Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Backfire at the Imperial Court
Sinar matahari pagi menyinari keagungan Aula Rapat Utama Kekaisaran Tianming yang megah. Pilar-pilar naga berlapis emas murni berdiri jangkung, menyangga langit-langit berukir indah yang memancarkan kemewahan tak tertandingi. Puluhan pejabat tinggi kekaisaran, jenderal militer berzirah perak, dan tetua sekte terkemuka telah berbaris rapi di sepanjang jalan setapak batu giok putih. Di atas Singgasana Naga, Kaisar Tianming duduk dengan wajah agung, memancarkan tekanan aura ranah tinggi yang membuat seluruh aula terselimuti suasana penuh khidmat.
Pangeran Ke-3, Lu Cangqiong, berdiri paling depan di barisan para pangeran dengan dada terbusung bangga. Jubah naga keemasannya berkilau diterpa cahaya pagi, mencerminkan rasa percaya diri yang membumbung tinggi. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu cendana berukir indah yang memancarkan riak energi spiritual kuno. Hari ini adalah hari keberhasilannya. Lu Cangqiong telah menyiapkan segala sesuatunya untuk mencuri perhatian sang ayahanda, membuktikan bahwa dibanding dengan Putra Mahkota Long Wuji maupun pangeran-pangeran lainnya, dialah kandidat paling berbakat yang pantas memimpin kekaisaran di masa depan.
"Ayahanda Kaisar yang Agung," ucap Lu Cangqiong dengan suara lantang yang bergema di seluruh sudut aula, membungkuk penuh hormat dengan gerakan yang dirancang sempurna. "Hamba, Lu Cangqiong, dengan bangga mempersembahkan Pusaka Kotak Giok Bersegel Kaisar yang berhasil hamba dapatkan dari lelang rahasia. Pusaka ini berisi racikan pil pemurni jiwa yang dapat memperpanjang usia kultivasi. Semoga kesehatan dan keagungan Ayahanda senantiasa menaungi Kekaisaran Tianming!"
Para pejabat di barisan belakang mulai berbisik-bisik kagum. Beberapa menteri yang memihak faksi Pangeran Ke-3 menyunggingkan senyum puas, siap melontarkan pujian puitis untuk memperkuat posisi Lu Cangqiong. Bahkan Putra Mahkota Long Wuji yang berdiri di sisi kiri singgasana hanya bisa menyipitkan matanya rapat-rapat, mengepalkan tangan di balik jubahnya seraya menahan rasa jengkel yang mendalam.
Kaisar Tianming mengangguk perlahan, raut wajahnya yang tegas menunjukkan sedikit kepuasan. "Bagus sekali, Cangqiong. Kau selalu menunjukkan pengabdian yang luar biasa kepada—"
Brak!
Sebelum Kaisar sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu gerbang utama Aula Rapat Kekaisaran yang terbuat dari kayu perunggu berat mendadak terdorong membuka secara kasar. Dentuman keras itu menghentak seluruh isi ruangan, memotong pidato agung sang pangeran dan menghentikan detik-detik kemenangannya secara instan. Seluruh pejabat, jenderal, dan keluarga kerajaan tersentak kaget, menoleh secara serempak ke arah pintu masuk dengan raut wajah penuh keterkejutan dan kemarahan atas pelanggaran etiket istana yang begitu brutal.
Di ambang pintu, berdirilah sesosok pria berparas luar biasa tampan dengan jubah sutra merah yang acak-acakan dan sedikit bernoda debu. Leng Yan, sang pemilik rumah bordil paling terkenal di benua, berdiri dengan napas terengah-engah yang sengaja dibuat-buat. Matanya membara dipenuhi drama kepedihan, sementara kipas emasnya tergenggam erat di dadanya. Tanpa memedulikan tatapan terpana dari puluhan pejabat, Leng Yan melemparkan tubuhnya ke depan, berlutut secara dramatis di atas lantai batu giok putih seraya melontarkan tangisan histeris yang menggelegar sampai ke langit-langit aula.
"Keadilan! Yang Mulia Kaisar yang Maha Pengasih, hamba memohon keadilan yang seadil-adilnya!" teriak Leng Yan dengan intonasi penuh ratapan puitis, mengusap air mata yang sama sekali tidak ada di pipinya. "Langit dan bumi menyaksikan kejahatan tak berperikemanusiaan ini! Seseorang telah mencoba membantai Pangeran Ke-14 yang polos, lemah, dan tak berdosa!"
Keheningan yang mencekam langsung melingkupi seluruh aula. Lu Cangqiong membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar seraya memandangi Leng Yan dengan tatapan tidak percaya. Firasat buruk yang sangat tajam mendadak menusuk dadanya hingga napasnya terasa tertahan.
Belum sempat penjaga istana bertindak untuk mengusir pria flamboyan tersebut, Feng Wuchen dan Gu Juechen melangkah masuk ke dalam aula seraya menarik sebuah kereta dorong kayu berukuran besar. Di atas kereta tersebut, terikat erat dua belas pria berkerudung hitam yang terkulai lemas tanpa kesadaran. Masing-masing dari mereka masih mengenakan jirah tempur kelam dengan lambang khusus yang mengidentifikasikan mereka sebagai pembunuh bayaran tingkat tinggi dari Sekte Pembunuh Bayangan Bintang.
Di belakang kereta dorong tersebut, Mu Xuanyuan melangkah masuk dengan gaya berjalan yang sepenuhnya tidak beraturan. Pangeran Ke-14 itu mengenakan jubah biru yang agak kebesaran dengan bagian lengan yang tergulung sebelah. Wajahnya yang sangat tampan dipenuhi noda hitam bekas jelaga, sementara jemarinya masih memegang sepotong ubi manis yang sudah digigit separuh. Xuanyuan memandangi pilar-pilar emas di aula dengan mata bulat yang polos, memasang senyum konyol seraya tertawa cempreng tanpa merasa canggung sedikit pun di hadapan sang raja dan para menteri.
"Wah! Rumah Ayahanda ramai sekali!" seru Xuanyuan gembira, bertepuk tangan konyol seraya melompat-lompat kecil di samping kereta dorong. "Banyak paman berbaju bagus! Lihat, Ayahanda, aku membawa patung-patung hitam yang tadi malam melompati pagarku! Mereka sangat lucu, tapi tiba-tiba tertidur karena kelelahan bermain!"
Lu Cangqiong merasa seluruh darah di dalam tubuhnya mendadak berdesir dingin hingga ke ujung kaki. Dua belas pria berkerudung hitam itu adalah regu pembunuh elit yang baru saja ia perintahkan kemarin malam untuk menghabisi Xuanyuan secara diam-diam! Bagaimana mungkin seluruh pembunuh bayaran ranah Soul Transformation ini bisa tertangkap utuh tanpa ada satu pun luka luar, lalu diseret langsung ke hadapan majelis kekaisaran seperti tumpukan sampah?
Kaisar Tianming menyipitkan matanya, auranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan menakutkan. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Leng Yan, jelaskan dirimu!"
Leng Yan langsung menyatukan kedua tangannya di atas kepala, mengangguk-angguk penuh semangat seraya melanjutkan drama gila yang telah disiapkannya. "Ampunkan hamba, Yang Mulia! Tadi malam, hamba yang rendah ini kebetulan sedang melintas di dekat kediaman Pangeran Ke-14 untuk mengantarkan obat-obatan herbal dan kue manis. Tiba-tiba, dua belas iblis berdarah dingin ini menyeruak masuk dari udara malam! Mereka membawa Formasi Pemutus Qi Jiwa yang sangat kejam, berniat menghancurkan jiwa Pangeran Ke-14 yang begitu suci dan tidak bisa bertarung ini!"
Para pejabat di dalam aula seketika gempar. Berita mengenai percobaan pembunuhan terhadap seorang pangeran di dalam ibu kota kekaisaran adalah sebuah skandal besar yang mencoreng muka istana.
"Beruntung sekali!" lanjut Leng Yan dengan nada suara bertambah nyaring dan penuh emosi, menunjuk ke arah Feng Wuchen dan Gu Juechen. "Dua pengawal setia Pangeran Ke-14 bertarung dengan mempertaruhkan nyawa mereka! Dipadukan dengan bantuan hamba yang sedikit menguasai seni bela diri dan keberuntungan dari langit, kami berhasil melumpuhkan para penjahat ini! Namun, Yang Mulia... saat hamba memeriksa barang bawaan para pembunuh ini, hamba menemukan hal yang sangat mengejutkan dan mengerikan!"
Gu Juechen yang berdiri tenang di samping kereta dorong segera melangkah maju. Dari balik jubah salah satu pembunuh bayaran yang pingsan, Gu Juechen menarik keluar sebuah medali besi hitam berukirkan lambang burung phoenix darah dan melemparkannya ke atas lantai giok putih. Medali itu bergulir pelan, berhenti tepat di depan kaki Lu Cangqiong.
"Medali Perintah Komando Pangeran Ke-3!" teriak salah seorang menteri senior di barisan depan tanpa sadar.
Wajah Lu Cangqiong seketika pucat pasi bagaikan mayat. Seluruh pandangan mata di dalam aula—termasuk tatapan dingin dan menusuk dari Kaisar Tianming serta senyum licik dari Putra Mahkota Long Wuji—langsung tertuju lurus ke arahnya. Lu Cangqiong berlutut secara mendadak dengan tubuh gemetaran, menjatuhkan kotak pusaka yang tadinya ia pegang erat-erat hingga terhempas berantakan di lantai.
"Ayahanda! Ini fitnah! Ini adalah jebakan yang dirancang untuk menjatuhkan hamba!" jerit Lu Cangqiong histeris, peluh dingin membanjiri dahi dan pelipisnya. "Hamba tidak pernah memerintahkan pembunuhan ini! Bagaimana mungkin hamba menargetkan adik kandung hamba sendiri yang... yang tidak berdaya seperti dia?!"
Sembari Lu Cangqiong memohon-mohon histeris di tanah, Mu Xuanyuan justru berjalan santai menghampiri kotak pusaka milik Pangeran Ke-3 yang terjatuh. Ia mengambil pil pemurni jiwa yang terlempar keluar, mencium aromanya sejenak dengan raut wajah jijik, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri seraya mengunyahnya secara konyol seperti memakan permen murah.
"Mmph! Manis sekali! Terima kasih, Kakak Ke-3!" celetuk Xuanyuan dengan cengiran lebar dan pipi yang mengembung, menyapu mulutnya dengan lengan baju yang kotor. "Kakak Ke-3 memang sangat baik! Kemarin memberi patung hitam, sekarang memberi permen obat!"
Tindakan konyol Xuanyuan yang memakan pil pusaka bernilai jutaan kristal spiritual seolah-olah itu adalah makanan ringan biasa makin memperjelas kontras di antara keduanya di mata semua orang. Di satu sisi adalah Pangeran Ke-14 yang polos, tidak tahu apa-apa, dan sangat menyedihkan; di sisi lain adalah Pangeran Ke-3 yang arogan, kejam, dan tega mengirimkan tim pembunuh bayaran untuk menghabisi saudaranya yang tidak memiliki kemampuan bertarung.
Kaisar Tianming menghembuskan napas berat yang sarat dengan kekecewaan dan kemarahan yang tertahan. Auranya yang menekan membuat seluruh aula terasa dingin menakutkan. "Lu Cangqiong! Kau telah mencoreng nama baik keluarga kerajaan! Pengawal! Cabut seluruh hak komando militer Pangeran Ke-3 dan tempatkan dia di bawah tahanan rumah di kediamannya sampai penyelidikan ini selesai!"
"Ayahanda! Ampuni hamba! Ini fitnah!" jerit Lu Cangqiong saat dua jenderal bersenjata lengkap memegangi kedua tangannya dan menyeretnya keluar dari aula secara paksa. Saat diseret melewati Xuanyuan, Lu Cangqiong menoleh dan mendapati sang Pangeran Ke-14 sedang menatapnya dari balik punggung Leng Yan. Selama pecahan detik yang sangat singkat, mata polos Xuanyuan berkilat memancarkan kedalaman aura Immortal Emperor yang begitu dingin dan acuh tak acuh, sebelum kembali berubah menjadi senyuman anak kecil yang bodoh.
Lu Cangqiong tersentak hebat, menyadari bahwa rencana besarnya telah hancur berkeping-keping di tangan saudaranya sendiri yang paling ia remehkan. Di tengah riuh rendah kegemparan aula dan tangisan histeris Leng Yan yang masih berlanjut secara dramatis, Mu Xuanyuan kembali mengunyah sisa ubi manisnya dengan santai. Sebuah kemenangan rahasia telah diraih tanpa perlu menyentuh pedang, menegaskan kembali dominasi sang Kaisar Abadi di balik topeng kegilaannya.