Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Tak berselang lama setelah perawat keluar, pintu kamar kembali bergeser terbuka.
Dokter paruh baya yang menangani Sari semalam masuk dengan menjinjing papan dokumen medis.
Wajahnya tampak tidak setuju begitu mendengar laporan dari perawat mengenai keinginan pasiennya.
"Ibu Sari," potong Dokter dengan suara bariton yang tegas sebelum Sari sempat mengulang permintaannya.
"Perawat bilang Anda memaksa ingin rawat jalan? Saya selaku dokter penanggung jawab dengan tegas melarangnya. Kondisi klinis Anda belum memungkinkan."
"Tapi, Dok, saya sudah merasa lebih baik. Saya bisa beristirahat di rumah—"
"Tidak ada tapi-tapian, Ibu Sari," sela Dokter tanpa bisa dibantah.
"Bakteri Salmonella typhi di dalam tubuh Anda belum sepenuhnya dikendalikan oleh antibiotik. Jika Anda memaksa pulang sekarang dan terjadi syok atau pendarahan lambung akibat kelelahan, kondisinya bisa fatal. Besok atau lusa, setelah hasil tes darah ulang menunjukkan perbaikan, Anda baru boleh pulang. Sekarang, silakan dimakan buburnya dan habiskan obatnya."
Setelah memberikan instruksi ketat kepada perawat untuk mengawasi Sari, Dokter melangkah keluar ruangan.
Sari menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya kembali ke bantal dengan perasaan jengkel bercampur lelah.
Di tengah kondisi kacau ini, egonya melarang keras untuk menghubungi Nanda atau sang nenek.
Ia tidak mau menunjukkan dirinya yang sedang tumbang dan tidak berdaya seperti ini.
Di sudut ruangan, Arka yang sejak tadi membisu perlahan bangkit dari kursinya.
Ia melangkah mendekati meja kecil, lalu mengambil mangkuk berisi bubur rumah sakit yang masih mengepulkan uap tipis.
Pria itu berniat menyuapi Sari demi menebus rasa bersalahnya.
Namun, baru saja tangan Arka terulur, Sari langsung menepisnya dengan gerakan lemah namun sarat akan penolakan.
"Aku bisa sendiri, Arka. Aku bukan wanita manja yang apa-apa harus disuapi," ketus Sari, merebut sendok dari tangan Arka dengan jemarinya yang masih gemetar menahan linu.
"Mbak, tolong jangan keras kepala untuk kali ini saja," mohon Arka, matanya menatap Sari penuh rasa iba dan penyesalan.
"Tubuhmu masih sangat lemas."
Sari menghentikan gerakannya. Ia meletakkan kembali sendok itu ke dalam mangkuk dengan denting yang cukup keras, lalu mendongak menatap Arka dengan kilat amarah yang kini bercampur baur dengan rasa sakit yang teramat dalam.
"Kalau kamu tidak suka melihatku keras kepala, ya silakan keluar! Pintu kamarnya tidak dikunci!" usir Sari, suaranya naik satu oktav meskipun terdengar serak.
"Lagipula untuk apa kamu masih bertahan di sini? Kita ini bukan siapa-siapa, Arka!"
Arka membeku, dadanya sesak mendengar kalimat "bukan siapa-siapa".
"Kamu itu hanya mencintai mantan istrimu, Niken. Bukan aku," lanjut Sari, senyum sinisnya kembali terukir, namun kali ini air mata mulai menggenang di sudut matanya yang sembap.
"Untuk apa kamu membuang waktu menjaga wanita egois, pembohong, dan... mungkin seorang pencuri uang seperti yang kamu teriakkan kemarin pagi? Pergi, Arka!"
Kalimat sindiran Sari yang mengembalikan seluruh tuduhan keji kemarin pagi bagai gada yang menghantam telak harga diri dan penyesalan Arka.
Pria itu hanya bisa berdiri terpaku, membiarkan dadanya berdenyut perih menerima setiap luapan luka dari wanita yang kini telah menutup rapat-rapat pintu maaf untuknya.
Mendengar seluruh kalimat tajam dan usiran dingin dari Sari, Arka akhirnya sadar bahwa keberadaannya di dalam ruangan saat ini hanya akan memperkeruh suasana batin wanita itu.
Dengan hati yang hancur dan kepala tertunduk, Arka meletakkan kembali mangkuk bubur ke atas meja.
"Aku keluar dulu, Mbak. Tapi aku tidak akan pulang ke Jakarta," ucap Arka lirih.
Arka melangkah gulai keluar dari kamar rawat inap, menutup pintu dengan sangat pelan.
Begitu tubuh tegap itu menghilang di balik pintu, pertahanan Sari runtuh seutuhnya.
Di atas ranjang rumah sakit yang sunyi, Sang CEO menangis sesenggukan.
Ia membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangan yang bebas dari infus, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah membasahi seprai.
Rasa sakit karena dikhianati oleh kata-kata Arka terasa jauh lebih menyiksa daripada jarum yang menusuk kulitnya.
Di luar ruangan, Arka mendudukkan tubuhnya di atas kursi tunggu koridor yang dingin.
Ia menyandarkan kepala ke dinding rumah sakit, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Maafkan aku, Mbak. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan tetap menunggumu di sini sampai kamu sehat, sampai kamu bisa berdiri lagi," gumam Arka pada kesunyian koridor, berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah meninggalkan Sari lagi.
Hampir satu jam berlalu. Di dalam kamar, tangis Sari perlahan mereda, menyisakan ruang hampa dan perut yang mulai terasa perih membelit.
Gejala tipes dan lambungnya yang kosong sejak kemarin menuntut untuk diisi. Sari melirik mangkuk bubur di atas meja kecil.
Dengan tubuh yang masih gemetar dan kepala yang berputar pening, ia memaksakan diri menggeser tubuhnya ke tepi ranjang.
Ia mengulurkan tangannya yang kaku untuk meraih mangkuk keramik tersebut tanpa mau memanggil perawat.
Namun, sial bagi Sari, jemarinya yang masih lemas kehilangan kendali saat bobot mangkuk itu berpindah ke tangannya.
Pyarrrr!
Mangkuk keramik itu lolos dari genggaman Sari, jatuh menghantam lantai putih rumah sakit dan pecah berkeping-keping.
Bubur putih yang masih hangat kini berserakan, bercampur dengan pecahan beling yang tajam.
Suara pecahan yang cukup keras itu seketika menembus pintu kamar.
Di luar, Arka yang selalu bersiaga langsung tersentak kaget.
Tanpa memedulikan apa pun, ia langsung mendorong pintu kamar dan masuk dengan wajah panik.
"Mbak Sari! Ada yang terluka?!" tanya Arka cepat, matanya langsung tertuju pada lantai, lalu beralih pada Sari yang terpaku di tepi ranjang dengan napas memburu.
Melihat Sari baik-baik saja dan tidak terkena pecahan, Arka menghela napas lega.
Tanpa menunggu perintah atau omelan dari Sari, Arka langsung berlutut di atas lantai yang dingin.
Mengabaikan harga dirinya, pria tegap itu mulai memunguti pecahan keramik yang tajam satu per satu dengan tangan kosongnya sendiri, lalu mengelap sisa bubur yang berserakan menggunakan beberapa lembar tisu dengan sangat telaten.
Sari hanya diam membeku di atas ranjang. Dengan sorot mata yang masih sayu dan bengkak akibat menangis, ia memperhatikan setiap gerak-gerik Arka yang sedang membersihkan lantai di bawahnya.
Tidak ada kata-kata ketus yang keluar, tidak ada usiran dingin.
Di dalam keheningan yang kembali merayap itu, Sari hanya menatap punggung tegap pria yang telah menghancurkan hatinya, namun kini sedang berlutut di kakinya demi sebuah penebusan.
Setelah memastikan seluruh pecahan beling yang tajam telah disingkirkan dari sekitar ranjang, Arka bangkit berdiri.
Ia melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam ruangan tersebut, mengambil alat pel, lalu dengan telaten mengeringkan lantai yang sempat kotor oleh tumpahan makanan hingga kembali bersih mengilap.
Sari masih bergeming di tempatnya, memalingkan wajah menatap jendela, enggan memperlihatkan gurat kelaparan atau kelemahannya di hadapan Arka.
Arka meletakkan kembali alat pel ke tempat semula.
Ia berjalan mendekati sisi ranjang, menatap Sari dengan pandangan yang melembut.
"Mbak, sebentar ya, saya belikan bubur yang baru di luar," ucap Arka dengan nada penuh perhatian.
Tanpa menunggu jawaban atau penolakan dari Sari, Arka segera membalikkan badan dan berlari kecil keluar kamar.
Ia tidak ingin membiarkan lambung Sari yang sedang meradang akibat tipes itu kosong terlalu lama.
Arka bergegas menuju meja konter perawat yang berada di tengah koridor dengan napas yang sedikit memburu.
"Suster, maaf mengganggu," panggil Arka panik.
"Mangkuk bubur Ibu Sari di Kamar 104 tadi tidak sengaja tersenggol dan pecah. Di mana saya bisa membeli bubur rumah sakit yang sama? Beliau harus segera mengisi perut untuk minum obat."
Melihat gurat panik dan ketulusan yang begitu besar di wajah kuyu Arka, perawat itu tersenyum maklum.
"Oh, tidak apa-apa, Mas. Mas tidak perlu beli ke luar rumah sakit. Mari, ikut saya ke ruang gizi, kebetulan porsi sarapan untuk pagi ini masih ada sisa."
Perawat itu mengantarkan Arka menyusuri lorong bagian dalam menuju instalasi gizi rumah sakit.
Petugas gizi yang berjaga di sana dengan cekatan langsung menyiapkan satu porsi bubur hangat yang baru di atas nampan, lengkap dengan mangkuk dan sendoknya.
Saat nampan itu diserahkan, Arka langsung merogoh kantong hoodie-nya, bersiap mengambil beberapa lembar uang yang dilemparkan Sari tadi untuk membayar ganti rugi.
"Berapa semuanya, Sus?" tanya Arka.
Perawat itu menggelengkan kepala perlahan sambil menepis pelan tangan Arka.
"Tidak usah dibayar, Mas. Ini gratis, sudah termasuk dalam fasilitas pelayanan rawat inap pasien. Mas bawa saja langsung ke kamar ya, mumpung buburnya masih hangat."
Arka tertegun sejenak, lalu membungkukkan badannya dengan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih banyak, Suster. Terima kasih."
Dengan kedua tangan yang memegang erat nampan berisi bubur hangat tersebut, Arka melangkah kembali menuju Kamar 104.
Di dalam dadanya, ada secercah harapan yang ia bawa bersama kepulan uap makanan itu—berharap ketulusan kecil ini bisa sedikit melunakkan kerasnya dinding es yang kini membentang di hati Sari.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎