NovelToon NovelToon
Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Prok. Prok. Prok.

Suara tepuk tangan tunggal dan bertempo lambat tiba-tiba memecah keheningan yang canggung di dalam ballroom.

Broto Sanjaya melangkah maju melewati pecahan keramik palsu milik Michael Kusuma.

Pria tua penguasa Sanjaya Corp itu berusaha keras menyembunyikan wajah malunya di balik senyum palsu yang sangat dipaksakan.

"Pertunjukan yang sangat luar biasa, Tuan Rizal."

Broto berhenti tepat dua meter di hadapan Rizal dan merentangkan kedua tangannya.

"Saya harus mengakui bahwa mata Anda sangat tajam dalam menilai sebuah barang rongsokan."

"Hanya kebetulan saja mata saya belum rabun oleh usia, Tuan Broto."

Rizal membalas sapaan itu dengan nada tenang yang sangat menusuk.

Broto menggertakkan giginya perlahan mendengar sindiran tentang usianya tersebut.

Namun sebagai rubah tua yang licik, Broto dengan cepat menguasai kembali emosinya.

"Sebagai ketua panitia, saya ucapkan selamat datang di Malam Emas."

Broto membalikkan badannya dan menghadap ke arah ratusan tamu undangan elit yang mulai merapatkan barisan.

"Seperti yang kita semua tahu, Malam Emas bukanlah sekadar ajang kumpul-kumpul biasa."

"Acara puncak kita malam ini adalah lelang dan donasi amal untuk membantu pembangunan infrastruktur di daerah tertinggal."

Broto menoleh kembali ke arah Rizal dengan tatapan penuh tantangan.

"Keluarga Sanjaya tahun ini menyumbangkan uang tunai sebesar seratus miliar rupiah."

Huuu.

Suara kagum kembali bergema di dalam ruangan itu.

Seratus miliar adalah angka yang fantastis hanya untuk sebuah sumbangan amal dalam satu malam.

Dion Sanjaya yang berdiri di belakang ayahnya langsung membusungkan dadanya dengan sangat sombong.

"Itulah kelas dari Keluarga Sanjaya yang sebenarnya."

Dion menunjuk Rizal dengan dagunya yang terangkat tinggi.

"Lalu bagaimana denganmu, sang penguasa baru Wijaya Group?"

"Apakah gembel yang baru naik kelas sepertimu punya hati untuk menyumbang?"

Clara yang berdiri di belakang Rizal langsung maju satu langkah untuk membela bosnya.

"Wijaya Group selalu rutin menyumbangkan lima puluh miliar setiap tahunnya, Dion."

"Oh, itu kan sumbangan dari perusahaan kakekmu, Clara."

Broto menyela ucapan Clara dengan senyum sinis yang memuakkan.

"Yang kami tanyakan adalah sumbangan pribadi dari Tuan Rizal sebagai tamu kehormatan kita malam ini."

Broto melangkah maju dan menatap Rizal dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

"Atau jangan-jangan, pemuda ini sebenarnya tidak punya uang tunai sama sekali?"

"Mungkin dia hanya menggunakan uang perusahaan untuk bergaya di depan kita semua."

Broto menaikkan volume suaranya agar seluruh ruangan bisa mendengar tuduhannya dengan jelas.

"Aku berani bertaruh, isi dompetnya saat ini kosong melompong dan dia datang ke sini hanya untuk makan malam gratis!"

"Bahkan mobil Rolls-Royce yang dia pakai di depan sana pasti cuma mobil sewaan murahan!"

Ting!

[Mendeteksi rentetan omong kosong dan tantangan yang merendahkan kekayaan finansial Anda.]

[Kebohongan: Anda tidak punya uang tunai, datang untuk makan gratis, dan mobil Anda adalah mobil sewaan murahan.]

[Memproses manipulasi realitas...]

[Manipulasi berhasil. Kepemilikan mobil Rolls-Royce Phantom telah dialihkan sepenuhnya menjadi atas nama Anda.]

[Sistem juga telah melipatgandakan saldo tunai di rekening Anda sebagai kompensasi atas tuduhan miskin.]

Rizal merasakan getaran halus dari ponsel di dalam sakunya.

Itu pasti notifikasi dari bank Swiss miliknya yang mencatat masuknya dana segar bernilai triliunan rupiah.

Namun Rizal tidak perlu memamerkan saldo rekeningnya malam ini.

Dia punya cara yang jauh lebih elegan untuk menampar wajah keriput Broto Sanjaya.

"Makan malam gratis ya? Sayang sekali selera makan saya langsung hilang melihat wajah Anda, Tuan Broto."

Rizal menjawab dengan santai sambil mengambil ponselnya.

Dia menekan satu tombol panggilan cepat ke nomor supir pribadinya yang sedang menunggu di lobi.

"Pak Supir, tolong ambilkan kotak kayu yang ada di dalam laci dasbor mobil dan bawa ke ballroom sekarang."

Rizal mematikan panggilannya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

"Kotak kayu? Apa kau mau menyumbangkan kotak cerutu bekas?"

Dion tertawa terbahak-bahak diikuti oleh beberapa tuan muda lain yang menjadi anteknya.

"Atau mungkin dia mau menyumbangkan batu hitam dari gunungnya itu Ayah?"

Broto ikut tertawa kecil meremehkan pesanan Rizal yang terdengar sangat tidak meyakinkan.

Hanya butuh waktu tiga menit hingga pintu utama ballroom kembali terbuka.

Supir pribadi Rizal yang berseragam rapi berjalan masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah kotak kayu mahoni berukir naga.

"Ini barang yang Anda minta, Tuan Rizal."

Supir itu menyerahkan kotak tersebut dengan sangat hormat dan mundur beberapa langkah.

Rizal menerima kotak itu dan membelainya perlahan dengan senyum tipis.

"Karena Tuan Broto tadi sangat membanggakan sumbangan seratus miliarnya."

Rizal menatap mata Broto dengan pandangan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam dan mengintimidasi.

"Maka saya merasa harus memberikan sesuatu yang lebih pantas untuk acara yang sangat mewah ini."

Klek.

Rizal membuka pengait emas di kotak mahoni tersebut.

Dia mengeluarkan sebuah cawan porselen berwarna biru putih yang memancarkan aura kuno yang sangat kuat.

Desainnya sekilas mirip dengan mangkuk palsu milik Michael tadi, namun kualitasnya seribu kali lipat lebih nyata.

Kilauan glasir kobalt biru safirnya terlihat mengendap dalam dan menyatu sempurna dengan pori-pori porselen.

"A-apa itu?!"

Beberapa kolektor barang antik tua yang berada di barisan depan langsung tersentak kaget.

Mereka bahkan tanpa sadar menjatuhkan gelas minuman mereka ke lantai.

"I-itu... itu tidak mungkin!"

Seorang kakek tua yang merupakan kurator museum nasional berlari kecil mendekati Rizal dengan tangan gemetar.

"Tuan Rizal, b-bolehkah saya melihat bagian dasar cawan itu?"

Rizal tersenyum ramah dan membalikkan cawan itu dengan sangat hati-hati.

Di bagian dasarnya, terpampang sebuah stempel kekaisaran berwarna merah darah yang sangat otentik.

Guratan tintanya menunjukkan tanda-tanda penuaan alami yang mustahil dipalsukan oleh teknologi modern mana pun.

Kakek kurator itu langsung berlutut di lantai dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang keriput.

"Ya Tuhan... mataku tidak buta... ini adalah Cawan Naga Langit yang asli!"

Kakek itu berteriak histeris dengan suara bergetar dipenuhi keharuan yang luar biasa.

"Ini adalah mahakarya Kaisar Yongle dari Dinasti Ming yang hilang selama berabad-abad!"

Duarr.

Pernyataan dari kurator museum nasional itu bagaikan bom nuklir yang meledak tepat di tengah-tengah ballroom.

Aula raksasa itu seketika menjadi kacau balau karena semua orang berebut ingin melihat barang legendaris itu dari dekat.

Wajah Broto Sanjaya seketika berubah menjadi pucat pasi.

Dion yang tadinya tertawa kini hanya bisa menganga lebar seperti orang bodoh.

Michael Kusuma yang masih bersimpuh di sudut ruangan menatap cawan itu dengan perasaan hancur lebur tanpa sisa.

Dia baru menyadari betapa bodohnya dia memamerkan barang palsu di depan pemilik barang aslinya.

"K-kakek kurator, Anda pasti salah lihat! Itu pasti barang palsu juga!"

Broto mencoba menyangkal dengan suara yang bergetar hebat.

Kakek kurator itu langsung menoleh dan menatap Broto dengan tatapan marah.

"Jaga ucapanmu Broto! Ini adalah harta karun sejarah dunia! Menuduhnya palsu adalah penghinaan bagi sejarah!"

Kakek itu kembali menatap cawan di tangan Rizal dengan penuh pemujaan.

"Tuan Rizal, balai lelang dunia akan berani membayar lebih dari lima ratus miliar rupiah untuk mahakarya ini."

Kakek itu menelan ludah dengan susah payah.

"Apa Anda benar-benar berniat... menyumbangkan benda ini?"

Rizal tersenyum sangat santai seolah dia hanya sedang memegang sebuah gelas plastik biasa.

"Tentu saja Kek, barang ini hanya akan berdebu jika saya simpan di laci dasbor mobil saya."

Rizal menyerahkan cawan itu ke tangan sang kakek kurator yang menerimanya dengan tangan gemetar seperti memegang bayi yang baru lahir.

"Lelang saja cawan ini besok pagi, dan gunakan seluruh uangnya untuk membangun sekolah dan rumah sakit di daerah tertinggal."

Hening.

Seluruh ruangan benar-benar menjadi hening tanpa ada satu pun suara napas yang terdengar keras.

Menyumbangkan lima ratus miliar rupiah dalam bentuk artefak sejarah yang tak ternilai harganya?

Dan dia hanya menyimpannya di dalam laci dasbor mobil?

Itu bukanlah tingkat kekayaan seorang konglomerat biasa, itu adalah tingkat kekayaan seorang kaisar yang menguasai dunia.

Prok. Prok. Prok.

Seseorang dari sudut ruangan mulai bertepuk tangan pelan.

Kemudian diikuti oleh orang lain, dan akhirnya seluruh tamu undangan di dalam ballroom itu memberikan tepuk tangan yang sangat gemuruh dan meriah.

Mereka semua berdiri memberikan penghormatan yang sangat tulus kepada Rizal.

Hanya Broto, Dion, dan beberapa sekutu dekatnya yang mematung dengan wajah seputih kertas.

Sumbangan seratus miliar Broto yang awalnya menjadi bintang utama malam ini seketika berubah menjadi uang recehan yang tidak ada artinya.

Broto merasa seolah ada sebuah tamparan tak kasat mata yang menghantam pipinya berulang kali di depan seluruh elit Jakarta.

"Bagaimana Tuan Broto?"

Rizal melangkah mendekati Broto yang sedang berkeringat dingin di tengah gemuruh tepuk tangan.

"Apakah sumbangan dari dompet saya yang kosong ini sudah cukup untuk membayar makan malam gratis Anda?"

Broto menggertakkan giginya hingga terdengar suara derit yang sangat keras.

"K-kau... jangan terlalu sombong anak muda."

Broto berbisik dengan suara yang sangat pelan dan bergetar menahan amarah yang meledak di kepalanya.

"Malam ini masih panjang, dan uang saja tidak akan bisa menyelamatkanmu dari kekuasaan."

Rizal hanya tertawa kecil menanggapi ancaman putus asa dari pria tua tersebut.

"Saya sangat menantikan apa lagi yang bisa Anda lakukan, Tuan Broto."

Rizal menepuk pelan bahu Broto dengan gaya yang sangat merendahkan, seolah dia sedang menepuk bahu seorang pelayan.

"Tapi saran saya, sebaiknya Anda siapkan obat penurun darah tinggi sebelum malam ini berakhir."

Rizal berbalik dan kembali menggandeng lengan Clara dengan sangat elegan.

Clara menatap Rizal dengan wajah yang memerah sempurna, matanya memancarkan rasa kagum dan cinta yang tidak bisa lagi disembunyikan.

Malam ini, di depan seluruh elit dan penguasa lama Jakarta, Rizal telah mengukuhkan dirinya sebagai raja baru yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun.

Dan pertunjukan penghancuran mental ini baru saja mencapai puncaknya.

1
kinataa⁸
5m nya ksh aku juga/Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!