"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 -Belajar Kelompok Dan Sosok Maknar
Tiap kali guru-guru mata pelajaran eksak seperti Fisika, Kimia, atau Matematika mengumumkan ada tugas kelompok, suasana barisan belakang kelas X IPA 2 selalu diwarnai kasak-kusuk. Anak-anak cowok yang nilai hitung-hitungannya pas-pasan—termasuk aku dan Diko—pasti bakal saling sikut buat nyari 'penyelamat'. Dan penyelamat utama kami di kelas ini tidak lain dan tidak bukan adalah Nara.
Entah kenapa, wali kelas kami seolah paham peta kekuatan kelas. Setiap pembagian kelompok belajar, nama aku dan Diko hampir selalu disatukan dengan Nara dan Lina. Pembagian ini jelas berkah luar biasa buat kami berdua, walau buat Nara mungkin ini ujian kesabaran tingkat tinggi.
Hari Selasa siang itu, Pak Aris, guru Kimia kami yang bertubuh tambun, memberikan lembaran tugas kelompok tentang Hukum Gay-Lussac dan Avogadro. Tiga puluh soal hitung-hitungan penuh rumus mol dan volume gas harus selesai dikumpulkan sebelum jam pelajaran berakhir.
"Geser mejanya! Jangan ada yang ngobrol di luar pelajaran!" perintah Pak Aris sebelum duduk santai di meja guru sambil membuka koran.
Aku dan Diko dengan gesit langsung menggeser meja kami merapat ke meja depan tempat Nara dan Lina duduk. Kami membentuk formasi lingkaran empat kursi.
Nara sudah siap dengan pulpen gel hitam dan kalkulator ilmiahnya. Dia menatap aku dan Diko bergantian dengan pandangan matanya yang tajam dan tajam.
"Kertas sama pulpen kalian mana?" tanya Nara, nada suaranya sudah mulai terdengar kayak emak-emak mau ngomel.
Diko buru-buru merogoh tasnya, mengeluarkan satu lembar kertas lecek dan pulpen yang sudah mau habis tintanya. Aku sendiri ngeluarin buku catatan Kimia yang halamannya baru terisi seperempat.
Nara memutar kedua bola matanya, helat napas panjang yang kedengaran berat banget.
"Kalian berdua ini niat sekolah apa enggak sih?" semprot Nara tanpa basa-basi, suaranya dipelankan tapi ketegangannya berasa banget. "Tugasnya ada tiga puluh soal. Aku enggak mau ya cuma aku sama Lina yang ngerjain terus kalian tinggal terima bersih nulis nama di cover!"
"Iya, iya, Mbak... siap belajar ini kita," celetuk Diko sambil membetulkan posisi duduknya agar kelihatan tegap.
"Bagus. Sekarang perhatiin nomor satu," kata Nara tegas. Dia menggeser lembar soal ke tengah meja, lalu mulai mencoret-coret rumus di kertas buram.
Cara Nara mengajari kami itu bener-bener unik. Dia enggak cuma sekadar ngasih tahu jawaban akhir, tapi menuntun langkah demi langkah dari mana rumus itu dapat. Masalahnya, gaya ngajarnya itu galak dan cerewetnya Minta ampun—mirip banget sama emak-emak di rumah yang lagi ngajarin anaknya baca Al-Qur'an tapi anaknya enggak paham-paham.
"Satria! Ini kenapa mol-nya kamu kali sama dua? Kan di soal diketahui dalam keadaan STP!" omel Nara sambil mengetuk kertas catatanku pakai ujung pulpennya agak kencang.
Aku meringis sambil menggaruk kepala. "Ya... aku kira kalau gas diatomik harus dikali dua, Ra."
"Itu kalau nyari massa molekul relatifnya, Satria Pratama! Ini yang ditanya volumenya! Baca soalnya pakai mata, jangan pakai dengkul!" omel Nara lagi, mukanya ditekuk gemas sampai alirannya menyatu di tengah.
Diko yang duduk di sebelahku menahan tawa sampai mukanya merah. Tapi tawa Diko langsung reda waktu Nara berpaling menatapnya dengan lirikan maut.
"Kamu juga, Diko! Jangan ketawa-tawa! Nomor tiga itu kenapa angka variabelnya hilang satu? Kamu kemanain angka empatnya? Kamu makan?" sergap Nara pedas.
"A-ampun, Mbak... ini tadi salah tulis," jawab Diko gagap, buru-buru menghapus tulisannya pakai tipe-X.
Lina yang duduk di sebelah Nara cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa pelan melihat nasib kami berdua. Tapi meskipun omelannya pedas, cerewet, dan suka marah-marah kalau kami lemot paham, aku tahu betul Nara ngajarin kami dengan sangat sungguh-sungguh. Dia enggak pernah kapok atau melengos pergi ninggalin kami. Kalau aku atau Diko masih bingung, dia bakal ngulangin penjelasannya dari awal lagi sampai kami benar-benar ngerti konsep dasarnya.
Melihat gayanya yang cerewet, galak, tapi penuh perhatian dan keikhlasan itu, sebuah ide jahat mendadak melintas di kepalaku.
"Aduh, ampun, Maknar... galak amat sih," cetusku spontan sambil menyeringai lebar.
Gerakan tangan Nara yang lagi menulis rumus langsung terhenti seketika. Dia mendongak, menatapku heran.
"Apa kamu bilang tadi?" tanya Nara, matanya membelalak.
"Maknar," balasku santai tanpa dosa. "Mamak Nara. Soalnya gaya ngajarmu persis emak-emak di rumah kalau lagi ngomeli anaknya yang malas belajar."
Diko yang mendengar julukan itu langsung meledakkan tawa kencang tanpa bisa ditahan lagi. "Anjir! Pas banget, Sat! Maknar! Mamak Nara!"
"Diko! Satria!" panggil Pak Aris dari meja guru depan dengan suara beratnya, terganggu oleh suara tawa Diko. "Jangan bising kalian di belakang!"
"Maaf, Pak!" sahut Diko buru-buru menundukkan kepala, tapi badannya masih bergoyang-goyang menahan tawa.
Nara mukanya langsung memerah padam sampai ke ujung jilbabnya. Dia mengambil penggaris plastik panjang di mejanya, lalu menyabetkannya pelan tapi mantap ke bahuku dan bahu Diko bergantian.
"Ngalur ngidul terus kalau bikin julukan! Enak aja dipanggil emak-emak!" omel Nara dengan nada emosi tapi suaranya ditahan biar enggak dimarahi Pak Aris lagi.
"Tapi kan emang bener, Ra," kataku terkekeh sambil mengelus bahuku. "Kamu galak, cerewet, suka mukul pakai penggaris, tapi tulus banget ngajarin kami. Bener-bener karakter Maknar sejati."
"Terserah kalian deh! Malas aku ngajarin lagi!" ancam Nara sok mogok, membuang mukanya ke samping sambil melipat kedua tangan di dada.
Melihat dia pura-pura mogok, aku dan Diko langsung memasang muka selong dan memohon-mohon dengan gaya konyol.
"Jangan gitu dong, Maknar... kasihanilah anak-anakmu yang tidak paham Kimia ini," bujuk Diko sambil menungkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Iya, Mak. Kalau Maknar mogok, nomor lima belas sampai tiga puluh siapa yang mau jelasin?" tambahku ikut-ikutan.
Nara menoleh lagi ke arah kami. Melihat dua muka konyol yang memohon di depannya, benteng galaknya seketika runtuh. Tawa kecil yang berusaha ditahannya akhirnya lolos juga dari bibirnya.
"Dasar dua orang gila," gumam Nara sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Yaudah! Buka nomor sepuluh! Perhatiin baik-baik, tak jelasin sekali lagi. Kalau masih salah juga, tak sabet pakai penggaris besi beneran!"
"Siap, Maknar!" sahutku dan Diko kompak.
Sejak hari itu, julukan Maknar resmi melekat erat pada sosok Nara, khusus di antara kelompok belajar kami. Setiap kali ada tugas hitung-hitungan atau diskusi kelompok, panggilan itu selalu jadi bahan candaan yang sukses mencairkan ketegangan belajar.
Anehnya, meskipun selalu mengomel dan memelototkan mata tiap kali dipanggil Maknar, Nara enggak pernah benar-benar marah. Di balik sifat galaknya, aku tahu dia menikmati peran itu—sebagai sosok yang diandalkan dan dipercaya oleh kami berdua.
Lewat bimbingan super galak dari Maknar, nilai-nilai tugas Kimia dan Fisikaku serta Diko perlahan-lahan mulai merangkak naik melebihi garis KKM. Kami bukan lagi sekadar dua anak pemalas di barisan belakang, tapi murid-murid yang pelan-pelan mulai paham materi berkat ketelatenan cewek terpintar di kelas itu.
Sore harinya sekitar jam tiga, usai bel pulang sekolah dan sebelum aku turun ke aula bawah buat latihan silat rutin, Nara menghampiri mejaku.
dia meletakkan satu lembar kertas buram berisikan ringkasan rumus-rumus Kimia yang sudah ditulisnya rapi dengan tulisan tangannya yang khas.
"Nih," kata Nara pendek.
Aku mengernyit heran menerima kertas itu. "Apa ini, Ra?"
"Ringkasan rumus buat bab depan. Pelajari pas luang, biar pas belajar kelompok minggu depan otakmu gak kaku lagi," jawab Nara judes.
Aku menatap lembar kertas itu, lalu mendongak menatap wajahnya. Sisi perhatiannya yang jujur tanpa pura-pura ini yang selalu berhasil bikin rasa sukaku makin dalam dari hari ke hari.
"Makasih ya, Maknar," ucapku tulus sambil tersenyum lebar.
Nara memutar kedua bola matanya malas, tapi ada binar gembira yang terpancar jelas di mata bulatnya.
"Sama-sama. Sana turun ke aula, udah jam tiga lewat itu. Awas kalau latihan silatnya loyo!" pesan Nara sebelum berbalik menyusuri koridor mau bimbingan olimpiade.
Aku memandangi langkah kakinya sambil menggenggam erat lembaran kertas rumus pemberiannya. Di sore yang cerah itu, aku merasa sangat beruntung. Di tengah kerasnya porsi latihan silat dan sulitnya pelajaran sekolah, kehadiran sosok Maknar adalah warna terindah di masa-masa putih abu-abuku.