Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Derap sepatu lars baja pasukan pengawal istana kekaisaran menggema keras di balik pintu mahoni ruang kerja Adipati Christopher, menciptakan getaran yang merambat hingga ke meja tempat secarik surat dari perbatasan utara tergeletak. Namun, di tempat yang sangat jauh dari kekacauan ibu kota itu—di dalam dinding-dinding batu Kediaman Valerius yang dingin dan steril—waktu bergerak dengan lambat, membawa serta perubahan musim yang mengubah lanskap salju tebal menjadi hamparan tanah hitam berembun.
Enam bulan.
Waktu yang terasa bagaikan sebuah keabadian bagi siapa saja yang terkurung di dalam benteng sang Jenderal, kini akhirnya mendekati garis akhir.
Di dalam kamar tidur utama sayap barat, Aurelia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke gerbang utama halaman dalam kastil. Udara pagi musim panas yang mulai menghangat berhembus pelan, menerbangkan helian rambut kecokelatannya. Di luar sana, kesibukan luar biasa tengah terjadi. Puluhan kuda perang berzirah baja meringkik gelisah, sementara para prajurit elit berbaris rapi membentuk formasi garis pertahanan di bawah komando ketat para kapten.
Hari ini adalah hari keberangkatan. Sesuai dengan jadwal kampanye militer tahunan kekaisaran, Jenderal Damian Valerius harus memimpin pasukan utama bergerak menuju perbatasan utara untuk meredam eskalasi konflik yang kian memanas.
Bagi seorang istri bangsawan di era kekaisaran ini, kepergian suami ke medan perang selama berbulan-bulan seharusnya menjadi momen penuh air mata, kecemasan, dan ratapan pilu di balik jendela kamar. Namun, bagi Shania, pemandangan di halaman bawah sana adalah pemandangan paling indah yang pernah disaksikan oleh kedua matanya semenjak ia terjebak di dalam tubuh Aurelia.
Ia menatap ke arah halaman dengan napas yang terasa lapang. Di dalam dadanya, bukan rasa gentar atau kesedihan yang bergelayut, melainkan gelombang kelegaan luar biasa yang mendesak naik hingga membuat sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman kecil—senyuman tulus yang selama berbulan-bulan ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.
Kesempatan itu akhirnya datang, batin Shania, jantungnya berdegup kencang bukan karena rasa takut, melainkan karena getaran antusiasme kebebasan yang sudah berada di depan mata.
Selama enam bulan terakhir, Shania tidak tinggal diam. Di balik tembok-tembok kamar yang diawasi ketat dan batasan-batasan kejam yang diberlakukan sang Jenderal, ia telah menyusun strategi pelarian secara cermat. Sedikit demi sedikit, ia mengumpulkan kepingan mata uang perak yang ia sisihkan dari anggaran belanja domestik kecil lewat bantuan pelayan setianya, merancang peta rute perdagangan tua menuju kota pesisir selatan, serta menjahit sendiri jubah penyamaran sederhana dari kain wol usang yang ia sembunyikan di balik papan lantai.
Bagi Shania, Kediaman Valerius adalah sangkar berlapis emas yang menyimpan ancaman kematian di setiap sudutnya. Dan sekarang, ketika sang predator utama—Damian Valerius—harus meninggalkan benteng ini untuk memimpin perang di ujung utara selama berbulan-bulan, jeruji besi itu seolah terbuka lebar menyambut kepergiannya.
Suara langkah kaki berat yang mendekat di balik pintu kamar menghentikan lamunannya. Aurelia segera meredam senyumannya, memasang kembali ekspresi datar dan rapuh sesaat sebelum pintu kayu mahoni itu terdorong terbuka tanpa ketukan.
Damian Valerius melangkah masuk ke dalam ruangan.
Pria itu mengenakan jubah perang kebesarannya yang terbuat dari bulu serigala hitam legam, lengkap dengan zirah dada baja berlapis perak yang memantulkan cahaya suram dari jendela. Aura intimidasi yang sangat kuat langsung memenuhi ruangan seketika, membuat suhu di dalam kamar mendadak terasa jauh lebih dingin.
Damian tidak membawa banyak barang; seorang komandan perang besar tidak memerlukan persiapan berlebihan untuk sebuah penaklukan. Sepasang mata abu-abu badai miliknya menatap lurus ke arah Shania yang berdiri di dekat jendela. Tidak ada kehangatan, tidak ada kata perpisahan yang manis, dan tidak ada pelukan hangat layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Yang ada hanyalah tatapan dingin, penuh selidik, dan sarat akan peringatan mutlak.
"Aku akan pergi ke perbatasan utara," suara berat Damian memecah keheningan, rendah dan berwibawa. "Kampanye militer ini diperkirakan akan memakan waktu setidaknya tiga hingga empat bulan, atau lebih lama jika faksi pemberontak di sana terbukti lebih licik dari perkiraan."
Shania menundukkan pandangannya sedikit, memainkan jemarinya di balik lipatan jubah untuk menyembunyikan getaran antusiasme yang merayap di telapak tangannya. Ia harus menjaga aktingnya dengan sempurna agar sang Jenderal tidak menangkap secercah pun niat terselubung di balik sikap tunduknya.
"Hamba... mengerti, Jenderal," jawab Shania dengan nada suara yang sengaja dibuat parau dan gemetar pelan, meniru persis ketakutan seorang istri yang tertindas. "Semoga... perjalanan Anda dilindungi keselamatan, dan semoga Anda mendapatkan kemenangan di medan perang."
Damian menyipitkan mata. Alis tebal pria itu bertaut tajam, mengamati setiap perubahan kecil pada postur tubuh istrinya. Selama enam bulan terakhir, meskipun ia membatasi ruang gerak wanita itu, ia tidak pernah menemukan bukti fisik atas pengkhianatan apapun—selain kebiasaan aneh wanita itu yang gemar memanggang roti di dapur belakang secara sembunyi-sembunyi. Namun, insting militernya terus memperingatkannya bahwa ada sesuatu yang besar yang disembunyikan di balik ketenangan palsu ini.
"Selama aku tidak ada," lanjut Damian, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu meter, membuat aroma tembakau dan dinginnya udara luar menerpa indra penciuman Aurelia, "Aturan di kediaman ini tidak berubah. Kepala Pelayan dan pengawal pribadi akan mengawasi setiap langkahmu. Jangan mencoba keluar dari batas wilayah kastil, dan jangan pernah berpikir untuk melakukan hal-hal bodoh yang bisa mencoreng nama keluarga Valerius."
Tekanan dalam suara Damian begitu mutlak, sebuah titah militer yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun di bawah teritorialnya.
Aurelia merasakan keringat dingin menetes di pelipisnya, namun ia tetap mempertahankan kepalanya menunduk, mengangguk kecil sebagai tanda kepatuhan semu. "Hamba akan mematuhi perintah Anda, Yang Mulia."
Damian terdiam sejenak. Pria itu menatap wajah Shania lekat-lekat untuk terakhir kalinya, mencoba mencari setitik keraguan atau air mata perpisahan di mata hijau wanita itu. Namun ia tidak menemukan apa pun selain kepatuhan yang hambar. Merasa tidak ada lagi yang perlu dikatakan, Damian memutar tubuhnya dengan jubah hitam yang berkibar berat, lalu melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi.
Derap sepatu lars militer itu berangsur-angsur menjauh menuruni tangga utama, disusul oleh suara gerbang besi halaman luar yang dibuka dengan derit rantai yang berat.
Di dalam kamar yang kembali sunyi, Shania berdiri mematung selama beberapa detik. Ia mendengarkan deru suara kuda-kuda perang yang mulai bergerak meninggalkan halaman kastil, semakin lama semakin sayup, hingga akhirnya benar-benar lenyap ditelan angin siang.
Dia sudah pergi.
Kata-kata itu berputar di dalam kepalanya, memicu gelombang kebahagiaan yang begitu besar hingga membuat dadanya terasa sesak. Aurelia tidak lagi bisa menahan senyumannya. Ia menutup kedua telapak tangannya ke wajahnya, tertawa kecil tanpa suara—sebuah tawa penuh kemenangan dan kelegaan yang sudah lama ia damba-dambakan.
Kebebasan. Pintu menuju kehidupan barunya di luar sangkar emas ini akhirnya terbuka lebar. Ia tidak perlu lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan eksekusi mati. Ia bisa berkemas sekarang, menyiapkan beberapa perbekalan kecil, dan melarikan diri malam ini juga sebelum fajar menyingsing esok hari.
Dengan gerakan cepat dan penuh semangat yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, Aurelia berbalik menuju lemari pakaian. Ia mulai menarik keluar jubah wol usang, kantong uang perak yang ia sembunyikan di bawah papan lantai, serta selembar peta rute pelarian yang telah ia pelajari berbulan-bulan.
Jemarinya begitu cekatan membereskan barang-barang kecil ke dalam tas kanvas kusam. Pikirannya sudah melayang jauh ke sebuah kota pelabuhan kecil di selatan kekaisaran—tempat di mana ia akan membuka sebuah toko roti sederhana, mencium aroma mentega panggang setiap pagi, dan hidup sebagai orang biasa yang merdeka.
Namun, di tengah kesibukan Aurelia melipat jubah penyamarannya di atas tempat tidur, suara angin di luar jendela mendadak berubah. Suara derap kuda tunggal yang berlari kencang secara tidak terduga memasuki halaman dalam—suara yang seharusnya tidak ada karena seluruh pasukan utama baru saja meninggalkan kastil beberapa menit lalu.
Aurelia menghentikan gerakannya. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara tidak wajar.
Pintu kamar tidur utamanya yang tadi tertutup rapat, tiba-tiba diketuk dengan keras dari luar—bukan dengan ketukan sopan seorang pelayan, melainkan hantaman kasar yang langsung mendorong daun pintu terbuka lebar—
mampir diceritaku juga ya😊