NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 10

Sebenarnya apa yang dilihat Nyi Asih tidak seperti dugaannya. Arya sedikit merasakan dampak racun yang dikeluarkan Nyi Asih sedikit bersarang di tubuhnya. Aliran pernafasannya sedikit berat, namun dia masih bisa menahan agar tidak sampai menggangu pertarungannya.

"Aku harus cepat mengalahkannya." Arya berpikir panjang. Dia harus bisa membunuh Nyi Asih sebelum racun yang bersarang di tubuhnya menjalar lebih luas. Untuk saat ini dia masih bisa menahan agar racun itu tidak menyebar, tapi jika terlalu lama membunuh Nyi Asih, situasinya bisa berbalik menekannya.

Namun berikutnya Arya bisa sedikit merasa lega karena ingat dengan kitab tentang racun pemberian ayahnya yang dulu didapatkan di daratan Walidwipa.

Lagi-lagi penjelasan dari ayahnya sangat berguna bagi dirinya. Cara menekan racun agar tidak sampai menyebar di dalam tubuh saat ini sedang dipraktekkannnya, sebelum nanti membaca kitab pemberian ayahnya.

Walau terlihat biasa saja, tapi Nyi Asih bisa melihat adanya perubahan di wajah Arya. Raut muka yang tadinya terkesan santai, kini mulai sedikit menegang. Nyi Asih akhirnya memahami jika racun yang digunakannya berhasil bersarang di tubuh pemuda itu walau kadarnya tidak terlalu banyak. Senyumnya pun akhirnya bisa sedikit mengembang.

"Teruslah bergerak maka racunku akan semakin cepat menjalar di tubuhmu. Pada akhirnya pembuluh darahmu akan pecah dan kau akan tewas mengenaskan!" Nyi Asih terkekeh pelan, lalu terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari bibirnya.

"Bagaimana kalau kita akhiri pertarungan dan kita sama-sama pergi dari tempat ini tanpa rasa dendam?" sambungnya memberi penawaran.

Arya sedikit merasa was-was. Sebab ini baru pertama kalinya dia terkena racun. Pengalamannya yang sedikit juga menunjang rasa takutnya.

"Tampaknya kau pun juga mengalami luka dalam tidak ringan, Nyi. Lihatlah juga tongkatmu yang sebentar lagi akan menjadi barang tidak berguna!" sahut Arya.

Nyi Asih mengernyit. Tatapan matanya lalu tertuju pada tongkat yang dipegangnya.

"Sialan!" umpatnya dalam hati.

Dia melihat begitu banyak retakan memanjang menghiasi tongkatnya yang terbuat dari besi pilihan. Terutama di titik terjadinya benturan.

Sama-sama mengalami luka dalam membuat kedua pendekar itu berpikir keras. Walau secara hitungan kasar, luka dalam akibat racun yang bersarang di tubuh Arya sedikit lebih menghawatirkan.

Pemuda itu mengambil keputusan untuk berjudi dengan waktu. Dia sadar jika terlalu lama menunggu aka membuat racun di tubuhnya semakin sulit dikendalikan.

"Ayah, Ibu, jika memang aku ditakdirkan untuk mati hari ini, berarti aku memang tidak pantas menjadi putra sepasang pendekar besar seperti kalian," ucapnya dalam hati.

Sama seperti Ranu yang memiliki tekad kuat dan tidak takut akan kematian, Arya juga memiliki sifat yang sama. Sebuah peribahasa yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tampaknya berlaku untuk menggambarkan sifat Arya dan Ranu yang hampir sama.

Kalau ada sifat anak yang tidak sama dengan orang tuanya, maka peribahasa di atas itu tidak berlaku. Bisa jadi pohon itu tumbuh di pinggir sungai dan buahnya hanyut terbawa aliran air.

Pemuda itu kembali menekan racun di dalam tubuhnya menggunakan tenaga dalamnya. Sebisa mungkin dia akan membuat jantungnya tidak terlalu cepat memompa darah di tubuhnya.

"Aku tidak bisa berlama-lama membiarkanmu hidup. Bersiaplah Nyi Asih!" Arya kuat menekan kakinya ke tanah sebelum melesat dengan kecepatan tinggi.

Nyi Asih mendelik tidak percaya melihat kenekatan Arya yang memilih berjudi dengan kematian. Padahal dia sudah berusaha memberi penawaran terbaik agar bisa sama-sama selamat dari kematian.

4 meter sebelum sampai di sasaran, Arya melompat tinggi dan berputar dua kali di udara sebelum menebaskan pedangnya.

"Mati kau, Manusia sesat!"

Nyi Asih merasakan energi besar terarah menuju kepalanya. Pedang langit sudah berada dalam jangkauan untuk mencabut nyawanya. Dia hanya bisa mengangkat tongkatnya seraya menggunakan sisa-sisa tenaga dalamnya untuk menahan serangan Arya.

Ledakan cukup keras pun terdengar seketika Akibat pertemuan dua energi yang berbeda. Debu mengepul tebal dan rerumputan dan pepohonan kecil sampai tercabut dari akarnya lalu terhempas menjauh.

5 orang yang diselamatkan Arya ternyata sudah berlindung di balik sebuah pohon berbatang besar agar tidak terkena dampak dari pertarungan yang dilakukan dua pendekar itu. Mereka berlima sadar jika maut bisa saja mengintai nyawa kalau mereka tidak waspada.

Arya terbatuk kecil lalu memuntahkan darah hitam dan kental dari bibirnya. Dia masih bisa berdiri untuk beberapa saat menatap tubuh Nyi Asih yang sudah hancur dan tidak berbentuk lagi, sebelum tubuhnya akhirnya limbung dan jatuh tidak sadarkan diri.

5 orang lelaki yang berlindung di balik pohon segera berlari mendekati tubuh Arya. Salah satu dari mereka memeriksa detak nadi pemuda itu untuk mencari tahu bagaimana kondisinya.

"Dia masih hidup. Kita harus membawanya untuk diobati!" serunya sedikit keras.

Satu orang yang memiliki perawakan tinggi besar kemudian menggendong Arya di punggungnya. Mereka berlari menuju kumpulan kuda yang terikat cukup jauh dari tempat pertarungan.

Sementara itu di alam pikirannya. Arya bertemu dengan sesosok wanita cantik memakai mahkota yang tidak pernah ditemuinya di alam nyata. Tanpa dia tahu, wanita cantik itu adalah Dewi Anjani, yang juga merupakan ibu angkat dari ayahnya.

"Bibi siapa?" tanya Arya.

"Aku adalah ibu dari ayahmu, Arya. Jangan panggil aku Bibi lagi," balas Dewi Anjani. Senyum hangatnya membuat Arya begitu terayomi.

Arya mengangguk, meski dalam hati dia merasa jika wanita cantik di depannya itu secara wajah tidak pantas dipanggil nenek.

"Aku tahu saat ini sedang bersarang racun di tubuhmu, Arya. Tapi kau tidak perlu kuatir, karena itu hanya racun biasa yang tidak akan bisa membuatmu mengalami kematian. Justru nanti kau akan mengalami sesuatu yang akan membuatmu terkejut."

Arya mengernyitkan dahinya. Dia masih belum bisa memahami apa maksud dari ungkapan yang disampaikan Dewi Anjani.

"Aku tidak bisa terlalu banyak menjelaskannya kepadamu, Cucuku. Hanya saja, ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu terkait perkembanganmu nanti."

"Tentang apa?" tanya Arya lagi.

"Ada berkah api di dalam tubuhmu, Arya. Sama seperti yang dimiliki ayahmu. Tapi bedanya, yang kau miliki saat ini adalah inti sari dari semua kekuatan yang dimiliki ayahmu."

"Tapi ibu bilang jika ayah sampai kehilangan kekuatannya untuk menyelamatkan nyawaku," sela Arya.

"Memang benar seperti itu kejadiannya. Tapi aku sengaja memeras kekuatan ayahmu sebelum dia melepaskan semua kekuatannya untuk menyelamatkanmu. Setelah kau lahir ke dunia, aku memasukkannya ke dalam tubuhmu."

"Tapi kenapa nenek melakukannya? Apakah itu nanti tidak akan berakibat buruk kepada ayah?"

"Tenang saja, Cucuku. Asal kau tidak berbicara kepada orang lain tentang pertemuan kita kali ini, semuanya akan baik-baik saja. Sengaja aku menemuimu di alam pikiran agar tidak ada yang tahu tentang rahasia ini. Nanti pada saatnya kau akan tahu kenapa aku melakukan itu."

"Baik, Nek. Aku berjanji akan menjaga pesan yang Nenek berikan sebaik mungkin," balas Arya tegas.

"Ada satu lagi. Kau pasti bertanya-tanya kenapa memiliki rambut berwarna kemerahan, bukan?"

Arya mengangguk. Selama ini dia memang belum mendapat jawaban tentang warna rambutnya yang berbeda dari umumnya.

"Rambutmu itu karena berkah api yang ada di dalam tubuhmu, Arya. Ada sebuah pusaka yang aku sisipkan di sana untuk membantumu mengarungi dunia persilatan yang keras."

"Pusaka apa, Nek?"

Dewi Anjani memejamkan matanya untuk beberapa lama. "Coba fokuskan pikiranmu dan pusatkan pada rambutmu."

Arya menuruti ucapan Dewi Anjani. Dia memejamkan matanya dan konsentrasinya tertuju kepada rambut merahnya.

Tak berapa lama, perubahan terjadi pada rambut Arya. Rambut yang awalnya hanya sepanjang bahu, tiba-tiba memanjang hingga di bawah pinggang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, rambut panjang itu terbakar hebat, tapi Arya tidak merasakan panas sedikitpun.

"Sekarang coba pegang rambutmu dan lihat apa yang akan terjadi!" perintah Dewi Anjani.

Dengan sedikit rasa takut dan mata masih dalam keadaan terpejam, Arya mengumpulkan rambutnya menjadi satu dan memegangnya dengan kuat.

"Bukalah matamu dan lihat apa apa yang sedang kau pegang!"

Arya membuka matanya dan keterkejutan seketika langsung muncul dalam raut wajahnya.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!