NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — Awal Kebangkitan

Keheningan melingkupi gua tempat tinggal Kepala Suku.

Di luar, suara kemeriahan Festival telah surut sepenuhnya, berganti menjadi bisik-bisik cemas dari warga suku yang berkumpul di sekitar perapian utama.

Semua orang mempertanyakan kejadian aneh yang menimpa putri Kepala Suku di tengah puncak perayaan tadi malam.

Di dalam gua yang ditandai cahaya redup obor minyak binatang, Yana terbaring di atas pembaringan berbulu tebal.

Aron duduk kaku di samping tempat tidur putrinya, memegang erat salah satu tangan Yana yang masih terasa dingin.

Wajah pria tegap itu terpancar rasa lelah dan cemas yang mendalam.

Di sudut ruangan, Nenek Greta dan Tetua Gordon berdiri diam, memperhatikan Yana yang baru saja membuka matanya secara perlahan.

"Yana..." panggil Aron cepat, langsung membungkukkan tubuhnya saat melihat kelopak mata putrinya bergerak. "Kamu sudah sadar, Nak? Bagaimana perasaanmu?"

Yana memutar pandangannya yang sempat kabur. Rasa sakit seperti ditusuk jarum di dalam kepalanya sudah berkurang, tetapi tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Energi asing yang bergejolak di dalam dadanya semalam telah menyerap habis seluruh energi-nya.

"Ayah..." suara Yana terdengar serak.

"Jangan banyak bergerak dulu," cegah Aron lembut sambil merapikan selimut bulu Yana. "Semalam kamu pingsan setelah tiba-tiba menjerit di lapangan festival. Tubuhmu mendadak sangat dingin."

Yana memejamkan mata sejenak, mengingat kembali kilasan penglihatan mengerikan tentang lautan api, kematian para prajurit, dan pengkhianatan Luka yang dialaminya semalam.

Itu bukan sekadar mimpi atau firasat biasa.

Itu adalah kebangkitan awal dari kekuatan penglihatan suci yang melekat pada jiwanya.

"Aron, biarkan aku dan Nenek Greta memeriksa kondisinya sebentar," kata Tetua Gordon melangkah mendekat.

Aron mengangguk dan berdiri melangkah mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi sang tetua tertua suku.

Tetua Gordon berdiri di samping pembaringan Yana. Matanya yang kelabu menatap lurus ke dalam mata abu-abu kehijauan milik Yana. Pria tua itu mengangkat tangan kanannya, menempelkan telapak tangannya yang keriput ke dada Yana—tepat di atas tempat jantung Yana berdetak.

Seketika itu juga, mata Tetua Gordon membelalak kecil.

Meskipun sangat tipis dan tersembunyi, sang tetua bisa merasakan aliran energi murni dan hangat yang mengalir di dalam pembuluh darah Yana.

Energi itu sama sekali tidak menyerupai aura binatang liar yang dimiliki oleh para pemburu, melainkan aura kuno yang sangat langka.

"Energi ini..." bisik Tetua Gordon pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain.

Nenek Greta yang berdiri di dekatnya ikut mengamati reaksi sang tetua dengan cemas. "Ada apa, Gordon? Apakah ada racun atau penyakit ganjil di dalam tubuh Yana?"

Tetua Gordon menarik tangannya kembali, lalu menggelengkan kepala perlahan.

"Tidak ada penyakit," jawab Tetua Gordon dengan nada suara yang terkontrol, berusaha menyembunyikan keterkejutannya dari Aron. "Hanya saja... jiwa dan tubuh Yana mengalami tekanan yang teramat berat secara mendadak. Seperti ada penglihatan luar biasa yang dipaksakan masuk ke dalam pikirannya."

Tetua Gordon menundukkan tubuhnya, menatap Yana dengan jarak yang sangat dekat.

"Yana," tanya Tetua Gordon dengan suara rendah yang menekan. "Saat kamu ambruk semalam... apa yang sebenarnya kamu lihat?"

Ruangan itu mendadak menjadi sangat hening. Aron dan Nenek Greta menahan napas mereka, menunggu jawaban dari Yana.

Yana mengepalkan tangannya di bawah selimut bulu. Ia tahu betul, jika ia menceritakan seluruh penglihatannya secara blak-blakan—tentang api, pengkhianatan Luka, dan gadis asing dari dunia lain—orang-orang mungkin akan menganggapnya gila, atau lebih buruk lagi, tindakan panik yang ia picu justru bisa merusak takdir sesuai peringatan Dewa Binatang.

'Aku harus menyampaikan peringatan itu... tapi dengan cara yang masuk akal,' batin Yana tegar.

Yana menatap mata Tetua Gordon tanpa rasa ragu.

"Aku melihat api, Tetua," jawab Yana dengan suara pelan namun sangat jelas. "Aku melihat lautan api membakar seluruh pemukiman kita. Aku melihat musuh-musuh dari suku luar membawa senjata-senjata aneh dari besi tajam yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Dan aku melihat... suku kita hancur jika kita terus lengah."

Aron tersentak mendengar ucapan putrinya. "Senjata besi? Musuh dari suku luar?"

"Apakah itu petunjuk dari Dewa Binatang lagi, Yana?" tanya Nenek Greta dengan tangan gemetar memegang kalung batunya.

Yana menoleh ke arah ayahnya, mengabaikan pertanyaan Nenek Greta.

"Ayah..." kata Yana dengan nada memohon yang amat dalam. "Musim dingin akan segera tiba, dan suku-suku lain di utara dan timur sedang kelaparan. Bahaya bukan hanya datang dari binatang buas di hutan, tetapi dari orang-orang yang mengincar tanah dan persediaan makanan kita. Kita harus memperkuat pertahanan suku sekarang juga."

Aron menatap Yana dengan ekspresi campur aduk. Firasat Yana tentang Babi Hutan Berduri di Hutan Hitam telah terbukti menyelamatkan nyawanya.

Penemuan tanaman obat di Lembah Bintang juga telah menyelamatkan suku dari krisis.

Sekarang, putri remajanya ini kembali menyampaikan sebuah peringatan yang mengerikan.

Aron melangkah maju, berlutut di samping Yana dan menggenggam kedua tangannya.

"Aku mengerti, Yana," jawab Aron mantap, matanya memancarkan ketegasan seorang Kepala Suku. "Mulai besok, aku akan memerintahkan Paman Bimo dan para prajurit untuk menambah jumlah pos penjagaan di batas utara. Kita juga akan memperkuat pagar kayu pemukiman dan melatih para pemuda bertarung lebih keras."

Mendengar keputusan ayahnya, rasa lega yang amat besar memenuhi dada Yana. Ini adalah langkah awal yang sangat penting.

Tetua Gordon mengamati interaksi antara ayah dan putri itu dengan raut wajah penuh teka-teki. Sang tetua tidak bersuara lagi, tetapi di dalam hatinya, sebuah pemikiran besar mulai terbentuk.

'Penglihatan... kebangkitan energi murni... Firasat yang tepat sasaran...' batin Tetua Gordon sambil mengelus janggut putihnya. 'Apakah gadis ini adalah sosok yang disebutkan dalam ramalan kuno suku kita? Sosok pemberi petunjuk dari Dewa Binatang?'

.

Satu jam kemudian, Tetua Gordon dan Nenek Greta meninggalkan gua untuk membiarkan Yana beristirahat. Aron juga keluar sebentar untuk memanggil para ketua kelompok pemburu guna membahas peningkatan penjagaan malam.

Yana ditinggalkan sendirian di dalam gua.

Perlahan, Yana bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju ke ambang pintu gua.

Cahaya matahari pagi mulai merebak di atas pemukiman, memancarkan sinar hangat ke arah rumah-rumah kayu dan lapangan yang berserakan sisa festival semalam.

Dari kejauhan, Yana melihat Luka berjalan melewatinya sambil membawa busur panah. Pemuda itu tampak murung dan gelisah, beberapa kali menoleh ke arah gua Yana tetapi tidak berani mendekat.

Yana menatap Luka dengan mata dingin tanpa sedikit pun rasa kasihan.

Di kehidupan sebelumnya, ia mengira Luka adalah pelindungnya. Namun penglihatan semalam membuktikan bahwa hati pemuda itu sangat mudah digoyahkan oleh keajaiban palsu dan kemajuan yang dibawa oleh gadis transmigrator tersebut.

'Aku tidak bisa mengandalkan Luka atau siapa pun yang hatinya mudah goyah,' pikir Yana. 'Aku harus mengandalkan diriku sendiri dan kekuatan yang mulai bangkit ini.'

Yana mengangkat tangan kanannya ke depan dada. Ia mencoba memfokuskan pikirannya, mengingat kembali sensasi kehangatan yang meledak dari tubuhnya saat ia mengalami penglihatan semalam.

Zzz...

Sebuah pijar cahaya keemasan yang sangat tipis—seukuran benang kain—muncul sekejap di balik kulit telapak tangannya sebelum akhirnya lenyap kembali.

Yana membelalakkan matanya gembira.

Kekuatan sucinya tidak lagi tertidur.

Kekuatan itu telah mulai bangkit secara perlahan!

Dengan memperkuat pertahanan suku dari luar dan membangkitkan kekuatan sucinya dari dalam, Yana sadar bahwa ia sedang membangun benteng yang jauh lebih kokoh dari kehidupan pertamanya.

Ia menatap ke arah hutan utara yang berkabut di kejauhan.

"Satu bulan tiga pekan lagi..." bisik Yana dingin pada angin pagi yang berhembus. "Datanglah jika kamu mau. Kali ini, Suku Serigala tidak akan menjadi korbanmu."

***

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!