"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di dalam ruang kerja direktur Wellness Medical Center, Xavier Ellis berdiri membelakangi meja dan menatap hujan gerimis yang tersisa di balik jendela besar.
Di hadapannya seorang pria berseragam dinas kepolisian tingkat tinggi duduk dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya, menatap sebuah koper hitam kecil yang terbuka di atas meja.
"Semua berkas identitas Flossie Kincaid harus dibakar malam ini," suara Xavier terdengar pelan, namun getaran suaranya di dalamnya tidak memberi ruang untuk negosiasi.
"Masukkan namanya ke dalam daftar hitam korban hilang yang jasadnya dinyatakan hanyut sampai ke laut lepas. Buat laporan bahwa arus sungai bawah tebing menyeretnya terlalu jauh hingga mustahil untuk ditemukan."
Pria berseragam itu menelan ludah, melirik tumpukan uang tunai di dalam koper.
"T-Tuan Ellis, ini berisiko besar. Alfie Kincaid menyewa detektif swasta terbaik untuk menyisir sungai. Jika mereka menemukan kejanggalan pada laporan forensik kami ...."
"Detektif swastanya hanya akan menemukan apa yang aku izinkan untuk mereka temukan," potong Xavier dingin.
Ia berbalik dan menatap pria itu dengan mata tajamnya.
"Sandal berdarah itu sudah cukup menjadi bukti bagi Alfie bahwa istrinya mati mengenaskan. Tugasmu hanya meresmikan dokumen kematian itu di sistem pusat hukum pagi ini. Mengerti?"
Pria berseragam itu dengan cepat menutup koper dan mengangguk gemetar.
"Baik, Tuan. Sebelum fajar menyingsing, Flossie Kincaid akan dinyatakan tewas secara legal oleh negara."
Sementara itu, di kamar rawat VIP sayap barat yang sunyi, sebuah televisi layar datar yang tertempel di dinding menyala tanpa suara, menampilkan berita kilat pagi hari.
Flossie berbaring lemas di atas ranjang dan tubuhnya masih terlalu rapuh bahkan untuk sekadar menggeser posisi duduk. Sepasang matanya yang sembap menatap kosong ke arah layar televisi.
Di sana, foto dirinya saat mengenakan gaun pernikahan dua tahun lalu terpampang besar dan berdampingan dengan teks berjalan di bagian bawah layar.
“Breaking news: Istri CEO Kincaid Group Dinyatakan Tewas Hanyut di Sungai Setelah Insiden Domestik.”
"Mereka mengumumkan kematianku dengan begitu cepat," lirih Flossie.
Xavier melangkah masuk dan menutup pintu rapat di belakangnya. Ia berdiri di samping ranjang dan mengikuti arah pandangan Flossie ke layar televisi.
"Itu adalah skenario terbaik untukmu saat ini."
Flossie memejamkan matanya erat-erat. Air mata hangat kembali menetes, namun kali ini bukan karena kepedihan atas pengusiran Alfie. Ada sesuatu yang patah di dalam dadanya, sebuah rasa cinta yang selama dua tahun ini ia pelihara dengan penuh kesabaran sekarang telah mati total hanya menyisakan abu yang dingin dan mati rasa.
"Alfie pasti sangat lega melihat berita itu," ucap Flossie, senyuman getir terukir di bibirnya yang pucat.
"Sekarang tidak ada lagi wanita miskin yang mengotori nama baik keluarganya dan tidak ada lagi tersangka yang harus dia seret ke pengadilan."
"Dia tidak tampak lega," sahut Xavier datar.
"Mata-mataku mengatakan pria itu mengurung diri di kamar sambil meremas barang-barang peninggalanmu, tapi penyesalannya tidak akan mengubah dokumen kematian yang sudah ditandatangani negara."
Flossie membuka matanya.
"Biarkan dia membusuk bersama penyesalannya," ujar Flossie.
Tangan kanannya mengusap perutnya yang dilapisi kain korset medis dengan penuh kelembutan.
"Aku tidak peduli lagi tentang hidupnya. Mulai detik ini, aku hanya ingin bertahan hidup demi kedua anakku. Aku akan merawat mereka, Xavier. Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta, asalkan anak-anakku aman."
Xavier menatap perubahan dari wanita di depannya dengan kepuasan yang tertahan.
"Pilihan yang sangat tepat. Di Paris nanti, kamu tidak akan kekurangan apa pun. Aku akan membangun identitas barumu sebagai Emma Ellis dan kamu akan belajar bagaimana cara memegang kendali bukan dikendalikan."
"Terima kasih!" bisik Flossie. "Terima kasih telah menyelamatkan kami."
"Jangan berterima kasih dulu. Di dunia bisnis tidak ada makan siang gratis. Suatu hari nanti, aku akan menagih bayaran atas nyawa yang kuselamatkan malam ini," ucap Xavier dengan nada penuh teka-teki yang dingin.
Tepat saat Flossie hendak membalas ucapan Xavier, suasana sunyi di koridor sayap barat mendadak ramai.
Pintu kamar rawat VIP itu tiba-tiba terbuka paksa dengan hantaman keras yang membuat engselnya berderit linu. Flossie tersentak dan refleks menarik selimutnya ke atas dada dengan panik.
Seorang pria asing bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan masker yang menutupi wajahnya, melangkah masuk dengan gerakan yang teramat cepat.
Di tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan kulit, sebuah pisau belati berujung runcing berkilau tajam di bawah siraman lampu neon kamar.
Sepasang mata pria asing itu langsung mengunci sosok Flossie yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Siapa kamu?!" pekik Flossie.
Pria asing itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dengan langkah yang mematikan, dia menerobos masuk dan mengabaikan keberadaan Xavier yang berdiri di sisi lain ranjang.
Targetnya hanya satu, yaitu melenyapkan Flossie, wanita yang dianggap sebagai saksi kunci yang harus benar-benar menjadi mayat agar sebuah rahasia besar tetap terkunci rapat di bawah tanah.
Xavier dengan cepat bergerak memposisikan dirinya, namun pria berjas hitam itu sudah mengayunkan pisaunya lurus ke arah dada Flossie yang tak berdaya.