"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERKAS KEBEBASAN
Setibanya di rumah setelah mengantar Gladis, Yoga tak sanggup lagi menahan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Mobil tua itu ia parkir asal-asalan di halaman. Tanpa memedulikan Ibu Lestari dan Aini yang sibuk memberondongnya dengan berbagai pertanyaan di ruang tamu, Yoga langsung berlari masuk ke dalam kamar.
Ia merogoh saku celananya, menyambar ponsel, lalu dengan jemari gemetar memanggil nomor Isma.
Pria itu menempelkan ponsel ke telinganya dengan napas memburu, berharap mendengar nada dering yang biasa ia dengar. Namun, harapan itu runtuh seketika saat suara mesin otomatis yang dingin menyapa pendengarannya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
"Sial!" umpat Yoga panik.
Ia mematikan sambungan lalu mencoba menelpon kembali—satu kali, tiga kali, hingga puluhan kali. Hasilnya tetap sama. Isma tidak hanya mematikan ponsel utamanya, melainkan telah memblokir penuh akses komunikasi darinya. Aplikasi pesan singkat pun hanya menampilkan centang satu berwarna abu-abu.
Pundak Yoga merosot seketika. Tubuhnya terasa lemas saat ia terduduk di tepi ranjang yang kini terasa hampa tanpa keberadaan istrinya. Selama ini, Isma adalah pihak yang selalu menunggu, mengalah, dan siap menerima panggilannya kapan saja. Namun kini, wanita itu benar-benar memutus saluran kehidupan Yoga darinya.
Pikiran Yoga makin kacau. Ia tidak tahu di mana rumah baru Isma berada, ia tidak tahu di mana posisi mobil mewahnya, dan yang paling mengerikan—ia tidak punya akses sedikit pun untuk membujuk Isma agar mencabut gugatan perceraian serta bukti rekaman perselingkuhan itu.
Di tempat lain, di dalam kamar rumah barunya yang tenang dan harum, Isma sengaja mematikan ponsel utamanya dan melepas kartu SIM. Ia duduk santai di meja kerja seraya menyesap cokelat panas, memandangi layar laptop yang menampilkan draf kelanjutan novel terbarunya.
Isma membiarkan Yoga tenggelam dalam kegelapan dan kepanikan yang ia ciptakan sendiri. Pagi esok akan datang, dan jadwal sidang pertama di Pengadilan Agama sudah terkunci rapat tanpa bisa diubah lagi.
Di sisi lain, Isma yang telah menyalakan ponsel sekunder khusus pekerjaannya segera menghubungi Pak Danu. Nada suaranya terdengar sangat tenang, tanpa sedikit pun sisa beban masalah rumah tangganya.
"Selamat pagi, Pak Danu," sapa Isma ramah saat sambungan telepon terhubung. "Mengenai sertifikat, kuitansi pelunasan, dan seluruh dokumen kepemilikan atas rumah di Cluster Green Valley, apakah semuanya sudah bisa diantarkan hari ini?"
Dari balik telepon, Pak Danu menjawab dengan sangat sigap. "Selamat pagi, Bu Isma. Semua berkas asli dan salinannya sudah rapi di dalam map. Atas nama Ibu Isma sendiri, tanpa kekurangan satu dokumen pun. Pagi ini juga tim saya akan langsung mengantarkannya ke alamat rumah baru Ibu."
"Baik, Pak Danu. Terima kasih banyak atas bantuannya," balas Isma seraya mengakhiri panggilan.
Tak butuh waktu lama, sebuah mobil operasional diler dan developer tiba di halaman rumah baru Isma. Pak Danu sendiri yang turun membawa map tebal berisi seluruh legalitas aset berharga tersebut.
Isma menerima map itu di ruang tamu barunya yang sejuk. Ia memeriksa lembar demi lembar sertifikat tanah dan bangunan yang sudah resmi mencantumkan nama tunggalnya: Isma Larasati. Tidak ada nama Yoga, tidak ada hak milik bersama, dan tidak ada celah sedikit pun bagi keluarga mertuanya untuk menyentuh rumah ini saat pembagian harta gono-gini nanti.
"Selamat atas rumah barunya, Bu Isma. Semoga membawa kedamaian," ujar Pak Danu sopan sebelum pamit undur diri.
Isma tersenyum tipis seraya mengusap permukaan lembut sertifikat rumah itu. Aset terbesarnya telah aman, mobil mewahnya terparkir rapi di garasi, dan tim pengacara hukumnya sudah memegang kendali penuh atas gugatan perselingkuhan Yoga.
Sementara Yoga sibuk memutari kota mencari keberadaannya dan kebingungan menghadapi nomor ponsel yang mati, Isma telah menggenggam seluruh bukti kebebasan dan kekuatannya di tangan sendiri.