yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 9 keranjang Roti
“tidak... aku akan menjadi lebih baik... aku janji....”
“kamu hanya bisa bikin malu saja, kamu ini anak siapa sih? Mamah tidak pernah kek begitu pas masih muda.” Ucap seorang wanita dengan nada keras dan penuh amarah. Setelah itu suara pukulan dan tamparan dari sebuah tangan terdengar keras sambil diiringi suara desisan tangisan seorang anak laki-laki.
“pukul saja, dia pantas mendapatkannya. AKU SENDIRI TIDAK AKAN MENGAKUINYA ANAK KALUA BEGINI JADINYA.” Ucap seorang Pria dengan nada kencang dan diiringi bunyi cambukkan dari sebuah ikat pinggang dari kulit. Setelah beberapa kali cambukkan, suara anak itu berubah menjadi tangisan keras yang tidak dapat ia tahan.
Seketika suara pria itu kembali membesar dengan teriakan kepada anak itu. “DIAM, NANGIS SAJA BISANYA !!!!” Sebuah bunyi cambukkan yang jauh lebih besar terdengar dan menghantam anak itu hingga dirinya terpental dan kemudian terkapar di sisi tembok. Ia tergeletak dengan suara merintih kesakitan dan air matanya terus mengalir. Di tangannya terdapat sebuah gambar anak itu dengan ayah dan ibunya yang ia genggam dengan erat. Perlahan ia mencoba melepaskannya namun ia masih ingin menggenggamnya. Namun saat itu ibunya datang dan melihat gambar itu. Ia mengambilnya dan merobeknya lalu menghamburkan kepingan gambar itu di hadapan anak itu.
Yovada yang melihat anak itu langsung berlari menemuinya dan kemudian ia memeluk anak itu. Wajah anak itu langsung memerah dan terlihat matanya masih mengeluarkan air mata karena dirinya tersiksa dengan pembelajaran orang tuanya. anak itu memeluk Yovada dan kemudian menangis dengan kencang di pangkuannya. Namun Yovada tidak terlalu memperhatikan anak itu namun langsung menghadap orang tuanya.
Yovada yang melihat itu langsung berbalik arah dan kemudian mengambil ikat pinggang yang di pakai ayahnya tadi untuk menyiksa anak kecil itu. Yovada berkata dengan kencang “MANA MEREKA YANG MENYIKSAKU? SINI KITA BERKELAHI SATU PER SATU. BIARKAN APA YANG KALIAN TANAM INI MEMBALAS DENGAN APA YANG SEPADAN UNTUK KALIAN.” Ucap Yovada dengan keras sambil memegang ikat pinggang itu. Ia berteriak dengan keras, wajahnya memerah layaknya api yang berkobar. Namun di situ juga ada anak kecil tadi yang berlari dan memeluk kaki Yovada tadi. Yovada yang melihat itu tidak memedulikannya dan ia ingin menghabisi orang tuanya.
Anak itu memeluk kaki Yovada dengan kuat agar langkah kaki Yovada menjadi berat untuk menghajar orang tuanya. Yovada kecil berkata padanya yang kini sudah dewasa. “kakak, sudah. Mereka tidak bersalah... aku harus menjadi lebih baik lagi karena aku yang salah.” Ucap anak kecil itu dengan pelan kepada Yovada yang kini sudah menjadi dewasa.
Yovada yang mendengar itu langsung terdiam sebentar, seakan ada hal yang membuatnya memikirkan hal lain untuk melakukan tindakannya. Yovada yang masih kecil itu kemudian memohon dengan suara yang masih lembut dan juga air mata yang jatuh ke lantai. Yovada yang melihat itu langsung menurunkan lengannya dan kemudian melepaskan genggaman ikat pinggangnya. Ia menunduk dan memeluk Yovada kecil dengan lembut sambil berkata dengan pelan. “anak, apa yang kamu inginkan dengan hal ini? Bukankah ini menyiksa dirimu?” Ucapnya dengan pelan kepada anak itu dengan lembut.
Anak itu menjawab dengan pelan dan mata yang penuh harapan. “jangan sakiti ayah ibuku. Aku tahu mereka membenciku namun biarkan mereka menyesal dengan kepergianku. Aku tidak ingin mereka tidak menyesal ketika aku dewasa nanti. Tolong biarkan aku hidup dengan usahaku” Ucap anak itu kepada Yovada dengan memohon dengan lembah.
Yovada yang melihat itu langsung luluh, ia menatap anak itu dengan penuh perhatian dan juga rasa iba dengan melihat wajahnya yang memerah karena di pukul, bekas cambukkan, dan juga air mata yang masih mengalir. Yovada duduk dan kemudian memeluk anak itu dan berkata padanya. ”anak, kamu jangan khawatir ya. Kini mungkin kamu merasakan sakit, namun nanti kamu tidak akan merasakan sakit itu lagi. Semua akan menghilang diiringi kehilanganmu dari hadapan mereka. Kamu akan merasakan apa itu kebebasan kok” Ucap Yovada kepada anak itu dengan tulus. Ia memeluk anak itu dan kemudian anak itu juga memeluknya. Setelah pelukan itu sebuah cahaya putih keluar dari antara mereka dan kemudian menyinari dengan terang di antara ruangan yang semuanya gelap.
Seketika Yovada terbangun. Ia membuka mata dan merasakan tubuhnya dingin sedingin es. Yovada mepusut dahinya dan merasakan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Yovada yang merasakan itu langsung terdiam sejenak. Ia mengingat mimpinya dan ia menyadari bahwa ia sudah dua kali mimpi dengan maslah yang sama. Ia terduduk dan kemudian melihat sekitar untuk menenangkan pikirannya. Ia tidak tahu dengan apa yang terjadi dengannya karena di mimpinya ia hanya melihat dirinya ketika kecil yang di siksa. Ia menghela nafas panjang seakan ia telah melewati masa itu sekali lagi.
Di sisi lain, Zico dan Mahfuz sedang berbicara sambil menunggu Yovada datang ke sekolah.
“eh, Yovada tidak kelihatan hari ini? Kemarin juga ia menghilang di setengah waktu sekolah. Katanya di rawat di UKS lalu di pindah ke Rumah sakit dan kini ia izin. Apa itu benar?” Ucap Mahfuz kepada Zico dengan penasaran.
“yup... katanya sih begitu. Aku kemarin mau mengajak main juga dia tidak ada di rumah.” Ucap Zico dengan penasaran kepada Mahfuz sambil membaca bukunya
“kamu tahu dari mana dia tidak ada di rumahnya? Apa kamu menunggunya keluar?” Tanya mahfuz dengan penasaran kepada Zico.
“kamu bisa liat dari sendalnya, jika ia ada maka harusnya sendalnya juga ada.” Ucapnya dengan santai dan juga begitu tenang.
Di sisi lain, Kesya melihat ke arah kelas Yovada. Ia merasa tidak nyaman dengan ulahnya yang menyebabkan Yovada harus di rawat di Rumah sakit. Namun ia juga bertugas untuk menjaga Yovada nanti di sana nanti. Ia juga menawarkan beberapa hal kepada Yovada sebagai penebusan kesalahannya nanti. Ia menatap langit dan kemudian ia kembali berjalan menuju kelasnya.
Di sisi lain, teman-teman Yovada malah menunggu kedatangan Yovada ke sana dan hingga kelas itu di mulai, Yovada juga belum kunjung datang dan kemudian seorang guru masuk dan mulai mengajarkan materi. Dan di situlah, untuk pertama kalinya Yovada di tulis sakit di buku kehadiran.
Ketika pulang sekolah, Kesya langsung pergi ke tokoh makanan dan membeli beberapa roti dan lainnya untuk Yovada. Kemudian ia bergegas pergi ke rumah sakit. Ia memesan Taksi Online untuk pergi ke rumah sakit Yovada. Selama di mobil, ia memandang makanan yang ia beli itu untuk Yovada dan ia melamun di karena kan ia merasa sedikit bersalah sebab ia membuat Yovada jadi tidak masuk kelas untuk pertama kalinya sejak ia SMA. Dari sini ia bertekat untuk merawat Yovada sebaik mungkin. Ia sendiri merasa cukup senang bisa menolong orang yang menolongnya. Namun firasatnya mengatakan bahwa ada hal buruk yang menunggunya nanti.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung berjalan perlahan. Dengan anggun ia berjalan dengan tatapan dingin dan juga parfumnya yang masih tercium sangat manis. Ia berjalan perlahan dan hingga seseorang wanita menabraknya dari belakang yang menyebabkan dirinya terjatuh dan menjatuhkan sekeranjang roti tadi lantai. Kesya yang melihat itu langsung berusaha berdiri dan meraih keranjang roti itu. Ketika ia berbalik badan, ia melihat seorang wanita dengan tubuh pendek dan juga menggunakan pakaian sekolah yang sama dengannya. Wanita itu tidak lain adalah Aulia yang menabrak Kesya dengan tidak sengaja. Kedua wanita itu menatap satu sama lain dan kemudian mulai berdiri dan kemudian mereka saling menatap satu sama lain.
“Hey, wanita aneh, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu pasti ingin merebut Yovada dariku kan? Aku tahu itu akan terjadi dan kamu pasti orangnya” Ucapnya dengan marah kepada Kesya yang ada di hadapannya dengan sambil menatap dirinya dengan tatapan dingin.
“....” jawab Kesya dengan keheningan yang bahkan saking heningnya jawaban itu, bunyi roda dari kursi roda pun bisa terdengar dengan jelas. Ia masih menatapnya dengan tatapan yang aneh dan kemudian ia berbalik badan dan meninggalkan Aulia sendirian.
“Hey, jangan kabur kamu. Masalah kita belum selesai.” Ucap Aulia sambil mengejar Kesya yang berjalan menuju kamar Yovada. Ia menarik Rambut Kesya dan menjambaknya yang membuat kepala Kesya tertarik dan kemudian merintih kesakitan. Kesya yang melihat itu langsung marah dan kemudian menghantam kan keranjang Roti itu langsung ke pipi Aulia. Seketika ia langsung melepaskan jambakan itu dan kemudian ia berjalan mundur. Wajahnya memerah dan kemudian siap untuk menghajar Kesya di sana dengan keras dan akan membuat keributan.
Kesya yang melihat itu hanya berjalan maju menuju kamar Yovada dan kemudian Aulia langsung berjalan dan menahan pundak Kesya dan meninjunya tepat di pipinya. Seketika Pipi Kesya langsung membiru karena pukulan kencang tadi. Kesya langsung terpental dan tersandar di tembok karena pukulan itu. Namun Kesya tidak tinggal diam, ia berdiri dan menatap Aulia dengan tatapan penuh amarah seakan ingin membalaskan pukulan yang lontarkan Aulia tadi. Namun Kesya tidak menunjukkan wajah marahnya namun langsung berjalan dan ke depannya sambil berbicara. Dengan nada yang membuatnya terasa seperti terintimidasi.
“Jangan ganggu aku untuk sekarang, aku tidak ingin merebut siapa pun dari siapa pun. Namun ini adalah tugasku untuk seseorang yang menyelamatkanku.” Ucapnya dengan nada yang pelan namun penuh ancaman yang membuat aulia yang biasanya arogan dan juga merasa sebagai seseorang yang sangat penting langsung memiliki nyali yang mengecil.
Kesya yang sudah selesai dengan Aulia langsung berjalan kembali ke ruangan Yovada dengan pelan dan meninggalkan jejak aroma Parfumnya yang manis di sepanjang lorong yang membuat siapa pun lewat akan tahu bahwa aroma itu berasal dari Kesya. Wajah Aulia masih sangat marah kepada Kesya yang ingin merebut Yovada darinya. Aulia berbicara dengan pelan dan dengan nada yang dalam seperti mengintimidasi.
“Kesya.... kamu ini... awas saja....”