Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Turun ke Sektor Nol dan Kabut Racun Jiwa
Perjalanan menembus lorong bawah tanah Sektor Nol membawa Lin Fan dan Kapten Valen menyusuri tangga batu melingkar yang seolah tak berujung. Semakin dalam mereka melangkah menembus perut istana Kekaisaran Aethelgard, atmosfer di sekeliling mereka berubah secara drastis. Hawa dingin yang tadinya menyelimuti Aula Utama perlahan-lahan menguap, berganti dengan gelombang panas yang membakar serta aroma belerang dan busuknya daging lapuk yang teramat pekat.
Dinding-dinding batu cadas di sepanjang koridor bawah tanah itu tidak lagi tampak seperti bangunan buatan manusia. Di atas permukaan batu yang retak, tumbuh kristal-kristal hitam raksasa yang berdenyut-denyut secara teratur—berdetak bagaikan jantung monster yang sedang tidur nyenyak. Kristal-kristal tersebut memancarkan pendaran cahaya keunguan yang suram, memperlihatkan manifestasi mengerikan dari [Pengikisan Iblis], yaitu sebuah proses ghaib di mana energi murni urat bumi perlahan-lahan diubah menjadi racun rawa yang mematikan.
Sfx: [Thump... Thump... Thump...]
Gema detak dari kristal hitam itu memantul di sepanjang dinding lorong, menciptakan getaran frekuensi rendah yang membuat dada manusia terasa seperti diremas dari dalam.
Kapten Valen berjalan dua langkah di belakang Lin Fan. Langkah kakinya yang dilapisi zirah besi terasa semakin berat. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang pedang kekaisaran, sementara tangan kirinya memegang obor sihir yang apinya meliuk-liuk gelisah akibat paparan hawa beracun. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis sang kapten, membasahi wajahnya yang kurus dan pucat.
"Tuan Lin Fan..." bisik Valen dengan suara bergetar, berusaha menahan napas seraya menatap kristal-kristal hitam di sekeliling mereka. "Kristal-kristal ini... dulu adalah batuan permata penerang istana. Namun sejak [Parasit Iblis Ranah Jiwa] itu menguasai Sektor Nol dua tahun lalu, seluruh energi bumi di bawah istana ini teracuni. Bahkan prajurit dengan perlindungan sihir terbaik pun tidak akan sanggup bertahan lebih dari sepuluh menit di kedalaman ini."
Lin Fan terus melangkah ke depan tanpa menghentikan ritme kakinya sedikit pun. Pakaian sederhananya berkibar pelan setiap kali dihembus angin panas dari dasar lorong. Wajahnya yang tampan tampak sangat tenang di bawah pendaran ungu kristal hitam. Manik matanya yang berwarna keemasan menyala redup, membiaskan bayangan benang-benang energi hitam yang merayap di atas tanah bagaikan akar-akar pohon beracun.
"Racun ini tidak menyebar secara alami," ucap Lin Fan datar, suaranya terdengar sangat jernih dan tidak terpengaruh oleh hawa panas di sekitarnya. "Parasit itu sengaja mengubah sifat energi bumi agar manusia tidak bisa mendekat. Sebuah metode pertahanan pasif yang cukup teratur... namun sangat primitif."
Valen menelan ludah dengan susah payah. Paru-parunya mulai terasa panas dan perih setiap kali ia menghirup udara, seolah-olah ada jarum-jarum halus yang menusuk saluran pernapasan dari dalam.
Sfx: Kssshhh... Sssssh...
Di ujung lorong tangga melingkar, jalan batu tersebut mendadak berakhir pada sebuah pelataran melingkar yang sangat luas. Di tengah pelataran itu, berdiri sebuah pintu gerbang batu raksasa setinggi sepuluh meter berukirkan gambar naga tanpa kepala. Pintu gerbang tersebut merupakan batas akhir yang memisahkan koridor bawah tanah dengan ruang sakral Sektor Nol.
Namun, pintu gerbang batu itu telah lapuk dan retak parah. Dari celah-celah retakan batu yang tebal, kabut berwarna ungu pekat merembes keluar dengan sangat deras, bergulung-gulung memenuhi seluruh permukaan lantai pelataran bagaikan lautan racun yang siap menelan apa saja.
Sfx: Bissss... Bisss... Bisss...
Saat kabut ungu itu menyentuh bagian bawah zirah besi milik Valen, getaran ghaib yang sangat aneh mulai bergaung langsung di dalam tengkorak kepala sang kapten. Suara-suara bisikan lembut bercampur jeritan histeris memenuhi batin Valen, memancarkan ilusi-ilusi mengerikan tentang kematian rekan-rekannya dan kejatuhan kekaisaran.
"Tuan... paru-paru saya..." rintih Valen. Penglihatannya mendadak mengabur, matanya memerah oleh pendaran darah, dan lututnya gemetar hebat hingga zirah besinya beradu menimbulkan suara gemerincing yang guncang. "Suara-suara ini... mereka... mereka mencoba mencabut jiwa saya..."
Lin Fan menghentikan langkahnya tepat di tepi lautan kabut ungu tersebut. Ia menoleh sedikit ke arah Valen, lalu mengangkat tangan kirinya yang terukir tato rantai keemasan halus.
Sfx: Bzzzzzt!
Layar transparan dari Sistem Pagar Iblis berkedip cepat di depan pandangan Lin Fan.
```
[Peringatan: Paparan Kabut Racun Jiwa Tingkat Tinggi Terdeteksi]
[Sistem Mengaktifkan Pembersihan Otomatis Wilayah Sekitar]
[Mengonversi Udara Beracun Menjadi Poin Energi...]
Sfx: FWOOOOOOSH!
Tanpa perlu membaca mantra atau mengumpulkan staminanya secara berlebihan, Lin Fan memutarkan telapak tangan kirinya di udara. Seberkas pendaran cahaya keemasan murni meledak mekar dari kulit telapak tangannya!
Cahaya keemasan itu membesar dengan kecepatan yang menakjubkan, membentuk sebuah kubah perlindungan bundar selebar sepuluh meter yang menyelimuti tubuh Lin Fan dan Valen secara sempurna.
Sfx: Ssssssh... CRAASH!
Kabut ungu beracun yang menyentuh permukaan kubah cahaya keemasan itu seketika menjerit halus—suara reaksi ghaib seperti tetesan air yang menghantam besi panas! Kabut beracun itu terurai menjadi asap putih netral, lalu secara ajaib tersedot masuk ke dalam lambang *Batu Inti Delapan Arah* di telapak tangan Lin Fan.
[Poin Energi Diterima Dari Konversi Racun: +2.500 Poin]
Dalam sekejap mata, hawa panas membakar dan bau busuk belerang di dalam area kubah keemasan sirna tanpa sisa. Udara di sekeliling Valen berganti menjadi sangat sejuk, bersih, dan memancarkan aroma tanah hangat yang menenangkan jiwa. Bisikan-bisikan ghaib yang tadinya menggerogoti pikiran sang kapten lenyap seketika.
Valen terhempas berlutut di atas tanah, menghirup udara segar itu dengan serakah. Dada dan paru-parunya yang tadinya terasa terbakar seketika pulih. Wajahnya yang membiru kembali merona dengan rona kehidupan.
"I-Ini..." gumam Valen dengan mata membelalak tak percaya. Ia memandangi dinding kubah cahaya keemasan yang berdiri kokoh menahan gempuran kabut ungu di luar sana. "Mantra penyucian skala luas tanpa jeda pelafalan... Bahkan Penyihir Agung Kekaisaran dulu membutuhkan sepuluh jimat tingkat tinggi dan bantuan lima lingkaran sihir hanya untuk menetralkan kabut ini selama lima menit!"
Lin Fan menatap gerbang batu naga tanpa kepala di hadapan mereka tanpa sedikit pun rasa bangga atas pujian Valen. Bagi pemegang Sistem Pagar Iblis, manipulasi dan pembersihan energi alam adalah fungsi dasar dari seorang Pengikat Kontrak.
"Tetaplah berada di dalam kubah ini, Valen," perintah Lin Fan dengan suara dingin yang mutlak. "Di balik gerbang ini... parasit yang memangsa tanah kalian sedang menunggu."
Lin Fan melangkah maju menuju gerbang batu raksasa tersebut. Begitu tubuhnya berada setengah meter dari pintu batu, ia merapatkan telapak tangan kanannya ke permukaan batu yang retak. Urat-urat emas di sepanjang lengan kirinya menyala terang, memancarkan kerapatan energi bertekanan tinggi.
"Pantulan Tekanan Iblis: Hancurkan!" ucap Lin Fan pelan.
Sfx: BOOOOOOOOMMMMM!
Gelombang tekanan ghaib yang maha dahsyat meledak dari telapak tangan Lin Fan! Gerbang batu setebal dua meter itu hancur berkeping-keping menjadi jutaan serpihan batu yang melesat terlempar ke dalam ruangan raksasa di baliknya dengan dentuman yang menggetarkan seluruh Sektor Nol!
Asap debu dan sisa kabut ungu tersingkap lebar, memamerkan pemandangan di dalam ruang sakral bawah tanah.
Ruangan Sektor Nol itu adalah sebuah aula melingkar raksasa seluas lapangan pemukiman. Di tengah-tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah telaga cairan emas yang sudah hampir mengering dan berubah warna menjadi kusam kehitaman. Telaga itu adalah [Telaga Urat Bumi]—sumber kehidupan dan pusat gravitasi spiritual seluruh Kekaisaran Aethelgard.
Dan tepat di atas telaga emas yang sekarat itu, mengapung sesosok makhluk ghaib yang teramat mengerikan.
Bentuk fisiknya tidak memiliki batas yang pasti; makhluk itu adalah gumpalan daging busuk berwarna hitam pekat berukuran sebesar rumah dua lantai. Di seluruh permukaan daging busuk yang meneteskan lendir beracun itu, menempel ratusan wajah manusia—wajah-wajah prajurit, rakyat, dan penyihir kekaisaran yang telah mati—yang matanya terpejam dan mulutnya terus menjerit-jerit kepanikan tanpa suara.
[Mata Iblis: Menganalisis Target Utama]
[Nama Entitas: Parasit Iblis Ranah Jiwa]
[Tingkat Bahaya: Sangat Tinggi (Pengendali Racun Urat Bumi)]
[Status: Memangsa Sisa Energi Telaga Urat Bumi (4.2% Tersisa)]