NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Di Vila Alkantara

Malam sudah larut di Bali.

Aku terbaring sendiri di sofa krem yang empuk di tengah vila pribadi milik Mas Brayen. Vila ini begitu megah, semua dindingnya terbuat dari kaca raksasa yang langsung menghadap ke Pantai Kuta. Dari sini, aku bisa melihat jelas bulan purnama yang memantul di atas ombak, dan mendengar suara deburan ombak yang pelan.

Gaun peach yang aku pakai sejak acara peresmian tadi sore masih melekat di tubuhku. Sudah sedikit kusut. Rambutku sudah aku lepas dari gelungnya, tergerai berantakan. Aku lelah sekali. Seharian ini rasanya emosiku naik turun. Di Jakarta aku harus begadang menyelesaikan gaun emerald dengan benang emas itu demi Mas Brayen, malamnya aku harus berdiri gemetar di depan kolega Jepang, dan hari ini di Bali aku harus berdiri di podium peresmian resort.

Bahuku pegal, tengkukku kaku. Aku memejamkan mata, mencoba memejamkan mata, tapi tidak bisa tidur.

Tiba-tiba aku merasakan sofa di sampingku turun pelan. Ada seseorang yang ikut berbaring.

Aku kaget, jantungku berdegup kencang, aku langsung membuka mataku lebar-lebar.

Ternyata Mas Brayen.

Mas Brayen sudah berganti kemeja putih tipis, kancing atasnya terbuka dua, lengannya digulung sampai siku. Aromanya yang maskulin dan hangat langsung menyergap hidungku. Dia berbaring di sampingku, begitu dekat sampai aku bisa mendengar detak jantungnya.

"Kamu belum tidur, Sayang?" bisiknya pelan, tepat di telingaku. Suaranya dalam dan membuat bulu kudukku merinding.

Aku menggeleng pelan. "Belum ngantuk, Mas... badanku pegal semua..."

Mas Brayen menatapku dengan tatapan yang tidak pernah dia berikan pada siapa pun. Tatapan yang hanya untukku.

Lalu tanpa aku minta, tangannya yang besar dan kekar itu menyentuh bahuku. Dia mulai memijat bahuku dengan lembut. Pijatannya hangat, pelan, penuh perasaan. Seolah dia hafal di mana saja letak lelah di tubuhku.

"Di Jakarta kamu menyelesaikan gaun indah dan memukau puluhan tamu dan kolega Mas. Kamu tahu? Tuan Yamamoto tadi berbisik ke Mas, katanya Mas adalah pria paling beruntung di dunia karena memiliki istri seperti kamu," bisik Mas Brayen sambil terus memijat bahuku. "Dan di Bali pun kamu tetap bersinar, Sayang. Padahal kamu cuma pakai gaun peach simple ini, tanpa berlian, tanpa make-up tebal seperti Clara. Tapi semua mata hanya melihat kamu."

Mendengar kata-katanya itu, pertahananku jebol. Air mataku yang sejak tadi aku tahan, akhirnya tumpah juga.

Aku menatap Mas Brayen, dengan mata berkaca-kaca.

"Mas... terima kasih ya... terima kasih selalu meratukan aku..." suaraku pecah, terisak. "Jujur aku malu tadi di podium, Mas. Aku malu banget. Aku kan bukan siapa-siapa. Aku cuma Isyana, yang dulu sering dihina, dibilang istri pengganti, dibilang cuma numpang nama Alkantara, dibilang gak pantas buat Mas..."

Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena tangisku semakin keras. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.

"Tapi cara Mas menggandeng aku tadi, cara Mas mengangkat tanganku tinggi-tinggi di depan semua orang, cara Mas bilang aku Berlian tak ternilai di hidup Mas... seakan Mas mengangkat derajatku, Mas... yang dulu sering diinjak-injak, kini jadi dikagumi banyak orang... Mas... aku gak bisa bayangin tanpa Mas di sisi ku..."

Mas Brayen langsung menarikku ke dalam pelukannya. Pelukannya erat sekali, hangat, aman. Dia mengecup keningku berkali-kali, menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

"Dengar Mas, Sayang. Dengar baik-baik," suara Mas Brayen bergetar, aku bisa merasakan dia menahan emosinya. "Ini tanggung jawab Mas. Tanggung jawab Mas untuk melindungi marwahmu sebagai istri Mas. Kamu adalah Nyonya Alkantara yang sah di mata Allah, di mata hukum, di mata hati Mas."

"Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menghina kamu lagi. Tidak Clara, tidak ayahnya, tidak siapa pun. Mas tidak akan pernah kasih celah sedikit pun untuk orang lain menyakiti kamu lagi. Kalau ada yang berani menghina kamu satu kata saja, Mas akan balas dengan seribu cara untuk membela kamu. Itu janji Mas sampai mati, Isyana."

Aku memeluk Mas Brayen semakin erat, menangis di dadanya yang bidang.

Lalu Mas Brayen mengelus rambutku lembut dan berbisik lagi dengan suara yang lebih pelan.

"Dan terima kasih juga ya... terima kasih untuk setiap helai benang emas yang kamu jahit itu. Tulisan Isyana Love Brayen itu... Mas baca berulang-ulang semalaman. Huruf kanjinya mungkin tidak sempurna, tapi itu tulisan paling indah yang pernah Mas lihat seumur hidup Mas. Karena kamu jahit dengan cinta, dengan air mata rindu ke Mas. Mas akan simpan gaun itu selamanya, Mas tidak akan biarkan dicuci."

Aku tertawa kecil di tengah tangisku karena malu.

Kemudian Mas Brayen mengangkat daguku pelan, menatap mataku dalam-dalam. Tatapannya begitu dalem, begitu teduh, sampai aku merasa seluruh duniaku hanya ada dia.

"Brayen juga sangat Love Isyana. More... More... More than love. Lebih dari cinta yang bisa ditulis dengan benang emas. Cinta Mas ke kamu tidak ada ujungnya, Sayang."

Setelah itu, tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan.

Mas Brayen menarik selimut tipis dan menutupi tubuh kami berdua yang masih berbaring di sofa yang menghadap laut itu. Pijatan lembutnya masih berlanjut di punggungku, membuatku merasa sangat aman dan dicintai.

Di luar, ombak Pantai Kuta terus berdeburan pelan. Bulan purnama menjadi saksi bisu.

Malam itu, aku tertidur kelelahan dalam pelukan Mas Brayen, dengan gaun peach yang masih melekat, di bawah selimut tipis. Aku tertidur bukan sebagai istri pengganti, tapi sebagai seorang ratu. Ratu yang benar-benar diratukan oleh rajanya. Berlian tak ternilainya.

---BERSAMBUNG---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!