NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : Gojek Gratis Cewek Bunglon

"Cewek-cewek mau pada nebeng sama yang cowok atau mau pakai transpot masing-masing?"

Saat ini, para anggota kelompok 2 Sosiologi sedang berkumpul di meja belakang Khafi untuk berdiskusi mengenai rencana kerja kelompok yang akan diadakan hari ini di kediaman Khafi.

"Gue sama Misya sih nggak bawa motor. Kalau lo gimana, Ra?" Nisya menyahut pertanyaan dari Fathir.

Kiara yang sedari tadi menunduk melihat ponselnya akhirnya mendongak menatap Nisya. "Gue kayaknya dijemput, kalian mau ikut gue aja?"

Nisya berpandangan dengan Misya. "Nggak deh, Kia. Kita mau nebeng aja sama yang cowok biar cepet."

"Oh ya udah, berarti cuma gue aja yang pake transpot sendiri," ucap Kiara seraya meminum teh kotaknya.

Yang lain segera mengangguk, dan mengalihkan pandangan ke arah Khafi yang masih anteng bermain game online di ponselnya.

"Nyokap lo beneran bisa kan hari ini, Khaf?" kali ini Misya yang bertanya.

Khafi mengangguk sekilas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Bisa, nanti share location dari nyokap gue send ke grup. Kalian nanti duluan aja ke rumah, gue mau kumpul buat briefing basket dulu sebentar."

Setelah sepakat, anak-anak kelompok itu kembali ke bangku masing-masing.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Kiara yang semula sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas segera mengalihkan pandangan ke anggota kelompoknya yang sudah mulai beranjak keluar kelas.

"Kia, ayok!" Nisya melambaikan tangannya pelan di depan pintu kelas.

Kiara mengangguk, berjalan menghampiri sambil mengaitkan tali tas punggungnya ke bahu kiri.

"Jadi kerkom hari ini?" Neona yang berjalan di samping Kiara bertanya sembari tangannya merogoh ke saku rok untuk mengambil kunci motor.

"Jadi nih. Semoga hari ini langsung beres, jadi tinggal editing aja."

"Semoga lancar jaya deh. Gue duluan, ya, Ra" pamit Neona sambil menepuk lengan Kiara pelan.

Kiara melambaikan tangannya. "Hati-hati, Ona..." ucapnya yang dibalas lambaian oleh Neona.

Kiara kembali berjalan menuju gerbang sekolah menyusul Nisya dan Misya yang sudah duluan ada di depan.

"Kita nunggu jemputannya Kiara atau langsung duluan aja?" Okta bertanya setelah menepikan motornya ke dekat trotoar di samping tukang cilok.

"Kalau nunggu lo juga nggak apa-apa kok, Ra. Khafi juga kan masih belum kelar di basket," Nisya menimpali.

Kiara yang sedang mengunyah cilok yang disuapkan Misya kepadanya menggelengkan kepala. "Nggak usah guys. Kalian duluan aja. Kata sopir gue udah sampai simpangan kok, cuma kena macet dulu sebentar." ucapnya setelah menelan cilok tersebut.

Yang lain mengangguk, kemudian Nisya dan Misya segera naik ke boncengan Fathir dan Okta.

"Duluan ya, Ra. Lo nanti hati-hati..."

Kiara mengiyakan sembari melambaikan tangan ke arah teman sekelompoknya.

Sekitar sepuluh menit menunggu, Mang Ujang masih belum datang juga. Dengan kepala yang menunduk menatap ponselnya secara gusar, Kiara menekan ikon telepon dan menempelkan ponselnya ke telinga.

"Halo, Mang Ujang..." Kiara mengernyitkan dahi saat mendengarkan penjelasan Mang Ujang di seberang sana.

"Kok bisa tiba-tiba mogok ya, Mang?... Iya sih, kayaknya masih lama banget kalau ngantre..." Dengan perasaan yang sedikit kesal karena kepanasan dan letih, Kiara mengipasi lehernya yang berkeringat sambil terus mendengarkan perkataan Mang Ujang.

Ia menghembuskan napasnya pelan lalu menjawab, "Yaudah, nggak apa-apa deh, Mang. Kia naik Gojek aja. Nanti Mamang kabarin aja ya kalau mobilnya udah selesai," ucapnya lalu segera menyudahi telepon tersebut.

Kiara berdecak. "Ada-ada aja deh," gumamnya sambil menguncir rambut sepunggungnya menggunakan kunciran yang semula melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Oy, Kuntil! Ngapain lo masih di sini?"

Teguran itu mengurungkan niat Kiara yang baru akan memesan ojek online. Ia menolehkan kepala ke arah Khafi yang sekarang sedang menepikan motor ke samping trotoar yang masih jadi tempat Kiara berdiri sedari tadi. Bedanya, Abang tukang cilok yang tadi mangkal di sebelah kanannya sudah pergi sejak lima menit yang lalu.

Kiara mendekat, berdiri di samping motor Khafi dan merapikan poninya sambil berkaca di kaca spion motor. "Mobil gue mogok masa, padahal udah nyampe simpangan. Jadinya dibawa ke bengkel dulu..." ucapnya tanpa sadar malah mengadu.

Khafi yang masih duduk di motornya agak gemas melihat gadis itu mencuatkan bibirnya sebal. Ia berdehem pelan lalu mendorong dahi Kiara dengan telunjuknya. "Heh, jauh-jauh! Ntar kaca spion gue kena radiasi gara-gara muka lo."

Kiara kembali memasang muka garang seperti biasanya, lalu menepuk setang motor Khafi dengan kesal. "Sok banget! Motor kredit juga."

Khafi membelalakkan matanya, ikut terpancing untuk berdebat. "Enak aja! Lunas ya ini!"

Baru saja Kiara hendak membalas, notifikasi ponselnya menyela. Pesan masuk dari Misya menanyakan keberadaannya dan memberi tahu bahwa mereka sudah sampai di rumah Khafi.

"Yang lain udah sampai di rumah lo tuh."

Khafi segera bersiap kembali dan menyalakan mesin motornya. Ia beralih menoleh dan menatap ke arah Kiara yang malah terdiam di tempat.

"Oy, naik lo! Nggak usah sok cantik lebih milih naik Gojek dari pada motor gue," ucap Khafi dengan nada songong.

Kiara menghembuskan napasnya secara kasar. "Emang gue cantik ya! Anggap aja ini secara terpaksa karena mepet. Lo nggak bawa helm dua gitu?"

"Nggak. Nggak usah lebay deh, nggak ngelewatin lampu merah ini."

Dengan kesal, Kiara menggeplak bahu kiri Khafi. "Sama aja lo ngelanggar aturan! Gimana kalau pas bawa motor lo tiba-tiba oleng terus jatuh, terus gue ikutan jatuh?"

Khafi meringis. "Ya nggak bakalan lah, amit-amit! Makannya, lo nggak usah ngedo'a yang macam-macam."

Kiara masih meliriknya kesal. "Buru elah, keburu sore. Ntar nggak jadi-jadi nih kerkom."

Dengan pasrah, Kiara naik ke boncengan dengan tangan yang berpangku pada kedua pundak Khafi karena jok-nya lumayan tinggi. Sejenak ia merapikan duduknya, tasnya ia lepas untuk dipangku.

Dari kaca spion, Khafi melirik Kiara yang seperti tidak nyaman karena rok sekolah abunya terangkat. Tas sekolah Khafi yang memang sudah di sampirkan di depan dia buka, untuk mengambil jaket yang memang sengaja tidak ia pakai karena cuaca menjelang sore ini yang panas.

Kepala Kiara yang semula menunduk sibuk menarik roknya jadi terangkat saat tangan kiri Khafi terulur memberikan jaket hitamnya. "Diikat ke pinggang bisa, kan? Dari tadi lo nggak bisa diem banget yang ada oleng beneran gue."

Kiara menerimanya sambil mencibir, dahinya mengerut samar saat mengikat jaket tersebut.

"Pegangan. Ntar kalau lo jatuh, gue ikutan jatuh. Bebannya berat banget soalnya ini," ucap Khafi mulai menjalankan motornya.

Kali ini, geplakan di helm belakangnya lah yang melayang. Namun tak ayal, sepasang tangan di belakang Khafi kini memegang kedua sisi seragam sekolahnya.

Hembusan angin sore langsung menampar wajah Kiara begitu motor besar milik Khafi membelah jalan raya. Rambut sepunggungnya yang terikat asal mulai terburai kena terpaan angin.

​"Jangan ngebut-ngebut, Khafi!" teriak Kiara setengah histeris dari balik punggung Khafi.

​Khafi melirik dari spion, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Bukannya memelankan laju motor, ia justru dengan sengaja menekan rem sedikit mendadak saat melewati polisi tidur kecil di depan.

​Ckiit !

​"Khafi!" jerit Kiara reflek meremas sisi seragam Khafi lebih kencang, bahkan dahinya sempat menabrak punggung tegap cowok itu.

​"Makanya gue bilang apa? Pegangan yang bener, Kuntil. Kalau jatuh kan yang repot gue juga!" sahut Khafi setengah berteriak menembus deru angin, meski matanya menahan tawa puas melihat kepanikan Kiara lewat kaca spion.

​"Lo sengaja kan?! Modus banget." Kiara berseru kesal.

Khafi mendengus samar mendengar seruan Kiara. "Jangan kepedean jadi cewek."

"Hah? Kelelean?" Kiara memajukan kepalanya ke samping helm Khafi karena lelaki itu bergumam tidak jelas.

Khafi yang mendengar celetukan asal Kiara terbahak seketika. "Iya, nanti mulut lo kelelean," ujarnya masih sambil tertawa.

Kiara panik sendiri karena badan Khafi yang tertawa terasa bergetar saat motornya masih melaju kencang, ia menepuk kedua pundak Khafi untuk menyadarkan.

Bahkan secara tidak sadar, jemarinya enggan melepas cengkeraman di seragam Khafi. Sampai motor itu berhenti di depan sebuah gerbang rumah berpagar hitam yang sudah ada beberapa motor parkir di depannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   ​"Nyampe. Turun lo, beban," ucap Khafi santai begitu mematikan mesin motornya.

​Kiara buru-buru turun dari boncengan sambil membenahi rok dan rambutnya yang berantakan, lalu menyenggol kaki Khafi dengan ujung sepatunya. "Rese banget lo!"

​Suara deru motor tadi rupanya memancing penghuni rumah. Pintu depan sudah terbuka dan memperlihatkan Fathir dan Okta yang sedang merokok dulu di kursi depan pintu seraya menunggu kedatangan mereka berdua.

​"Cieelah... yang datangnya berdua. Kasih bintang berapa, Ra, buat Mas Gojeknya?" ledek Fathir sambil cengengesan dari ambang pintu, ia memang tahu rencana Kiara akan naik gojek dari Misya saat ia bertanya kenapa Kiara belum terlihat.

Okta ikut tertawa melihat raut cemberut Kiara dan kunciran rambutnya yang makin acak-acakan.

​Kiara memutar bola matanya malas. "Mobil gue mogok, terus di jalan dipaksa naik motor kreditnya si Khafi."

​"Dih, fitnah! Siapa juga yang maksa," sahut Khafi sambil melepas helmnya.

​Belum sempat Kiara membalas, suara lembut dari arah dalam rumah memotong perdebatan mereka. ​"Lho, Khafi... kok baru sampai? Ini temannya udah dari tadi lho..." Siska--Mama Khafi--- muncul ke depan pintu dengan nampan yang kosong sepertinya dari ruang tengah di dalam.

​Pandangan Mama Khafi seketika berbinar saat menangkap sosok gadis di samping anak bujangnya. "Eh, ada Kiara juga! Ayo masuk, Nak. Jangan berdiri di luar terus, nanti masuk angin kena angin sore."

​Kiara yang tadinya ingin mengomeli Khafi seketika melunakkan ekspresinya dan tersenyum manis ke arah Mama Khafi."Iya, Tante. Terima kasih..."

​Khafi hanya menggelengkan kepala melihat perubahan ekspresi Kiara yang secepat kilat.

Bener-bener cewek bunglon, batinnya geli sembari mengekor masuk ke dalam rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!