Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Bukan Orang Asing
Gunadi yang berdiri di luar kamar akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia berbalik dan berjalan menuju ujung lorong yang lebih sepi.
Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, ia mengambil ponsel dari saku jasnya lalu menghubungi seseorang.
"Halo, Pak." Suara seorang pria terdengar dari seberang.
"Tolong kirimkan foto Nyonya Muda kepada saya," ucap Gunadi sambil bersandar di pilar. "Sekalian selidiki kegiatan beliau beberapa hari terakhir."
"Baik, Pak."
Sambungan telepon berakhir. Gunadi baru saja menurunkan ponselnya ketika sebuah notifikasi masuk. Ia segera membukanya.
Beberapa foto Aynara terpampang di layar.
Gunadi memerhatikan foto-foto tersebut satu per satu. Ia memang sempat melihat perempuan yang berada di dalam kamar rawat Wicaksono tadi, tetapi hanya dari celah pintu dan dalam waktu singkat. Terlebih, wajah Aynara saat pernikahan kemarin masih sembap dan kemerahan akibat alergi.
Karena itulah ia meminta foto tersebut. Ia ingin memastikan bahwa perempuan yang dilihatnya tadi benar-benar Nyonya Muda.
Setelah melihat foto-foto itu, Gunadi terdiam cukup lama. "Nyonya Muda ternyata secantik ini..."
Ia mengembuskan napas panjang. "Sayang sekali saat pernikahan beliau mengalami alergi."
Gunadi kembali menatap layar ponselnya. Kini ia tidak lagi memiliki keraguan. Perempuan yang tadi menggenggam tangan Wicaksono memang Aynara, istri Aksa Wicaksono.
Gunadi menggeleng pelan. "Kalau Tuan Muda tahu wajah asli Nyonya Muda, apa dia akan menyesal sudah mengusirnya?"
Pandangannya kembali tertuju pada salah satu foto. Ada sedikit rasa iba di matanya.
"Sayangnya, Tuan Besar tidak pernah membuat aturan yang mengharuskan mereka tinggal bersama. Jadi begitu beliau koma, Tuan Muda punya alasan untuk mengakhiri kebersamaan mereka."
Gunadi terdiam sejenak. Mungkin Wicaksono memang yakin Aksa tidak akan menolak Aynara jika mengetahui seperti apa wajah gadis itu sebenarnya. Namun, semuanya sudah terlambat.
Aksa terlanjur melihat Aynara dalam kondisi terburuknya dan mengusirnya sebelum sempat mengetahui siapa perempuan yang sebenarnya ia nikahi.
Gunadi memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas. "Aku juga tidak bisa berbuat banyak."
Ia menatap pintu kamar Wicaksono dari kejauhan.
"Selama Tuan Besar belum sadar, aku hanya bisa menjalankan apa yang sudah beliau percayakan kepadaku."
***
Sementara itu di kamar rawat Wicaksono...
Setelah cukup lama berada di sana, Aynara akhirnya berdiri.
"Aku pulang dulu, Kek." Ia melepaskan genggamannya perlahan. "Meskipun Kakek gak bisa jawab, setidaknya aku sudah pamit."
Aynara tersenyum kecil sebelum berbalik. Namun baru beberapa langkah, pintu kamar terbuka.
Seorang perawat masuk sambil membawa baskom berisi air hangat dan beberapa perlengkapan untuk membersihkan tubuh pasien.
Perawat itu sempat terkejut melihat Aynara masih berada di sana. "Oh, Nona. Saya kira sudah pulang."
"Saya sebenarnya mau pulang." Aynara melirik baskom yang dibawa perawat. "Mau membersihkan tubuh Kakek?"
"Iya," jawab perawat ramah. "Sudah waktunya."
Aynara terdiam sejenak, kemudian matanya kembali tertuju pada Wicaksono. "Kalau saya bantu, boleh?"
Perawat itu tampak ragu. "Ah, tidak perlu, Nona. Ini memang tugas saya."
"Saya tahu." Aynara tersenyum kecil. "Tapi saya masih keluarga beliau."
Perawat tersebut masih terlihat bimbang.
"Saya gak bermaksud mengambil pekerjaan Anda. Saya cuma ingin membantu," jelas Aynara.
Perawat masih ragu. "Tapi..."
"Saya bisa melakukan bagian yang sederhana," kata Aynara. "Anda tinggal mengawasi."
Perawat itu akhirnya menghela napas. "Baiklah. Tapi kalau Nona merasa tidak nyaman, jangan dipaksakan."
Aynara langsung mengangguk. "Terima kasih."
Perawat kemudian meletakkan baskom di meja samping ranjang dan mulai menjelaskan apa yang perlu dilakukan.
Aynara mendengarkan dengan saksama. Tak lama kemudian, ia mulai membantu membersihkan tangan dan wajah Wicaksono dengan kain lembut yang telah dibasahi air hangat.
Gerakannya perlahan dan hati-hati. Ia bahkan tidak tahu mengapa dirinya mau melakukan semua itu. Mungkin karena melihat pria tua tersebut terbaring sendirian membuat hatinya tidak tega.
Atau mungkin karena tanpa disadarinya, ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa bahwa pria tua ini bukan orang asing.
"Bagaimanapun juga, Kakek pernah menggendongku ketika aku masih kecil," batin Aynara.
Saat menatap wajah Wicaksono, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.
Dan untuk alasan yang belum ia pahami, Aynara merasa ingin membalas sedikit kebaikan yang bahkan tidak pernah ia ingat.
Aynara dan perawat itu akhirnya selesai membersihkan tubuh Wicaksono.
Perawat merapikan perlengkapan yang digunakan, kemudian tersenyum kepada Aynara. "Terima kasih sudah membantu, Nona."
Aynara menggeleng kecil. "Sama-sama. Saya justru berterima kasih karena sudah diizinkan membantu."
Perawat itu kemudian membawa baskom dan perlengkapan lainnya keluar dari kamar.
Setelah pintu tertutup, Aynara kembali mendekati ranjang. Ia merapikan selimut Wicaksono yang sedikit bergeser, kemudian memastikan tidak ada bagian tubuh pria tua itu yang terbuka.
Pandangannya kembali jatuh pada wajah Wicaksono. "Apa sebaiknya aku cari kontrakan di dekat sini ya?"
Entah mengapa pikiran itu muncul begitu saja. Jika tinggal tidak terlalu jauh dari rumah sakit, ia bisa lebih sering datang menjenguk Wicaksono.
Lagipula, ia memang sudah tidak ingin kembali tinggal di rumahnya sendiri. Ia lelah berhadapan dengan ayahnya yang selalu mengalah kepada Cepi, ibu tirinya yang tidak pernah membuatnya merasa menjadi bagian dari keluarga, serta Caca yang sejak kecil selalu dimanjakan.
Ia mengusap ujung selimut perlahan. "Aku bisa pakai uang dari Mama untuk mencari kontrakan."
Setelah itu, ia akan mulai hidup mandiri. Ia masih bisa pulang sesekali untuk memeriksa pembukuan toko. Tidak perlu tinggal di rumah itu setiap hari.
"Ya... mungkin begini lebih baik." Aynara mengangguk kecil, seolah baru saja mengambil keputusan penting. "Aku akan cari kontrakan. Begitu dapat, aku langsung pindah."
Setelah memastikan Wicaksono tetap dalam keadaan nyaman, Aynara kembali berdiri di sisi ranjang.
"Aku pulang dulu, Kek. Nanti aku datang lagi." Ia tersenyum tipis sebelum melangkah menuju pintu.
Setelah keluar dari kamar, Aynara berjalan beberapa langkah menyusuri lorong. Namun, seseorang yang datang dari arah berlawanan tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya.
Langkah Aynara ikut terhenti, ia mengangkat wajah. Dan tatapan mereka bertemu.
...🔸🔸🔸...
...“Terkadang, kita tidak mengingat kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada kita. Namun, kebaikan itu tetap meninggalkan jejak. Dan suatu hari, tanpa kita sadari, hati akan menemukan caranya sendiri untuk membalasnya.”...
...“Jangan pernah menganggap sebuah kebaikan sia-sia hanya karena orang yang menerimanya tidak mengingatnya. Sebab, kebaikan tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama, tetapi ia selalu menemukan jalan untuk pulang.”...
...“Keluarga bukan hanya tentang siapa yang tinggal serumah dengan kita, tetapi juga tentang siapa yang tetap peduli ketika kita merasa tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.”...
...“Kadang, orang yang pernah berbuat baik kepada kita tidak meminta apa pun sebagai balasan. Namun ketika tiba waktunya, hati kita sendiri yang akan mengajarkan bahwa kebaikan layak dibalas dengan kebaikan.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.