NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 29: Pentas

Tiket pertunjukan Hujan Terakhir habis sebelum pintu teater dibuka.

Di luar gedung, antrean memanjang sampai taman fakultas. Mahasiswa membawa poster kecil, memakai jas hujan biru sebagai kostum, dan meneriakkan tagar yang selama tiga hari memenuhi media sosial. Di dalam, Kirana berdiri di belakang tirai dengan tangan sedingin es.

“Tarik napas empat hitungan,” kata Winda.

Kirana mencoba. Udara hanya berhenti di dadanya.

Ia sudah berlatih setiap adegan puluhan kali. Ia hafal posisi lampu, perubahan musik, bahkan bunyi roda properti saat latar dipindahkan. Namun suara penonton di balik tirai terdengar seperti ombak yang siap menelannya.

Bima mengecek headset. “Lima menit.”

Cindy sibuk dengan kostum. Fajar melakukan pemanasan suara di sudut. Semua orang punya tugas, sedangkan Kirana merasa kakinya lupa cara berdiri.

Arya muncul dari sisi panggung dalam mantel Nara. Ia tidak bertanya apakah Kirana baik-baik saja. Jawabannya terlihat jelas.

“Tangan,” katanya.

Kirana menyerahkan kedua tangannya. Arya menggenggamnya, mengusap buku-buku jarinya sampai aliran hangat perlahan kembali.

“Penontonnya terlalu banyak.”

“Jangan lihat mereka.”

“Lalu aku lihat apa?”

Arya menunduk. Di bawah cahaya biru, suaranya nyaris tenggelam oleh musik pembuka. “Lihat saya. Seperti waktu latihan. Kalau kamu tersesat, saya yang membawamu kembali.”

“Kalau Mas juga lupa?”

“Saya tidak akan lupa selama kamu ada di depan saya.”

Winda datang membawa permen jahe dan memaksa Kirana mengunyah setengah. Bima kemudian mengumpulkan seluruh pemain dalam lingkaran kecil. Ia tidak memberi pidato panjang. Ia hanya mengingatkan bahwa kesalahan bukan akhir adegan, pasangan main harus saling menangkap, dan kata `jeda` tetap berlaku meski auditorium penuh.

“Kita tidak mengejar kesempurnaan,” katanya. “Kita bercerita. Dengarkan satu sama lain.”

Para pemain menumpuk tangan. Cindy, yang sepanjang pekan lebih sibuk membaca komentar, kali ini ikut berjanji menjaga kostum dan pergantian adegan. Fajar berdiri di seberang Kirana. Ia memberi senyum penyemangat tanpa menuntut apa pun.

Dari balik tirai, suara pembawa acara mengumumkan judul pertunjukan. Sorakan penonton membuat lantai panggung terasa bergetar.

Kirana menutup mata sebentar. Ia mengingat semua orang yang bekerja sebelum poster menjadi viral: kru yang mengecat latar sampai dini hari, tim lampu yang mengulang cue, Winda yang menulis ulang jadwal, serta Bima yang menjaga batas setiap sentuhan. Ia tidak boleh membiarkan omongan internet mengambil malam milik mereka.

Ketika membuka mata, Arya masih di hadapannya.

Panggilan posisi terdengar. Arya melepaskan satu tangannya, tetapi mempertahankan yang lain sampai detik Kirana harus masuk.

Tirai terbuka.

Adegan pertama berjalan sempurna. Kirana menjadi Aluna, perempuan yang pulang ke kota hujan setelah delapan tahun. Ia menemukan surat lama di halte, bertemu Raka yang menawarkan hidup tenang, lalu melihat Nara berdiri di seberang jalan.

Saat Arya memasuki cahaya, teater mendadak sunyi.

Tatapan mereka membawa seluruh sejarah yang tidak tertulis dalam naskah. Penonton yang datang karena poster berhenti berbisik. Arya mengucapkan dialog pertamanya dengan suara rendah.

“Kamu tetap pulang, meski kota ini tidak pernah meminta maaf.”

“Aku pulang bukan untuk kota ini,” jawab Kirana.

Adegan berganti cepat. Hujan buatan turun, musik gesek mengisi ruang, dan Kirana lupa bahwa ratusan orang sedang melihat. Ia hanya mengikuti Arya dari satu emosi ke emosi berikutnya.

Masalah datang pada babak kedua.

Aluna harus membaca surat terakhir Nara. Tepat sebelum kalimat utama, suara benda jatuh terdengar dari belakang auditorium. Konsentrasi Kirana pecah. Ia menatap lembar kosong di tangannya dan tidak menemukan satu kata pun.

Dua detik berlalu.

Tiga detik.

Keheningan menjadi berat. Dari sisi panggung, Bima tidak bisa memberi bantuan tanpa merusak adegan.

Arya bergerak mendekat, meski dalam blocking ia seharusnya tetap di bawah lampu lain. Ia mengambil surat dari tangan Kirana, melipatnya, lalu menggenggam jemarinya.

“Kalau kata-kata di kertas membuatmu takut,” ucapnya sebagai Nara, “jangan baca kertasnya. Lihat aku dan katakan apa yang selama ini kamu simpan.”

Kalimat itu tidak ada dalam naskah.

Kirana mengangkat wajah. Mata Arya tidak menyuruhnya mengingat dialog. Mata itu mengatakan hal yang sama seperti di balik tirai: saya ada di sini.

Napasnya kembali.

“Aku marah karena kamu pergi,” katanya. Ia tidak mengulang teks asli, tetapi mengikuti arah improvisasi. “Aku lebih marah karena setelah bertahun-tahun, satu tatapanmu masih bisa membuatku ingin tinggal.”

Arya menjawab, “Kalau begitu jangan pergi untuk kedua kalinya.”

Kirana meremas tangannya. Dari improvisasi itu, mereka menemukan jalan kembali ke naskah. Adegan selesai tanpa penonton menyadari bahwa ia sempat kehilangan kata.

Di sisi panggung, Winda menangis sambil tetap memberi aba-aba lampu. Bima mengangkat ibu jari.

Babak terakhir dimulai dengan Raka mengembalikan cincin Aluna. Fajar bermain tanpa cela. Kesedihan di wajahnya terasa lebih nyata daripada saat latihan.

“Aku bisa menjanjikan rumah,” katanya sebagai Raka, “tetapi aku tidak bisa tinggal di hati yang masih menunggu orang lain.”

Aluna menerima cincin itu. “Maaf.”

“Jangan minta maaf karena akhirnya jujur.”

Ketika Fajar meninggalkan panggung, lampu menyempit pada Kirana dan Arya. Hujan turun lagi. Ini adegan yang ada di poster, adegan yang membuat tiket terjual dan gosip berkembang.

Namun saat Arya mendekat, Kirana tidak memikirkan tagar.

Nara berkata, “Saya kembali terlambat.”

Aluna menjawab, “Tapi aku masih di sini.”

Arya mengangkat tangan, berhenti sejengkal dari pipinya. Gerakan itu adalah tanda persetujuan yang mereka sepakati saat latihan. Kirana menempelkan pipi ke telapak tangannya.

Arya pun menciumnya.

Ciuman itu tidak tergesa. Di tengah dingin air dan sorot lampu, bibir mereka bertemu dengan kepastian yang meniadakan panggung. Tangan Arya menahan pinggangnya; Kirana mencengkeram mantel pria itu. Tidak ada lagi kecelakaan, tidak ada alasan blocking. Mereka tetap dalam batas koreografi, tetapi perasaan di baliknya sepenuhnya milik mereka.

Seluruh teater menahan napas.

Saat mereka berpisah, dahi Arya masih menyentuh dahinya. Kirana melihat Nara dan Arya sekaligus, masa lalu tokohnya dan laki-laki yang menunggunya di dunia nyata.

Lampu padam.

Tepuk tangan meledak sebelum musik penutup selesai. Penonton berdiri, memanggil nama para pemeran. Kirana terengah di kegelapan, lalu tertawa ketika Arya menemukan tangannya lagi.

“Saya bilang apa?” bisiknya.

“Lihat Mas.”

“Dan kamu tidak tersesat.”

Mereka keluar untuk memberi hormat. Bunga dilempar ke panggung. Winda dan Bima ikut naik bersama kru, menerima sorakan. Di barisan depan, Pak Yudi bertepuk tangan dengan wajah yang menunjukkan ia tidak akan berhenti menggoda Arya selama satu semester.

Begitu tirai menutup, suasana belakang panggung berubah menjadi kekacauan bahagia. Kru berpelukan, Cindy membacakan jumlah unggahan, dan Bima memerintahkan semua orang berhenti melihat ponsel selama lima menit.

Kirana baru sempat mengganti sepatu ketika Fajar menunggunya di lorong. Ia masih mengenakan kostum Raka, membawa setangkai bunga yang terlepas dari buket penonton.

Arya berdiri beberapa langkah di belakang Kirana. Ia tidak maju, tidak menyela.

“Pesanku kemarin,” kata Fajar. “Aku mau menyelesaikannya sekarang.”

Kirana mengangguk.

Fajar melihat ke arah panggung, lalu kembali kepadanya. “Aku suka kamu. Bukan karena peran ini dan bukan baru kemarin. Aku sempat berpikir kalau aku bertahan cukup lama, kamu akan melihatku.”

“Fajar...”

“Biar aku selesai.” Ia tersenyum tipis. “Malam ini aku akhirnya paham. Bahkan ketika kamu lupa dialog, matamu mencari dia. Ketika kamu takut, kamu tenang karena dia. Dan ketika kamu menciumnya, tidak ada ruang untuk orang lain.”

Kirana menelan rasa bersalah. “Kamu orang baik. Aku tidak pernah ingin membuatmu menunggu sesuatu yang tidak bisa kuberi.”

“Aku tahu.” Fajar memutar tangkai bunga di jarinya. “Kamu tidak pernah menjanjikan apa pun. Aku yang memilih berharap.”

Ia menoleh pada Arya. “Jaga dia. Bukan sebagai dosen. Sebagai laki-laki yang dipilihnya.”

Arya menjawab tenang, “Saya akan menjaganya. Tapi keputusan memilih tetap milik Kirana.”

Fajar tampak terkejut, lalu mengangguk. Ia memberikan bunga itu kepada Kirana bukan sebagai rayuan, melainkan salam perpisahan untuk kemungkinan yang tak pernah menjadi nyata.

“Selamat untuk Aluna,” katanya. “Dan semoga Kirana lebih berani daripada tokohnya.”

Setelah ia pergi, lorong menjadi sunyi. Arya tidak langsung menyentuh Kirana.

“Kamu ingin mengejarnya?” tanyanya.

“Untuk apa?”

“Memastikan dia baik-baik saja.”

“Dia butuh ruang.” Kirana memandang bunga di tangannya. “Dan aku tidak mau membuat harapan baru.”

Arya mendekat satu langkah. “Dia bilang kamu memilih saya.”

“Mas dengar sendiri.”

“Saya ingin dengar darimu.”

Jantung Kirana kembali berlari, padahal pementasan telah usai. Semua ketakutan yang menahannya masih ada: usia, status dosen dan mahasiswa, omongan, serta dunia Arya yang belum ia pahami. Namun malam ini Arya telah membawanya kembali ketika ia tersesat. Pria itu berdiri di belakangnya saat Fajar bicara, tidak merebut suaranya, tidak menjadikan perlindungan sebagai kepemilikan.

Kirana menyelipkan bunga ke meja properti. “Nanti.”

“Kapan?”

“Mas tidak sabar?”

“Untuk urusanmu, tidak.”

Winda berteriak dari ruang rias bahwa rombongan akan berangkat ke afterparty. Kirana berjalan mendahului Arya, lalu berhenti di ujung lorong.

Ia menoleh dan mengulurkan tangan.

Arya menatapnya sesaat sebelum menyambut.

Kirana belum mengucapkan jawaban yang diminta pria itu. Namun ketika jemari mereka bertaut dan ia tidak lagi peduli siapa yang mungkin melihat, benteng terakhir di dalam hatinya runtuh hampir seluruhnya.

Malam itu, ia akhirnya berhenti mencari alasan untuk lari dari perasaannya sendiri lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!