NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Besok datang lebih cepat dari yang mereka kira.

Pukul delapan lewat sedikit, gerbang utama UNUSA sudah ramai seperti biasa. Mahasiswa keluar masuk dengan motor, ojol berhenti sebentar di pinggir jalan, dan beberapa mobil pribadi antre di jalur drop-off. Di sisi kanan gerbang, Porsche 718 milik Revano masih terparkir dengan posisi yang terlalu mencolok, seolah sengaja dipasang agar semua orang tahu siapa pemiliknya.

Beberapa mahasiswi berhenti untuk mengambil foto.

"Mobil Revano lagi, tuh."

"Gokil, tiap hari parkirnya di depan banget."

"Ya kalau punya Porsche, masa parkir di belakang?"

Revano berdiri tidak jauh dari mobilnya. Kemeja putihnya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan, dan senyumnya masih seperti biasa. Santai. Sedikit malas. Seolah kampus ini panggung pribadi yang tidak perlu ia rebut karena sejak awal memang sudah miliknya.

Viona berada di sampingnya.

Hari ini ia memakai blouse krem dan rok gelap, wajahnya dirias tipis. Dari luar, dia terlihat tenang. Tetapi matanya lebih sering bergerak ke arah gerbang, bukan ke Revano.

Kemarin, ia melihat seseorang yang mirip Arka.

Semakin diingat, kemiripan itu makin sulit disangkal. Cara berjalan itu, bahu yang dulu selalu menunduk tetapi sekarang tegak, tatapan yang tidak lagi meminta izin kepada siapa pun. Semua itu terlalu akrab untuk diabaikan.

Namun pikirannya menolak.

Arka yang ia kenal tidak mungkin berubah secepat itu.

Arka yang ia tinggalkan tidak punya uang bahkan untuk memesan kopi mahal di kafe sekitar kampus.

"Vi," panggil Revano, sedikit terganggu. "Kamu lihat siapa, sih? Dari tadi nengok gerbang terus."

Viona tersenyum tipis. "Gak ada. Cuma ramai."

"Kalau soal anak miskin itu, lupain aja." Revano tertawa pelan. "Kemarin paling cuma salah lihat. Orang kayak Arka butuh bertahun-tahun buat berubah. Itu pun kalau dia sanggup."

Viona tidak menjawab.

Saat itulah suara mesin rendah masuk ke area gerbang.

Mesinnya masuk dengan suara rendah, halus, dan berat. Tidak ada raungan sport car yang sengaja dipamerkan. Justru karena itu, semua orang otomatis memberi jalan.

Satpam di gerbang yang awalnya mengangkat tangan untuk menghentikan antrean mendadak tegak. Beberapa mahasiswa menoleh bersamaan. Kamera ponsel yang tadinya mengarah ke Porsche perlahan bergeser.

Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam masuk dari jalan utama.

Cahaya pagi memantul di kap mesinnya yang panjang. Grille depan berdiri seperti gerbang baja. Logo kecil di ujung kap membuat beberapa orang langsung menahan napas. Mobil itu tidak melaju cepat, tetapi setiap meter yang ditempuh membuat jalur di depannya kosong sendiri.

"Itu mobil siapa?"

"Rolls-Royce? Serius lo?"

"Gila, itu Phantom, bukan mobil rental biasa."

"Di kampus kita?"

Suara-suara itu menyebar lebih cepat dari langkah manusia. Dalam hitungan detik, mahasiswa yang sedang makan roti di depan minimarket berdiri. Yang sedang duduk di motor mematikan mesin. Dua satpam saling pandang, lalu salah satunya buru-buru mengatur jalur agar mobil itu bisa masuk tanpa tersendat.

Porsche 718 yang tadi menjadi pusat foto mendadak terlihat kecil.

Revano merasakan itu sebelum siapa pun mengatakannya.

Senyumnya mengeras.

Ia menatap Phantom itu, lalu tanpa sadar melirik Porsche miliknya sendiri. Selama ini, mobil itu cukup untuk membuat mahasiswa baru kagum, cukup untuk membuat teman-temannya memanggilnya bos kecil, cukup untuk membuat Viona memilih berdiri di sisinya.

Tapi di depan Phantom hitam itu, Porsche-nya tampak terlalu muda. Terlalu ringan. Terlalu ribut.

Seperti mainan mahal yang ditempatkan di samping kapal perang.

"Siapa yang bawa?" gumam seorang mahasiswa.

"Dosen tamu?"

"Investor kampus?"

"Anak pejabat?"

Phantom berhenti tepat di area drop-off utama.

Pintu belakang tidak terbuka.

Pintu pengemudi yang terbuka.

Keheningan jatuh sebentar.

Sepatu hitam turun lebih dulu. Lalu seorang pria keluar dari balik pintu, mengenakan kemeja putih polos, celana gelap, dan jam tangan sederhana yang tidak mencolok. Tubuhnya masih besar; berat yang dulu membuat orang meremehkan kini berubah menjadi tekanan. Bahunya padat. Garis wajahnya tegas. Rahangnya sudah terlihat jelas. Mata yang dulu mudah menghindar kini tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuat setengah kampus berhenti bergerak.

Dimas, yang baru sampai dengan motor bekasnya, hampir menjatuhkan helm.

"Arka?"

Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk memecahkan lapisan pertama keheningan.

Beberapa kepala menoleh ke Dimas, lalu kembali ke pria di samping Phantom.

"Arka siapa?"

"Arka Surya Wijaya?"

"Yang dulu sering nungguin Viona di depan kelas?"

"Yang gendut itu?"

"Bukan, lah. Masa dia?"

Arka menutup pintu mobil dengan tenang. Tidak membanting. Tidak membuat gerakan berlebihan. Ia hanya memasukkan kunci ke saku, lalu berjalan ke arah Dimas seperti tidak ada puluhan kamera yang sudah mengarah kepadanya.

"Pagi," katanya.

Dimas membuka mulut, menutupnya, lalu membuka lagi. "Bro... itu mobil lo?"

"Iya."

"Lo bilang kemarin mau kasih jawaban." Dimas menatap Phantom, lalu menatap Arka dari kepala sampai kaki. "Gue kira jawaban tugas."

Beberapa mahasiswa tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar gugup. Mereka masih berusaha menyesuaikan kenyataan baru di depan mata.

Arka hanya tersenyum tipis. "Tugas juga nanti dikumpulkan."

Dimas mengusap wajahnya. "Gue harus duduk dulu. Ini terlalu pagi buat nerima update hidup sebesar ini."

Ucapan itu membuat suasana sedikit pecah. Tetapi tidak ada yang benar-benar kembali normal. Setiap mata masih mengikuti Arka.

Di kejauhan, wajah Viona kehilangan warna.

Dia mengenali suara itu.

Mengenali cara Arka menjawab dengan singkat. Mengenali ketenangan yang dulu tidak pernah ada. Tetapi semua yang terlihat di depan matanya menolak ingatan lama.

Arka tidak menoleh kepadanya.

Itu yang paling menyakitkan.

Kalau Arka datang untuk membalas dendam, mungkin Viona bisa mempersiapkan kata-kata. Kalau Arka datang untuk menyindir, ia bisa berpura-pura tidak peduli. Kalau Arka datang untuk menunjukkan luka lama, ia bisa mengatakan bahwa mereka sudah selesai.

Tapi Arka hanya datang.

Masuk ke kampus dengan mobil yang bahkan Revano tidak berani komentari, lalu berjalan seolah Viona hanyalah bagian dari keramaian.

"Itu... benar Arka?" bisik Viona.

Revano mendengarnya.

Rahangnya mengeras. "Mobil sewa. Pasti."

"Mobil sewa biasanya gak punya kartu akses parkir kampus atas nama sendiri," kata seseorang di belakang mereka.

Revano berbalik tajam. Dua mahasiswa laki-laki yang sedang menonton layar ponsel langsung pura-pura sibuk. Tetapi layar itu sudah terlanjur terlihat: video pendek Phantom masuk gerbang UNUSA, dengan caption yang baru saja diketik.

Mantan buangan datang pakai Rolls-Royce.

Revano merebut napas. "Siapa yang bikin caption bodoh begitu?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena semua orang tahu, video itu akan viral sebelum jam makan siang.

Seorang staf kampus keluar dari pos administrasi kecil dekat gerbang. Wajahnya sopan, tetapi matanya jelas terkejut.

"Maaf, Pak," katanya kepada Arka, lebih formal dari yang biasa digunakan kepada mahasiswa. "Boleh konfirmasi kendaraan? Untuk data parkir VIP, biasanya kami perlu catat nomor plat."

Beberapa orang langsung saling pandang.

Pak.

Staf kampus memanggil Arka Pak.

Arka mengeluarkan kartu akses dari dompetnya dan menyerahkannya dengan satu tangan. "Silakan. Atas nama Arka Surya Wijaya. Kalau parkir mahasiswa tidak cukup, saya bisa parkir di area tamu."

Nada suaranya datar. Tidak sombong. Justru karena tidak sombong, kalimat itu terdengar lebih berat.

Staf itu membaca kartu, lalu menelan ludah. "Baik, Pak Arka. Kami bantu arahkan."

Dimas menepuk dadanya pelan. "Pak Arka, katanya. Bro, gue sebagai teman lama merasa perlu daftar ulang hubungan sosial."

"Jangan lebay."

"Susah. Lo turun dari Rolls. Standar lebay gue otomatis naik."

Arka hampir tertawa, tetapi hanya menggeleng. Ia berjalan melewati area gerbang bersama Dimas. Kerumunan membuka jalan tanpa diminta.

Di tengah jalan itu, seseorang justru melangkah mendekat.

Seorang perempuan muda dengan rambut sebahu dan jaket denim tipis berhenti tepat di depan Arka. Wajahnya cerah, matanya berani, tetapi cara berdirinya tidak genit murahan. Ia tahu semua orang melihatnya. Ia juga tahu langkahnya akan menjadi bahan obrolan satu fakultas.

Ia tetap maju.

"Hai," katanya.

Arka berhenti. "Hai."

"Aku Nala." Ia mengulurkan tangan dengan santai. "Nala Putri Rahayu. Mahasiswa baru."

Arka menjabat tangannya sebentar. "Arka."

"Aku tahu." Nala tersenyum. "Lima menit terakhir, semua orang membicarakan kamu. Susah untuk tidak tahu."

Dimas di samping Arka langsung menahan senyum seperti orang yang menyaksikan pertandingan lebih seru dari kelas pagi.

Arka menatap Nala. "Ada perlu?"

"Ada." Nala mengangkat ponselnya. "Boleh minta nomor WA-mu?"

Kerumunan yang semula berbisik langsung meledak pelan.

"Nala? Yang ranking satu daftar mahasiswi tercantik angkatan baru itu?"

"Dia minta WA duluan?"

"Ke Arka?"

"Hari ini kampus kebalik, ya?"

Viona mendengar semuanya.

Jari-jarinya mencengkeram tali tas.

Revano juga mendengar. Wajahnya semakin gelap, tetapi ia menahan diri. Semua mata kini berada di antara Arka, Nala, dan Phantom hitam di belakang mereka. Jika Revano maju dengan emosi, ia akan terlihat kalah sebelum bicara.

Arka tidak langsung menjawab.

Ia menatap Nala, mencari sesuatu di balik senyum gadis itu. Kebanyakan orang di gerbang itu melihat mobil lebih dulu, lalu orangnya. Nala juga melihat mobil itu, tentu saja. Tetapi matanya tidak berhenti di sana. Ia memperhatikan cara Arka tidak terpancing oleh kerumunan, cara ia berbicara dengan staf kampus, cara Dimas masih bisa bercanda di sampingnya.

Rasa penasarannya tampak hidup dan bersih.

"Kenapa?" tanya Arka.

Nala tidak tersinggung. "Karena aku penasaran."

"Soal mobil?"

"Mobil itu alasan semua orang menoleh." Nala memiringkan kepala sedikit. "Tapi aku minta nomor karena orang yang turun dari mobil itu tidak terlihat seperti orang yang butuh ditonton. Itu lebih menarik."

Dimas berbisik, "Bro, ini kalimat level film. Jawab yang benar."

Arka meliriknya. "Diam."

Nala tertawa kecil.

Tawa itu ringan, namun suasana langsung berubah. Semua orang melihat Arka berdiri di depan gadis paling diperhatikan angkatan baru tanpa gugup sedikit pun. Mobil dan uang hanya membuka panggung; sikap tenangnya yang membuat mereka menahan napas.

Arka mengambil ponselnya. "Ketik nomormu. Aku kirim pesan nanti."

Nala menerima ponsel itu dan mengetik dengan cepat. Ia tidak berlama-lama memegangnya. Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel dengan layar menghadap Arka.

"Sudah. Jangan cuma disimpan. Kirim pesan, ya. Kalau tidak, aku yang malu di depan satu kampus."

"Aku kirim nanti."

"Nanti itu kapan?"

Arka akhirnya tersenyum sedikit. "Setelah kelas."

"Deal."

Nala mundur satu langkah, lalu memberi jalan. Ia tidak menempel, tidak meminta diantar, tidak membuat adegan berlebihan. Justru karena itu, namanya langsung melekat di kepala semua orang sebagai orang pertama yang berani mendekati Arka setelah perubahan besar itu.

Dimas menatap punggung Nala, lalu menatap Arka. "Gue izin iri secara legal."

"Iri boleh. Ribut jangan."

"Telat. Grup kelas udah ribut."

Benar saja, ponsel beberapa mahasiswa terus bergetar. Foto Phantom dari depan, foto Arka keluar dari pintu pengemudi, video Nala meminta nomor WA, semuanya bergerak dari satu grup ke grup lain. Nama Arka yang dulu muncul dengan nada kasihan kini berubah menjadi tanda tanya besar.

Arka siapa sebenarnya?

Dari mana uangnya?

Kenapa dia berubah?

Dan kenapa dia terlihat seolah semua ini baru permulaan?

Di dekat Porsche 718, Revano berdiri kaku.

Ia ingin tertawa, ingin mengatakan semua ini palsu, ingin melempar tuduhan bahwa Arka pasti meminjam mobil orang. Tetapi lidahnya terasa berat. Sebab tidak ada satu pun bagian dari kedatangan Arka yang terlihat panik. Tidak ada permintaan validasi. Tidak ada usaha menjelaskan.

Orang yang sedang berpura-pura kaya biasanya ingin semua orang percaya.

Arka justru terlihat tidak peduli apakah mereka percaya atau tidak.

Itu membuat Revano lebih gelisah daripada hinaan apa pun.

Viona berdiri di sampingnya, tetapi untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, ia tidak merasa lebih tinggi dari Arka.

Ia melihat Arka berjalan masuk ke kampus, diikuti tatapan puluhan orang. Melihat Dimas tertawa di sisinya. Melihat Nala menyimpan ponsel sambil tersenyum puas.

Dan melihat Porsche 718 yang dulu membuatnya bangga.

Mobil itu masih mahal.

Masih bersih.

Masih cukup untuk membuat sebagian orang kagum.

Tetapi di samping Rolls-Royce Phantom hitam milik Arka, Porsche 718 itu tiba-tiba terlihat seperti mainan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!