Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Berdarah dan Api Pembalasan
Angin lembap Lembah Darah Merah bertiup membawa aroma karat dan abu. Di bawah langit yang selalu tertutup awan mendung kemerahan, Ye Chen melompat dari satu tebing batu ke tebing lainnya layaknya hantu.
Panca indranya yang kini diperkuat oleh Tulang Naga Api bekerja dengan sangat tajam. Ia bisa mendengar detak jantung tikus tanah dari jarak puluhan meter, dan bisa membedakan bau darah segar di antara aroma belerang lembah.
Tiba-tiba, langkah Ye Chen terhenti di atas sebuah bukit vulkanik yang tinggi. Telinganya menangkap suara dentingan logam yang beradu keras dan rentetan ledakan Qi dari arah timur.
"Ada pertempuran besar di depan," Ye Chen menyipitkan mata. Ia memusatkan Qi ke matanya, memperjelas pandangannya hingga menembus kabut merah sejauh beberapa mil.
Di sebuah tanah lapang berbatu di dasar ngarai, terlihat puluhan pria berpakaian zirah kulit hitam dengan lambang gagak mengepung sekelompok kecil kultivator. Kelompok yang dikepung itu tampak sangat menyedihkan; jubah merah cerah mereka telah robek dan hangus di sana-sini.
Itu adalah sisa-sisa dari Sekte Api Sejati!
Namun, keadaan mereka benar-benar mengenaskan. Dari delapan murid sekte, kini hanya tersisa tiga orang yang saling membelakangi dengan tangan gemetar memegang pedang. Yan Ting, sang tuan muda arogan, wajahnya dipenuhi debu dan darah, napasnya tersengal-sengal.
Yang paling parah adalah Tetua Huo. Lengan kirinya buntung sebatas bahu, meninggalkan luka bakar mengerikan—jelas akibat terkaman Kera Magma Lengan Besi. Fluktuasi Qi-nya yang semula berada di puncak tingkat kesembilan kini sangat tidak stabil, bahkan merosot hingga setara tingkat ketujuh akibat kehilangan banyak darah dan racun api monster.
Di pihak lawan, kelompok Bandit Gagak Hitam tertawa beringas. Pemimpin mereka, seorang pria tinggi besar dengan bekas luka cakaran di wajahnya dan memegang sebuah tombak bergerigi, memancarkan aura Tahap Pengumpul Qi tingkat kedelapan!
"Zuo Kuang! Beraninya kau, bandit rendahan, mengadang jalan Sekte Api Sejati?!" teriak Yan Ting dengan suara bergetar, mencoba menggunakan nama sektenya sebagai tameng. "Jika kau tidak segera menyingkir, ayahku tidak akan melepaskanmu!"
Pemimpin bandit bernama Zuo Kuang itu tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema di dinding ngarai. "Tuan Muda Yan, simpan omong kosongmu. Jika ini di luar sana, aku mungkin akan bersujud padamu. Tapi ini adalah Lembah Darah Merah! Di sini, tidak ada yang peduli kau anak sekte atau anak kaisar. Selama kalian mati dan mayat kalian dimakan anjing liar, siapa yang akan tahu?!"
"Kau—!" Yan Ting mengertakkan gigi.
"Aku mendengar kalian pergi berburu harta karun elemen api," mata Zuo Kuang menyipit penuh keserakahan. "Tapi melihat keadaan kalian yang seperti anjing dipukuli ini, tampaknya kalian diserang balik oleh monster penjaga ya? Serahkan semua Cincin Penyimpanan kalian, maka aku akan membiarkan kalian mati dengan cepat. Jika tidak... aku akan menguliti kalian hidup-hidup!"
Tetua Huo terbatuk darah. Ia mencengkeram pedangnya dengan satu tangan yang tersisa. "Tuan Muda, saya akan meledakkan sisa Qi saya untuk menahan mereka. Anda harus lari!"
Dari atas tebing, Ye Chen yang menyaksikan drama itu tersenyum tipis. "Sekte Api Sejati dan Bandit Gagak Hitam... Dua kelompok yang sedang mencariku malah saling bunuh. Surga benar-benar punya selera humor yang bagus."
"Jangan hanya menonton, Bocah. Bukankah kau ingin menguji kekuatan barumu?" kekeh Ao Tian dari dalam giok hitam.
"Tentu saja. Menonton mereka mati tidak akan memberiku Cincin Penyimpanan mereka," jawab Ye Chen dingin.
Di bawah sana, Zuo Kuang kehabisan kesabaran. "Karena kalian ingin mati dengan keras kepala, bunuh mereka semua!"
Puluhan bandit itu meraung dan menerjang maju. Yan Ting memejamkan mata dalam keputusasaan, sementara Tetua Huo bersiap membakar meridiannya untuk serangan bunuh diri.
Namun, sebelum senjata para bandit itu sempat menyentuh mereka...
WUSSSSH!
Sebuah bayangan hitam besar melesat jatuh dari langit layaknya meteor.
BOOOOMMMM!!!
Bumi bergetar hebat. Sebuah pedang besi hitam raksasa menancap dalam-dalam di tanah berbatu tepat di antara kelompok bandit dan Sekte Api Sejati. Gelombang kejut dari hantaman pedang itu menerbangkan belasan bandit di barisan depan hingga mereka terlempar ke udara sambil memuntahkan darah.
Asap debu mengepul tebal. Perlahan, di atas gagang pedang raksasa itu, berjongkok sesosok pemuda berjubah kulit dengan sepasang mata yang memancarkan ketenangan mematikan.
Seluruh medan pertempuran hening seketika.
Mata Yan Ting melebar hingga hampir robek. Wajah pemuda ini telah terukir di benaknya sebagai mimpi buruk selama tiga hari terakhir.
"TIKUS PENCURI!!" jerit Yan Ting histeris, menunjuk Ye Chen dengan tangan gemetar. "Itu dia, Tetua Huo! Dia yang mencuri Api Roh Emas Ungu kita!"
Di pihak bandit, salah satu bawahan Zuo Kuang yang selamat dari kedai tempo hari ikut menjerit ketakutan hingga senjatanya jatuh. "B-Bos Zuo! Itu dia! Iblis yang membunuh Wakil Ketua Botak dalam satu pukulan!"
Zuo Kuang menghentikan langkah kudanya, matanya menatap Ye Chen dengan tajam. Aura pemuda ini... Tahap Pengumpul Qi tingkat ketujuh puncak!
"Jadi, kau bocah yang membunuh adik angkatku?" geram Zuo Kuang, mengangkat tombak bergeriginya yang dilapisi Qi berwarna hijau beracun. "Bagus. Aku berniat mencarimu setelah mengurus sampah sekte ini, tapi kau malah datang mengantarkan nyawa."
Ye Chen berdiri perlahan di atas gagang pedangnya. Ia menatap Zuo Kuang, lalu beralih ke Yan Ting dan Tetua Huo.
"Kalian berdua mencariku?" Ye Chen tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Kebetulan. Pedangku juga sedang lapar."
"Sombong!" raung Zuo Kuang. "Dia hanya di tingkat ketujuh! Kepung dia! Cincang dia menjadi saus daging!"
Lebih dari dua puluh bandit tingkat keempat dan kelima menyerbu Ye Chen secara serentak dari segala arah. Ratusan bayangan pedang dan golok menebas ke arah tubuhnya.
Alih-alih mencabut pedangnya, Ye Chen hanya melompat turun dengan santai.
"Tingkat ketujuh, ya?" bisik Ye Chen.
Duar!
Energi meledak dari tubuh Ye Chen. Bukan Qi biasa, melainkan Qi yang bercampur dengan nyala api ungu keemasan! Udara di sekitarnya seketika terdistorsi karena hawa panas yang ekstrem.
Seorang bandit mengayunkan pedang besarnya tepat ke leher Ye Chen. Ye Chen tidak menghindar; ia sekadar mengangkat tangan kirinya dan menangkap mata pedang baja itu dengan tangan kosong!
TSSS!
Sebelum bandit itu bisa tertawa melihat kebodohan Ye Chen, matanya terbelalak ngeri. Pedang baja berkualitas tinggi miliknya tiba-tiba membara, mencair menjadi cairan logam menyala dalam sekejap tepat di genggaman tangan Ye Chen!
"A-apa?!"
Ye Chen mencengkeram wajah bandit yang membeku karena syok itu. Api ungu emas meledak dari telapak tangannya. Bandit itu bahkan tidak sempat menjerit sebelum seluruh tubuhnya terbakar menjadi abu hitam yang tertiup angin!
Tanpa henti, Ye Chen bergerak bagaikan kilat ungu. Ia menerobos formasi bandit layaknya harimau di tengah kawanan domba. Setiap kali tinjunya mengenai senjata lawan, senjata itu meleleh. Setiap kali kakinya mendarat di dada musuh, tubuh mereka langsung hangus terbakar dari dalam.
BAM! BAM! CRASH!
Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, belasan bandit elit telah berubah menjadi tumpukan arang yang berserakan di tanah. Hawa panas dari Api Roh Emas Ungu mendominasi seluruh medan pertempuran.
Melihat pemandangan mengerikan itu, sisa bandit yang ada langsung berlutut mengompol, menjatuhkan senjata mereka dalam keputusasaan absolut.
Tetua Huo dari Sekte Api Sejati mundur dengan kaki gemetar. Matanya yang tua dipenuhi kengerian yang tak terlukiskan.
"I-itu Api Roh Emas Ungu... D-dia telah menyerapnya! T-tapi bagaimana mungkin?!" gumam Tetua Huo dengan gigi bergemeletuk. "Tiga hari! Hanya butuh tiga hari untuk menelan sepenuhnya Api Roh Alam?! Monster macam apa bocah ini?!"
Zuo Kuang, yang tadinya congkak, kini pucat pasi. Ia menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukanlah manusia biasa. Dengan keringat dingin mengucur deras, ia mengerahkan seluruh kekuatan tingkat kedelapannya, memutar tubuhnya, dan... melarikan diri sekencang-kencangnya ke arah lembah!
"Mau lari?"
Ye Chen mendengus dingin. Ia akhirnya menendang bagian bawah Pedang Besi Hitamnya yang menancap di tanah. Pedang raksasa itu melenting ke udara. Ye Chen menangkap gagangnya, menyalurkan Qi Api Emas Ungu ke seluruh bilah pedang hitam itu hingga menyala terang, lalu melemparkannya layaknya sebuah tombak raksasa.
SYUUUT! BOOOM!
Pedang raksasa yang terbakar itu membelah udara lebih cepat dari suara, menembus tepat di tengah punggung Zuo Kuang, dan memaku pemimpin bandit tingkat delapan itu ke tanah berbatu. Zuo Kuang tewas seketika, tubuhnya hangus terbakar oleh sisa-sisa api di pedang tersebut.
Ye Chen berjalan perlahan melintasi mayat-mayat itu, mencabut pedangnya, dan menyarungkannya kembali ke punggung. Kemudian, ia berbalik, menatap Yan Ting dan Tetua Huo yang kini tidak punya jalan untuk lari.
"Nah," ucap Ye Chen santai sambil melangkah mendekati mereka. "Sekarang tinggal kita bertiga. Mari kita bicarakan kompensasi atas 'bantuan' kalian dalam membuka sarang Kera Magma tempo hari."