Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Malam itu, Dira diseret tanpa belas kasihan oleh ayah kandungnya menyusuri gang-gang gelap yang dipenuhi lampu remang. Tangis dan jeritannya tak mampu meluluhkan hati pria yang seharusnya menjadi pelindungnya.
Bagi lelaki itu, Dira bukanlah seorang anak. Ia hanyalah barang yang bisa ditukar demi sebotol minuman keras.
Sang ayah telah lama tenggelam dalam kecanduan alkohol. Demi memuaskan hasratnya, ia tak lagi mengenal rasa malu, kasih sayang, ataupun kemanusiaan. Malam itu, ia membawa putrinya menuju sebuah rumah bordil, berniat menyerahkannya sebagai pembayaran agar bisa kembali menenggak minuman yang telah menghancurkan hidupnya.
"Ayah... jangan... Ayah, tolong..." isak Dira sambil berusaha melepaskan genggaman kasar di pergelangan tangannya.
Namun lelaki itu justru menariknya semakin keras. "Diam! Kau harus menuruti perintahku agar aku bisa minum sepuasnya."
Ucapan itu menghantam hati Dira lebih keras daripada tarikan tangan ayahnya. Di usianya yang masih belia, ia menyadari satu kenyataan yang begitu menyakitkan, orang yang seharusnya melindunginya justru menjadi orang pertama yang menjual masa depannya.
"Tolong ... tolong aku. Tolong bantu lepaskan aku, kasihani aku!" Gadis berusia enam belas tahun itu terus berteriak meminta tolong. Suaranya pecah oleh tangis, menggema di sepanjang gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah reyot. Namun, tak seorang pun datang membantunya.
Beberapa orang hanya melirik dari balik jendela yang terbuka sedikit. Ada yang berpura-pura sibuk, ada pula yang menutup pintu rapat-rapat, seolah tak mendengar jeritan yang memohon belas kasihan.
Mungkin karena mereka tinggal di perkampungan kumuh, tempat pertengkaran, kekerasan, dan tangisan telah menjadi pemandangan yang terlalu sering terjadi. Atau mungkin karena setiap orang di sana sedang berjuang menghadapi kesulitannya sendiri, sehingga memilih untuk tidak mencampuri urusan orang lain demi menghindari masalah baru.
Apa pun alasannya, malam itu Dira hanya memiliki suaranya sendiri. Dan ketika jeritannya tak lagi mampu menggerakkan hati siapa pun, ia mulai menyadari betapa sendirinya dirinya di dunia ini.
Dira membenci segala hal yang ada disekitarnya. Kemiskinan, kekerasan, alkohol, ketidak pedulian. Semuanya. Apapun itu. Tempat ini adalah tempat terburuk, seperti neraka dunia untuknya. Bahkan untuk bertahan selama enam belas tahun dengan aman di tempat ini, Dira harus berpenampilan seperti orang gila. Ia rela tidak mandi, kumuh, bau bahkan hingga rambutnya jadi gimbal. Semua demi menjaga dirinya sendiri.
Tetapi sayangnya, hari ini, semua kebodohan yang ia lakukan sepertinya tak akan berhasil sebab akhirnya Ayahnya menyeretnya menuju tempat yang paling menakutkan bagi Dira. Sungguh, Dira tak mau ke sana. Ia takut. Beberapa orang yang ia kenal setelah berada di sana berakhir menjadi manusia yang mengerikan menurut Dira.
Ketika mereka hanya tinggal beberapa meter lagi dari pintu rumah bordil, deru sebuah mobil mewah memecah kesunyian malam. Mobil berwarna hitam mengilap itu berhenti tepat di depan Dira dan ayahnya, menghalangi langkah mereka.
Pintu mobil terbuka. Seorang pemuda turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Usianya sekitar dua puluh satu tahun, hanya lima tahun lebih tua dari Dira. Kemeja putih yang dikenakannya masih rapi, sementara tatapannya yang tajam langsung tertuju pada tangan kasar yang mencengkeram pergelangan Dira.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya dengan nada dingin.
Ayah Dira mendengus. "Bukan urusanmu! Dia anakku."
Pemuda itu melirik sekilas ke arah bangunan di belakang mereka. Hanya dengan melihat plang dan keadaan di sekitarnya, ia sudah memahami apa yang sedang terjadi. Tanpa banyak bicara, ia melangkah maju.
Saat ayah Dira berusaha menghalanginya, sebuah pukulan telak mendarat di wajah pria itu. Tubuhnya terhuyung sebelum kembali menyerang dengan mabuk dan kalap. Namun, pemuda itu jauh lebih sigap. Dalam hitungan detik, beberapa pukulan berhasil melumpuhkan pria tersebut hingga tersungkur di jalan dengan wajah babak belur.
Dira membeku. Air matanya masih mengalir, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat secercah harapan.
Pemuda itu segera mengeluarkan ponselnya. "Tolong kirim patroli. Ada percobaan perdagangan anak. Pelakunya sudah saya amankan."
Tak lama kemudian, suara sirene polisi memecah keheningan. Beberapa petugas datang, memborgol ayah Dira yang masih meracau karena pengaruh alkohol, lalu membawanya ke mobil patroli.
Kini, pemuda itu menoleh kepada Dira yang masih gemetar. "Kamu sudah aman."
Tiga kata sederhana itu menjadi kalimat yang tak pernah dilupakan Dira seumur hidupnya. Dira tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu. Ia bahkan tidak sempat menanyakan namanya malam itu. Namun, di mata Dira, lelaki tersebut tak ubahnya seperti malaikat yang datang di saat seluruh dunia seolah meninggalkannya. Bukan hanya karena ia menyelamatkannya dari rumah bordil dan menyerahkan ayahnya kepada polisi. Yang lebih membekas di hati Dira adalah apa yang terjadi setelahnya.
Pemuda itu tidak memandangnya dengan rasa jijik ataupun hina. Ia tidak menganggap Dira sebagai anak jalanan yang tak berharga atau gadis malang. Sebaliknya, ia memperlakukannya sebagaimana seorang manusia seharusnya diperlakukan, dengan hormat, kepedulian, dan kasih sayang.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" ia memberikan jasnya pada Dira untuk menutupi pakaian Dira yang robek karena ditarik paksa ayahnya. Ia memberi Dira kesempatan untuk memulai hidup yang baru. Kesempatan yang selama ini bahkan tak pernah berani Dira impikan.
Sejak malam itu, di dalam hati gadis berusia enam belas tahun tersebut tumbuh sebuah tekad yang tak tergoyahkan. Suatu hari nanti, ia akan menjadi seseorang yang bisa berdiri di aisi lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya.
Saat itu, Dira belum menyadari bahwa rasa syukur yang memenuhi hatinya perlahan akan berubah menjadi kekaguman, kemudian menjadi cinta, dan akhirnya menjelma menjadi obsesi yang sanggup mengubah seluruh jalan hidupnya.
Malam itu juga, Dira dibawa ke sebuah yayasan sosial milik keluarga pemuda tersebut. Di sanalah untuk pertama kalinya ia mengetahui nama orang yang telah menyelamatkan hidupnya.
Adrian Maulana. Nama itu terpatri begitu dalam di benak Dira, seolah tak akan pernah bisa ia lupakan.
Setibanya di yayasan, seorang perempuan paruh baya berwajah lembut segera menghampiri mereka. Perempuan itu adalah Bu Emi, salah satu pengasuh yang telah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk merawat anak-anak yang membutuhkan perlindungan.
Adrian menoleh kepadanya. "Bu Emi, mulai malam ini Dira berada di bawah pengawasan yayasan. Tolong jaga dia baik-baik."
Bu Emi mengangguk penuh pengertian. "Baik, Pak Adrian."
Adrian kembali memandang Dira yang sejak tadi hanya menunduk. Wajah gadis itu masih dipenuhi bekas air mata, tubuhnya gemetar, sementara kedua tangannya terus mencengkeram ujung bajunya seolah takut semua ini hanyalah mimpi.
Dengan nada tenang, Adrian berkata kepada Bu Emi, "Pastikan kondisinya benar-benar baik. Minta dokter memeriksanya untuk memastikan tidak ada luka atau cedera yang terlewat. Kalau perlu, datangkan juga psikolog. Anak ini sepertinya mengalami trauma yang cukup berat."