Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 ~ Perasaan Tidak Enak
Oma Gloria tidak langsung menjawab. Wanita itu lebih dulu meraih cangkir teh hangat diatas meja, lalu menyesapnya dengan pelan.
"Aku tidak bisa mengambil keputusan apapun." ucapnya sambil menaruh kembali cangkir teh tersebut. "Karena yang paling berhak menentukannya adalah Ayra. Dia lebih tau tentang segalanya, termasuk untuk keputusan untuk kembali ataupun tidak."
"Tapi Ayra sedang hamil anak dari Arga. Mungkinkah kita tega untuk memisahkan anak dengan ayahnya?" ujar Nyonya Ratna mulai memprovokasi.
"Saya rasa kita sebagai orang tua dari mereka juga harus bersikap dengan bijak, Oma. Anak dalam kandungan Ayra masih sangat membutuhkan figur seorang ayah.
Oma Gloria menghela nafas. Lalu tersenyum tipis. "Tapi aku rasa keputusan Ayra juga sudah cukup tegas. Bukankah selama ini kalian juga memisahkan Samuel dari ibu kandungnya dan meminta Ayra untuk merawatnya secara tidak langsung?"
Jleb!
Wajah Nyonya Ratna langsung pias. Wanita tua itu seperti tau kapan harus menjatuhkan seseorang dengan cara yang benar-benar tajam.
"T-tapi kami melakukan itu demi Ayra. Oma juga pasti tahu, bukan? Bagaimana kondisi Ayra saat itu? Kami tidak memiliki pilihan lain selain mencari wanita yang mau melahirkan keturunan Arga."
"Dengan cara membohongi Ayra selama bertahun-tahun?" potong Oma Gloria tenang. "Itu bukan pilihan, Nyonya Ratna. Itu keputusan."
Detik juga Nyonya Ratna langsung terdiam. Sementara Oma Gloria tetap melanjutkan ucapannya.
"Kalian memilih berbohong. Kalian memilih menyembunyikan kebenaran. Dan kalian juga memilih membiarkan Ayra hidup dalam kebohongan yang kalian ciptakan sendiri."
Deg! Ucapan Oma Gloria telah membuat Nyonya Ratna merasa benar-benar terpojok kali ini. Padahal sebelumnya wanita itu datang dengan harapan yang begitu besar, jika dia masih bisa menjadikan kandungan Ayra sebagai alasan untuk menarik wanita itu kembali.
Tapi nyatanya Oma Gloria bahkan tidak memberikan kesempatan sedikitpun padanya.
Cih! Benar-benar membuang waktu saja! Nyonya Ratna memang sudah menduga, jika tidak akan mudah untuk membujuknya. Hanya saja dia sudah tidak memiliki jalan lain saat ini, jika tidak mana mungkin dia mau menurunkan harga dirinya dengan mengemis seperti ini.
"Saya pikir Oma akan bisa memberikan solusi terbaik untuk rumah tangga Ayra dan Arga. Tapi ternyata saya salah.. Anda memang sengaja ingin membuat Arga dan Ayra berpisah!" ucap Nyonya Ratna sembari berdiri dari tempat duduknya.
Oma Gloria hanya menatapnya dengan tenang. Dia tau betul, orang seperti Ratna ini pasti akan marah dan membuka topengnya sendiri jika apa yang dia inginkan tidak bisa dicapainya.
"Kalau begitu... sepertinya memang tidak ada gunanya berbicara dengan Oma."
Oma Gloria hanya tersenyum tipis.
"Memang tidak ada."
Deg. Nyonya Ratna langsung menatapnya tajam dan tidak percaya.
"Aku sudah bilang sejak awal. Orang yang bisa mengubah keputusan itu hanya Ayra."
"Tapi Oma bisa membujuknya."
"Aku tidak akan melakukannya."
"Kenapa?"
Tatapan Oma Gloria perlahan berubah dingin. Wanita itu juga langsung ikut berdiri dari kursinya, menatap wajah Nyonya Ratna begitu tajam.
"Karena aku tidak akan pernah menyuruhnya kembali ke tempat yang telah menghancurkannya."
Nyonya Ratna mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia akhirnya sadar, jika wanita didepannya adalah batu besar yang tidak akan pernah muda mudah untuk digoyahkan.
Nyonya Ratna langsung menyambar tasnya. "Kalau begitu saya permisi!"
"Silakan."
Tanpa menunggu lebih lama, Nyonya Ratna segera melangkah keluar dari rumah itu.
Begitu sosoknya menghilang, Oma Gloria mengembuskan napas panjang.
"Huftt..." Ternyata menghadapi wanita seperti Ratna jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.
Ruang tamu kembali sunyi. Namun kini yang memenuhi pikiran Oma Gloria bukan lagi tentang Nyonya Ratna, melainkan Ayra.
Wanita tua itu melirik jam dinding. Sudah lewat dari waktu yang seharusnya. Padahal tadi Ayra mengatakan bahwa dirinya akan segera pulang setelah selesai memeriksakan kandungan.
Alis Oma Gloria perlahan berkerut. Entah kenapa, dadanya tiba-tiba terasa tidak tenang. "Kemana anak itu? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?"
Perasaan tidak nyaman itu semakin lama semakin mengganggu pikirannya.
Oma Gloria akhirnya menoleh ke arah salah satu pelayan yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Tolong panggil Bima."
"Baik, Oma." Pelayan itu segera mengangguk lalu pergi.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Bima berjalan masuk lalu berhenti di hadapan Oma Gloria.
"Oma. Ada yang bisa saya bantu?"
Oma Gloria menghela napas pelan. "Cucuku belum pulang dari rumah sakit. Aku khawatir terjadi sesuatu pada Ayra. Tolong kamu susul dia kesana sekarang."
Bima langsung mengangguk patuh. "Baik Oma. Saya segera pergi,"
"Hm. pergilah,"
Tanpa bertanya lebih jauh, Bima langsung berbalik dan meninggalkan ruang tamu. Langkahnya terdengar cepat menuju halaman depan rumah.
Tak lama kemudian, pria itu sudah berada didalam mobilnya. Mesin kendaraan segera menyala. Bima langsung melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Ayra memeriksakan kandungannya.
••
••
Disisi lain...
Ayra yang baru saja keluar dari rumah sakit melangkah menuju area parkir bawah tanah.
Suasana basement terlihat cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir rapi dengan suara langkah kaki yang sesekali bergema di antara pilar-pilar beton.
Tangannya merogoh tas mencari kunci mobil.
Klik. Lampu mobilnya berkedip pelan. Ayra segera berjalan mendekat.
Namun tepat saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu mobil, sebuah tangan besar tiba-tiba muncul dari belakang.
Deg! Sebelum sempat bereaksi, mulut Ayra langsung dibekap rapat.
"Mmph!" Tubuhnya menegang.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri dibelakangnya. Wajahnya tertutup masker hitam dan topi senada. Bahkan pakaiannya pun serba hitam hingga sulit dikenali.
Jantung Ayra langsung berdegup kencang. Ia mencoba meronta, namun pria itu justru mempererat cengkeramannya.
"Diam!" desis suara rendah itu.
Ayra semakin panik. Berbagai kemungkinan langsung memenuhi pikirannya.
Siapa orang ini?
Apa yang dia inginkan?
Kenapa dia mengincarnya?
Pria itu segera menyeret Ayra beberapa langkah menjauh dari mobil dan membawanya masuk kedalam mobil lainnya.
BRAKK!