Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Para Veteran dan Kejutan di Laboratorium Terlarang
Gemuruh pertempuran di gerbang utama Akademi Grandoria semakin membara. Udara malam dipenuhi bau belerang, es yang mencair, dan percikan petir raksasa. Para profesor senior bergerak bagaikan benteng hidup yang tak tertembus.
Profesor Vane melangkah maju di tengah garis depan, setiap pijakan kakinya membekukan tanah hingga puluhan meter ke depan.
Semburan api Miasma dari monster-monster Ordo Umbra hancur berkeping-keping begitu menghantam dinding es abadi miliknya. Di atas langit, Profesor Selene dan Profesor Gareth memadukan sihir badai dan petir perak, terus menghujani Naga Hitam hingga raungan makhluk purba itu menggetarkan menara-menara akademi.
"Jangan biarkan satu pun prajurit hitam menyusup ke area belakang!" teriak Kepala Sekolah Alaric seraya mengibaskan tongkat naganya, memicu gelombang tekanan mana yang menghempaskan puluhan musuh sekaligus.
"Serahkan wanita bertopeng perak itu pada Tim Vanguard!"
Sementara itu, jauh di area belakang akademi, suasana mendadak menjadi hening mencekam.
Monica memimpin Tim Vanguard berlari menyusuri lorong batu menuju Laboratorium Terlarang—sebuah fasilitas penelitian kuno di bawah tanah yang telah dikunci selama ratusan tahun. Kuncir kuda rambut hitam Monica berayun cepat seraya jemarinya menggenggam erat tongkat safir yang berpendar emas stabil.
BRAK!
Pintu besi berlapis segel sihir di ujung lorong telah jebol. Engsel-engselnya meleleh terkena cairan asam Miasma pekat.
"Dia ada di dalam," bisik Danis seraya melebur ke dalam bayangan dinding via Shadow Walk.
Begitu mereka menyeberangi ambang pintu, pemandangan di dalam laboratorium membuat dada mereka tercekat.
Ruangan batu raksasa itu dihiasi oleh tabung-tabung kaca besar yang berisi cairan hijau menyala. Namun yang paling mengerikan, di tengah ruangan melayang sebuah kristal jantung mekanis raksasa yang berdenyut seirama dengan detak gerhana bulan merah di langit.
Di depan kristal jantung itu, wanita bertopeng perak sedang berdiri membelakangi mereka. Kain jubahnya robek di beberapa bagian, dan bekas luka bakar bersimbol kuno di wajahnya memancarkan cahaya merah yang kian menyala-nyala.
"Kalian benar-benar gigih... dan sangat merepotkan," bisik wanita itu seraya berbalik perlahan. Suaranya tidak lagi sekadar dingin, melainkan dipenuhi kegilaan yang membara.
"Permainanmu selesai!" tegas Monica seraya melangkah maju. "Celestial Sanctum!" Kubah cahaya emas murni langsung merekah di sekeliling Tim Vanguard, menetralkan hawa beracun yang menggenangi lantai laboratorium.
"Serahkan inti batu di dadamu dan matikan kristal jantung ini!"
Wanita itu tertawa melengking, suara tawa yang bergema janggal di dinding-dinding batu.
"Kalian pikir akademi ini adalah pahlawan murni?" tawa wanita itu lambat laun memelan, berubah menjadi bisikan penuh dendam. Tangannya terangkat, perlahan mencopot topeng perak yang menutup separuh wajah atasnya.
Elena menahan napas, sementara Kazuma membelalak kaget di balik kacamatanya.
Di balik topeng perak itu, terukir lambang perak khas Prajurit Elit Akademi Grandoria—lambang yang sama persis dengan yang terpatri di jubah yang dikenakan oleh Monica dan teman-temannya.
"Dua puluh tahun yang lalu, aku adalah ketua Tim Vanguard sama seperti dirimu, Monica," desis wanita itu dengan mata merah menyala yang meneteskan darah hitam. "Dan akademi yang kalian bela dengan nyawa ini... adalah tempat yang mengorbankan timku ke dalam kegelapan Lembah Kelam demi menyegel naga itu!"
Reno terperanjat, memegang perisai besinya erat-erat. "A-apa?! Jangan mengarang cerita palsu!"
"Jangan biarkan kata-katanya menggoyahkan pikiran kalian!" seru Monica memotong, meski dadanya berdesir hebat mendengar pengakuan itu. Tangannya memegang tongkat safir lebih kuat.
"Apapun masa lalumu dengan akademi, membantai ribuan orang tidak berbahaya hari ini bukan jalan kebenaran!"
"Kebenaran?" wanita itu menyeringai kejam. Tangannya menancap langsung ke dadanya sendiri, mencengkeram inti batu merah yang tertanam di dalam jantungnya. "Kebenaran hanya milik mereka yang bertahan hidup!"
CRACK! BZZZZT!
Inti batu merah di dadanya meletus hebat, menyalurkan seluruh energi gerhana dari langit langsung ke dalam kristal jantung mekanis laboratorium. Seketika, seluruh tabung kaca di ruangan itu pecah! Dinding-dinding laboratorium retak dan tanah di bawah kaki mereka berguncang dua kali lebih dahsyat daripada serangan di luar!
"Dia mengorbankan tubuhnya sendiri untuk memicu ledakan energi!" teriak Kazuma seraya menarik mantra perisai api.
"Reno, pasang benteng penuh! Elena, Danis, bantu aku mengunci pergerakannya!" perintah Monica di tengah pusaran angin merah yang mulai menggulung isi ruangan.
Di bawah naungan Gerhana Bulan Merah, pertempuran di dalam Laboratorium Terlarang meledak menjadi pusaran bentrokan sihir tingkat tinggi yang mematikan!