NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Perlombaan dengan Waktu

Matahari baru saja terbit ketika rombongan Zhou Chen tiba di perbatasan wilayah utara, tubuh mereka penuh debu dan lelah setelah semalam suntuk memacu kuda tanpa henti. Namun kelelahan itu segera terlupakan begitu mereka melihat kekacauan yang masih tersisa di lokasi proyek irigasi—reruntuhan bendungan sementara yang berserakan, genangan air yang masih menggenangi sebagian area, dan beberapa pekerja yang masih sibuk membersihkan puing-puing dengan wajah lelah dan cemas.

"Di mana Pangeran Ketujuh?" tanya Zhou Chen kepada seorang pekerja yang tampak sebagai mandor proyek, suaranya masih terengah dari perjalanan panjang.

"Di kediaman sementara, Yang Mulia," jawab pekerja itu, menunjuk ke arah sebuah bangunan sederhana di kejauhan. "Tabib setempat sudah menanganinya sejak semalam, tapi kondisinya masih belum stabil."

Zhou Chen segera bergegas ke arah yang ditunjuk, hatinya berdebar kencang antara harapan dan ketakutan.

Di dalam kediaman sederhana itu, Zhou Feng terbaring lemah di atas ranjang, perban membalut sebagian besar tubuhnya—kepala, lengan kiri, dan sisi kanan dadanya. Wajahnya pucat, namun matanya terbuka ketika mendengar langkah tergesa Zhou Chen memasuki ruangan.

"Kakak..." bisiknya lemah, suaranya nyaris tidak terdengar. "Kakak datang..."

"Jangan bicara dulu," kata Zhou Chen, segera duduk di samping ranjang, menahan diri agar tidak menunjukkan kekhawatiran berlebihan yang bisa memperburuk kondisi adiknya itu. Ia mengarahkan Mata Dewa untuk memeriksa kondisi Zhou Feng secara menyeluruh.

Kondisi Zhou Feng Cedera utama: Patah tulang rusuk kanan (2 buah), luka memar berat di kepala, luka robek di lengan kiri Kondisi internal: Terdapat pendarahan ringan di area dada, berisiko memburuk jika tidak ditangani dengan tepat dalam 24 jam ke depan Penanganan tabib setempat: Cukup baik, namun kurang tepat dalam penanganan pendarahan internal Rekomendasi: Ramuan penghenti pendarahan berbasis akar Sanqi yang dipadukan dengan teknik akupunktur pada titik meridian tertentu

Zhou Chen menahan napas, menyadari betapa kritisnya kondisi adiknya itu sebenarnya, meski tabib setempat mungkin belum sepenuhnya menyadari tingkat keparahan pendarahan internal yang terjadi.

"Panggil tabib itu ke sini," perintahnya kepada Ah Fu yang berdiri di ambang pintu. "Sekarang juga."

Tabib setempat, seorang pria paruh baya dengan wajah lelah karena semalaman tidak tidur menangani pasiennya, datang dengan tergesa begitu dipanggil.

"Yang Mulia," katanya, membungkuk hormat, "kondisi Pangeran Ketujuh sudah hamba tangani sebaik mungkin dengan sumber daya yang tersedia di sini. Namun hamba khawatir—"

"Apakah kau memiliki akar Sanqi?" potong Zhou Chen, langsung ke inti permasalahan.

Tabib itu tampak terkejut mendengar pertanyaan spesifik itu. "Ha-hamba memang memiliki sedikit persediaan, Yang Mulia, tapi—bagaimana Yang Mulia tahu tentang ramuan itu?"

"Aku pernah membaca tentang penanganan pendarahan internal semacam ini," jawab Zhou Chen, menggunakan alasan yang sudah menjadi kebiasaannya. "Gunakan akar Sanqi, padukan dengan teknik akupunktur pada titik meridian dada bagian atas. Itu akan membantu menghentikan pendarahan yang mungkin belum sepenuhnya terlihat dari luar."

Tabib itu menatapnya dengan campuran keraguan dan rasa hormat, namun mengingat status Zhou Chen sebagai pangeran kerajaan, ia tidak berani membantah secara langsung. Ia segera memeriksa kembali kondisi Zhou Feng dengan lebih teliti, dan wajahnya berubah pucat begitu menyadari tanda-tanda pendarahan internal yang sebelumnya terlewatkan.

"Yang Mulia benar," gumamnya, suaranya bergetar antara terkejut dan panik. "Hamba akan segera menyiapkan ramuannya."

Proses penanganan berlangsung tegang selama beberapa jam berikutnya. Zhou Chen tetap berada di samping Zhou Feng sepanjang waktu, sesekali mengarahkan Mata Dewa untuk memantau perkembangan kondisinya, memberikan arahan tambahan kepada tabib setiap kali diperlukan.

Menjelang senja, kondisi Zhou Feng akhirnya mulai stabil. Pendarahan internal yang sempat mengkhawatirkan berhasil dihentikan berkat penanganan tepat waktu, meski ia masih membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pemulihan penuh dari luka-lukanya.

"Terima kasih, Yang Mulia," kata tabib itu, membungkuk dalam-dalam kepada Zhou Chen. "Tanpa arahan Anda, hamba mungkin tidak akan menyadari tingkat keparahan kondisi Pangeran Ketujuh sampai terlambat."

Zhou Chen mengangguk, meski rasa lega yang ia rasakan masih bercampur dengan kemarahan mendalam terhadap siapa pun yang telah menyebabkan kejadian ini.

Malam itu, setelah memastikan Zhou Feng beristirahat dengan tenang, Zhou Chen mengumpulkan Zhao Kai dan beberapa pekerja senior proyek irigasi untuk membahas penyebab sebenarnya dari keruntuhan bendungan itu.

"Kami sudah memeriksa reruntuhannya, Yang Mulia," lapor salah satu pekerja senior, wajahnya serius. "Ada beberapa hal yang mencurigakan. Struktur penopang utama bendungan menunjukkan tanda-tanda telah dipotong sebagian sebelum keruntuhan—bukan aus alami akibat tekanan air, melainkan sesuatu yang disengaja."

Zhao Kai, yang segera memeriksa laporan itu dengan mata terlatihnya, mengangguk membenarkan. "Ini bukan kecelakaan konstruksi, Yang Mulia. Seseorang sengaja merusak struktur penopang, kemungkinan besar semalam sebelum kunjungan Pangeran Ketujuh, menunggu momen yang tepat untuk membuatnya runtuh saat beliau berada di lokasi."

Kecurigaan Zhou Chen pun terkonfirmasi—ini memang serangan yang disengaja, bukan sekadar kecelakaan konstruksi yang tidak beruntung.

"Siapa yang memiliki akses ke area penopang sebelum keruntuhan terjadi?" tanya Zhou Chen, suaranya tegas.

Pekerja senior itu tampak ragu sejenak sebelum menjawab. "Hanya pekerja resmi proyek yang memiliki akses langsung, Yang Mulia. Tapi... beberapa hari sebelum kejadian, ada beberapa 'pengawas tambahan' yang dikirim langsung dari istana, mengaku sebagai bagian dari evaluasi rutin proyek pembangunan wilayah yang didanai kerajaan."

Zhou Chen dan Zhao Kai saling bertukar pandang, menyadari implikasi dari informasi itu. "Pengawas tambahan" yang tiba-tiba muncul tepat sebelum insiden ini terlalu mencurigakan untuk dianggap kebetulan belaka.

"Aku ingin tahu siapa yang mengirim mereka," kata Zhou Chen, kemarahan yang selama ini ia tahan mulai jelas terdengar dalam nada suaranya. "Dan aku ingin tahu, apakah mereka masih berada di sekitar sini."

Malam itu, sambil menjaga Zhou Feng yang masih tertidur lelap setelah penanganan intensif seharian, Zhou Chen merenungkan kembali seluruh rangkaian peristiwa yang telah terjadi—kematian Zhang yang terlalu rapi, pola kunjungan mencurigakan Zhou Han, dan kini serangan langsung terhadap Zhou Feng yang jelas dimaksudkan sebagai peringatan, atau mungkin percobaan pembunuhan yang gagal.

Mereka semakin berani, pikirnya, menatap wajah pucat adiknya yang masih terlelap. Dan itu berarti, mereka mulai merasa terancam oleh penyelidikan kita. Tapi keberanian mereka untuk menyerang secara langsung seperti ini juga berarti mereka mulai ceroboh—dan kecerobohan itu bisa menjadi celah yang kita butuhkan.

Ia menggenggam tangan Zhou Feng yang masih lemah, sebuah tekad baru yang jauh lebih kuat mulai terbentuk dalam dirinya.

Aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Bukan hanya demi kebenaran tentang kematian Zhou Li yang asli, tapi juga demi keselamatan semua orang yang telah mempercayaiku—termasuk kau, Adikku.

Ah Fu, yang telah berjaga di luar pintu sepanjang malam, masuk perlahan membawa secangkir teh hangat untuk tuannya yang belum juga beristirahat sejak tiba pagi tadi.

"Yang Mulia belum tidur sama sekali," katanya pelan, meletakkan cangkir teh di meja kecil samping ranjang. "Hamba mengerti kekhawatiran Anda, tapi tubuh Yang Mulia juga butuh istirahat. Kalau Yang Mulia jatuh sakit, siapa yang akan melanjutkan semua ini?"

Zhou Chen menghela napas panjang, menyadari kebenaran dalam perkataan Ah Fu. "Kau benar," katanya akhirnya, meski matanya masih menatap wajah Zhou Feng dengan penuh kekhawatiran. "Tapi aku tidak bisa tenang sampai aku yakin dia benar-benar aman."

"Biar hamba yang menjaganya malam ini," tawar Ah Fu. "Yang Mulia butuh istirahat, setidaknya beberapa jam, sebelum kita melanjutkan penyelidikan besok."

Setelah sedikit perdebatan, Zhou Chen akhirnya menyerah pada tawaran itu, menyadari bahwa memaksakan diri tanpa istirahat hanya akan membuatnya kurang tajam dalam mengambil keputusan-keputusan penting yang masih menunggu di depan. Ia beranjak ke ruangan sederhana yang disiapkan untuknya, namun tidur yang ia dapatkan malam itu jauh dari lelap—dipenuhi bayangan wajah pucat Zhou Feng dan kekhawatiran tentang siapa lagi yang mungkin menjadi target berikutnya.

Di luar jendela, bulan bersinar redup di balik awan tipis, menyaksikan tekad baru yang mulai mengeras dalam diri seorang pangeran yang dulu dianggap tidak berbahaya, namun kini bersiap menghadapi konspirasi yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan siapa pun di Kerajaan Zhou.

Bersambung ke Bab 19 — Jejak yang Tertinggal

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!