Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - TAHUN KE-5, TAICHU YANG SEMPURNA DAN JAWABAN DARI BAYANGAN
Tahun ke-5 setelah Perjanjian Huashan.
Jika 2 tahun lalu Wulin seperti kuali yang mendidih, maka sekarang, tahun ke-5, Wulin seperti kuali yang sudah pecah, air mendidihnya tumpah ke mana-mana dan membakar semua orang.
Monster tua Zhuo Wudi yang bangun dari peti es Kamar Es 3 tahun lalu, setelah berjalan kaki dari Beijing ke Danau Dongting dalam 7 hari dengan satu langkah 10 li, tidak jadi membekukan Sarang Pengemis.
Bukan karena ia tidak bisa. Tapi karena di hari ke-6 perjalanannya, di tengah jalan antara Beijing dan Danau Dongting, tepatnya di Hutan Belantara Serigala, ia dicegat oleh 3 orang.
Satu pengemis tua 9 kantung dengan tongkat bambu hijau bengkok dan labu arak penyok — Hong Wei Jun, Pengemis Utara, yang meninggalkan Mu Chen di Junshan dan pergi sendirian.
Satu pendeta Tao putih-biru dengan pedang Taiji 81 kati yang satu sisi berat seperti gunung — Zhang Lingyun, Ketua Wudang.
Satu biksu tua dengan sapu yang patah menjadi dua — Jueyuan, Guru Hui Chen, yang turun dari Shaolin untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.
3 orang, 3 Tetua Wulin Putih. 3 lawan 1 melawan Zhuo Wudi yang tidur 50 tahun.
Pertarungan itu tidak ada yang melihat. Hanya hutan belantara yang tahu. Setelah 1 hari 1 malam, hutan belantara seluas 10 li menjadi padang es dan padang hangus bergantian. Danau kecil di tengah hutan menguap habis.
Hasilnya: Zhuo Wudi mundur 3 langkah, pertama kalinya dalam 50 tahun ia mundur. Hong Wei Jun muntah darah dan tongkat bambu hijaunya retak. Zhang Lingyun pedang Taiji-nya patah menjadi dua. Jueyuan sapu patahnya hancur menjadi debu.
Seri. Tapi Zhuo Wudi tidak melanjutkan ke Danau Dongting. Ia berbalik, kembali ke Beijing, masuk kembali ke Kamar Es, dan berkata pada Kaisar Zhuo Tian:
"Tunggu 2 tahun lagi. 2 tahun lagi, aku akan bangun lagi, dan saat itu, bahkan jika 3 orang tua itu bergabung lagi, aku sudah tidak akan mundur. Karena dalam pertarungan tadi, aku baru menggunakan 70% tenagaku. Mereka sudah 100%."
Kaisar Zhuo Tian tertawa lega, tapi juga gemetar, karena ia tahu, leluhur tua itu bukan lagi pelindung Keluarga Zhuo, tapi monster yang ingin memakan segalanya.
Dan sekarang, tahun ke-5. Tersisa 2 tahun menuju Janji 7 Tahun.
DANAU DONGTING, SARANG PENGEMIS - MU CHEN, 22 TAHUN.
Di atas batu apung yang dulu beratnya 1.000 kati dan mengapung di atas Danau Dongting, kini ada 9 batu apung yang berputar-putar di udara, masing-masing beratnya 1.000 kati, dan di tengah 9 batu itu, duduk bersila seorang pemuda 22 tahun.
Jubah goni 9 kantungnya kini bukan lagi goni biasa. Goni itu sudah dicuci dengan air Danau Dongting yang dicampur dengan darah naga emas dari 18 Tapak Penakluk Naga, sehingga goni itu mengkilap seperti emas.
Mu Chen. 22 tahun. Tinggi, kekar, wajahnya tidak lagi pucat, tapi matang seperti petani yang sudah melihat 4 musim panen. Di dahinya, ada tanda naga kecil emas yang kadang muncul kadang hilang — tanda bahwa Kitab Tai Chu sudah menyatu dengan darahnya.
Mu Chen telah menguasai Kitab Tai Chu.
Bukan lagi menguasai setengah, bukan lagi 7 tapak. Selama 3 tahun setelah Zhuo Wudi mundur, Hong Wei Jun tidak mengajarinya 18 Tapak lagi. Hong Wei Jun hanya memberinya satu perintah:
"Tidur. Makan. Mengemis. Dan baca Kitab Tai Chu itu seperti membaca surat cinta."
Mu Chen melakukannya. Ia tidur di atas 9 batu apung, makan ayam panggang curian 10.000 pengemis, mengemis di 10 desa sekitar Danau Dongting dengan mangkuk retak, dan membaca Kitab Tai Chu yang huruf-hurufnya kini bukan lagi huruf, tapi bergerak-gerak seperti naga kecil di dalam kepalanya.
Dan hari ini, tahun ke-5, Kitab Tai Chu yang selama ini hanya memperbaiki 8 meridian terbaliknya, akhirnya... sempurna.
8 meridian terbaliknya yang dulu seperti sungai yang mengalir terbalik, kini mengalir lurus, tapi tidak hanya lurus — 8 sungai itu menjadi satu lautan. Lautan Qi yang tidak ada ujungnya, yang bisa menjadi panas seperti 9 Yang, dingin seperti 9 Yin, lembut seperti Taiji, keras seperti 18 Tapak.
Dan hanya perlu menyempurnakan dengan jurus 18 Tapak Penakluk Naga dan Tongkat Pemukul Anjing.
Hong Wei Jun yang duduk di tepi danau dengan tongkat bambu hijau retak yang baru ia sambung dengan tali goni, berteriak:
"Bocah goni! Tai Chu-mu sudah sempurna! Sekarang waktunya menyempurnakan wadahnya! 18 Tapak Penakluk Naga bukan 18 jurus! 18 Tapak itu adalah 18 cara menggunakan lautan Qi-mu! Selama ini kau hanya bisa 8 tapak karena wadahmu bocor! Sekarang wadahmu sudah menjadi lautan, kau bisa belajar 10 tapak sisanya dalam 2 tahun!"
Mu Chen membuka matanya. Matanya yang dulu hitam, kini... ada 8 warna yang berputar-putar di dalamnya, seperti lautan yang berisi semua warna.
"Guru, Tapak ke-9... Shuang Long Qu Shui sudah saya kuasai 2 tahun lalu. Tapak ke-10 sampai ke-18... saya akan kuasai dalam 2 tahun ini. Dan Tongkat Pemukul Anjing... 36 jurus... saya sudah menguasai 18 jurus. 18 jurus sisanya... saya akan kuasai sambil mengemis."
Ia berdiri di atas 9 batu apung. 9 batu apung itu jatuh ke dalam Danau Dongting, menimbulkan ombak besar, tapi Mu Chen tidak jatuh. Ia berdiri di atas air, seperti berdiri di atas tanah.
Itulah tanda Tai Chu sempurna: bisa berdiri di atas air tanpa tenggelam, karena air itu sendiri adalah bagian dari lautan Qi-nya.
Sementara itu, di jalan kecil antara Jiangnan dan Jiangbei.
Jalan tanah yang menghubungkan Desa Batu Kuning dan Kota Jinling. Jalan yang dulu dilalui Mu Chen saat pertama kali keluar dari desa.
Seorang biksu muda 23 tahun sekarang, jubah saffron tambal-tambalan, kepala plontos 6 titik bakaran, mangkuk retak berisi lumpur masih di tangan, berjalan pelan tanpa tujuan.
Hui Chen. Yang hampir memahami jawaban dari pertanyaannya.
2 tahun lalu di tepi Sungai Kuning, ia menemukan 2 jawaban: Kosong adalah wadah, Benar dan salah adalah lumpur yang sama.
Tinggal satu pertanyaan terakhir: Apa itu keinginan?
Selama 3 tahun setelah itu, ia berjalan dari Sungai Kuning sampai ke Jiangnan, menanyakan pada setiap orang: apa itu keinginan?
Petani bilang: keinginan adalah panen yang banyak.
Pelacur bilang: keinginan adalah pelanggan yang baik.
Pembunuh bilang: keinginan adalah tidak dibunuh.
Pengemis bilang: keinginan adalah ayam panggang.
Tapi semua jawaban itu... bukan jawaban yang ia cari. Karena semua jawaban itu adalah keinginan yang lain, bukan apa itu keinginan itu sendiri.
Hari ini, di jalan kecil itu, ia bertemu dengan 2 orang yang tidak ia sangka akan bertemu.
Di tengah jalan, di bawah pohon persik liar, duduk seorang gadis 19 tahun sekarang, jubah hitam seperti bayangan, wajah cantik pucat, tanda bulan sabit hitam di dahi, sedang memainkan bayangannya sendiri di tanah — bayangan itu berbentuk kelinci, lalu naga, lalu bunga.
Dan di samping gadis itu, berdiri seorang pria 32 tahun, jubah hitam bordir awan perak sobek setengah, kipas hitam tulang putih kehitaman di tangan, wajah tampan pucat dengan mata hitam pekat tanpa putih.
Qin Ruyan, 19 tahun, putri Qin Ye, Gadis Bayangan 9 Yin, dan Qin Wuyu, 32 tahun, peringkat 3 Paviliun Awan Hitam, Awan Hitam Penutup Bintang, yang 5 tahun lalu kalah dari Lu Changan di Jembatan Putus dan berjanji 7 tahun lagi akan membawa kipas tulang utuh.
Qin Wuyu melihat Hui Chen datang, mengangkat kipas tulangnya, waspada. Tapi Qin Ruyan mengangkat tangannya, menghentikan pamannya.
"Bukan musuh, Paman Wuyu. Dia... dia biksu yang ditunggu Jiang Yu."
Hui Chen berhenti di depan mereka, menatap gadis bayangan itu. Ia tidak takut pada bayangan yang bisa berubah bentuk. Karena selama 3 tahun mencari jawaban tentang keinginan, ia sudah melihat bayangan yang lebih menakutkan: bayangan keinginannya sendiri untuk menemukan jawaban.
Qin Ruyan menatap mangkuk retak berisi lumpur di tangan Hui Chen, lalu tersenyum. Senyumnya yang dulu pucat dan dingin, kini hangat, karena 2 tahun disembunyikan di Shaolin bersama Hui Chen — ya, selama 2 tahun setelah malam di desa kecil, Qin Ruyan sebenarnya dibawa Jiang Yu ke Shaolin dan disembunyikan di belakang Aula Dharma, tempat Hui Chen dulu menyapu — membuat mereka seperti kakak adik.
"Kak Hui Chen, kau masih mencari jawaban ketiga?"
Hui Chen mengangguk. "Apa itu keinginan? Saya sudah bertanya pada 1.000 orang, tapi tidak ada yang bisa menjawab apa itu keinginan itu sendiri. Semua orang hanya menjawab keinginan mereka."
Qin Wuyu yang berdiri di samping mendengus. "Keinginan? Keinginan adalah ingin mengalahkan Lu Changan dan menutupi 7 bintang Jiangnan dengan awan hitamku! Itu keinginan!"
Qin Ruyan menggeleng, menatap pamannya, lalu menatap Hui Chen.
"Kak Hui Chen, 3 tahun lalu, Jiang Yu, si Tukang Pos dengan dua tangan yang berkelahi, memberiku secarik kertas darimu. Kertas itu bertanya: Apakah bayangan itu ada karena ada cahaya, atau cahaya itu ada karena ada bayangan?"
"Aku sudah memikirkannya 3 tahun di Shaolin, di belakang Aula Dharma, sambil melihat bayanganku sendiri."
Ia mengangkat tangannya, bayangan kelinci di tanah berubah menjadi bayangan Hui Chen yang sedang memegang mangkuk.
"Bayangan tidak ada jika tidak ada cahaya. Tapi cahaya... cahaya tidak akan terlihat jika tidak ada bayangan. Jika dunia ini semuanya cahaya, tanpa bayangan, kau tidak akan tahu apa itu cahaya. Kau akan buta karena terlalu terang. Jadi... bayangan dan cahaya... saling membutuhkan. Mereka bukan musuh."
Ia menunjuk mangkuk retak berisi lumpur di tangan Hui Chen.
"Keinginan... seperti bayangan. Kosong yang kau bilang adalah wadah, itu adalah cahaya. Wadah yang kosong itu butuh diisi. Keinginan adalah bayangan yang ingin mengisi wadah kosong itu. Jika tidak ada keinginan, wadah kosong itu tidak akan pernah diisi, ia akan tetap kosong selamanya, tidak menjadi mangkuk, hanya menjadi lubang."
"Tapi jika keinginan terlalu banyak, seperti bayangan yang terlalu besar, ia akan menutupi cahaya, membuat wadah itu menjadi gelap, tidak bisa melihat apa isinya. Seperti pembunuh yang keinginannya membunuh terlalu besar, sampai ia tidak bisa melihat bahwa wadahnya sudah penuh darah."
"Jadi..."
Qin Ruyan tersenyum, dan untuk pertama kalinya, bayangan kelinci di tanah berubah menjadi bayangan bunga persik yang mekar.
"Apa itu keinginan? Keinginan adalah bayangan dari wadah yang kosong. Ia ada karena wadah itu kosong. Ia tidak baik, tidak jahat. Ia hanya... penunjuk bahwa wadah itu ada, dan wadah itu ingin diisi. Jika kau membenci bayanganmu sendiri, kau akan membenci wadahmu sendiri. Jika kau mencintai bayanganmu, kau akan tahu seberapa besar wadahmu."
Hui Chen yang mendengar itu, berdiri mematung di tengah jalan kecil.
Mangkuk retak berisi lumpur di tangannya... bergetar.
Retakan di mangkuk itu... perlahan-lahan... hilang. Lumpur di dalam mangkuk itu... menjadi air jernih. Air yang sangat jernih, yang memantulkan langit, memantulkan bayangan Hui Chen sendiri, memantulkan bayangan Qin Ruyan, dan memantulkan bayangan pohon persik liar di atas mereka.
Hui Chen tertawa. Tawa yang sangat pelan, tawa yang tidak ada suara, tapi air mata keluar dari matanya.
"Terima kasih, Ruyan..."
Ia mengangkat mangkuk jernih itu, meminum air jernih itu sampai habis.
Dan saat ia meminumnya, 6 titik bakaran di kepalanya yang plontos... bersinar. Bukan cahaya emas, tapi cahaya putih yang sangat lembut, seperti cahaya bulan.
Ia telah menemukan jawaban ketiga.
Apa itu keinginan? Keinginan adalah bayangan dari kekosongan. Ia bukan musuh kekosongan. Ia adalah bukti bahwa kekosongan itu ada dan ingin diisi.
3 pertanyaan, 3 jawaban, ditemukan dalam 5 tahun pengembaraan.
Hui Chen membungkuk pada Qin Ruyan dan Qin Wuyu, lalu ia memutuskan kembali ke shaolin untuk menyempurnakan kungfu nya.
Karena ia tahu, 2 tahun lagi, di Janji 7 Tahun, jawaban ketiga ini akan ia butuhkan untuk melawan kura-kura tua yang keinginannya adalah memakan semua kitab.
Qin Ruyan menatap punggung Hui Chen yang pergi, lalu menatap pamannya Qin Wuyu.
"Paman Wuyu, ayo kita pulang. Ayah bilang, 2 tahun lagi, kita tidak lagi bersembunyi. Paviliun Awan Hitam akan datang ke Huashan. Bukan sebagai Aliran Hitam. Tapi sebagai... keluarga."
Qin Wuyu mengangguk, membuka kipas tulang putih kehitamannya yang kini sudah tidak sobek lagi — karena selama 3 tahun ia memperbaikinya dengan tulang rusuknya sendiri — dan mengibaskannya. Awan hitam tipis muncul, membawa mereka berdua hilang ke dalam bayangan pohon persik liar.
Jalan kecil itu kembali sepi. Hanya ada jejak kaki Hui Chen yang basah karena air jernih dari mangkuknya yang baru saja ia minum.
Dan di atas langit jalan kecil itu, 7 bintang Biduk yang 5 tahun lalu memanggil Lu Changan, kini bersinar bersama 1 bintang baru yang sangat terang di sebelahnya — bintang ke-8, bintang yang tidak ada di peta bintang, bintang yang baru lahir dari mangkuk retak yang menjadi jernih.
Bintang itu adalah bintang Hui Chen.
Tahun ke-5 selesai. Tersisa 2 tahun. Mu Chen telah menguasai Kitab Tai Chu. Hui Chen telah menemukan 3 jawaban. Dan Paviliun Awan Hitam... akan pulang.