Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Matahari pagi menembus jendela kaca anti-peluru di lantai empat puluh gedung utama Ar-Rasyid Tower, memancarkan bias cahaya putih yang menyinari meja rapat eksekutif berbentuk tapal kuda dari kayu mahoni tua. Ruangan itu terasa begitu dingin, didominasi oleh keheningan mutlak yang hanya dipecahkan oleh suara ketukan ringan ujung pena milik Alexander di atas permukaan meja.
Di kursi kepala rapat, Alexander duduk dengan postur tegap sempurna. Setelan jas tailored berwarna arang melapis tubuh atletisnya, sementara sorot mata kelamnya menatap tajam ke arah seberang meja—tempat Tuan Theodore Vance duduk bersama dua orang penasihat hukum berkemeja rapi. Di sebelah kanan Alex, Keisha duduk anggun dengan balutan setelan blazer berwarna ivory dan rambut yang dicepol rapi, memancarkan aura profesionalisme tingkat tinggi yang membuat siapa pun tidak berani meremehkannya.
"Semua dokumen legalitas hak paten, draf desain orisinal, serta hasil audit independen dari lembaga sertifikasi mode internasional sudah ada di hadapan Anda, Tuan Vance," suara bariton Alex memecah keheningan, terdengar begitu dingin dan tanpa kompromi. "Anda bebas memeriksa setiap lembarnya untuk membuktikan apakah ada satu titik pun yang bersumber dari arsip Milan seperti rumor picisan yang Anda dengar semalam."
Theodore Vance membuka-buka map tebal berlogo resmi Ar-Rasyid Group itu dengan gerakan lambat. Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan pengalaman tampak serius membaca setiap grafik, tanggal pendaftaran hak cipta, hingga sketsa digital beresolusi tinggi yang menunjukkan proses kreatif Azalea Label dari nol hingga menjadi tren global.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang pekat. Penasihat hukum di samping Theodore berbisik pelan, menyerahkan selembar kertas analisis tambahan kepada atasannya. Theodore mengangguk pelan, lalu menutup map tersebut dengan bunyi gedebuk pelan yang menggema di seluruh ruang rapat.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Alexander dan Keisha secara bergantian. Alih-alih menunjukkan ekspresi terdesak, sebuah senyuman tipis justru terukir di bibir pria paruh baya berambut perak itu.
"Luar biasa," puji Theodore dengan nada suara yang tenang. "Saya harus mengakui, Tuan Ar-Rasyid, informasi yang saya terima di Milan beberapa waktu lalu ternyata hanyalah upaya kotor dari para pesaing dagang yang ingin menjatuhkan reputasi Azalea Label. Dokumen ini membuktikan bahwa karya Nyonya Keisha seratus persen murni dan memiliki nilai estetika pasar yang jauh melampaui standar Eropa saat ini."
Keisha tidak langsung tersenyum mendengar pujian itu. Ia menyatukan kedua jemarinya di atas meja, menatap Theodore dengan manik mata cokelatnya yang tajam. "Pujian Anda diterima, Tuan Vance. Namun, di dunia bisnis tingkat tinggi, sebuah kerja sama bernilai triliunan rupiah tidak bisa dibangun di atas fondasi keraguan atau rumor yang sengaja dipelihara. Saya ingin tahu... siapa sumber di Milan yang membisikkan kebohongan murahan itu kepada seorang investor terkemuka seperti Anda?"
Pertanyaan telak itu membuat Theodore tertegun sejenak. Alis pria tua itu terangkat tinggi. Ia tidak menyangka wanita di hadapannya akan menyerang balik dengan introgasi langsung yang begitu menohok, tanpa basa-basi diplomasi korporat yang membosankan.
Theodore terkekeh pelan, bersandar di kursi kulitnya. "Anda benar-benar istri yang berbahaya, Nyonya Keisha. Anda tidak hanya memiliki talenta seni, tapi juga insting seorang interogator ulung. Sumber itu... adalah seseorang yang mengaku sebagai mantan mitra strategis keluarga besar Ar-Rasyid di masa lalu. Seseorang yang sangat membenci stabilitas kepemimpinan Alexander saat ini."
Alexander menyipitkan matanya. Rahang pria itu mengeras seketika. "Sebutkan namanya."
Sebelum Theodore sempat membuka mulut untuk menyebutkan nama sosok misterius di balik layar tersebut, suara ketukan pintu ruang rapat tiba-tiba berbunyi tiga kali dengan cepat.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ganda ruang rapat terbuka tanpa menunggu aba-aba. Siska, sekretaris pribadi Alex, melangkah masuk dengan napas sedikit memburu dan wajah pucat pasi. Ia mengabaikan kehadiran Tuan Vance dan langsung membungkuk hormat ke arah sang CEO.
"Maafkan saya mengganggu rapat penting ini, Tuan Alexander," ucap Siska dengan nada cemas yang tertahan. "Tapi ada situasi darurat di lantai dasar galeri butik utama Azalea Label di Menteng."
Alex berdiri dari kursinya secara mendadak, membuat kursi kayu mahoni itu bergeser kasar ke belakang. "Darurat apa? Katakan dengan jelas, Siska!"
"Galeri utama kita baru saja didatangi oleh petugas dari dinas perizinan dan kepolisian ekonomi," lapor Siska dengan suara bergetar. "Mereka menyita seluruh koleksi gaun haute couture musim semi dengan tuduhan palsu bahwa bahan tekstil yang kita gunakan mengandung zat kimia berbahaya yang dilarang oleh undang-undang perlindungan lingkungan!"
Seluruh orang di ruang rapat seketika terperanjat. Tuan Theodore Vance mengerutkan keningnya dalam-dalam, sementara Keisha berdiri dari kursinya, manik matanya memancarkan amarah yang luar biasa tajam.
"Zat kimia berbahaya?" suara Keisha meninggi, dingin namun penuh ketegasan yang mematikan. "Seluruh bahan tekstil Azalea Label diimpor langsung dari produsen organik bersertifikat internasional di Swiss dan memiliki dokumen uji laboratorium resmi yang diperbarui setiap bulan! Tuduhan itu sama sekali tidak masuk akal!"
Alex mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dalam hitungan detik, ia merangkai seluruh potongan teka-teki yang terjadi sejak malam perjamuan kemarin hingga detik ini. Rumor plagiarisme di Milan, kedatangan Tuan Vance yang membawa keraguan, hingga serangan mendadak berupa razia perizinan bahan tekstil di butik utama—semuanya adalah bagian dari satu grand design sistematis untuk melumpuhkan bisnis mereka dari dua arah secara bersamaan.
"Ini bukan sekadar razia acak," ucap Alex dengan suara bariton yang berat dan mematikan, bagaikan raungan seekor predator yang mangsanya mulai disentuh. "Seseorang sedang mencoba mendeklarasikan perang terbuka terhadap keluarga Ar-Rasyid."
Alex menoleh ke arah Tuan Vance, yang kini mengamati situasi tersebut dengan ekspresi wajah yang berubah drastis—dari semula meremehkan, kini beralih menjadi ketertarikan yang mendalam melihat bagaimana badai besar menghantam pasangan tersebut.
"Tuan Vance," ucap Alex tegas kepada sang investor. "Perundingan ini kita tunda selama dua jam. Saya harus menyelesaikan masalah di butik istri saya terlebih dahulu. Jika Anda ingin membatalkan kerja sama ini karena insiden murahan ini, silakan pintu keluar berada di sebelah sana. Tapi jika Anda tetap tinggal, Anda akan menyaksikan bagaimana cara keluarga Ar-Rasyid menghancurkan musuh-musuh mereka hingga tak bersisa."
Theodore Vance menatap Alex dan Keisha bergantian. Alih-alih merasa takut atau mundur, sudut bibir pria tua itu justru terangkat membentuk senyuman penuh misteri. Ia menegakkan tubuhnya, lalu merapikan jasnya.
"Batalkan perundingan? Tentu saja tidak, Tuan Ar-Rasyid," jawab Theodore tenang. "Saya justru semakin tertarik. Mari kita lihat bagaimana cara Anda membersihkan kotoran di halaman belakang istana Anda sendiri. Saya akan ikut dengan kalian ke butik itu."
Setengah jam kemudian, mobil SUV hitam berkecepatan tinggi yang dikawal oleh dua mobil pengawal pribadi meluncur membelah kemacetan jalanan ibu kota, menuju kawasan Menteng tempat galeri utama Azalea Label berdiri.
Sesampainya di sana, situasi di depan butik tampak sangat kacau. Garis polisi kuning melintang di pintu masuk utama bangunan bergaya kolonial modern tersebut. Beberapa petugas berseragam tampak keluar membawa beberapa kotak besar berisi gulungan kain dan gaun-gaun peraga milik butik. Puluhan wartawan dari berbagai media hiburan dan bisnis telah mengerumuni area parkir, mengambil foto dan berteriak melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Apakah benar Azalea Label menggunakan bahan tekstil ilegal yang berbahaya bagi kesehatan?"
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai penyitaan seluruh koleksi terbaru ini, Nyonya Keisha?"
"Apakah skandal ini akan berdampak pada kelangsungan kerja sama dengan Ar-Rasyid Group?"
Blitz kamera berkedip liar tanpa henti begitu mobil Alexander berhenti tepat di depan pintu masuk. Pintu mobil terbuka, dan Alexander melangkah keluar terlebih dahulu. Tubuhnya yang tinggi besar langsung memasang badan, melindungi Keisha yang melangkah anggun di belakangnya dengan tatapan mata setajam silet. Tuan Vance turun dari mobil kedua, mengamati kekacauan tersebut dengan tangan bersidekap di dada.
Seorang perwira polisi berpangkat komisaris yang memimpin operasi razia tersebut maju mendekati Alex dengan ekspresi kaku. "Tuan Alexander Ar-Rasyid. Kami bertindak atas laporan masyarakat mengenai dugaan pelanggaran standar kesehatan lingkungan dan penggunaan zat kimia terlarang pada produk tekstil impor di butik ini. Kami terpaksa menyita seluruh inventaris untuk uji laboratorium lebih lanjut."
Keisha melangkah maju, berdiri sejajar dengan suaminya. Suaranya terdengar tenang, namun mengandung kekuatan intimidasi yang membuat sang perwira polisi sedikit salah tingkah.
"Komisaris, tunjukkan kepada saya surat perintah penyitaan resmi beserta salinan laporan uji laboratorium awal yang menjadi dasar hukum tindakan anda," ujar Keisha tajam. "Karena sebagai warga negara yang taat hukum dan pemilik sah merek ini, saya tahu persis bahwa prosedur standar kepolisian mewajibkan adanya bukti awal yang valid sebelum melakukan penyitaan massal yang dapat mencemarkan nama baik perusahaan."
Perwira tersebut tampak sedikit tergagap mengeluarkan map dokumen dari tangannya. "K-Kami menerima laporan anonim yang sangat mendesak, Nyonya..."
"Laporan anonim?" potong Alex dengan suara bariton yang dinginnya membekukan udara di sekitar mereka. "Kalian mengerahkan puluhan petugas dan memanggil seluruh awak media nasional hanya berdasarkan laporan anonim tanpa verifikasi laboratorium independen terlebih dahulu? Siapa yang memberikan kalian wewenang untuk bertindak segolongan ini di properti milik keluarga Ar-Rasyid?"
Tekanan psikologis dan wibawa mutlak yang dipancarkan oleh Alexander membuat sang perwira polisi menelan ludah kelat. Ia tahu betul siapa yang sedang ia hadapi di hadapan publik saat ini.
Namun, di tengah ketegangan debat antara Alex dan pihak kepolisian, mata Keisha tiba-tiba menangkap sesosok figur yang berdiri di seberang jalan, di balik kerumunan penonton dan wartawan. Sosok itu mengenakan mantel panjang berwarna krem dan kacamata hitam besar. Meskipun separuh wajahnya tertutup syal, Keisha langsung mengenali postur tubuh dan cara berdirinya.
Itu adalah Jessica Pranata—wanita yang beberapa bulan lalu mendekam di tahanan akibat kasus pencurian data, kini berdiri bebas di sana, tersenyum sinis sambil memegang ponselnya, seolah sedang merekam detik-detik kejatuhan butik Azalea Label.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Keisha melepaskan genggaman tangan suaminya, lalu berlari membelah kerumunan wartawan yang masih bingung, menyeberangi jalan raya menuju tempat Jessica berdiri.
"Jessica!" panggil Keisha dengan suara penuh amarah yang tertahan.
Wanita berambut pirang itu terperanjat saat menyadari dirinya ketahuan. Ia mencoba berbalik melarikan diri ke dalam gang sempit di samping gedung tua, namun langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi membuatnya tidak bisa bergerak cepat.
Keisha berlari kencang, mengerahkan seluruh tenaga dan emosinya, hingga akhirnya ia berhasil mencegat lengan Jessica dan menariknya dengan paksa hingga wanita itu berbalik menghadapnya.
"Lepaskan aku, jalang!" geram Jessica sambil meronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Keisha dari jasnya.
"Kau tidak akan lari ke mana pun sebelum menjelaskan kebohongan busuk apa lagi yang kau rancang di balik semua ini!" bentak Keisha, manik matanya menyala tajam penuh amarah.
Alex, yang melihat istrinya berlari mengejar seseorang, segera memberikan instruksi singkat kepada dua pengawal pribadinya untuk mengamankan area, sementara ia sendiri menyusul langkah istrinya dengan cepat. Tuan Vance berdiri di tempatnya, menyaksikan drama menegangkan tersebut dengan senyuman penuh minat yang semakin melebar di wajahnya.
Jessica tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang terdengar putus asa namun penuh dendam kesumat. Ia menepis tangan Keisha dengan kasar, lalu merapikan kerah bajunya sambil menatap musuhnya dengan pandangan benci membara.
"Kau pikir kau sudah menang permanen setelah malam penghargaan itu, Keisha?" bisik Jessica tajam di hadapan wajah Keisha. "Kau salah besar. Aku hanya pion kecil dalam permainan ini. Orang yang menghancurkanmu hari ini memiliki kekuasaan dan kekayaan yang jauh melampaui bayanganmu... dan dia tidak akan pernah berhenti sampai imperium Ar-Rasyid hancur berkeping-keping di kaki kami!"
Sebelum Jessica sempat melanjutkan kalimatnya, Alexander tiba di belakang mereka. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tanpa ampun, Alex mencengkeram pergelangan tangan Jessica hingga wanita itu meringis kesakitan karena cengkeraman tangan besi sang CEO.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah gedung utama," perintah Alex dingin kepada dua pengawal pribadinya tanpa sedikit pun rasa iba di matanya. "Dan pastikan tidak ada satu pun pengacara di negeri ini yang bisa membebaskannya kali ini."
Jessica berteriak histeris saat diseret paksa oleh kedua pengawal bertubuh kekar menjauh dari area tersebut.
Keisha menarik napas panjang, mencoba menstabilkan deru napas dan emosinya yang sempat memuncak. Ia menoleh menatap suaminya. Badai memang belum sepenuhnya berlalu, dan bayangan musuh misterius yang dibicarakan Jessica masih bersembunyi di dalam kegelapan. Namun, berdiri berdampingan di bawah terik matahari Jakarta di samping Alexander, Keisha tahu persis satu hal: mereka tidak akan pernah gentar, dan mereka akan meruntuhkan siapa pun yang berani mencoba merusak apa yang telah mereka bangun bersama.