NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

happy reading guys

------------------------------

BAB 3: Tamparan di Malam Pameran

Satu bulan berlalu seperti kedipan mata bagi dunia, tetapi bagi Elena Vance, setiap detiknya adalah proses penempaan diri di dalam tungku api balas dendam.

Nama Adeline Wijaya benar-benar telah terkubur di bawah tanah makam kosong yang dibuat secara sepihak oleh keluarga Bramantara.

Kini, yang tersisa hanyalah Elena—wanita yang terlahir kembali dari abu kehancuran.

Selama satu bulan penuh ini, Nicholas Syailendra tidak hanya menyembunyikan dirinya dari kejaran dunia, tetapi juga melatihnya dengan sangat keras di dalam penthouse pribadinya.

Nicholas menyewa pelatih pembawa acara kelas dunia untuk mengubah cara berjalan Adeline yang dulunya pemalu dan membungkuk menjadi Elena yang anggun, tegas, dan dominan.

Bahkan nada suaranya yang lembut kini telah dilatih berulang-ulang agar terdengar lebih berat, dingin, dan penuh wibawa.

Elena dipaksa melupakan tangisannya dan menggantinya dengan tatapan elang yang mematikan.

Dua jam sebelum pameran berlian Bram Corp dimulai, Elena berdiri di depan cermin raksasa setinggi langit-langit kamar penthouse.

Di atas meja rias di sampingnya, berserakan berbagai macam kuas kosmetik, perhiasan mahal, dan sebuah paspor baru berlogo negara Prancis atas nama dirinya yang baru.

Seorang penata busana pribadi yang dibawa langsung oleh Nicholas melangkah maju, membawa sebuah gaun malam yang dibungkus kain pelindung hitam.

Saat kain itu dibuka, Elena menahan napasnya sesaat.

Itu adalah sebuah gaun malam backless satin sutra berwarna hitam legam yang sangat kontras dengan kulit putih susunya.

Desainnya sangat elegan namun menyimpan kesan berani yang mematikan.

"Kenapa hitam?"

tanya Elena pelan, jemarinya menyentuh permukaan kain satin yang dingin.

Nicholas melangkah mendekat dari arah pintu, mengambil sebuah kotak beludru merah dari sakunya.

Ia membukanya, memamerkan sebuah kalung dengan mata berlian hitam langka yang berkilau mistis di bawah cahaya lampu.

Nicholas memasangkan kalung itu di leher jenjang Elena, membiarkan jemarinya yang hangat bersentuhan sesaat dengan kulit wanita itu.

"Karena malam ini adalah malam pemakaman untuk masa lalumu yang naif, Elena,"

bisik Nicholas tepat di dekat telinganya, menatap pantulan mereka berdua di cermin.

"Dan gaun hitam ini adalah pakaian berkabung yang sengaja kita siapkan untuk menyambut awal kehancuran Bram Corp. Kamu sudah siap?"

Elena menatap matanya sendiri di dalam cermin.

Rasa takut yang sebulan lalu mendominasi jiwanya kini telah menguap tanpa sisa, digantikan oleh kobaran api dendam yang membara.

Ia mengulas senyum miring yang tampak kejam.

"Aku sudah lebih dari siap, Nicholas. Mari kita beri mereka kejutan."

------------------------------

Malam itu, Grand Ballroom Hotel Mulia Jakarta telah disulap menjadi lautan kemewahan.

Ratusan lampu kristal menggantung megah, memantulkan cahaya berkilau ke arah deretan etalase kaca yang memamerkan koleksi perhiasan terbaru dari Bram Corp.

Ini adalah malam kejayaan bagi Siska Wijaya, yang secara resmi diumumkan sebagai kepala desainer perhiasan baru menggantikan posisi Adeline.

"Terima kasih banyak atas pujiannya. Koleksi 'Glistening Tear' ini memang saya rancang khusus dengan sepenuh hati,"

ucap Siska sembari tersenyum manis di depan jepretan kamera para wartawan.

Ia tampak anggun mengenakan gaun malam berwarna merah muda, dengan jemari yang bergelayut manja di lengan Bramantara.

Bram menatap Siska dengan pandangan bangga.

"Siska telah bekerja keras untuk pameran ini. Saya yakin, Bram Corp akan mencapai puncak baru di bawah arahan kreativitasnya."

Tepat saat Bram menyelesaikan kalimatnya, pintu ganda ballroom yang setinggi tiga meter mendadak terbuka lebar.

Suasana riuh di dalam ruangan seketika mereda, digantikan oleh bisik-bisik penasaran dari para tamu undangan yang berada di dekat pintu masuk.

Dua orang melangkah masuk, membelah karpet merah dengan aura dominan yang langsung membungkam atmosfer ruangan.

Nicholas Syailendra berjalan dengan langkah tegap, mengenakan setelan tuksedo hitam potongan khusus yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.

Namun, bukan kehadiran sang penguasa bisnis nomor satu itu yang membuat semua orang menahan napas, melainkan sosok wanita bergaun hitam di dalam gandengan lengannya.

Rambut hitam panjang Elena ditata bergelombang glamor, membingkai wajahnya yang cantik luar biasa namun memancarkan ekspresi yang sedingin es.

"Siapa wanita di sebelah Tuan Nicholas? Cantik sekali, seperti model papan atas Prancis!" bisik salah satu sosialita di barisan depan.

"Tunggu dulu... bukankah wajahnya... wajahnya mirip sekali dengan mendiang istri CEO Bram Corp?" sahut yang lain dengan nada tertahan.

Mendengar bisikan-bisikan itu, Bram and Siska serempak menoleh ke arah koridor masuk.

Detik itu juga, gelas sampanye yang berada di genggaman Bram terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dan pecah berkeping-keping.

Prang!

Wajah Bram seketika berubah pucat pasi. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis saat matanya terkunci pada wajah wanita bergaun hitam itu.

"Ade... Adeline?" bisik Bram, suaranya bergetar hebat.

Jantungnya berdegup kencang melawan rasa syok yang menghantam dadanya.

Siska yang berdiri di samping Bram tidak kalah terkejut.

Matanya membelalak lebar, tangannya mencengkeram lengan baju Bram begitu kuat hingga kukunya memutih.

Nggak mungkin! Wanita jalang itu sudah mati malam itu! Aku sendiri yang melihat darahnya! Kenapa dia ada di sini?!

batin Siska histeris, diserang rasa panik yang amat sangat.

Elena berjalan dengan anggun, menatap lurus ke arah dua orang yang telah menghancurkan hidupnya.

Tidak ada ketakutan di matanya.

Hanya ada kilat kepuasan saat melihat kepanikan yang terpancar jelas di wajah mantan suami dan adik tirinya.

Di sampingnya, Nicholas meremas pelan tangan Elena yang bertumpu di lengannya, memberikan kekuatan tersembunyi yang membuat Elena semakin menegakkan kepalanya.

"Tuan Bramantara,"

Nicholas menyapa dengan suara beratnya yang dingin saat mereka telah berdiri berhadapan.

"Selamat atas pameran tahunan Anda."

Bram tidak memedulikan sapaan Nicholas.

Sepasang matanya yang memerah terus menatap Elena tanpa berkedip.

"Kamu... kamu masih hidup? Bagaimana bisa—"

"Maaf, Tuan Bramantara?"

Elena memotong kalimat Bram dengan suara yang renyah namun bernada sinis.

Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Bram seolah sedang melihat orang asing yang aneh.

"Sepertinya Anda salah mengenali orang. Nama saya Elena Vance. Saya rasa kita baru pertama kali bertemu malam ini."

"Elena... Vance?"

Bram mengulang nama itu dengan lidah yang mendadak kelu.

"Nggak, kamu bohong! Kamu Adeline, kan?! Suaramu, wajahmu... kamu adalah istriku!"

Bram melangkah maju, hendak mencengkeram bahu Elena, namun sebelum tangannya sempat menyentuh seujung gaun Elena, Nicholas sudah lebih dulu menggeser tubuhnya.

Nicholas berdiri menghadang Bram, menatap pria itu dengan pandangan membunuh yang membuat Bram terpaksa mundur satu langkah.

"Jaga sikap Anda, Tuan Bram,"

desis Nicholas, suaranya rendah namun penuh ancaman yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

"Elena Vance adalah perwakilan utama dari Vance Jewelry Prancis sekaligus rekan bisnis kehormatan Syailendra Group. Jika Anda berani menyentuhnya atau menghinanya lagi dengan sebutan 'istri', saya pastikan saham Bram Corp akan anjlok total besok pagi."

Siska yang mulai bisa menguasai rasa paniknya segera menarik lengan Bram mundur.

Ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang masih sedikit pucat.

"Maafkan suami saya, Tuan Nicholas, Nona Elena. Kakak perempuan saya baru saja meninggal satu bulan lalu, dan wajah Nona Elena memang... sedikit mirip dengannya. Kak Bram hanya terlalu merindukannya."

Elena menatap Siska dengan pandangan meremehkan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Senyum miring terukir di bibir merah meronanya.

"Merindukannya? Sungguh mengharukan sekali. Tapi dari apa yang saya dengar tentang rumor di Kota Jakarta, bukankah mendiang istri Tuan Bram diusir karena berselingkuh? Dan seingat saya, Anda... Nona Siska, langsung mengambil alih posisinya sebagai nyonya rumah bahkan sebelum tanah makamnya kering?"

Deg!

Kata-kata Elena yang tajam laksana belati langsung memicu kasak-kusuk riuh dari para wartawan dan tamu undangan yang berkerumun di sekitar mereka.

Kamera-kamera media mulai menyala, bergantian mengambil gambar wajah Siska yang mendadak merah padam menahan malu.

"Anda... Anda jangan sembarangan bicara ya!" Siska gemetar karena marah.

"Anda tidak tahu apa-apa tentang keluarga kami!"

"Tentu saja saya tidak tahu. Saya hanya membaca berita yang beredar,"

Elena terkekeh pelan, melangkah satu tapak mendekati Siska lalu berbisik tepat di samping telinga adik tirinya itu.

"Oh, ya. Omong-omong tentang koleksi perhiasan 'Glistening Tear' milikmu yang baru saja dipamerkan... desainnya sangat buruk. Struktur pemotongan berliannya kasar, dan konsepnya murahan. Sampaikan pada dunia, Elena Vance tidak sudi melihat karya tiruan kelas bawah seperti ini."

Setelah membisikkan kalimat beracun itu, Elena kembali menegakkan tubuhnya, berbalik menatap Nicholas dengan senyuman manis yang memikat.

"Nicholas, suasana di sini terlalu menyesakkan. Bisakah kita pindah ke area VVIP?"

"Tentu saja, Sayang. Apa pun untukmu,"

balas Nicholas dengan nada suara yang mendadak melembut, sengaja memamerkan kedekatan mereka di depan Bram yang kini mengepalkan tinjunya hingga bergetar karena cemburu dan amarah yang campur aduk.

Elena melangkah pergi meninggalkan Bram dan Siska yang mematung di tempat mereka, menanggung malu di tengah sorotan kamera media yang terus berkedip.

Sambil berjalan digandeng oleh Nicholas, Elena berbisik dalam hati dengan penuh kepuasan.

Ini baru permulaan, Bram, Siska.

Ini baru goresan kecil.

Aku akan memastikan pameran berlian ini menjadi langkah awal dari kebangkrutan total yang akan menghancurkan seluruh hidup kalian.

------------------------------

Bersambung....

Jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!