waktunya mereka tahu bahwa dulu kita pernah punya harapan seperti itu."

Nyai Maryam menatap suaminya.

"Kalau anak-anaknya nggak mau?"

Kiai Hasyim diam.

Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak mudah.

"Kalau mereka tidak mau, ya kita terima," jawabnya akhirnya. "Saya nggak mau janji kita malah jadi beban buat mereka."

Nyai Maryam mengangguk pelan.

"Tapi jangan lupa, Bi. Janji itu dibuat oleh kita. Bukan oleh mereka."

Kiai Hasyim terdiam cukup lama.

Kalimat istrinya benar.

Tapi di dalam hati, dia tetap berharap.

Bukan semata-mata karena janji lama.

Dia memang mengenal Muthi'ah sebagai anak yang baik. Begitu juga Jay. Menurutnya, kalau dua anak itu akhirnya berjodoh, mungkin itu bukan sesuatu yang buruk.

Hanya saja, dia belum sadar bahwa harapan orang tua bisa terasa sangat berat bagi anak yang tidak pernah diberi pilihan.

---

Di rumah Pak Haris, pembicaraan serupa juga terjadi.

"La."

Bu Laila menoleh.

"Kamu masih ingat janji kita sama Kiai Hasyim dulu?"

Bu Laila langsung tahu maksud suaminya.

"Yang soal Jay dan Muthi'ah?"

Pak Haris mengangguk.

"Jay sebentar lagi selesai dari cabang. Muthi'ah juga sudah besar."

Bu Laila duduk di samping suaminya.

"Pak..."

"Hm?"

"Muthi'ah itu masih punya keinginan kuliah."

"Saya tahu."

"Dan anak itu nggak pernah bilang ingin menikah sekarang."

Pak Haris terdiam.

"Apa kamu pikir dia akan mau?"

Pak Haris tidak langsung menjawab.

"Saya nggak tahu."

"Nah."

Bu Laila menarik napas.

"Kalau memang mau dikenalkan, kenalkan saja. Tapi jangan pakai janji kita sebagai alasan untuk memaksa."

Pak Haris mengangguk pelan.

"Iya."

Malam itu mereka sepakat pada satu hal.

Anak-anak harus diberi kesempatan untuk mengenal.

Bukan langsung dinikahkan.

Bukan dipaksa.

Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.

Masalahnya, ketika janji lama mulai dibicarakan kembali, semakin banyak orang dewasa yang ikut terlibat.

Kiai Hasyim melihatnya sebagai cara menjaga hubungan dua keluarga.

Pak Haris melihatnya sebagai kesempatan memberikan Muthi'ah pasangan yang baik.

Nyai Maryam berharap semuanya berjalan tanpa paksaan.

Bu Laila ingin anaknya tetap punya pilihan.

Sementara Jay dan Muthi'ah?

Mereka bahkan belum tahu kalau masa depan mereka sedang dibicarakan.

Sajadah hijau itu masih tersimpan di lemari ndalem sampai sekarang.

Warnanya sudah pudar.

Pinggirnya mulai sobek.

Namun bagi Kiai Hasyim dan Pak Haris, benda sederhana itu mengingatkan mereka pada satu janji yang pernah dibuat delapan belas tahun lalu.

Janji yang awalnya hanya candaan.

Janji yang kemudian dianggap serius.

Dan tanpa mereka sadari, janji itu sebentar lagi akan masuk ke kehidupan dua orang yang sama sekali tidak pernah ikut membuatnya.

Jay dan Muthi'ah.

Mereka belum tahu.

Tapi sebentar lagi, keduanya akan dipaksa berhadapan dengan satu pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada menghafal kitab apa pun.

Apakah janji orang tua boleh menentukan masa depan anak-anaknya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!