Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pesta Dansa Amal
Malam itu, aula megah Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta disulap menjadi samudra kemewahan.
Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan kilau cahaya keemasan, memanjakan mata ratusan tamu undangan yang terdiri dari para pejabat tinggi, pengusaha mancanegara, dan jajaran elit papan atas.
Pesta Dansa Amal Tahunan yang digelar oleh Adhitama Group adalah acara paling bergengsi tahun ini, di mana setiap koneksi dan transaksi bisnis bernilai triliunan rupiah dipertaruhkan di balik senyuman ramah.
Siska berdiri kaku di balik pilar marmer yang menjulang tinggi, mengenakan seragam hitam-putih khusus staf asisten yang sangat sederhana. Berbeda dengan para wanita elit yang mengenakan gaun malam rancangan desainer ternama, keberadaan Siska di sana murni untuk melayani.
Jemari tangannya yang masih terbalut perban tipis mencengkeram erat nampan perak berisi gelas-gelas champagne. Rasa malu yang membakar dada dan kelelahan fisik membuat kakinya yang beralas sepatu datar terasa begitu pegal dan lemas.
Tiba-tiba, riuh rendah suara percakapan di aula besar itu perlahan terhenti. Seluruh mata tamu teruju pada pintu masuk utama.
Rendy Adhitama melangkah masuk dengan pesona yang tak terbantahkan. Ia tampak begitu gagah dan berwibawa dalam balutan tuxedo hitam buatan Italia. Di sampingnya, menggandeng lengan Rendy dengan penuh keanggunan dan dominasi, adalah Clara Vaneisha.
Clara tampil luar biasa memukau dengan gaun malam gaun malam sutra merah darah berkilauan yang memeluk sempurna tubuh jenjangnya. Perhiasan berlian murni memantulkan cahaya indah di lehernya, mempertegas statusnya sebagai putri tunggal konsorsium raksasa Vaneisha Global Group.
Pasangan itu melangkah bak raja dan ratu yang menguasai malam. Setiap pengusaha senior membungkuk hormat saat Rendy dan Clara berjalan melewatinya.
"Mereka berdua benar-benar pasangan yang serasi dari surga," bisik seorang wanita pengusaha di dekat Siska tanpa menyadari siapa yang berdiri di sampingnya. "Adhitama dan Vaneisha... jika mereka menikah, kekuasaan bisnis mereka tak akan bisa ditandingi oleh siapa pun di Asia."
Kata-kata itu merasuk seperti sembilu yang menusuk tepat di dada Siska. Air mata kepahitan menggenang di pelupuk matanya. Dulu, ia menyia-nyiakan Rendy, menginjak-injak pria itu saat ia berada di titik terendah. Kini, pria yang pernah memberikan seluruh hatinya secara tulus itu berdiri di puncak dunia, bersanding dengan wanita yang sempurna dalam segala hal.
Musik alunan biola mengalun lembut, menandai dimulainya acara puncak: dansa pembuka. Rendy membungkuk pelan dengan sopan, mengulurkan tangannya pada Clara. Dengan senyuman anggun yang memikat, Clara menerima uluran tangan itu.
Mereka mulai berdansa di tengah lantai dansa utama. Gerakan Rendy yang mantap dipadukan dengan kelembutan Clara yang gemulai menciptakan pemandangan yang begitu indah dan harmonis. Seluruh tamu bertepuk tangan terpesona menyaksikan keharmonisan mereka berdua.
Saat tarian mencapai puncaknya, Rendy memutar tubuh Clara dengan perlahan. Tanpa sengaja, pandangan mata Rendy berpapasan sebentar dengan Siska yang berdiri terasing di sudut ruangan yang remang-remang. Tatapan Rendy tetap tenang, dingin, dan berjarak, seolah Siska hanyalah bagian dari bayang-bayang malam yang tak berarti.
Tepat saat musik dansa berakhir dan tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, Clara memajukan tubuhnya, mengecup pipi Rendy secara lembut namun penuh penegasan di hadapan ratusan kamera wartawan dan tamu undangan.
"Untuk kerja sama kita... dan masa depan kita, Rendy," bisik Clara merdu yang disambut senyuman tipis oleh Rendy.
Siska tak sanggup lagi menahan kepedihan yang meluap. Dengan napas tersengal dan mata yang bersimbah air mata, ia menundukkan kepala dalam-dalam, berbalik arah, dan berlari meninggalkan aula megah itu menuju lorong sepi di luar ballroom.
Di sana, di antara kegelapan malam,
Siska jatuh terduduk meratapi kenyataan pahit bahwa penyesalannya kini telah sepenuhnya terlambat.