Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"M-Mbak... i-ini..." Suara Mia keluar dengan terpatah-patah.
"Aku memotretnya pas ke pasar malam, Mia. Ada videonya juga." Tarmi menggeser layar ponselnya, memindahkan ke video.
Mia memutar video itu dengan tangan gemetar, dadanya sesak. "Edo..." Ia menatap nanar layar HP Tarmi yang sedang memutar video mesra Edo dengan Bela.
Mia kembali menangis. Tubuhnya bergetar hebat saat ia kembali memeluk Tarmi lebih erat. "Aku nggak nyangka, Mbak..." Suaranya tercekat di sela isak tangis. "Ternyata selama ini Edo menduakan cintaku. Mengkhianati pernikahan kami."
"Sabar, ya, Mia." Tarmi mengusap punggungnya perlahan. Air mata perempuan itu ikut mengalir melihat tetangganya sehancur itu.
Tarjo dan Jamal yang sejak tadi diam pun ikut sesak. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Pemandangan di depan mata terlalu menyakitkan untuk disaksikan.
Mia menangis semakin keras. Di tengah kehancuran itu, berbagai kenangan tentang Edo bermunculan begitu saja di kepalanya.
Kenangan yang dulu selalu membuatnya tersenyum, kini justru terasa seperti pisau yang mengiris hati. Ia masih ingat bagaimana awal mula dirinya mengenal Edo.
Semuanya berawal dari Facebook. Saat itu, Mia yang baru beberapa waktu menggunakan Facebook menerima sebuah pesan di kotak masuknya. Awalnya hanya obrolan sederhana. Lalu berlanjut sampai bertukar nomor ponsel.
Edo sering meneleponnya. Menanyakan kabar, pekerjaan, hingga membicarakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Anehnya, Mia merasa nyaman. Edo pandai membuatnya tertawa. Lelaki itu juga sering memberikan perhatian sederhana yang membuat hati Mia berbunga-bunga.
Hanya dalam waktu sebulan, Edo mengajaknya bertemu.
Mereka memilih sebuah warung bakso sederhana tidak jauh dari balai desa.
Saat pertama kali melihat Edo secara langsung, Mia sempat salah tingkah. Lelaki itu memang tidak bisa dibilang seperti artis, tetapi wajahnya lumayan tampan. Senyumnya juga membuat Mia semakin gugup.
"Hai, Mia," sapa Edo waktu itu.
"Hai juga, Do." Mia tersenyum kecil. "Kamu ternyata jauh lebih tampan dari foto profil di Facebook."
Edo tertawa.
Pertemuan sederhana di warung bakso itu ternyata membuka cerita baru dalam hidup Mia.
"Ya ampun... aku nggak menyangka ternyata kita satu desa ya, Do. Cuma beda kampung saja."
"Iya, Mia. Mungkin karena aku jarang di rumah, ya. Soalnya setelah lulus SMP... aku langsung ikut kerja ke Bekasi sama saudaraku. Jadinya nggak tahu kalau ada gadis secantik kamu."
Mia tersipu. "Ih, kamu bisa saja." Ia tertawa kecil. "Aku juga nggak tahu kalau di kampung Citiis ada pemuda setampan kamu."
"Hahaha..." Edo menepuk meja. "Tapi sekarang tahu, kan?"
"Iya."
Obrolan mereka berlanjut, hingga akhirnya Edo menyatakan perasaannya pada Mia. "Aku suka kamu, Mia. Maukah kamu menjadi pacarku?"
Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Mia.
Saat itu, jantungnya berdebar begitu kencang. "Kamu serius, Do? Tapi aku ini jauh lebih tua dari kamu." Mia menunduk malu-malu.
Edo mengangguk. "Aku serius, dan aku tidak peduli soal perbedaan umur kita, Mia. Aku cinta kamu."
Mia menunduk, menyembunyikan senyum yang tidak bisa ditahannya. Tanpa banyak pertimbangan, ia menerima. "Aku juga suka kamu, Do. Aku mau jadi pacar kamu."
Kenangan lain bermunculan lagi. Saat lamaran hingga pernikahan di bawah tangan yang mereka lakukan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mia Anggia binti Bapak Ayep Supriadi dengan maskawin seperangkat alat salat dan uang lima ratus ribu dibayar tunai."
Pernikahan sederhana itu berlangsung dengan penuh haru.
Mia tak mempermasalahkan. Karena ia sudah telanjur mencintai Edo dengan sepenuh hati dan seluruh jiwa raganya. Terlebih lagi, lelaki itu berjanji dengan meyakinkan. "Aku janji, Yang. Setelah aku punya uang... aku akan meresmikan pernikahan kita di KUA. Kita tebus buku nikah kita, ya. Tapi kamu harus sabar. Aku akan berusaha mewujudkan janjiku ini."
"Iya, nggak apa-apa, Do. Aku akan sabar. Aku percaya kamu pasti akan menepati janjimu itu."
"Makasih, Sayangku. Aku cinta kamu, Mia. Cinta sekali."
Mia masih ingat bagaimana lelaki itu pernah berjanji akan selalu menjaganya.
Berjanji akan selalu membersamainya, menyayangi dan menemaninya sampai akhir hayat.
Janji itu dulu terdengar begitu meyakinkan. Dan janji-janji itu juga yang membuat Mia berani menyerahkan seluruh hati dan hidupnya.
Namun kini, semua kenangan itu berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Semua janji itu kini bak pedang yang mencabik-cabik hatinya sampai berdarah-darah.
Mia membuka mata. Air matanya makin deras berjatuhan. Ternyata lelaki yang dulu begitu ia percaya justru menjadi orang yang paling kejam menghancurkan hatinya. "Edo..." bisiknya lirih. Nama itu keluar bersama isak tangis yang kembali pecah. Dada Mia terasa sesak. Oksigen di sekitarnya seolah menghilang pergi bersama janji yang diingkari.
Tarmi hanya mampu memeluk Mia lebih erat. Sementara di sisi lain, Tarjo dan Jamal saling berpandangan dalam diam.
Mereka tahu, malam itu Mia tidak hanya sedang menangisi perselingkuhan suaminya. Mia juga sedang berduka atas hancurnya sebuah cinta yang selama ini ia jaga dan ia kira nyata.
________
"Gue bilang juga apa, Do. Si Mia tidak sebodoh yang lo kira. Lambat laun, dia membangkang juga, kan?" Ohang menepuk bahu Edo pelan. Menatap prihatin pada sahabatnya itu.
"Iya, Hang. Dia mulai berani melawan. Emosi banget gue!" Edo meninju kasur yang didudukinya. "Kalau aja tadi nggak keburu ada tetangga kontrakan yang berteriak dan menggedor-gedor pintu... udah gue habisin tuh si Mia. Gue bejek-bejek tuh wajahnya yang sok lugu itu! Setan emang tuh cewek! Anjing!" Umpatan kasar masih saja terlontar dari bibir Edo yang bergetar.
"Terus sekarang lo mau gimana, Do? Lo bener-bener mau menceraikan dia?" tanya Ohang memastikan. Matanya menatap wajah Edo yang kelam.
Edo menjambak rambutnya sendiri. "Gue nggak tahu, Hang." Ia menggeleng. "Nafsu gue menyuruh untuk menjatuhkan talak ke dia. Tapi logika gue beda lagi. Gue kayak nggak rela aja kalau harus menalak dia sekarang. Gue belum dapat apa-apa, Hang. Minimal gue harus bisa kuras habis dulu uangnya, baru deh gue buang si Mia ke tempat sampah," cerocos Edo tanpa rasa bersalah.
"Hm, gue setuju." Ohang mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau itu mau lo, mending untuk beberapa hari, minggu atau bulan sekalian... lo nggak usah pulang dulu deh ke kontrakan. Nggak usah hubungi dia juga. Diemin aja. Siksa dia tanpa status yang jelas," usul Ohang memprovokasi. "Nah, nanti... pas malam sebelum dia gajian. Lo pulang ke kontrakan. Lo ambil tuh ATM-nya. Dan lo kuras tuh semua uangnya, keren 'kan ide gue?" Ohang menaik-turunkan alisnya. Smirk licik muncul di bibirnya yang hitam dan tebal.
Edo menyeringai lebar. Sesaat kemudian, ia bertepuk tangan kencang seolah baru saja mendengar sebuah ide yang luar biasa. "Keren, Hang! Mantap!" serunya penuh semangat. "Gue suka banget sama ide lo."
Ohang terkekeh. "Itulah gunanya teman, Do."
Edo ikut tertawa. Namun, tawa itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bahagia. Justru terdengar seperti tawa seseorang yang sedang menikmati rencana buruk yang sudah memenuhi kepalanya. "Lo benar. Gue nggak perlu buru-buru pulang." Edo mengangguk mantap. "Biar si Mia mikir sendiri. Biar dia bertanya-tanya gue ke mana. Biar dia gelisah."
"Betul."
"Terus pas dia mulai lengah..." Edo menyeringai lagi. "Gue pulang tepat sebelum gajian." Ohang mengangguk-angguk. "Gue ambil ATM-nya. Semua uang yang ada di rekening gue kuras."
"Jangan lupa PIN-nya," sahut Ohang.
Edo langsung tertawa kecil. "Gue tahu."
Senyumnya semakin lebar. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. "Tunggu aja, Mia. Gue bakal buat perhitungan sama lo!" Edo menyandarkan punggung ke dinding. "Gue bakal buat lo menyesal karena udah berani melawan gue!" geramnya emosi.
Ohang menepuk bahu Edo sekali lagi. "Nah, begitu dong. Jangan sampai lo kalah sama perempuan."
Edo berdiri dari kasur. Semangatnya kembali menggebu-gebu. Kemarahan yang sebelumnya membuatnya kehilangan kendali kini berubah menjadi tekad untuk menjalankan rencana liciknya. "Mampus lo, Mia. Gue bakal buat lo menangis sejadi-jadinya. Inilah akibatnya kalau lo melawan Edo Perwira," desisnya dengan mata berkilat tajam.
Ohang mengacungkan jempol. "Berhubung lo udah nggak terlalu emosi, gue mau pamit ke tempat Salma, ya," pamit Ohang seraya terkekeh kecil.
"Oke, Hang." Edo menepuk bahu Ohang. "Selamat bersenang-senang sampai pagi, Hang!" Tawa kencang mengiringi ucapan itu.
"Hahaha...! Oke, Do. Gue bakal buat si Salma nggak berdaya." Ohang keluar dari kamarnya, meninggalkan Edo yang kembali menjatuhkan bokong ke kasur.
_______
Tiga minggu berlalu setelah pertengkaran hebat itu.
Selama tiga minggu, Edo sama sekali tidak pulang. Tidak ada kabar, tidak ada telepon, bahkan satu pesan pun tidak dikirimkan kepada Mia.
Awalnya, Mia masih sering terbangun tengah malam hanya karena berharap mendengar suara motor Edo berhenti di depan kontrakan.
Namun, hari demi hari berlalu. Harapan itu perlahan menghilang. Mia tak lagi menunggu Edo pulang. Ia juga sudah tidak ingin tahu lelaki itu berada di mana. Setiap kali teringat foto dan video mesra suaminya dengan wanita muda itu, yang muncul bukan lagi rasa rindu, melainkan rasa jijik dan kecewa.
Anehnya, setelah terbiasa menjalani hari seorang diri, Mia justru mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Ketenangan.
Sore itu, Mia berbaring di atas kasur tipis di dalam kontrakannya. Kedua tangannya terlipat di bawah kepala, sementara tatapannya menerawang ke langit-langit. "Ah..." Ia mengembuskan napas panjang. "Ternyata tinggal sendirian nggak seburuk yang selama ini aku bayangkan." Mia tersenyum tipis.
Memang, ada saat-saat tertentu ketika kesunyian terasa menyebalkan. Ada pula malam ketika hatinya kembali terasa sesak mengingat pengkhianatan Edo.
Namun, setidaknya kini ia tidak perlu lagi menunggu kepulangan seseorang yang tidak pernah menghargainya. "Rasanya malah lebih tentram dan damai." Mia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tidur tanpa harus bertanya-tanya Edo sedang berada di mana. Tanpa harus menunggu suara motor. Tanpa harus memikirkan apakah suaminya akan pulang dalam keadaan marah. Dan tanpa harus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apa yang salah dengan dirinya sampai-sampai Edo memilih perempuan lain.
Mia menghela napas pelan. "Mungkin selama ini aku terlalu takut hidup tanpa Edo." Ia membuka mata kembali. "Padahal... ternyata aku bisa hidup tanpa dia." Tiba-tiba ponsel yang diletakkan di samping bantal berdering.
Mia melirik layarnya. "Eh, Ibu nelepon."
Tanpa ragu, ia langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Bu."
"Mia..." Suara Titin terdengar dari seberang sana. "Kamu baik-baik saja, kan, Nak?"
Mia tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Bu. Kenapa?"
"Ibu khawatir sekali sama kamu." Suara Titin bergetar. "Suamimu juga baik-baik saja, kan?"
Mia terdiam sejenak. Ia memang tidak pernah bercerita tentang sikap Edo padanya kepada sang ibu, atau pun bapaknya. Helaan napas pelan keluar dari bibir Mia."Jangan khawatir, Bu. Aku dan Edo baik-baik saja." Mia terpaksa berdusta.
Titin menghela napas panjang. "Syukurlah. Sudah tiga malam ini, Ibu mimpi buruk terus, Mia."
Kening Mia berkerut. "Mimpi apa, Bu?"
Hening beberapa detik. Suara Titin mengalun lagi. "Ibu mimpi kamu hanyut terbawa arus sungai, Nak."
Tubuh Mia seketika menegang. Senyum kecil yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang. "Hah...?"
Titin kembali berkata dengan suara cemas. "Di mimpi itu, Ibu melihat kamu terseret arus yang deras. Ibu sudah berusaha mengejar dan menolong kamu, tapi..." Suaranya terdengar bergetar. "Ibu nggak bisa meraih tangan kamu."
Mia terdiam. Bulu kuduknya seketika meremang. Padahal beberapa menit sebelumnya, ia merasa hidupnya mulai kembali tenang. Namun sekarang, perkataan sang ibu membuat hatinya mendadak tidak nyaman.
"Mia?"
"I-iya, Bu..."
"Kamu benar-benar baik-baik saja, kan, Nak? Kamu dan suamimu tidak bertengkar?"
Mia menelan ludah. Batinnya ingin mengatakan, "Aku dan Edo bertengkar hebat, Bu. Bahkan Edo sampai memukuliku." Tapi bibirnya memilih berkata, "Aku baik-baik saja, Bu. Hubunganku dan Edo juga harmonis. Ibu jangan cemas, ya. Mimpi itu hanya bunga tidur, Bu. Pamali kalau kita percaya hal seperti itu. Nanti jatuhnya jadi syirik." Namun firasat aneh mendadak menelusup ke relung hatinya.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪