NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Belanja uang sejuta

Langkah Aquilla terhenti di pintu kelas Fakultas Hukum. Ruangan yang biasanya ramai mendadak hening begitu ia masuk. Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.

Bukan cuma soal kardigan rajut krem yang ia pakai, tapi gara-gara lima menit lalu mereka lihat Aquilla turun dari motor hitam milik Altair—ketua geng motor yang bikin seisi kampus segan.

Aquilla berusaha cuek. Dia nunduk sambil meremas tali tas kanvasnya, terus jalan menuju barisan ketiga, ngerempet ke arah tiga orang yang selama ini udah dianggap kayak keluarga sendiri: Rania, Maya, dan Dito. Teman sejak SMA yang pernah bagi cerita dan nangis bareng.

Tapi pas mendekat, senyum tipis Aquilla luntur.

Nggak ada sapaan hangat. Yang ada cuma tatapan dingin, dagu terangkat, dan senyum sinis dari ketiganya. Kebencian murni.

"Pagi..." sapa Aquilla pelan.

Rania lipat tangan di dada, matanya memandang Aquilla dari atas ke bawah. "Wih, ternyata anak angkat."

Dunia Aquilla rasanya berhenti detik itu juga.

Maya menimpali dengan nada sok kaget, "Berarti dari dulu kita berteman sama anak angkat yang nggak jelas asal-usulnya? Hiiy, amit-amit deh."

Dito, cowok yang paling Aquilla kira polos, ikut mendengus. "Tahu gitu ogah gue temenan sama anak angkat. Pantesan sok pengen jadi yang terbaik, ternyata anak pungut. Cih, sombong tapi cuma numpang hidup."

Gelak tawa langsung pecah di sekitar kelas. Ada yang berbisik-bisik, ada yang terang-terangan merekam pakai ponsel.

Aquilla mematung. Darahnya mendadak dingin. Jadi selama ini mereka cuma berteman sama gue karena gue dianggap anak orang kaya? Bukan karena gue Aquilla?

Dito mendadak berdiri, bikin Aquilla harus mendongak.

"Nggak level berteman sama kami, miskin," kata Dito pedas, sengaja keras-keras biar seisi kelas dengar. "Mulai hari ini, jangan duduk sama kami lagi. Najis."

Kelas langsung hening, nungguin Aquilla nangis atau lari keluar.

Tapi Aquilla nggak lari. Dia malah menaikkan dagunya, menatap Dito, Rania, dan Maya satu per satu. Tangannya terkepal rapat, nahan gemetar di dalam saku kardigan.

"Gue pikir kalian beda," kata Aquilla pelan, tapi suaranya kedengaran jelas ke seluruh ruangan. "Ternyata sama aja."

Habis ngomong gitu, Aquilla balik badan. Dia nggak menuju bangku lamanya, tapi jalan santai ke barisan paling belakang, ke bangku pojok yang kosong. Dia duduk, ngeluarin buku Hukum Perdata, lalu fokus membaca tanpa peduliin bisik-bisik Rania yang nyeletuk "Sok kuat."

Sambil memandangi halaman buku, pikiran Aquilla melayang.

Lagian, Fakultas Hukum ini bukan pilihannya. Tiga tahun lalu, Tuan Daniel—ayah angkatnya—menaruh formulir pendaftaran di meja tanpa ngajak diskusi. “Masuk hukum, Qui. Papa butuh anak yang bisa ngurus legalitas perusahaan.”

Padahal dari SMP, impian Aquilla cuma satu: menggambar dan fashion design. Buku sketsa gaun dan tas selalu menumpuk di bawah kasurnya.

*Setelah ini gue mau keluar. Gue mau pindah jurusan ke Desain,* batinnya mantap. *Gue nggak mau jadi boneka keluarga itu lagi.*

"Sendiri mulu dari tadi."

Suara ceria bikin Aquilla menoleh. Seorang gadis dengan kardigan putih, pita merah muda di rambut, dan aroma vanila tiba-tiba duduk di sampingnya.

Saira.

Teman SMA-nya dulu yang pernah dibela Aquilla dari perundungan. Satu-satunya orang yang pernah bilang, "Qui, lo judes tapi hati lo emas."

Aquilla refleks pasang muka dingin. "Lo mau ngejek gue juga?"

Saira menggeleng cepat sampai pitanya bergoyang. "Gue tetap teman lo, Illa."

Kata-kata sederhana itu bikin pertahanan Aquilla hampir runtuh. Tapi dia cuma tersenyum tipis. "Gue miskin, Ra."

"Terus kenapa?" Saira malah menyikut lengan Aquilla sambil menyeringai. "Uang bokap gue banyak. Lo bisa nginep di rumah gue kayak dulu lagi. Santai aja sih!"

Aquilla terkekeh pelan. "Gue kapok bergantung sama orang. Gue mau usaha sendiri, walau belum tahu mau kerja apa. Gue kan cuma bisa ngabisin duit selama ini."

Saira langsung menggenggam tangan Aquilla hangat. "Gue pasti bantuin lo. Lo nggak sendiri, Illa."

Aquilla menggigit bibir, terharu. "Makasih ya, Ra."

Saira lalu mendekatkan badannya, berbisik jahil. "Ngomong-ngomong... lo ada hubungan apa sama Altair? Tiba-tiba barengan melulu. Biasanya kan kayak kucing sama anjing."

Aquilla terdiam kaku. Dia melirik kanan-kiri sebelum akhirnya berbisik pelan, "Gue... dipaksa nikah, Ra."

Mata Saira langsung melotot. "Hah?!"

"Sama Papa angkat gue," lanjut Aquilla. "Dijodohin. Katanya Altair yang ngelamar, tapi nggak tahu deh. Yang jelas... sekarang Altair udah jadi suami gue."

Saira melongo tiga detik sebelum akhirnya geleng-geleng kepala. "Gila... Altair suami lo? Jodoh emang plot twist banget."

Aquilla menunduk memainkan jarinya. "Salah nggak sih kalau gue agak berharap sama dia? Dia nyebelin dan dingin, tapi pas semua orang pergi... cuma dia yang nggak ninggalin gue."

Saira merangkul bahu Aquilla hangat. "Ya nggak salah lah, dia kan suami lo! Jalani aja dulu. Kalau dia kasar, aduin ke gue, bokap gue bisa urus."

"Enggak kok," pangkas Aquilla cepat, pipinya mendadak agak hangat. "Dia nggak pernah kasar. Malah... selalu ngelindungin gue."

Saira langsung menyipitkan mata, senyumnya jahil banget. "Cieee, dibelain nih yee~"

"Apaan sih!" Aquilla menepuk pelan lengan Saira dengan telinga merona.

"Bolos yuk," ajak Aquilla tiba-tiba sambil berdiri ngerapihin tasnya. "Temenin gue ke pasar."

Saira ikut berdiri sambil mengerutkan dahi. "Pasar? Kenapa nggak ke mall aja? Di PVJ lagi banyak diskon, Illa."

Aquilla menghela napas pasrah. "Gara-gara Altair cuma ngasih uang jajan satu juta. Katanya, 'Belajar cukupin diri lo.'"

Saira langsung ketawa lepas dengar itu, terus merangkul lengan Aquilla keluar kelas. "Hitung-hitung belajar mandiri, kan?"

"Iya, belajar mandiri," sahut Aquilla sambil mengerucutkan bibirnya gemas. "Masalahnya, gue tuh doyan banget duit, Ra!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!