Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Suara lonceng bernada tinggi bergema melintasi seluruh penjuru Akademi Kuoh, memecah keheningan jam pelajaran terakhir di sesi pagi.
Sinar matahari pertengahan hari menyorot terik menembus jendela-jendela kaca besar di lorong lantai dua, memanggang debu-debu halus yang menari di udara. Begitu nada lonceng tersebut berakhir, suara serentak dari gesekan kaki kursi, resleting tas yang ditarik, dan derap langkah kaki seketika meledak dari setiap ruangan kelas. Waktu istirahat siang telah tiba.
Namun, di dalam Kelas 2-B, rutinitas makan siang yang biasanya diwarnai dengan obrolan ringan dan canda tawa sama sekali tidak terlihat. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat kaku dan berat, mewarisi sisa-sisa ketegangan dari insiden pelemparan massal yang terjadi pagi tadi. Kapur-kapur yang patah dan beberapa buku catatan yang penyok masih berserakan di sudut-sudut lantai kelas, menjadi saksi bisu dari kekacauan sebelumnya.
Yudi berdiri dari bangkunya di barisan tengah. Ia menghela napas pendek, mengusap debu kapur yang masih menempel di lengan blazernya. Matanya melirik ke arah jam dinding kelas yang terus berdetak. Mengingat instruksi mutlak yang diberikan oleh Sona di depan gerbang sekolah tadi pagi, Yudi segera meraih tali tasnya dan menyandarkannya di satu bahu. Ia melangkah keluar dari deretan mejanya, bersiap untuk pergi menuju ruang klub OSIS.
Namun, baru tiga langkah ia berjalan mendekati pintu keluar bagian depan, barikade manusia telah terbentuk secara instan.
Srek! Brak!
Dua buah meja kosong didorong secara kasar hingga menutupi separuh akses jalan menuju pintu geser kelas. Di balik meja tersebut, Motohama dan Matsuda berdiri menyilang, menghalangi jalur keluar. Motohama menaikkan bingkai kacamatanya yang memantulkan kilatan cahaya matahari dari luar jendela, sementara Matsuda melipat lengan kemejanya hingga ke siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang menegang.
"Woi, woi, woi. Mau ke mana kau buru-buru begitu, Yudi?" Suara Motohama memecah keheningan, nadanya rendah dan bergetar, sarat akan interogasi. Kaki kanannya menendang kaki meja di depannya dengan ketukan berirama yang mengganggu telinga.
Di sebelahnya, Matsuda mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya bertumpu kuat di atas meja kayu. "Benar sekali. Kami masih belum selesai denganmu. Kami masih ingin penjelasan yang jauh lebih rinci mengenai apa yang terjadi semalam dan pagi ini," tambah Matsuda. Urat-urat halus mulai menonjol di pelipisnya.
Langkah Yudi terhenti seketika. Ia menurunkan tasnya kembali ke lantai. Kedua tangannya terangkat ke udara dalam gestur menyerah, lalu salah satu tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya sendiri.
"Oh, ayolah..." Suara Yudi terdengar serak, dipenuhi nada kelelahan. Ia mendecakkan lidahnya dengan keras hingga suaranya bergema di ruang kelas yang mendadak sunyi itu. "Tolong jangan bersikap seperti anak kecil yang merajuk. Apa kalian belum pernah melihat seseorang berjalan beriringan sebelumnya di jalanan? Kenapa kalian terus-menerus meributkan hal sesepele itu sejak bel masuk berbunyi pagi tadi?"
Mendengar respons yang terlampau santai dan meremehkan itu, udara di dalam kelas seketika terasa anjlok beberapa derajat. Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh siswa-siswi yang sedari tadi mencuri dengar dari bangku mereka masing-masing.
"Apa maksudmu... bersikap seperti anak kecil?!" sahut seorang siswa berbadan besar dari barisan belakang yang tiba-tiba bangkit berdiri. Pria itu melangkah maju dengan bahu membusung, bergabung di sisi Motohama. "Woi, bocah! Sepertinya kau memang sengaja mencari masalah dengan kami semua di sini!"
"Aku tadinya sudah berniat untuk mengubur dalam-dalam kejadian pagi tadi demi kedamaian kelas," sambung seorang remaja berambut cepak dari sudut ruangan lainnya. Remaja itu memutar lehernya hingga terdengar bunyi retakan tulang yang nyaring, lalu meninju telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya berulang kali.
"Tapi sepertinya... ucapanmu barusan sama sekali tidak bisa ditolerir lagi sebagai sesama laki-laki!"
Kerumunan di sekitar pintu kelas mulai merapat. Siswa-siswa laki-laki lainnya mulai bangkit dari kursi mereka, membentuk setengah lingkaran yang mengurung posisi Yudi. Bayangan dari tubuh-tubuh mereka memanjang di lantai kayu kelas, menyembunyikan Yudi dari jangkauan sinar matahari.
Melihat eskalasi situasi yang tidak masuk akal ini, setetes keringat meluncur turun dari pelipis Yudi, melewati pipinya dan jatuh ke kerah kemejanya.
Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan dari sela-sela bibirnya yang sedikit berkedut. Matanya melirik ke arah jendela yang tertutup rapat, menghitung jarak antara posisinya dengan pintu belakang kelas yang sayangnya juga telah dijaga oleh dua orang siswa dari klub kendo yang memegang penggaris kayu panjang.
"Hehe... hehehe..." Tawa pelan dan bernada gila keluar dari mulut Motohama. Siswa berkacamata botak itu mengangkat tangannya, menudingkan jari telunjuknya lurus ke arah wajah Yudi. "Kau kali ini sendirian, Yudi. Apa kau benar-benar menganggap berjalan beriringan sambil bergandengan tangan dengan salah satu wanita paling populer di sekolah ini adalah hal yang biasa? Kau salah besar, keparat! Itu adalah sebuah pernyataan perang secara terbuka terhadap seluruh populasi pria di Akademi Kuoh!" teriak Motohama dengan urat leher yang menyembul, memberikan komando kepada massa yang mengelilinginya.
"Ya, benar!" sahut seluruh siswa laki-laki di dalam kelas itu secara serentak. Suara teriakan mereka menggetarkan kaca-kaca jendela.
Kepalan-kepalan tangan terangkat ke udara. Beberapa siswa bahkan mulai melangkah maju, mempersempit jarak kurungan mereka menjadi tidak lebih dari satu meter dari tubuh Yudi.
Yudi mundur selangkah. Tumit sepatunya membentur kaki meja di belakangnya. Ia merundukkan wajahnya menatap lantai. Sudut bibirnya berkedut lebih keras. Ia bergumam pelan di tengah suara riuh para siswa, gumamannya nyaris tertelan oleh suara derit kayu meja yang digeser. "Jika aku tahu akhirnya akan jadi seburuk ini... aku tidak akan pernah mau melangkah bersama Kaichou-sama pagi tadi."
Tepat pada detik ketika Motohama dan Matsuda mengangkat tangan mereka bersiap menerjang ke depan untuk menangkap kerah baju Yudi, sebuah suara mendinginkan suasana kelas layaknya bongkahan es abadi yang dilemparkan ke tengah kobaran api.
"Lama sekali."
Suara itu tidak diucapkan dengan nada tinggi, namun intonasinya yang datar, tajam, dan memancarkan otoritas mutlak berhasil memotong riuhnya suara teriakan dari tiga puluh siswa di dalam ruangan tersebut.
Srek.
Pintu geser di bagian depan kelas terbuka sepenuhnya tanpa suara benturan. Di ambang pintu, berdiri sesosok gadis jangkung dengan postur tubuh yang tegak lurus sempurna. Cahaya matahari dari lorong membingkai punggungnya, membuat bayangannya jatuh lurus membelah kerumunan siswa yang seketika membeku.
Gadis itu mengenakan seragam Akademi Kuoh dengan tatanan yang tidak memiliki cela sedikit pun. Rambut hitam panjangnya yang halus diikat dengan rapi. Lensa kacamata berbingkai tipis di wajahnya memantulkan pandangan yang sangat dingin dan menusuk.
"Lama sekali kau datang ke ruang OSIS, Yudi," ucap gadis itu lagi. Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun dipenuhi oleh kesan anggun yang mengintimidasi. Dialah sang Wakil Ketua OSIS Akademi Kuoh, Fukukaichou Tsubaki Shinra.
Tangannya yang terbalut sarung tangan hitam memegang sebuah papan klip (clipboard) dengan sangat teratur di sisi pinggangnya.
"Cepatlah. Kaichou sudah menunggumu dari tadi."
Keheningan absolut mengambil alih Kelas 2-B. Pemandangan itu seolah sebuah lukisan yang waktunya dihentikan. Tangan Motohama masih menggantung di udara. Matsuda berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka.
Tidak ada satu pun siswa yang berani mengeluarkan suara napas yang keras.
Di tengah keheningan itu, Yudi memejamkan kedua matanya. Ia menengadahkan wajahnya ke langit-langit kelas. Tangannya terangkat, meremas rambutnya sendiri dari depan ke belakang.
Sebuah bisikan lirih yang sarat akan keputusasaan meluncur dari mulutnya, "Tamatlah sudah... Apa Kaichou itu benar-benar ingin membuatku menderita di sini?"
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu.
"Haaah?!"
Satu kelas secara serentak melepaskan teriakan tertahan. Bola mata para siswa melebar maksimal. Beberapa siswi yang duduk di pinggir menutupi mulut mereka dengan kedua tangan.
"Dia... dia dijemput langsung ke kelas oleh Fukukaichou Tsubaki Shinra?!" bisik seorang siswa dengan suara bergetar, seakan melihat kemunculan entitas dewa di depan matanya.
Motohama perlahan menolehkan kepalanya ke arah Matsuda. Wajah keduanya memucat, namun sedetik kemudian, warna merah padam menyelimuti wajah mereka kembali. Motohama menggeretakkan giginya hingga terdengar suara decitan mengerikan.
"Semuanya... kalian tahu kan apa yang harus kita lakukan pada bajingan beruntung ini setelah ia kembali nanti?"
"Tentu saja!" jawab para siswa serentak dengan nada rendah yang dipenuhi ancaman. Tatapan mereka tidak lagi hanya menyiratkan kecemburuan, melainkan kebencian murni dan hawa membunuh yang terasa semakin pekat dan menyesakkan dada.
Yudi menurunkan tangannya dari kepala. Bahunya merosot drastis. Ia menundukkan kepalanya, menghela napas panjang hingga punggungnya sedikit membungkuk. "Ya sudahlah... aku pasrah," gumamnya pelan.
Tanpa berani menatap mata teman-teman sekelasnya, Yudi melangkah melewati meja yang bergeser, berjalan menunduk membelah lautan siswa yang memberikan jalan dengan tatapan menguliti. Begitu Yudi melangkah keluar melewati ambang pintu, Tsubaki memutar tubuhnya dengan gerakan presisi dan melangkah terlebih dahulu memimpin jalan.