Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Tetapi Bukan Tempat Pulang
Genggaman tangan Sean terasa bagai satu-satunya pijakan di tengah badai yang meruntuhkan dunia Emily.
Di hadapannya, Sang Ibu berdiri dengan napas memburu dan mata membelalak penuh amarah. Di meja kaca, map dokumen hukum bernilai miliaran rupiah milik keluarga Anderson terbaring kaku. Namun, bukan ancaman kekuasaan Sean yang membungkam wanita itu, melainkan kilat keberanian di mata anak tengahnya yang selama ini tak pernah bersuara.
"Emily! Kalau kamu berani melangkah keluar dari rumah ini sama dia, jangan pernah anggap Mama sebagai ibu kamu lagi!" teriak Ibunya, suaranya melengking memecah keheningan rumah. "Kamu anak nggak tahu diri! Sudah dibesarkan, dikasih makan, malah bawa sial buat keluarga!"
Langkah Emily terhenti di ambang pintu teras. Kalimat itu menusuk tepat di ulu hatinya, lebih tajam dari bilah pisau mana pun. Emily membalikkan badan perlahan, menatap wanita yang telah melahirkannya dengan matanya yang basah oleh air mata.
"Selama 17 tahun ini, aku memang nggak pernah merasa punya ibu, Ma," bisik Emily dengan suara serak yang bergetar hebat. "Aku cuma alat pamer di meja makan kalau aku dapat juara satu. Kalau aku gagal atau ada masalah, aku cuma anak tengah yang nggak berguna."
Tanpa menunggu balasan ibunya, Emily mempererat cengkeraman jarinya pada telapak tangan Sean. "Ayo pergi, Sean. Tolong... bawa aku keluar dari sini."
Sean menatap Emily dengan tatapan penuh perlindungan. Tanpa berucap sepatah kata pun, ia menarik lembut jemari Emily, menuntunnya menembus tirai hujan deras yang mengguyur pelataran rumah. Suara makian Ibunya seketika teredam oleh gemuruh guruh dan derasnya air hujan yang menghantam bumi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pintu mobil sedan mewah milik Sean tertutup rapat dengan dentuman halus, membendung hawa dingin dan suara bising hujan di luar.
Di dalam kabin mobil yang remang dan beraroma kayu cendana hangat, pertahanan diri Emily benar-benar runtuh total. Gadis berrambut basah itu menangkupkan kedua tangan ke wajahnya dan menangis sesenggukan. Bahunya naik turun menahan isakan sesak yang sudah ia pendam bertahun-tahun.
"Aku nggak punya tempat pulang lagi, Sean..." isak Emily, suaranya terdengar sangat kecil dan rapuh. "Aku udah nggak punya rumah... aku nggak punya siapa-siapa lagi..."
Sean tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia melepas sabuk pengamannya, memutar tubuh menghadap Emily, lalu meraih handuk kering dari jok belakang. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, Sean mengeringkan helaian rambut hitam Emily yang basah terurai.
"Kamu punya aku, Mil," ujar Sean dengan suara rendah yang mengalun hangat di tengah keheningan kabin. "Aku nggak akan biarkan kamu sendirian lagi. Nggak akan pernah."
Jemari Sean yang panjang terulur menyentuh bingkai kacamata tebal Emily yang buram oleh uap air mata. "Bisa dilepas sebentar kacamatanya?" bisiknya lembut.
Emily mengangguk pelan. Sean mengambil kacamata itu, menyapunya hingga bersih dengan kain lembut, lalu meletakkannya di dasbor. Tanpa kacamata tebal itu, wajah Emily terlihat begitu polos, rapuh, dan cantik di bawah berpendaran lampu dasbor mobil.
Saat Sean menatap langsung ke retina mata Emily yang penuh dengan luka tersembunyi, jemari tangan Sean bergerak perlahan mengusap sisa air mata di pipi gadis itu. Sentuhan kulit Sean terasa begitu hangat, mengirimkan desiran asing yang membuat detak jantung Emily berdesir kencang di tengah rasa sakitnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Emily lirih.
"Ke tempat yang aman. Tempat di mana nggak akan ada orang yang bisa menyakiti atau menghakimi kamu lagi," jawab Sean pasti, sebelum memutar kunci kontak dan menginjak pedal gas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil melaju membelah gemerlap lampu kota Jakarta yang basah oleh hujan. Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah kompleks apartemen griya pencakar langit di kawasan elit Jakarta Selatan.
Sean membimbing Emily memasuki sebuah unit penthouse pribadi di lantai paling atas. Berbeda dengan rumah keluarga Sean yang megah dan kaku, apartemen ini terasa sangat hangat dan tenang. Pencahayaan bernuansa kuning temaram, karpet tebal yang empuk, serta jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan skyline kota Jakarta di bawah guyuran hujan.
"Ini tempat pribadiku. Enggak ada orang tuaku, enggak ada media, dan Valerie enggak akan pernah bisa melangkah masuk ke sini," kata Sean sembari menyalakan pemanas ruangan.
Ia berjalan ke dapur bersih, menyeduh dua cangkir cokelat panas, lalu kembali ke sofa besar di depan jendela kaca di mana Emily duduk membisu sambil memeluk lututnya. Sean meletakkan cangkir itu, lalu menyerahkan satu set pakaian santai berwarna abu-abu, kaus ukuran besar dan celana sweatpants hangat.
"Ganti baju kamu dulu di kamar mandi dalam, Mil. Pakaian kamu agak basah, nanti kamu bisa sakit," ucap Sean penuh perhatian.
Setelah mengganti pakaiannya dengan baju milik Sean yang tercium harum aroma khas cowok itu, Emily keluar dan duduk di samping Sean di sofa. Kaus yang kebesaran itu menenggelamkan tubuh kurusnya, membuat Emily terlihat semakin menggemaskan dan mungil.
"Makasih ya, Sean," gumam Emily sambil menyesap cokelat hangatnya. Rasa manis dan hangatnya perlahan mengusir rasa dingin yang membekukan dadanya.
Sean menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap lurus ke arah pemandangan malam kota Jakarta.
"Kamu tahu, Mil?" suara Sean terdengar bergetar dengan kejujuran yang langka. "Orang-orang di sekolah selalu menganggap aku ini cowok sombong yang punya segalanya cuma karena orang tuaku punya uang bertumpuk-tumpuk."
Emily menoleh, mendengarkan dengan saksama dari balik kacamata tebalnya yang sudah bersih.
"Tapi kenyataannya, aku ini cuma aset buat mereka," lanjut Sean dengan senyum hambar yang menyiratkan kepahitan. "Dari kecil, aku dituntut buat jadi penerus bisnis keluarga. Aku nggak boleh berteman sembarangan, aku nggak boleh menunjukkan kelemahan, dan pertunanganku sama Valerie dua tahun lalu itu murni bisnis orang tua kami. Rumahku cuma bangunan megah tanpa ada kehangatan di dalamnya."
Sean memutar kepalanya, menatap dalam-dalam ke iris mata Emily.
"Makanya, waktu pertama kali aku liat kamu di perpustakaan dua tahun lalu... aku kagum. Kamu berjuang keras demi impian kamu sendiri, bukan karena disuruh orang lain. Kamu keliatan begitu polos dan tulus di tengah dunia aku yang penuh dengan kebohongan. Kamu adalah satu-satunya hal nyata yang pengen aku dekati."
Pengakuan tulus itu membuat napas Emily tertahan. Dinding dingin yang bertahun-tahun membentengi hatinya dari rasa cinta mendadak mencair total. Cowok di hadapannya ini bukan lagi sosok bad boy kaya raya yang arogan, melainkan jiwa yang sama-sama kesepian dan mendambakan kehangatan yang tulus.
"Sean..." bisik Emily pelan. "Tapi karena aku... reputasi kamu di sekolah juga bisa hancur. Valerie punya kekuasaan yang sangat besar-"
"Biarin aja," potong Sean cepat. Ia menggeser duduknya mendekati Emily, lalu meraih jemari tangan Emily dan menggenggamnya erat di atas pangkuannya. "Biarin seluruh dunia memusuhi aku, asal kamu tetap ada di samping aku, Mil. Aku nggak peduli sama posisi, nilai, atau kata orang lain. Aku cuma peduli sama kamu."
Tatapan mata Sean begitu dalam dan mengikat, membuat ketakutan Emily perlahan menguap berganti menjadi rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa hangat menjalar dari genggaman tangan Sean hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam berlalu dalam keheningan yang nyaman. Emily yang kelelahan secara fisik dan emosional akhirnya terkulai lelah di sofa empuk tersebut. Kepalanya bersandar pelan di bahu tebal Sean, napasnya terdengar teratur, menandakan gadis itu telah terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Sean tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kelembutan yang hanya diperuntukkan bagi Emily. Ia membetulkan posisi duduknya agar Emily merasa nyaman, lalu mengambil selimut tebal untuk menutupi tubuh gadis itu. Jemari Sean mengusap lembut helai rambut hitam Emily yang terurai di bahunya.
Namun, kedamaian itu mendadak terusik ketika ponsel Sean yang tergeletak di meja bergetar tanpa henti.
Sean meraih ponselnya dengan tangan kiri agar tidak membangunkan Emily. Di layarnya, puluhan notifikasi masuk dari aplikasi forum anonim SMA Harapan Bangsa, diikuti oleh sebuah panggilan video masuk dari nomor yang terdaftar atas nama: Valerie Danuarta.
Dengan mata yang seketika berubah dingin dan mematikan, Sean menggeser layar untuk mengangkat panggilan video tersebut. Ia melangkah pelan menuju balkon luar agar suaranya tidak mengganggu tidur Emily.
Layar ponsel menampilkan wajah Valerie yang sedang duduk di dalam mobil mewahnya dengan senyum kemenangan yang sangat memuakkan.
"Hai, Sean," sapa Valerie dengan suara manja yang dibuat-buat. "Lagi sibuk menenangkan cewek miskinmu itu?"
"Mau kamu apa sebenarnya, Valerie?" tanya Sean dengan suara rendah yang sarat akan amarah yang terpendam.
Valerie tertawa renyah di balik layar. "Aku cuma mau kasih tahu kamu satu hal kecil, Sean. Kamu pikir kamu bisa melindungi dia cuma modal kekayaan keluarga kamu?"
Valerie memutar kamera ponselnya, memperlihatkan sebuah berkas dokumen resmi berstempel kementerian pendidikan yang berada di pangkuannya.
"Papa aku baru menandatangani surat pencabutan izin operasional beasiswa dan rekomendasi kelulusan Emily Valencia dari SMA Harapan Bangsa atas tuduhan pelanggaran kode etik dan skandal nilai," ujar Valerie dengan nada puas yang tak tertahankan.
"Besok pagi, surat ini akan diterbitkan secara resmi di majalah mading sekolah dan dikirim ke seluruh universitas di Indonesia. Nama Emily Valencia bakal dilarang masuk ke kampus mana pun seumur hidupnya."
Buku-buku jari Sean memutih saat ia mengepalkan tangannya begitu keras hingga bergetar. "Valerie, jangan macam-macam kamu-"
"Kecuali..." potong Valerie dengan senyum licik yang makin melebar. "Kamu mau kembali ke sisiku, mengumumkan pertunangan kita minggu depan di hadapan media, dan mengusir cewek itu dari hidupmu selamanya. Pilihan ada di tanganmu, Sean. Selamat malam."
Klik.
Panggilan terputus secara sepihak.
Sean berdiri mematung di balkon yang dingin di bawah guyuran hujan malam. Di dalam ruangan hangat di belakangnya, Emily terbaring tidur dengan tenang, percaya sepenuhnya bahwa Sean adalah pelindungnya. Namun kini, Sean dihadapkan pada pilihan paling kejam dalam hidupnya, yaitu mengorbankan cintanya demi masa depan Emily, atau mempertahankan Emily namun menyaksikan masa depan gadis itu hancur berantakan.
Bersambung......