NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Penyelamatan

"Sekarang kamu yang bayar."

Pipa besi itu turun.

Ning berguling ke samping sekuat tenaga, tetapi tubuhnya terlambat setengah detik. Pipa menghantam betis kirinya.

Rasa sakit meledak putih.

Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan teriakan utuh, hanya napas pecah yang tersangkut. Seluruh gudang seperti miring. Debu di lantai menempel di telapak tangannya, kasar, kering, membuatnya sadar bahwa ia belum boleh pingsan.

Belum.

Kalau ia pingsan sekarang, semuanya selesai.

Ponsel di saku blazer masih bergetar. Layar menyala lagi, memantul samar di lantai.

Kevin.

Ning mengulurkan tangan gemetar.

Bu Sri mengangkat pipa lagi. "Masih mau panggil orang kaya itu?"

"Tidak," bisik Ning.

Jarinya menyentuh layar tanpa melihat. Ia tidak tahu tombol mana yang tertekan. Yang penting layar berhenti bergetar.

Panggilan tersambung.

Di dalam Bentley yang baru memasuki area Kemang, Kevin mendengar suara napas Ning.

Lalu suara perempuan tua.

"Kalian Tju selalu begitu. Punya uang, punya orang, punya jalan keluar."

Kevin tidak berkata apa pun.

Wajahnya berubah begitu dingin sampai Jovi yang duduk di depan langsung menahan napas.

"Lacak sinyalnya," kata Kevin tanpa suara bergetar. "Sekarang."

Jovi sudah menelpon tim keamanan. Dari Maison Fevre, rekaman CCTV basement baru saja masuk: van abu-abu tua keluar lewat jalur servis, angka belakang plat terlihat samar, 74. Polisi sudah bergerak, tetapi Kevin tidak menunggu satu pun kalimat prosedural selesai.

"Boss Fendi kirim rekaman tambahan," kata Jovi cepat. "Van belok ke arah selatan. Ada kamera ruko yang menangkap plat lebih jelas. Tim kita minta akses CCTV jalan."

Kevin menekan ponsel ke telinganya.

Di seberang, napas Ning tersendat, lalu ada suara pipa diseret di lantai.

"Ning," ia berkata sangat pelan.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara Bu Sri yang terdengar makin jauh, "Saya sudah hidup delapan belas tahun tanpa aman."

Kevin menutup mata satu detik. Saat membukanya lagi, semua keraguan hilang.

"Jovi, kirim lokasi terakhir ke polisi. Ambulans siapkan di titik terdekat. Kalau sinyal putus, ikuti jalur gudang kosong di radius itu."

"Siap, Pak."

Bentley berbelok tajam. Ban menggesek aspal, tetapi Kevin tetap duduk tegak, ponsel di telinga, tangan kirinya mengepal di atas lutut sampai buku jarinya memutih.

Di gudang, Ning memaksa matanya tetap terbuka.

"Bu Sri," katanya, suaranya hampir tidak ada. "Kalau Ibu membunuh saya... suami dan anak Ibu tetap tidak akan kembali."

Wajah Bu Sri berkedut.

"Diam."

"Saya tahu."

"Diam!"

"Saya tahu rasanya kehilangan." Ning mencengkeram lantai. Betis kirinya berdenyut seperti dibelah dari dalam. "Saya juga pernah kehilangan rumah. Kehilangan keluarga. Kehilangan semua orang."

Bu Sri tertawa kasar. "Jangan samakan hidupmu dengan hidup saya."

"Saya tidak menyamakan." Ning menelan rasa sakit sampai tenggorokannya pahit. "Tapi kalau buku itu Ibu baca, Ibu tahu saya menulis tentang kesempatan kedua."

Pipa di tangan Bu Sri berhenti.

Ning menangkap jeda itu.

Ia memaksa dirinya bicara lebih lambat.

"Kalau Ibu membunuh saya, hanya saya yang mati. Suami dan anak Ibu tetap tidak kembali. Tapi kalau yang Ibu inginkan adalah cara untuk bertemu mereka lagi..."

Mata Bu Sri membesar.

"Kamu tahu caranya?"

Ning hampir tidak bisa bernapas.

Ia tidak tahu apa pun.

Ia hanya tahu ia harus hidup beberapa menit lagi.

"Saya tahu satu hal." Ning menatap buku catatan hitam yang terbuka di lantai. "Membunuh saya bukan jalan itu."

Bu Sri maju satu langkah. "Bohong."

"Kalau saya bohong, kenapa Ibu masih mendengarkan?"

Di ujung gudang, suara ban berhenti terdengar samar.

Ning mendengarnya.

Bu Sri juga.

Wajah perempuan tua itu berubah liar. "Kamu mengulur waktu."

Ning mencoba mundur, tetapi kaki kirinya tidak bisa digerakkan. Rasa sakit langsung menarik tubuhnya jatuh kembali ke lantai.

Pintu gudang ditendang dari luar.

Cahaya sore masuk seperti pisau panjang.

Kevin berdiri di ambang pintu.

Untuk satu detik, Ning tidak bisa mengenalinya.

Bukan karena wajahnya berubah, melainkan karena seluruh tubuh Kevin seperti kehilangan suhu manusia. Jasnya terbuka, dasinya miring, mata hitamnya tertancap pada darah di leher Ning dan kaki kirinya yang terlipat tidak wajar.

"Kevin," suara Ning pecah.

Bu Sri menjerit, mengangkat pipa tinggi-tinggi.

"Jangan mendekat!"

Beberapa pria berjas hitam muncul di belakang Kevin, tetapi tidak ada yang bergerak. Semua menunggu satu tarikan napas darinya.

Kevin mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat mereka berhenti.

"Bu Sri," katanya rendah. "Letakkan pipa itu."

"Kamu juga Tju?" Bu Sri tertawa dengan mata basah. "Atau kamu laki-laki kaya yang membeli anak Tju?"

"Saya suaminya."

"Kalau Ibu berhenti sekarang, kasus delapan belas tahun lalu bisa dibuka lagi," kata Kevin. "Nama suami dan anak Ibu bisa saya cari. Bukti lama bisa saya tarik. Tapi kalau Ibu memukul dia lagi, saya tidak akan menawar."

Bu Sri menggigil.

Untuk sesaat, matanya seperti kembali menjadi mata seorang ibu yang kehilangan semua tempat pulang.

Ning melihat celah itu. "Bu Sri... dengarkan dia. Kalau Indra dijebak, berarti orang yang membunuh keluarga Ibu masih di luar sana."

Air mata jatuh di pipi Bu Sri.

Namun rasa benci yang dipelihara delapan belas tahun sudah terlalu keras.

"Kalian baru bicara soal bukti setelah saya tidak punya siapa-siapa."

"Bagus." Bu Sri menggenggam pipa lebih kuat. "Kalau begitu lihat baik-baik."

Ia mengayunkan pipa ke arah kepala Ning.

Suara tembakan memecah gudang.

Ning tidak melihat semuanya.

Ia hanya melihat tubuh Bu Sri terhuyung, pipa besi jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring, lalu buku catatan hitam terseret ujung sepatunya dan halamannya terbuka berantakan.

Debu terangkat.

Semua suara hilang sesaat.

Kevin sudah berlutut di depannya.

"Ning."

Tangannya pertama kali menyentuh leher Ning, memeriksa kasa darurat yang mulai merah di tepi. Lalu matanya turun ke kaki kiri Ning. Rahangnya mengeras begitu jelas sampai Jovi yang baru masuk berhenti dua langkah di belakangnya.

"Ambulans," kata Kevin.

"Sudah masuk halaman, Pak."

"RS Pondok Indah. VIP. Orthopedic surgeon siap sebelum kami sampai."

"Siap."

Begitu melihat wajahnya dari dekat, sesuatu di dalam Ning runtuh.

Ia meraih kerah Kevin dengan kedua tangan, mencengkeramnya sekuat tenaga. Rasa sakit di kaki, leher yang perih, debu, gudang, semuanya pecah menjadi satu tangis panjang.

"Kevin..."

"Aku di sini."

"Kevin..."

"Aku di sini, Ning."

"Kevin..."

Ia mengulang nama itu seperti anak kecil yang baru ditemukan setelah tersesat terlalu lama.

Kevin memeluknya, satu tangan melingkar di pinggangnya, satu tangan lagi menahan belakang kepalanya agar ia tidak melihat tubuh Bu Sri di lantai.

Tangannya dingin, tetapi suaranya lebih dingin lagi karena ia menahannya mati-matian agar tidak hancur.

"Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan kamu hilang lagi."

Ning menangis makin keras.

"Jangan lepas."

"Tidak."

"Jangan kasih aku pergi."

"Tidak akan."

Jovi masuk dengan wajah pucat. Ia melihat buku catatan hitam di lantai, langsung mengambilnya dengan saputangan, lalu memasukkannya ke dalam map dokumen kosong. Kevin hanya melirik sekali.

"Tidak ada yang membaca."

"Siap, Pak."

"Dimas?"

"Masih hidup. Polisi dan ambulans kedua menangani di Maison Fevre. Pisau sudah diamankan."

"Pastikan semua rekaman masuk ke polisi. Tidak ada staf yang ditekan tutup mulut. Jia diberi pendampingan."

Jovi menelan ludah. Bahkan di saat seperti ini, Kevin masih mengatur agar orang yang menolong Ning tidak sendirian menghadapi proses hukum.

"Baik, Pak."

Tim medis masuk beberapa menit kemudian bersama polisi. Gudang yang tadi kosong berubah penuh suara: instruksi pendek, sepatu di lantai semen, radio polisi, plastik alat medis dibuka.

Saat paramedis mencoba memeriksa kaki Ning, ia menjerit dan makin mencengkeram Kevin.

"Jangan! Jangan pegang!"

"Nyonya, kami harus imobilisasi kaki Ibu," kata seorang paramedis lembut. "Kemungkinan ada patah tulang. Kami perlu pasang penyangga dulu."

Ning menggeleng liar. "Tidak. Jangan. Kevin, jangan."

Kevin menunduk, menempelkan keningnya ke kening Ning sebentar.

"Lihat aku."

Ning menggigil.

"Lihat aku, sayang."

Matanya akhirnya naik.

Kevin mengusap air mata di pipinya dengan ibu jari. "Aku tidak pergi. Mereka harus membantumu supaya kita bisa pulang."

"Aku mau pulang sekarang."

"Kita pulang setelah kakimu aman."

Paramedis lain menyiapkan suntikan kecil. "Pak, kami perlu memberi obat penenang ringan. Dia terlalu panik, nanti makin sakit saat dipindahkan."

Ning mendengarnya dan langsung menggeleng. "Tidak. Aku tidak mau tidur. Kalau aku tidur, nanti..."

Kalimatnya putus.

Nanti aku hilang lagi.

Kevin mengerti tanpa ia selesai bicara.

Matanya merah, tetapi ia menahannya.

"Kamu tidak akan hilang."

"Jangan bohong."

"Aku tidak pernah bohong soal ini."

Ia menunduk dan mencium kening Ning.

Ning menangis di bawah ciuman itu, kedua tangannya masih mencengkeram jas Kevin. Pada saat yang sama, paramedis menyuntikkan obat melalui lengan yang sudah ditahan lembut.

Tubuh Ning menegang sebentar.

"Kevin..."

"Aku di sini."

"Jahat."

"Iya."

"Jangan pergi."

"Tidak."

Kesadarannya mulai mengabur, tetapi jari-jarinya tetap mencari tangan Kevin. Kevin menggenggamnya dan tidak melepaskan bahkan saat tandu diangkat keluar dari gudang.

Di luar, langit sore Jakarta Selatan mulai gelap. Sirene ambulans menyala, tetapi Kevin memilih naik bersama Ning, duduk di sisi tandu, tubuhnya condong seolah bisa menjadi dinding antara istrinya dan seluruh dunia.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Ning setengah sadar. Bibirnya pucat. Luka di lehernya sudah ditutup kasa, kaki kirinya terpasang penyangga.

Tangannya masih menggenggam Kevin.

Tiba-tiba, ia bergerak gelisah.

"Kevin..."

"Aku di sini."

"Aku mau pulang..."

Kevin menunduk lebih dekat.

Suara Ning sangat kecil, hampir kalah oleh sirene.

"Ke rumah kita..."

Rumah kita.

Kevin menutup matanya.

Untuk pertama kalinya sejak gudang itu, tepi matanya memerah.

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!