NovelToon NovelToon
Salah Goda, Sang Iblis Jatuh Cinta

Salah Goda, Sang Iblis Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Mafia / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Lim Keira pikir dia cuma iseng.
Malam itu di Singapura, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan undangan, Keira mengangkat papan tanda dan "membeli" seorang pria tampan yang berdiri di atas panggung. Tinggi 193 cm, rahang tajam, mata sedingin es — dan aroma kayu cendana yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiga puluh ribu dolar untuk satu malam.
Keira yakin dia yang berkuasa. Dia yang punya uang. Dia yang menentukan aturan main.
Yang tidak dia tahu: pria yang dia "beli" itu bukan model.
Tan Rayhan. Sang Malaikat Maut. Penguasa dunia bawah tanah yang mengendalikan kasino, senjata, dan ribuan perusahaan di seluruh Asia Tenggara. Pria yang belum pernah disentuh wanita mana pun dalam 25 tahun hidupnya.
Dan Keira baru saja membuatnya... jatuh.
Tapi kehidupan Keira bukan dongeng. Ibu kandungnya sudah meninggal. Ibu tirinya, Yuliana, diam-diam menghancurkan segalanya dari dalam. Adik tirinya, Vanessa, berpura-pura menjadi pewaris sah keluarga Lim dan mencuri apa yang seharusnya milik Keira. Ayahnya? Lebih memilih bisnis daripada putrinya sendiri.
Satu-satunya senjata yang Keira punya: kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini — dia bisa melihat setiap kartu di meja judi. Setiap batu permata palsu. Setiap kebohongan yang tersembunyi di balik senyuman.
Dan sekarang, dua dunia bertabrakan.
Dunia gelap Rayhan — di mana taruhan senilai ratusan miliar dilempar seperti uang recehan, di mana satu kesalahan bisa berarti peluru di dada.
Dan dunia Keira — di mana keluarga besar yang seharusnya melindunginya justru menjadi musuh terbesarnya.
Di antara meja judi bernilai triliunan dan pertempuran keluarga konglomerat, satu pertanyaan tetap menggantung:
*Apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas kebohongan?*
*Atau justru kebohongan terbesar adalah... bahwa dia tidak pantas dicintai?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Ujung pisau berkilat, menusuk ke arah Rayhan.

Keira bahkan belum sempat berteriak.

Rayhan sudah bergerak.

Ia tidak merebut pisau itu. Tidak memukul tangan Yuliana. Ia hanya menarik Keira ke belakang tubuhnya dengan satu lengan, lalu menggeser bahu setengah langkah. Gerakan itu cepat dan bersih, hampir tidak terlihat oleh orang-orang yang panik.

Pisau Yuliana menembus udara kosong.

Karena tenaga yang ia pakai terlalu besar, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tumit sepatunya tersangkut ujung karpet. Ia terhuyung, tangannya yang memegang pisau menghantam sisi meja teh, lalu pelipis kirinya membentur sudut kaca.

Suara benturan itu membuat seluruh ruangan seperti berhenti bernapas.

Pisau jatuh ke lantai.

Yuliana ambruk di samping meja.

Darah tipis muncul di dekat sudut mata kirinya, mengalir melewati pipi yang beberapa menit lalu masih dipoles rapi.

"Mama!"

Vanessa menjerit dan berlari menghampiri. Ia berlutut di lantai, tangannya gemetar tetapi tidak berani menyentuh luka itu.

"Mama, bangun! Mama!"

Hendrawan berdiri kaku selama satu detik, lalu tersadar. "Panggil ambulans!"

Salah satu paman buru-buru mengeluarkan ponsel. Bibi-bibi mulai bicara bersamaan.

"Astaga, darahnya."

"Jangan digerakkan dulu."

"RS Pondok Indah paling dekat yang bagus."

"Siapa tadi pegang pisau?"

"Jangan ramai dulu, panggil dokter!"

Keira berdiri di belakang Rayhan. Tangan Rayhan masih menahan pinggangnya, memastikan ia tidak maju ke arah kekacauan itu. Keira melihat Yuliana di lantai, melihat darah, melihat Vanessa menangis, melihat Papa berteriak menyuruh orang mengambil mobil.

Tubuhnya dingin.

Bukan karena kasihan. Bukan juga karena puas.

Karena untuk pertama kalinya, ia melihat dengan jelas sampai sejauh apa rumah itu bisa berubah demi memaksanya tunduk.

Yuliana benar-benar mengayunkan pisau.

Di rumahnya.

Ke arah orang yang ia pilih.

Rayhan menunduk. "Kei, lihat saya."

Keira tidak bergerak.

"Kei."

Baru kali kedua ia berkedip dan menatap Rayhan.

"Kau terluka?"

Keira menggeleng.

"Tangan?"

Ia baru sadar jari-jarinya mencengkeram lengan Rayhan terlalu kuat. Kukunya hampir menancap di kulitnya. Ia segera melepas, tetapi Rayhan justru menggenggam tangannya.

Ia memeriksa pergelangan Keira, satu sisi lalu sisi lain, memastikan tidak ada goresan dari pisau maupun pecahan kaca meja.

"Saya baik-baik saja," katanya.

Kalimat itu seharusnya menenangkan.

Namun mata Keira malah memanas.

Di sisi lain, Hendrawan menatap Rayhan dengan wajah rumit. Ada marah, takut, malu, dan sesuatu yang mirip tidak percaya. Ia tahu Rayhan tidak mendorong Yuliana. Semua orang melihat Yuliana kehilangan keseimbangan sendiri. Namun mengakui itu berarti mengakui bahwa kekacauan ini tidak bisa lagi disalahkan pada Keira seorang.

"Bawa dia ke mobil," perintah Hendrawan.

Dua pengawal membantu mengangkat Yuliana dengan hati-hati. Vanessa berjalan di sampingnya sambil menangis keras.

"Papa, Mama berdarah... Papa, bagaimana kalau matanya..."

"Diam dulu," kata Hendrawan, suaranya kasar karena panik.

Yuliana sempat membuka mata sedikit. Tatapannya kabur, tetapi saat melihat Keira, bibirnya bergerak tanpa suara. Entah kutukan, entah tuduhan.

Keira tidak mengejar.

Ia berdiri di tempat, melihat keluarga besar yang tadi datang seperti hakim kini keluar berantakan seperti rombongan yang takut menjadi saksi. Satu per satu paman dan bibi pergi, masih berbisik, masih menatap ruang tamu, tetapi tidak lagi berani meninggikan suara kepada Rayhan.

Brandon paling terakhir keluar. Sebelum melewati pintu, ia menatap Rayhan sekali. Wajahnya pucat. Rayhan tidak menatap balik, tetapi Brandon tetap mempercepat langkah.

Hendrawan berhenti di ambang pintu.

"Keira," katanya.

Keira mengangkat mata.

Untuk sesaat, ayah dan anak itu saling menatap di antara pecahan buah, meja yang bergeser, dan pisau kecil yang sudah ditendang jauh oleh salah satu pengawal.

"Kita belum selesai."

Suara Keira pelan. "Aku tahu."

"Jangan kira setelah ini kamu bisa terus melawan."

"Papa juga jangan kira setelah hari ini aku masih bisa kembali seperti dulu."

Wajah Hendrawan menegang. Ia tidak menjawab. Ia berbalik dan keluar.

Pintu vila tertutup.

Suara mobil-mobil pergi satu per satu. Gerbang kembali sunyi. Rumah yang beberapa menit lalu penuh teriakan mendadak terlalu sepi.

Keira masih berdiri.

Rayhan membungkuk, mengambil pisau buah dengan tisu, lalu meletakkannya jauh di atas meja dapur. Setelah itu ia kembali ke Keira.

"Mereka sudah pergi."

Keira mengangguk.

"Kei."

Ia mengangguk lagi.

Namun saat Rayhan menyentuh bahunya, seluruh tubuh Keira runtuh.

Ia jatuh ke dada Rayhan dan mulai menangis.

Tangis kali ini bukan seperti malam hujan ketika ia demam. Tangis ini lebih dalam, lebih lama tertahan. Tidak ada kata-kata di awalnya. Hanya napas patah, bahu bergetar, dan kedua tangan yang mencengkeram kaus Rayhan seolah ia takut kalau dilepas, ia akan kembali ditelan rumah besar Lim.

Rayhan memeluknya.

Tidak berkata jangan menangis. Tidak menyuruhnya tenang.

Ia hanya menahan tubuh Keira, membiarkan seluruh beratnya jatuh ke pelukannya.

"Aku capek," suara Keira akhirnya keluar, sangat kecil. "Ray, aku capek sekali."

"Saya tahu."

"Aku pikir kalau aku cukup kuat, mereka akan berhenti."

"Orang seperti itu berhenti kalau mereka tidak punya kuasa lagi."

Keira menutup mata.

"Ray..."

"Hm?"

"Bawa aku pergi, ya?"

Rayhan menunduk. Keira tidak melihat wajahnya, tetapi merasakan lengan laki-laki itu mengeras di punggungnya.

"Kau mau pergi ke mana?"

"Ke mana saja." Keira menggeleng di dadanya. "Asal bukan tempat mereka bisa terus menarikku pulang hanya untuk melukai aku."

Rayhan mengangkat tangannya, menyisir rambut Keira yang berantakan.

"Dengar saya."

Keira diam.

"Seumur hidup ini, kau hanya boleh berada di sisi saya, Tan Rayhan." Suaranya rendah, lambat, seperti janji yang dipahat. "Tapi sekarang, kita selesaikan urusan keluargamu dulu. Bukan untuk mereka. Untuk kau sendiri."

Keira menangis lagi, tetapi kali ini ia mengangguk.

"Aku takut kalau sendirian."

"Kau tidak sendirian."

"Kalau aku jatuh?"

"Saya tangkap."

"Kalau aku kalah?"

"Saya balikkan mejanya."

Keira tersedak di antara tawa dan tangis. "Kamu kasar sekali."

"Saya efisien."

Ia akhirnya sedikit tenang. Rayhan membawanya ke sofa, mengambil selimut, dan membersihkan sisa air mata di pipinya dengan ibu jari. Keira terus memegang ujung kausnya sampai matanya mulai berat.

Di luar, siang Jakarta kembali terdengar biasa. Mobil lewat. Anak-anak kompleks tertawa jauh di jalan. Seolah tidak baru saja ada pisau di ruang tamu.

Keira tertidur dengan kepala di dada Rayhan.

Ponsel Rayhan bergetar.

Ia mengambilnya tanpa menggerakkan Keira.

Pesan dari Devin muncul di layar.

Bos, Darren memberi kabar. Undangan untuk kerja sama Tan Corp dan Lim Group sudah dikirim. Formatnya lelang yacht bersama Oei Patrick.

Rayhan membaca pesan itu sekali.

Lalu menatap Keira yang tidur dengan bulu mata masih basah.

Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

Baik, balasnya. Biarkan mereka mengira itu hanya undangan biasa.

1
Elia Erawati
syng lhooo... novel ini klau di lewatkan... bagus 👍👍👍👍👍👍
Elia Erawati
karya ini sayang untuk di lewatkan, 😍😍😍😍😍
Elia Erawati
nice
Ctiey ZYra
bagus banget alur cerita nya..kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!