NovelToon NovelToon
Makeup His Heart

Makeup His Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:575
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.

​Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlindungan Dalam Perjalanan

​Maxemilian tetap bergeming di dalam kegelapan koridor yang remang-remang. Tubuh tegapnya bersandar pada pilar beton, tersembunyi sempurna oleh rimbunnya dedaunan tanaman hias. Dengan napas yang diatur sangat tenang, ia diam-diam menyaksikan seluruh interaksi menegangkan itu.

​Mata elangnya tidak lepas dari wajah Yeza. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana gadis itu menatap Jefri—bukan dengan tatapan rindu atau ragu, melainkan dengan sorot mata yang dipenuhi rasa muak dan luka lama yang mendalam.

​"Tolong, Yeza... beri aku satu kali lagi kesempatan. Aku benar-benar menyesal," pinta Jefri sekali lagi, suaranya terdengar sangat putus asa di tengah kesunyian lorong.

​Namun, Yeza tidak goyah sedikit pun. Ketakutan di wajahnya kini telah sepenuhnya digantikan oleh ketegasan yang mutlak.

​"Sudahlah, Jefri," ucap Yeza dingin, memotong kalimat pria itu tanpa ragu. "Aku tidak peduli lagi. Lagipula, semua itu juga sudah berlalu dan tidak ada gunanya dibahas."

​Yeza menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata mantan kekasihnya dengan tatapan yang seolah mengunci mati semua harapan pria itu.

​"Tolong, mulai sekarang fokus saja pada pekerjaan kita masing-masing. Jangan pernah ganggu aku lagi," tegas Yeza.

​Dengan satu sentakan kuat, Yeza berhasil melepas paksa cengkeraman tangan Jefri yang sempat melonggar karena terkejut mendengarkan ketegasannya. Tanpa menoleh lagi ke belakang, Yeza membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan sudut taman yang sunyi itu, melangkah kembali menuju kehangatan meja makan tim di dalam kafe.

​Jefri hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian Yeza dengan bahu yang merosot layu.

​Sementara itu, di balik pilar yang gelap, Max perlahan menegakkan tubuhnya. Ia memperhatikan punggung Yeza yang kian menjauh, lalu beralih menatap Jefri yang masih meratapi kebodohannya sendiri di sudut taman.

​Dari semua potongan kalimat yang baru saja ia dengar secara langsung, Max kini bisa menyatukan teka-teki yang sejak siang tadi mengganggu pikirannya. Alasan mengapa Yeza begitu gemetar saat pertama kali bertemu Jefri di ruang rias, dan mengapa gadis berbakat itu menyembunyikan masa lalunya begitu rapat.

​'Oh... perselingkuhan,' ucap Max dalam hati, sebuah kesimpulan dingin yang langsung melintas di benaknya.

​Seketika, rasa muak yang amat sangat mendadak merayapi dada Max terhadap sang fotografer. Sebagai pria yang sangat menghargai komitmen, tindakan Jefri di masa lalu membuat nilai pria itu jatuh sepenuhnya di mata Max.

​Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Max melangkah keluar dari kegelapan dengan ekspresi wajah yang datar namun memancarkan aura dingin yang siap membekukan siapa saja yang berani mendekat. Ia berniat kembali ke meja makan, memastikan bahwa mulai malam ini dan seterusnya, tidak akan ada satu orang pun yang diizinkan untuk mengusik ketenangan penata rias pribadinya lagi.

​Max kembali ke meja dengan langkah yang tenang, seolah tidak baru saja terjadi konfrontasi dingin di sudut taman. Ia menarik kursinya, duduk kembali di samping Yeza, dan tanpa bicara sepatah kata pun, ia melirik jam tangan luxury di pergelangan tangannya.

​"Sudah jam sembilan," ucap Max dengan nada yang cukup keras agar didengar oleh orang-orang di meja. "Aku harus istirahat lebih awal karena besok ada jadwal latihan fisik pagi-pagi sekali."

​Ia menoleh ke arah Yeza, tatapannya melembut secara drastis—kontras dengan rahangnya yang masih sedikit mengeras saat menatap Jefri yang baru saja kembali dari arah koridor. "Yeza, kurasa sudah waktunya kita pulang. Aku akan mengantarmu sekalian. Rumahmu searah dengan jalan yang akan aku lewati."

​Yeza, yang masih berusaha menormalkan detak jantungnya pasca insiden di taman, merasa seolah mendapat jalan keluar dari neraka. Ia tidak ingin sedetik pun lebih lama berada di ruangan yang sama dengan Jefri.

​"Eh... iya, Max. Terima kasih," jawab Yeza cepat, berusaha menyembunyikan rasa lega yang kentara.

​Tanpa menunggu staf yang lain berdebat atau menawarkan diri untuk menemani, Max sudah memanggil pelayan kafe. Dengan gerakan yang sangat berwibawa, ia menyerahkan kartu kreditnya. "Tolong selesaikan semuanya. Sisanya, silakan tim yang menikmati sampai selesai," instruksi Max kepada pelayan, memberikan kode bahwa ia sudah membayar seluruh tagihan makan malam itu, termasuk untuk staf yang masih tinggal.

​"Ayo, Yeza," ajak Max sambil berdiri.

​Yeza segera meraih tas kecilnya dan berdiri. Ia sempat melirik sekilas ke arah Jefri yang duduk dengan wajah pucat dan pandangan kosong di seberang meja. Namun, kali ini Yeza tidak lagi merasa takut atau bersalah. Ia hanya merasa kasihan pada kebodohan pria itu.

​Tanpa mengucapkan salam perpisahan yang panjang kepada staf yang lain—karena Max sudah mengambil alih kendali—mereka berdua melangkah keluar dari VIP lounge yang hangat.

​Begitu pintu kafe terbuka dan udara malam Jakarta yang dingin menyambut kulit mereka, Yeza merasakan beban berat di pundaknya terangkat. Ia berjalan di samping Max menuju mobil MPV hitam yang sudah siap di depan pintu lobi. Bram, yang seolah mengerti situasi tanpa perlu dijelaskan, sudah membukakan pintu mobil dengan sigap.

​"Terima kasih, Max," bisik Yeza saat mereka sudah duduk nyaman di dalam mobil yang mulai melaju menjauh dari kafe.

​Max hanya menoleh sebentar, matanya yang tajam menatap Yeza dengan sorot yang sulit diartikan. "Mulai sekarang, kamu tidak perlu menghadapi orang-orang seperti dia sendirian," ucapnya pelan, namun terdengar seperti sebuah janji yang mutlak.

​Di dalam mobil yang tenang, Yeza menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk. Untuk pertama kalinya hari ini, ia merasa benar-benar aman.

​Mobil MPV hitam mewah milik Max perlahan merayap di jalanan pemukiman yang mulai sepi, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan mulut gang rumah Yeza. Bram dengan sigap turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil untuk Yeza.

​Saat Yeza hendak turun, Max juga ikut membuka pintunya dan melangkah keluar dari mobil. Ia tidak ingin membiarkan penata rias pribadinya itu berjalan sendirian menyusuri gang yang temaram, meski jaraknya sudah sangat dekat.

​"Terima kasih banyak sudah mengantarku pulang, Max," ucap Yeza tulus begitu mereka berdiri di luar mobil.

​"Sama-sama. Pastikan malam ini kamu tidur dengan nyenyak," balas Max lembut.

​Baru saja Yeza hendak melangkah masuk ke dalam gang, sosok ibunya tampak berjalan keluar dari pintu rumah dengan mengenakan kerudung instan bersahaja. Rupanya, sang ibu yang cemas sejak tadi terus terjaga dan menunggu kepulangan anak gadisnya di ruang tamu. Begitu mendengar suara mesin mobil mewah berhenti di depan gang, beliau langsung bergegas keluar.

​"Eh, Yeza sudah pulang, Nduk?" tanya ibunya lembut. Pandangan wanita paruh baya itu kemudian beralih pada sosok pria tinggi tegap berwajah tampan yang berdiri di samping putrinya. "Oh... ini Nak Maxemilian, ya?"

​Max tidak menunjukkan raut canggung sedikit pun. Di luar dugaan Yeza, aktor papan atas yang biasanya tampak dingin dan menjaga jarak dengan media itu langsung melangkah maju dengan sangat sopan. Ia mengulurkan tangannya, membungkuk sedikit, dan menyalami tangan ibu Yeza dengan takzim.

​"Iya, Ibu. Saya Maxemilian," ucap Max dengan nada suara yang sangat santun dan ramah. "Maaf mengembalikan Yeza larut malam begini karena acara makan malam tim tadi baru selesai."

​Ibu Yeza tampak tersenyum sangat lebar, matanya berbinar melihat kesopanan pria yang menjadi bos baru anaknya itu. "Ah, tidak apa-apa, Nak Max. Justru Ibu yang berterima kasih karena Yeza sudah diantar pulang dengan aman. Mari masuk dulu sebentar ke rumah sederhana kami, Nak. Ibu buatkan kopi hangat, ya?"

​Yeza sempat menoleh ke arah Max dengan agak sungkan, tahu betapa padatnya jadwal pria itu dan bagaimana ia sangat menjaga privasinya.

​Max tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang diperlihatkannya di depan kamera. "Terima kasih banyak atas tawarannya yang sangat baik, Ibu. Tapi mohon maaf, malam ini saya harus segera kembali karena besok subuh sudah ada jadwal latihan fisik yang cukup padat. Mungkin di lain kesempatan saya akan mampir untuk mencicipi kopi buatan Ibu."

​"Oh, begitu ya... Ya sudah, tidak apa-apa, Nak Max. Pekerjaan memang harus diutamakan. Hati-hati di jalan, ya," ujar ibu Yeza dengan nada yang sangat pengertian.

​"Terima kasih, Ibu. Saya pamit dulu. Mari, Yeza," pamit Max. Ia memberikan anggukan sopan terakhir kepada ibu Yeza dan tatapan hangat kepada Yeza sebelum akhirnya berbalik masuk ke dalam mobilnya.

​Yeza dan ibunya berdiri berdampingan di mulut gang, melambaikan tangan saat mobil MPV hitam itu perlahan melaju pergi membelah kegelapan malam.

​"Nak Max itu... selain tampan ternyata sopan sekali ya, Nduk," puji ibunya spontan sambil menuntun Yeza masuk ke dalam gang. "Ibu jadi tenang kalau kamu bekerja dengan orang sebaik dia."

​Yeza hanya tersenyum simpul, menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa hangat. Di dalam hatinya, rasa kagum dan hormatnya kepada Maxemilian kini telah tumbuh jauh lebih dalam dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!