NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Sistem Omega

Alarm di Zona Inti akhirnya berhenti.

Lampu merah perlahan berubah menjadi biru.

AURA memberikan laporan terbaru.

"Stabilitas penghalang meningkat."

"Delapan puluh enam persen."

"Delapan puluh sembilan persen."

Adrian mengembuskan napas lega.

"Untuk sementara..."

"...kita berhasil."

Reza menurunkan senjatanya.

"Berapa lama bertahan?"

Adrian melihat panel kendali.

"Kalau tidak ada gangguan lagi, mungkin beberapa minggu."

"Kalau sumber sinyal terus bergerak?"

Adrian terdiam.

"Jauh lebih singkat."

---

Di ESS Horizon, Leo masih memegang kepalanya.

"Dengungannya mulai melemah."

Rina tersenyum lega.

"Berarti penghalangnya memang bekerja."

Darius menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Setidaknya kita tahu benda itu bukan pajangan."

---

Kapten Idris memperhatikan panel-panel di sekitar menara.

"Adrian."

"Ya."

"Siapa yang membangun penghalang ini?"

Adrian menggeleng.

"Aku tidak tahu."

"Kau kepala keamanan di sini."

"Tugasku menjaga fasilitas."

"Bukan mengetahui semua rahasianya."

Kael ikut mendekat.

"Berarti bahkan kalian tidak membangun tempat ini?"

Adrian menggeleng sekali lagi.

"Pos Observasi Tujuh memang dibangun oleh PPM."

"Tapi..."

Ia menoleh ke arah lantai di bawah menara.

"...inti fasilitas ini sudah ada jauh sebelumnya."

Kael teringat laporan Hana.

Dugaannya ternyata benar.

---

"Jadi PPM hanya memanfaatkan struktur yang sudah ada?" tanya Lyra.

"Ya."

"Dewan saat itu menemukan tempat ini secara tidak sengaja."

"Lalu mereka membangun Pos Observasi mengelilinginya."

"Karena mereka sadar..."

"...struktur ini menahan sesuatu."

Ruangan kembali hening.

---

Tiba-tiba sebuah panel di sisi ruangan menyala.

Robot kecil mengeluarkan bunyi pendek.

Bip.

Bip.

Adrian menoleh.

"Sudah lama sekali..."

"Apa?" tanya Kael.

"Panel itu tidak pernah aktif sejak aku bertugas."

Tulisan perlahan muncul di permukaannya.

AURA segera menerjemahkan.

"Permintaan akses."

"Pemohon..."

AURA berhenti beberapa detik.

"...Kapten Idris."

Semua langsung memandang Idris.

"Aku bahkan belum menyentuh apa pun," katanya.

Adrian juga terlihat bingung.

"Sistem mengenalimu."

---

Panel kembali berubah.

Kini hanya ada dua pilihan.

AKSES STANDAR

AKSES OMEGA

Kael mengernyit.

"Omega?"

Sofia tampak berpikir.

"Aku pernah mendengar istilah itu."

"Dari siapa?" tanya Lyra.

"Dari Direktur Elias."

"Tapi kami tidak pernah diberi izin mengaksesnya."

---

Kapten Idris memandang Adrian.

"Apa yang harus kulakukan?"

Adrian menghela napas.

"Aku tidak tahu."

"Selama seratus dua puluh enam tahun..."

"...tidak pernah ada panel yang memintaku memilih."

Reza langsung menyela.

"Jangan sembarangan menekan."

"Tunggu sampai kita mengerti."

Idris mengangguk.

"Itu juga pikiranku."

---

Di kapal, Hana sedang mempelajari peta tiga dimensi Pos Observasi.

"Owen."

"Lihat ini."

Owen mendekat.

"Ada apa?"

"Aku menemukan ruang kosong."

"Di mana?"

"Tepat di bawah Zona Inti."

"Ukurannya?"

Hana memperbesar model.

"Dua kilometer."

Owen mengerutkan dahi.

"Sebesar itu?"

"Dan tidak ada satu lorong pun yang menuju ke sana."

Darius ikut melihat layar.

"Berarti memang ada bagian yang belum kita temukan."

---

Sementara itu, Leo menerima hasil analisis terbaru.

"Kapten."

"Ya?"

"AURA menemukan sesuatu."

"Silakan."

"Data struktur Pos Observasi menunjukkan..."

"...sistem ini memiliki tiga tingkat izin."

"Standar."

"Alpha."

"Omega."

Kael bertanya,

"Alpha dipakai siapa?"

AURA menjawab,

"Mayoritas personel Pos Observasi."

"Omega?"

"Hanya satu pengguna yang pernah tercatat."

Ruangan menjadi sunyi.

Kapten Idris bertanya pelan.

"Siapa?"

AURA menjawab tanpa ragu.

"Elias Voss."

---

Semua menoleh ke panel.

Pilihan "Akses Omega" masih menyala.

Seolah-olah...

sistem sedang menunggu seseorang.

Tiba-tiba panel mengeluarkan bunyi.

Bukan peringatan.

Melainkan suara lembut yang sama seperti hologram sebelumnya.

"Identitas dikonfirmasi."

Semua membeku.

AURA langsung berkata,

"Tidak ada seorang pun yang menyentuh panel."

Pilihan di layar perlahan menghilang.

Digantikan oleh satu kalimat.

"Selamat datang kembali, Direktur."

Keheningan menyelimuti Zona Inti.

Tidak ada seorang pun yang bernama Elias Voss di ruangan itu.

Namun sistem kuno Pos Observasi Tujuh...

baru saja mengira Kapten Idris adalah orang yang telah meninggal lebih dari satu abad lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!