Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABUR
"Ah, ngomong-ngomong, saya belum tahu siapa nama Anda. Seluruh istana memanggil Anda Tabib, tapi rasanya tidak sopan jika saya melakukan hal yang sama pada orang yang sudah menyelamatkan nyawa keluarga saya," ucap Ratu Alice, menatap Kalyca dengan senyum hangatnya.
Kalyca terdiam sejenak, dia tidak mungkin memberikan nama aslinya, karena itu bisa memicu kecurigaan, terlihat kalau sampai Edelyn tahu, bisa berantakan semua rencana nya.
"Panggil saja saya, Lyca, Yang Mulia," jawab Kalyca, tersenyum kecil di balik cadar nya
"Lyca," ucap Ratu Alice mengulang nama itu pelan.
"Nama yang indah. Lyca, apa pun latar belakangmu, aku secara pribadi sangat berterima kasih padamu, jika suatu saat kamu butuh sesuatu, jangan pernah sungkan untuk datang ke istana ini dan katakan saja padaku. Aku akan mengabulkannya," ucap Ratu Alice, tersenyum lembut.
Mendengar ketulusan dan kelembutan dari Ratu Alice, dada Kalyca mendadak terasa sesak.
Kalyca yang asli begitu malang, dia hidup dalam penderitaan, hingga akhir nya dia menyerah sebelum dia bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tua nya.
"Kalyca adalah aku, dan aku adalah Kalyca, kita satu, dan kali ini akan aku pastikan Kalyca menang dan akan mendapatkan semua yang seharusnya sedari dulu menjadi milik nya," batin Kalyca, penuh tekat.
Selama ini di luar sana, Kalyca hidup menderita, setiap harinya hanya ada penderitaan dan penyiksaan yang dia dapat kan dari Edelyn, tetapi di sini, wanita yang melahirkannya justru memperlakukannya dengan penuh kehangatan, sementara anak palsu yang selama ini dibesarkannya justru berniat membunuh keluarganya sendiri.
"Saya tidak butuh apa-apa, Yang Mulia," jawab Kalyca tulus, suaranya nyaris berbisik.
"Hanya melihat Anda dan Raja selamat dari niat jahat musuh, itu sudah lebih dari cukup bagi saya," lanjut Kalyca dengan kuat menekan perasaan nya, agar tidak goyah.
Ratu Alice menatap Kalyca dengan tatapan penuh kekaguman dan rasa sayang yang tiba-tiba tumbuh begitu saja tanpa alasan yang jelas, dia mengulurkan tangannya, menepuk pelan punggung tangan Kalyca dengan lembut.
"Kamu anak yang baik, Lyca, istirahatlah yang cukup malam ini, istana ini butuh orang-orang jujur sepertimu," ucap Ratu Alice lembut.
"Terimakasih untuk teh nya Yang Mulia, Saya permisi dulu," ucap Kalyca, berpamitan undur diri, lalu melangkah keluar dari kamar utama.
Di balik kain cadarnya, sudut bibirnya tersenyum tipis, menyimpan kehangatan kecil yang baru saja dia rasakan.
"Sebentar lagi, sebentar lagi kamu akan mendapatkan semua milik mu, Kalyca," batin Kalyca, berjalan pergi dari depan kamar Raja.
Kalyca berjalan menyusuri koridor istana yang kembali sunyi.
Namun, baru saja Kalyca hendak berbelok, tiba-tiba sebuah bayangan tinggi, mendadak berdiri bersidekap dada, menghalangi jalan nya.
Kalyca menghentikan langkahnya seketika, dia mendongak dan mendapati Grand Duke Erik Klaus tengah menatapnya tajam.
"Belum tidur, Tabib?" tanya Erik dengan suara berat nya.
"Atau memang sengaja berkeliling istana untuk mencari angin setelah pertarungan tadi?" tanya Erik, tersenyum miring.
Kalyca mendengus pelan di balik cadarnya, dia melipat kedua tangannya di dada, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun berhadapan langsung dengan pria paling ditakuti di kerajaan itu.
"Kamar saya memang berada di arah ini, Yang Mulia Grand Duke," jawab Kalyca tenang.
Erik menyipitkan matanya, jarak di antara mereka yang cukup dekat membuat pria itu bisa mengamati gerak-gerik sang tabib lebih lekat.
"Kamu punya lidah yang sangat tajam untuk ukuran seseorang yang baru saja menumpang tinggal di istana," sindir Erik tipis, melangkah maju selangkah.
"Katakan yang sebenarnya, apa urusanmu yang sesungguhnya di sini? Kamu bilang ingin melihat keadilan, tapi gerak-gerik mu tidak seperti itu," tanya Erik, memicingkan mata nya.
Kalyca sedikit mendongak, menatap langsung ke dalam mata kelam Erik tanpa bergeming.
"Keadilan tidak butuh alasan khusus untuk ditegakkan, Grand Duke. Sama seperti Anda yang mempertaruhkan nyawa melindungi istana ini, saya juga punya alasan sendiri yang tidak perlu saya laporkan pada Anda," jawab Kalyca dingin.
Alih-alih marah karena dibantah, Erik justru semakin penasaran dengan yang dimiliki gadis di hadapannya, jarang sekali ada orang yang berani mendebatnya dengan kepala tegak seperti ini.
"Kamu benar-benar tidak takut mati, ya?" ucap Erik pelan.
"Jika saya takut mati, saya tidak akan berdiri di hadapan Anda sekarang untuk menyelamatkan Raja Veldora," jawab Kalyca tanpa ragu.
Erik menghembuskan napas pelan lewat hidungnya, lalu menurunkan kedua tangannya dari dada.
"Terserah apa katamu," ucap Erik datar.
"Tapi ingat, mataku tetap mengawasi mu. Pergilah istirahat, besok pagi hari yang panjang menanti kita untuk mengurus sisa-sisa pengkhianat di istana ini," ucap Erik, sinis tapi perhatian.
Kalyca tidak menjawab, dia hanya menunduk sedikit, lalu melangkah melewati Erik begitu saja tanpa menoleh lagi.
Kalyca menghela napas lega setelah berhasil lolos dari interogasi singkat sang Grand Duke, dia tahu, berlama-lama di dekat Erik hanya akan mempertaruhkan rahasianya, karena pria itu terlalu peka dan teliti.
"Menyebalkan sekali pria itu," batin Kalyca, mendengus pelan.
Langkah Kalyca akhirnya tiba di depan pintu kamar tamu, dia segera membuka pintu tersebut, melangkah masuk, lalu menguncinya dari dalam.
Kalyca menghela napas panjang, bayangan pertemuannya dengan Ratu Alice barusan masih berputar jelas di kepalanya, kehangatan yang dia rasakan tadi sempat membuat pertahanannya goyah. Namun, dia buru-buru menggelengkan kepalanya, dia harus fokus ke misi utama nya, balas dendam nya pada Edelyn.
"Belum saatnya," gumam Kalyca pelan pada dirinya sendiri, melepaskan cadar nya.
"Sebelum sampah-sampah itu benar-benar dibersihkan, aku tidak boleh membuat kesalahan, apalagi Edelyn belum mendapatkan hukuman nya," gumam Kalyca, pelan.
Sementara itu suasana di dalam kamar pribadi Edelyn benar-benar bagaikan kapal pecah.
PRANG
PYARR
"Sialan! Sialan semuanya!" teriak Edelyn histeris di tengah kamarnya yang berantakan.
Gadis itu berdiri di depan meja rias dengan penampilan yang sudah jauh dari kata anggun.
Edelyn mencengkeram kedua sisi meja rias erat-erat hingga kuku-kuku jarinya memutih, menatap pantulan bayangannya sendiri di cermin dengan sorot mata penuh kebencian.
"Bagaimana bisa, bagaimana bisa rencana yang sudah ku susun bertahun-tahun hancur hanya dalam satu malam?!" geram Edelyn, napasnya memburu naik-turun.
"Ayah sudah sadar, dan dia pasti akan menyeret ku ke hadapan dewan sidang besok pagi," bisik Edelyn gemetar, rasa takut mulai merayapi dadanya.
"Tidak, aku tidak boleh tinggal diam dan menunggu mati di sini!" ucap Edelyn, mulai beranjak dari sana.
Edelyn menoleh ke arah jendela kamarnya yang mengarah langsung ke halaman luar istana, meskipun kamar itu berada di lantai dua, dia tahu dia harus mencari cara untuk keluar, untuk kabur, sebelum kepalanya benar-benar di penggal..
Dengan langkah tergesa-gesa, Edelyn mulai merobek kain seprai tidurnya, menyambungkannya menjadi tali panjang untuk mencoba turun lewat jendela.
"Aku tidak akan kalah, tunggu saja pembalasan ku, karena istana ini milik ku," ucap Edelyn tersenyum miring, sebelum turun.
makaci crazy up nya 😍👍