Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdiri di Depan Ruang BK
Deru mesin sedan hitam milik Damien memecah keheningan jalanan protokol kota yang mulai padat oleh kendaraan sore. Pria itu menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jarak antara kediaman Rexander dan gerbang megah Rexanswood Academy dengan kecepatan tinggi. Rahangnya mengeras sepanjang perjalanan, kedua tangannya mencengkeram lingkar kemudi hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tegas.
Meskipun akademi elit itu menyandang nama besar keluarga Rexander sebagai pemilik yayasan utama, keluarga Vance bukanlah entitas asing di sana. Yayasan keluarga Vance memegang persentase saham investasi yang teramat signifikan dalam pendanaan fasilitas riset dan infrastruktur olahraga sekolah tersebut. Bagi Damien, menjejakkan kaki di tanah akademi ini bukanlah hal yang membutuhkan izin berbelit-belit dari petugas keamanan.
Mobil Damien berbelok tajam memasuki gerbang sekolah yang kini sudah hampir tertutup separuh. Satpam yang berjaga sempat hendak menghentikan laju kendaraan itu, namun begitu melihat plat nomor khusus serta kaca mobil yang diturunkan memperlihatkan wajah dingin Damien Vance, petugas itu buru-buru menunduk hormat dan menekan tombol pembuka gerbang otomatis selebar-lebarnya.
Damien memarkirkan mobilnya tepat di dekat lobi depan tanpa membuang waktu mencari slot parkir umum. Ia turun dengan langkah panjang dan mantap, menutup pintu mobil dengan dentuman berat yang menggema di area pelataran sepi. Jaket bomber gelapnya berkibar tipis tertiup angin senja saat ia melintasi koridor utama, langsung mengarahkan langkahnya menuju lapangan belakang sekolah—tempat di mana para murid pelanggar tata tertib biasanya dihukum fisik.
Begitu Damien melangkah keluar dari selasar penghubung dan memandang ke hamparan lapangan beraspal kasar di hadapannya, langkah kakinya sontak melambat.
Pemandangan di tengah lapangan itu membuat dadanya berdenyut nyeri bercampur amarah yang mendidih seketika.
Di sana, di bawah sisa-sisa sinar matahari sore yang mulai membakar kulit dengan hawa lembap, sesosok gadis berambut berantakan tampak terhuyung pelan sambil menggenggam gagang sapu lidi yang terlalu berat untuk ukuran tubuhnya. Kemeja putih seragam sekolahnya basah kuyup oleh peluh dingin, terutama di bagian punggung dan dada. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, menetes melewati dagu runcingnya yang pucat pasi. Nafas Clyrine tersengal-sengal, telapak tangannya memerah lecet akibat gesekan kayu kasar selama berjam-jam tanpa jeda.
Clyrine sempat berhenti menyapu untuk menyeka matanya yang perih terkena rembesan keringat. Namun saat pandangannya yang kabur terangkat ke arah lorong selasar, matanya membelalak lebar.
Sosok pria bertubuh tegap berbalut jaket hitam itu berdiri di sana, menatap lurus ke arahnya.
"Kak... Damien?" bisik Clyrine nyaris tanpa suara.
Gagang sapu lidi di tangan kanannya terlepas begitu saja, menghantam aspal dengan bunyi gedebuk pelan. Segala rasa lelah, sesak di dada, dan keputusasaan yang menghimpitnya sejak siang tadi mendadak runtuh dalam sekejap. Tanpa mempedulikan kakinya yang bergetar lemas, Clyrine langsung berlari sekuat tenaga melintasi lapangan berdebu itu menghampiri Damien.
Langkah kaki Clyrine sedikit limbung di meter-meter terakhir, namun Damien bergerak cepat menyambutnya.
Bruk.
Clyrine menabrakkan tubuhnya ke dada bidang Damien, melingkarkan kedua tangannya erat-erat di pinggang pria itu. Ia menyembunyikan wajahnya di balik jaket tebal Damien, menumpahkan segala getaran takut dan sesak yang sedari tadi ia tahan di depan semua orang. Aroma maskulin yang familier dan dekapan kokoh pria itu seketika menjadi satu-satunya tempat paling aman di dunia bagi Clyrine.
Damien sempat terdiam mematung selama beberapa detik saat merasakan tubuh kecil di pelukannya bergetar hebat. Peluh Clyrine bahkan merembes tipis ke bajunya, dan nafas gadis itu terasa memburu putus-putus. Damien perlahan melingkarkan satu lengannya di punggung Clyrine, menepuknya pelan dengan sentuhan yang begitu menenangkan—sebuah gestur perlindungan yang sangat jarang ia berikan kepada siapa pun.
"Kak..." suara Clyrine tercekat, bergetar menahan tangis yang hampir pecah. Gadis pemberani yang tak pernah gentar menghadapi perkelahian jalanan itu kini terdengar begitu hancur dan rapuh. "Kak, aku dibilang lihat contekan... padahal nggak, Kak. Demi apa pun, bukan aku yang taruh kertas itu di tas..."
Damien tidak menyela, membiarkan Clyrine menuntaskan kalimatnya.
"Waktu di ruang BK tadi, aku udah coba ngomong berkali-kali... tapi Pak Antonio nggak mau denger penjelasan aku sama sekali," lanjut Clyrine, kepalanya terbenam makin dalam di dada Damien. "Dia langsung vonis aku curang. Nilai ujian aku dikasih nol, terus disuruh bersihin lapangan sampai selesai... Baterai HP aku mati, aku nggak bisa hubungin siapa-siapa... Aku takut Kakak marah karena aku bikin jadwal les pertama kita berantakan..."
Mendengar pengakuan lirih itu, amarah dingin merayapi seluruh pembuluh darah Damien. Gadis ini bukan sedang mencari alasan atau lari dari tanggung jawab; ia dijebak secara terang-terangan, dihukum tanpa hak membela diri, dan di tengah rasa lelahnya yang luar biasa, hal pertama yang ia khawatirkan justru perasaan Damien dan komitmen belajar mereka.
Damien menarik tubuhnya sedikit menjauh, memegang kedua bahu Clyrine dengan lembut. Tangannya yang bebas bergerak perlahan menyeka tetesan keringat dan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu. Tatapan mata gelap Damien mengunci manik mata oranye-tembaga Clyrine yang berkaca-kaca, memancarkan keyakinan mutlak yang tak tergoyahkan.
"Gue tahu," ucap Damien dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan penuh ketenangan yang meredakan badai di kepala Clyrine. "Gue tahu bukan lo pelakunya."
Clyrine mengerjap, bibirnya sedikit terbuka mendengar penegasan tanpa ragu itu. "Kakak... percaya sama aku?"
"Gue nggak butuh kertas contekan murahan buat menilai lo, Cly," balas Damien tegas. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang sarat akan dominasi. "Dan gue nggak akan biarkan siapa pun memperlakukan lo kayak gini tanpa alasan yang jelas."
Damien melepaskan pegangannya di bahu Clyrine, lalu menunduk meraih jemari tangan kanan gadis itu. Tangan besar Damien yang kokoh dan hangat menggenggam erat telapak tangan Clyrine yang lecet dan dingin, menautkan jemari mereka dengan mantap.
"Ikut gue," titah Damien singkat.
"M-mau ke mana, Kak?" tanya Clyrine bingung, langkah kakinya terseok pelan mengikuti tarikan langkah Damien yang lebar.
"Ruang BK," jawab Damien datar tanpa menoleh ke belakang, tatapannya menghunus lurus ke arah gedung utama sekolah. "Kita selesaikan ini sekarang juga."
Genggaman tangan Damien begitu erat dan protektif, menyalurkan rasa aman yang membuat rasa lemas di lutut Clyrine berangsur-angsur lenyap. Clyrine hanya bisa terdiam dan mengekor di samping pria itu, membiarkan dirinya dituntun menembus lorong-lorong sekolah yang temaram oleh pendar lampu senja.
Langkah kaki mereka berderap tegas menaiki tangga menuju lantai dua gedung administrasi. Suara sepatu pantofel kulit milik Damien beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang mengintimidasi di sepanjang koridor kosong. Beberapa staf kebersihan yang berpapasan di jalan langsung menepi, terperangah melihat sosok pemuda berwajah dingin itu menggandeng tangan siswi pembuat onar sekolah dengan begitu terbuka.
Damien tidak peduli pada pandangan orang lain. Tujuannya hanya satu: pintu kayu cokelat bertuliskan Ruang Bimbingan & Konseling (BK) di ujung lorong.
Di dalam ruangan ber-AC itu, Pak Antonio Roberto masih duduk di balik meja kerjanya, tengah membereskan berkas laporan harian sebelum bersiap pulang. Kacamata minusnya bertengger di ujung hidung saat ia membubuhkan tanda tangan terakhir pada dokumen kedisiplinan atas nama Clyrine Elamora Rexander.
Brak!
Pintu ganda ruang BK didorong terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
Pak Antonio tersentak kaget dari kursinya, pena mahalnya hampir terlepas dari jemarinya. Ia mendongak dengan kening berkerut dalam, siap menyemburkan teguran keras atas ketidaksopanan tersebut.
"Siapa yang tidak punya tata krama berani masuk—"
Kalimat sang guru BK seketika tercekat di pangkal tenggorokan. Amarahnya lenyap dalam sepersekian detik saat melihat siapa yang melangkah masuk ke ruangannya.
Damien Vance berdiri menjulang di ambang pintu dengan tatapan mata yang dingin menusuk, sementara Clyrine berdiri di sampingnya dengan tangan yang masih digenggam erat oleh pria itu. Aura dominasi dan tekanan yang dibawa Damien seketika membuat suhu ruangan berpendingin itu terasa turun beberapa derajat lebih dingin.
Damien melepaskan genggaman tangannya perlahan, melangkah satu tindak maju ke depan meja Pak Antonio, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kayu sang guru dengan suara debukan pelan yang menuntut kepatuhan.
"Selamat sore, Pak Antonio Roberto," sapa Damien dingin, nada suaranya begitu rendah namun sarat akan ancaman tak kasat mata. "Saya Damien Vance. Dan saya ke sini untuk meminta penjelasan lengkap kenapa siswi bimbingan saya dihukum tanpa pemeriksaan bukti yang valid."